Kata seorang teman di dalam tulisannya, menonton teater bak membeli kucing dalam karung. Pembeli boleh menerka-nerka seperti apa bentuknya, selembut apa bulunya, seindah apa matanya, dan selucu apa rupanya. Namun dia harus siap ketika karung tersebut dibuka dengan segala kemungkinannya.
Hal itu pula yg saya alami, dan mungkin dialami oleh sebagian besar penonton teater malam ini.
Pengalaman ini dimulai ketika sore tadi, yakni sewaktu saya memutuskan untuk menonton sebuah pertunjukan teater yang berbekal " katanya." Bohong jika ini adalah kali pertama saya menonton pentas teater. Namun tidak dipungkiri ini adalah kali pertama saya dihinggapi rasa penasaran yg teramat sangat untuk menonton pentas teater dengan ekspektasi yang sangat tinggi, ya lagi-lagi karena modal " katanya." Saya datang ke tempat pertunjukan bersama dengan beberapa teman yang notabene masih lebih dini mengenal teater. Kami datang hampir jam 8pm. Itu artinya kami agak telat dari waktu yg ditentukan. Sesampainya disana ( RRI) kami diperbolehkan masuk setelah membeli tiket yg sebelumnya menjadi perbincangan hangat ketika akan berangkat ke lokasi. Ya kami harus berpikir ulang untuk datang dengan syarat 15rb ( jika mahasiswa) dibandingkan dengan makan beberapa hari kedepan sembari menghabiskan tanggal tua. ( kiriman baru mengucur tanggal muda, balada mahasiswa rantau hihihi). Namun kami tetap berangkat dengan cara apapun waktu itu, ya rasa penasaran lebih egois daripada masalah perut ternyata.
Kami (pelajar dan mahasiswa) mendapat tempat duduk dilantai 2, mungkin ini dikarenakan tiket kami paling murah jika dibanding dengan ukuran kantong bukan pelajar dan mahasiswa. Sebenarnya jika dilihat dari skala pementas, tiket yang dipatok memang sangatlah wajar. Bahkan bisa dibilang murah untuk pentas penampil skala ibukota. Ya, lagi-lagi bukan masalah itu, dan kami mengabaikannya sesaat.
Pertunjukan dimulai tak lama ketika kami masuk ruangan. Gambar yang terpampang di proyektor membuka drama politik yang akan disuguhkan. Saya pribadi berpikir, " wah ini pasti agak-agak surealis gitu, pasti keren nih!." Begitu pikir saya. Dan benar, entah itu surealis, absurd atau apalah bentuknya pertunjukkan dilanjutkan cukup menarik rasa penasaran penonton (saya pribadi khususnya) untuk tetap memperhatikan apa selanjutnya yang akan terjadi di panggung. Ilustrasi musik mulai membanjiri telinga. Awalnya saya kira akan ada perubahan suasana yg disuguhkan dari ilustrasi musik. Mungkin iya, sedikit. Tapi lama-kelamaan telinga saya cukup terganggu dan seolah menyuruh saya untuk cepat keluar ruangan. Mungkin ini subjektivitas pribadi yg muncul karena saya menganggap ilustrasi musik yg dipakai hampir seperti sinetron-sinetron di TV. Seperti instrumen-instrumen yg tiada henti hampir sepanjang pertunjukan, dentuman djimbe yg tak beraturan, dan terkadang ada efek tambahan yg dipakai untuk penegasan adegan seperti saat memukul dsb yg mengingatkan saya pada serial-serial laga di TV. Tidak ada yg salah memang jika benar seperti itu, lagi-lagi ini berbicara masalah selera. Dan saya sebagai penonton bertiket pun bebas berkomentar dari sudut pandang saya.
Namun ternyata tidak sedini itu, saya tidak mau kalah dengan gangguan ilustrasi musiknya. Saya pikir, 15rb dan keluar sedini itu tidaklah sebanding. Saya lanjutkan menonton dengan harapan pertunjukan semakin menarik. Saya bertahan hampir setengah jam, setelah beberapa kali berpindah fokus ke HP yang saya genggam, lantas memperhatikan wajah-wajah ' sepaneng' dari penonton lain yg berada di samping kanan-kiri dan belakang saya. Terkadang mengajak berbicara teman sebelah saya, mencoba memperhatikan lagi dengan memasang baik-baik telinga saya untuk menangkap vokal yang dituturkan antar pemain vs ilustrasi musik yang mengganggu itu. Sesekali membenahi sikap duduk saya, kipas-kipas sebentar, dan akhirnya saya menyerah. Tidurlah saya ditengah-tengah pertunjukan. Hingga terbangun di hampir 3/4 pertunjukan atau lebih dari itu. Sial, saya mengira saya adalah penonton yg kurang ajar, karena bukan datang untuk
nonton tapi malah tidur dengan pulas. Saya pikir saya kecapekan atau bagaimana dan saya merasa merugi karena jauh kehilangan adegan pada pentas itu. Tak lama pementasan usai, kami memutuskan untuk keluar dan segera pulang karena memang tidak ada diskusi seperti pementasan teater biasanya disini. Di luar kami bertemu dengan beberapa orang kawan, kami saling menyapa dan sedikit meminta pendapat tentang pentas barusan. Betapa baru tahunya saya bahwa dari pengakuan mereka banyak yg tertidur di kursinya masing-masing seperti saya, bahkan ada yg sengaja keluar ditengah pertunjukan. Oh! Baru saya sadari ternyata sikap iseng saya sebelum tertidur sedari tadi adalah salah satu bentuk kebosanan saya ditengah-tengah pentas. Bukan karena memang saya yg kecapekan atau apa. Bahkan ketika ditanya bagaimana pentasnya? Dalam hati saya bisa menjawab," wis mending ra sah nonton!." Namun saya hanya tersenyum dan menjawab seadanya ( biasanya jawab: Yo ngono kuwi hehe). Karena lagi-lagi ini masalah selera. Saya tidak bisa serta merta bilang pentas ini jelek dan mencari orang-orang lain untuk menyetujuinya. Tapi saya berhak kecewa atas ekspektasi saya yg cukup tinggi apalagi disitu saya membawa adik-adik baru saya untuk menonton teater dengan sutradara yg tidak diragukan lagi kualitasnya, pemain-pemain ibukota yg telah melalang buana dan nama besar yg cukup meyakinkan. Emm.. boleh dikata merasa sedikit tertipu. Ya karena isu yg dibawa pun sebenarnya mudah ditebak dan sudah biasa sekali, apalagi jika sudah membaca bookleat nya dan harapan satu-satunya adalah bentuk pertunjukannya. Belum lagi berbicara masalah ' sapu bersih yg tidak bersih' di beberapa adegan, penataan cahaya, pemotongan panggung, dsb. Saya menyimpulkan bahwa pementasan yang mengusung drama politik ini belumlah siap untuk menghadirkan penonton. Karena menurut saya proses menuju pentas dan panggung ( waktu pentas) adalah satu kesatuan yg tidak bisa dipilih-pilih mana yg terpenting untuk dikejar yg paling baik. Istilahnya adalah sepaket. Karena hasil dari proses adalah pentas itu sendiri. Ya, boleh dikatakan menonton pentas seperti menonton bola. Kita boleh berekspektasi tinggi, memprediksi dengan pertimbangan nama besar, popularitas, atau jika di bola adalah peringkat di atas kertas. Namun lapangan tetaplah lapangan. Segala hal sah terjadi. Dan sebagai penonton maka siap-siaplah jika suatu saat harus pulang dengan patah hati. Tulisan ini sebenarnya tidak bermaksud apa-apa. Hanya sebatas curahan hati seorang penonton menurut apa yg ia rasakan selama ini dan apa yg ia alami. Ya semoga dipertunjukkan-pertunjukkan selanjutnya para pegiat teater mampu memberikan yg benar-benar terbaik dan terjujur bagi penontonnya, sehingga mereka semua mampu jatuh cinta. Salam budaya! Viva teater!
28/05/15
Oleh-oleh dari pertunjukan " Homo Reptilicus"
Drama Politik
Karya : Radhar P.D.
Teater Kosong
@RRI Semarang
Hal itu pula yg saya alami, dan mungkin dialami oleh sebagian besar penonton teater malam ini.
Pengalaman ini dimulai ketika sore tadi, yakni sewaktu saya memutuskan untuk menonton sebuah pertunjukan teater yang berbekal " katanya." Bohong jika ini adalah kali pertama saya menonton pentas teater. Namun tidak dipungkiri ini adalah kali pertama saya dihinggapi rasa penasaran yg teramat sangat untuk menonton pentas teater dengan ekspektasi yang sangat tinggi, ya lagi-lagi karena modal " katanya." Saya datang ke tempat pertunjukan bersama dengan beberapa teman yang notabene masih lebih dini mengenal teater. Kami datang hampir jam 8pm. Itu artinya kami agak telat dari waktu yg ditentukan. Sesampainya disana ( RRI) kami diperbolehkan masuk setelah membeli tiket yg sebelumnya menjadi perbincangan hangat ketika akan berangkat ke lokasi. Ya kami harus berpikir ulang untuk datang dengan syarat 15rb ( jika mahasiswa) dibandingkan dengan makan beberapa hari kedepan sembari menghabiskan tanggal tua. ( kiriman baru mengucur tanggal muda, balada mahasiswa rantau hihihi). Namun kami tetap berangkat dengan cara apapun waktu itu, ya rasa penasaran lebih egois daripada masalah perut ternyata.
Kami (pelajar dan mahasiswa) mendapat tempat duduk dilantai 2, mungkin ini dikarenakan tiket kami paling murah jika dibanding dengan ukuran kantong bukan pelajar dan mahasiswa. Sebenarnya jika dilihat dari skala pementas, tiket yang dipatok memang sangatlah wajar. Bahkan bisa dibilang murah untuk pentas penampil skala ibukota. Ya, lagi-lagi bukan masalah itu, dan kami mengabaikannya sesaat.
Pertunjukan dimulai tak lama ketika kami masuk ruangan. Gambar yang terpampang di proyektor membuka drama politik yang akan disuguhkan. Saya pribadi berpikir, " wah ini pasti agak-agak surealis gitu, pasti keren nih!." Begitu pikir saya. Dan benar, entah itu surealis, absurd atau apalah bentuknya pertunjukkan dilanjutkan cukup menarik rasa penasaran penonton (saya pribadi khususnya) untuk tetap memperhatikan apa selanjutnya yang akan terjadi di panggung. Ilustrasi musik mulai membanjiri telinga. Awalnya saya kira akan ada perubahan suasana yg disuguhkan dari ilustrasi musik. Mungkin iya, sedikit. Tapi lama-kelamaan telinga saya cukup terganggu dan seolah menyuruh saya untuk cepat keluar ruangan. Mungkin ini subjektivitas pribadi yg muncul karena saya menganggap ilustrasi musik yg dipakai hampir seperti sinetron-sinetron di TV. Seperti instrumen-instrumen yg tiada henti hampir sepanjang pertunjukan, dentuman djimbe yg tak beraturan, dan terkadang ada efek tambahan yg dipakai untuk penegasan adegan seperti saat memukul dsb yg mengingatkan saya pada serial-serial laga di TV. Tidak ada yg salah memang jika benar seperti itu, lagi-lagi ini berbicara masalah selera. Dan saya sebagai penonton bertiket pun bebas berkomentar dari sudut pandang saya.
Namun ternyata tidak sedini itu, saya tidak mau kalah dengan gangguan ilustrasi musiknya. Saya pikir, 15rb dan keluar sedini itu tidaklah sebanding. Saya lanjutkan menonton dengan harapan pertunjukan semakin menarik. Saya bertahan hampir setengah jam, setelah beberapa kali berpindah fokus ke HP yang saya genggam, lantas memperhatikan wajah-wajah ' sepaneng' dari penonton lain yg berada di samping kanan-kiri dan belakang saya. Terkadang mengajak berbicara teman sebelah saya, mencoba memperhatikan lagi dengan memasang baik-baik telinga saya untuk menangkap vokal yang dituturkan antar pemain vs ilustrasi musik yang mengganggu itu. Sesekali membenahi sikap duduk saya, kipas-kipas sebentar, dan akhirnya saya menyerah. Tidurlah saya ditengah-tengah pertunjukan. Hingga terbangun di hampir 3/4 pertunjukan atau lebih dari itu. Sial, saya mengira saya adalah penonton yg kurang ajar, karena bukan datang untuk
nonton tapi malah tidur dengan pulas. Saya pikir saya kecapekan atau bagaimana dan saya merasa merugi karena jauh kehilangan adegan pada pentas itu. Tak lama pementasan usai, kami memutuskan untuk keluar dan segera pulang karena memang tidak ada diskusi seperti pementasan teater biasanya disini. Di luar kami bertemu dengan beberapa orang kawan, kami saling menyapa dan sedikit meminta pendapat tentang pentas barusan. Betapa baru tahunya saya bahwa dari pengakuan mereka banyak yg tertidur di kursinya masing-masing seperti saya, bahkan ada yg sengaja keluar ditengah pertunjukan. Oh! Baru saya sadari ternyata sikap iseng saya sebelum tertidur sedari tadi adalah salah satu bentuk kebosanan saya ditengah-tengah pentas. Bukan karena memang saya yg kecapekan atau apa. Bahkan ketika ditanya bagaimana pentasnya? Dalam hati saya bisa menjawab," wis mending ra sah nonton!." Namun saya hanya tersenyum dan menjawab seadanya ( biasanya jawab: Yo ngono kuwi hehe). Karena lagi-lagi ini masalah selera. Saya tidak bisa serta merta bilang pentas ini jelek dan mencari orang-orang lain untuk menyetujuinya. Tapi saya berhak kecewa atas ekspektasi saya yg cukup tinggi apalagi disitu saya membawa adik-adik baru saya untuk menonton teater dengan sutradara yg tidak diragukan lagi kualitasnya, pemain-pemain ibukota yg telah melalang buana dan nama besar yg cukup meyakinkan. Emm.. boleh dikata merasa sedikit tertipu. Ya karena isu yg dibawa pun sebenarnya mudah ditebak dan sudah biasa sekali, apalagi jika sudah membaca bookleat nya dan harapan satu-satunya adalah bentuk pertunjukannya. Belum lagi berbicara masalah ' sapu bersih yg tidak bersih' di beberapa adegan, penataan cahaya, pemotongan panggung, dsb. Saya menyimpulkan bahwa pementasan yang mengusung drama politik ini belumlah siap untuk menghadirkan penonton. Karena menurut saya proses menuju pentas dan panggung ( waktu pentas) adalah satu kesatuan yg tidak bisa dipilih-pilih mana yg terpenting untuk dikejar yg paling baik. Istilahnya adalah sepaket. Karena hasil dari proses adalah pentas itu sendiri. Ya, boleh dikatakan menonton pentas seperti menonton bola. Kita boleh berekspektasi tinggi, memprediksi dengan pertimbangan nama besar, popularitas, atau jika di bola adalah peringkat di atas kertas. Namun lapangan tetaplah lapangan. Segala hal sah terjadi. Dan sebagai penonton maka siap-siaplah jika suatu saat harus pulang dengan patah hati. Tulisan ini sebenarnya tidak bermaksud apa-apa. Hanya sebatas curahan hati seorang penonton menurut apa yg ia rasakan selama ini dan apa yg ia alami. Ya semoga dipertunjukkan-pertunjukkan selanjutnya para pegiat teater mampu memberikan yg benar-benar terbaik dan terjujur bagi penontonnya, sehingga mereka semua mampu jatuh cinta. Salam budaya! Viva teater!
28/05/15
Oleh-oleh dari pertunjukan " Homo Reptilicus"
Drama Politik
Karya : Radhar P.D.
Teater Kosong
@RRI Semarang