Pagi bercerita tentang tawa, riangnya, bahagyanya.
Pagi masih menunggu di bawah pohon kersen pojok
kelas. Menengok ke arah kanan, lalu kiri, pintu bangunan, jendela-jendela
kelas, lobi kelas, jalanan basah seberang jalan. Mencarimu, gusar!
Pagi ingin bercerita tentang kita, di bawah pohon
kersen pojok kelas. Melahap tawa, mengulum senyum.
Pagi menyimpan langkah kaki, memotret tingkahmu.
Pagi ada saat langkahmu tegar melewati pintu
bangunan, lobi-lobi kelas, jalanan basah seberang jalan.. . Pagi mengintip malu
dari jendela-jendela kelas, saat itu.
Pagi ada saat langkahmu mulai gontai melewati
pintu bangunan, lobi-lobi kelas, jalanan basah seberang jalan.. . Pagi
mengintip malu dari jendela-jendela kelas, saat itu.
Pagi ( masih) ada saat langkahmu mulai melemah
melewati pintu bangunan, lobi-lobi kelas, jalanan basah seberang jalan.. . Pagi
mengintip malu dari jendela-jendela kelas, saat itu. Tak sengaja melepasmu,
atau kau sendiri yang tak ingin lagi bersamanya.
Tapi, masih seperti yang dulu.
Ya!. Pagi masih punyamu.
Pagi masih setia kepadamu!. Apakah masih kurang
terpuji laku itu?.
Pagi masih menantimu, di bawah pohon kersen pojok
kelas.
“ Jika aku
tak mampu meraihmu dengan tanganku, sekarang, maka akan aku simpan untuk kau
genggam, nanti
Jika kau
masih saja terdiam melihat punggungnya mulai menghilang, maka aku pun akan
tetap diam melihat punggungmu yang ( ternyata) mulai menghilang
Jika kau
masih setia dalam penantianmu, maka aku pun akan setia dalam penantianku
Jika kau
masih saja tak mampu melihatku, maka aku tak akan pernah melewatkan bayangmu
Jika kau
masih tetap menunggunya di balik pintu itu, maka aku yang menunggumu di balik
pohon kersen pojok kelas, tempatku dapatkan senyumku oleh tawamu.” J
-Semarang,
3-01-2013-

