Senin, 02 Mei 2016

Bukan Kodrat Pendendam #PPK part II

Dunia makin entah. Hati yang rapuh kian digerus menjadi serupa debu. Ringan dan mudah diterbangkan oleh angin. Ketika musim hujan tiba, dia yang luruh dihujani beribu tangis dari langit, lantas hilang tergantikan oleh yang lain.
            Begitulah hari-hari kian mengikat erat perempuan itu. Meludahi setiap langkahnya yang selalu dianggap hina. Seperti yang kau tahu,  manusia kian meninggi tanpa peduli memanusiakan yang lainnya. Merendahkan diri manusia yang lainnya tidak lagi berupa cacian dari mulut mereka. Ya, tidak ada waktu untuk menempelkan tisu tiap detik demi membersihkan segala yang kotor dari mulutnya. Semua-mua yang hadir adalah cacian. Pikiran, pandangan, lirikan, laku, ahh.. seperti semua-mua itu adalah cara hidup yang paling modern dan bangsawan.
Perempuan itu masih sering menghubungiku. Kami semakin sering pula menghabiskan waktu bersama untuk hal apa saja. Makan siang, perpustakaan, nongkrong di kedai kopi, mengerjakan tugas, menonton pentas, menghadiri rapat, nonton film di laptop, atau sekadar menghabiskan batangan-batangan rokok. Cerita panjang yang sering terlontar tidak jauh dari penyesalan yang dikemas cemas dan perasaan kesepian seorang perempuan yang nyatannya telah terasingkan oleh kedamaian kodratnya sendiri.
“ Aku sadar, aku memang hanya seorang perempuan. Dan dia adalah lelaki,” ucapnya dengan pandangan mengarah pada bibir cangkir petang itu. Pandangannya jelas, tapi kosong. Matanya menekan kepedihan yang bertumpuk.
“ Ya aku tahu, kau seorang perempuan dan dia lelaki. Lalu?,” kataku lirih mencoba menanggapi seperti biasanya.
Dia tersenyum kecil. Namun mampu menggoyahkan setiap bulu kuduk yang berada disekitar kulit leherku. Senyuman yang getir.
“ Kau tahu maksudku. Kau masih percaya dengan kodrat? Apakah Tuhan lupa saat menjatuhkan kodrat kita? Lupa menaruh sedikit keadilan dibalik cangkir yang Ia siapkan untuk kau dan aku? Atau kau juga sebenarnya tidak begitu yakin dengan ingatan Tuhan yang bisa saja keliru mentitahkan hidup bagi hambaNya?.” Nadanya kali ini akan tinggi. Beberapa kata diarahkan kepadaku dengan penuh penekanan. Kali ini sorot matanya jelas, menghardikku tajam.
Aku terdiam seketika. Mulutku bergerak namun tak ada sepatah kata pun yang siap untuk dilontarkan. Seperti terdakwa yang gugup menjawab saat diinterogasi karena tak ingin ketahuan. Aku tak pernah seterkejut ini biasanya. Ya kebiasaanku mendengarkan curahan hatinya dan begitu sebaliknya menjadikan kami biasa menimpali pembicaraan satu sama lain dengan kilat dan apa adanya. Tapi kali ini, pertanyaan macam apa ini? Pikirku. Dia mempertanyakan tentang seyakin apa diriku dengan penciptaku?. Ah, seharusnya aku mampu menjawabnya dengan lancar tanpa jeda, tapi kenapa ada yang mencekat dikerongkonganku? Seperti menghentikan aliran udara yang sudah berancang-ancang keluar liar dari katup bibirku.
“ Heh, tenyata kau juga meragukanNya ya. Aku sudah menduga.”
“ Tidak, aku tidak pernah meragukanNya. Aku percaya dengan apapun yang sudah diberikanNya untukku. Dan aku menerimanya.”
“ Semua?”
“ Ya, semua.”
“ Lengkap dengan kepedihannya?.”
“ Ya, lengkap dengan segala kepedihannya.”
“ Kau bohong!,” katanya memalingkan muka.
“ Aku bisa melihat ketidak yakinanmu bahkan ketika sebelum kau menjawabnya. Matamu tidak pernah bohong, dan kau tidak perlu merancang otakmu untuk menyusun retorika demi meyakinkaku akan keyakinanmu,” katanya. Aku semakin terdiam.
“ Dua hari yang lalu kau bercerita tentang ketakutanmu menjadi seorang yang paling kau benci. Menjadi seseorang yang sudah lelah membicarakan masalah itu-itu saja, fase maaf-memaafkan, lalu melakukan kesalahan lagi, meminta maaf lagi, melakukan kesalahan lagi dan begitu saja seterusnya. Yang  membangun engkau menjadi seorang pemaaf namun pendendam. Dendam untuk membalas apa-apa yang tidak pernah ditepati. Membalas apa-apa yang harus dibayar. Ayolah, akui saja. Keyakinanmu terhadap kodrat tidak cukup menahanmu untuk dengki dengan nasibmu sendiri. Untuk lelah dengan segala yang kau hadapi. Dia, lelakimu itu masih saja melakukan perbuatan yang sama kan? Yang membuatmu sakit hati?.”
“ Mungkin dia hanya lupa.”
“ Lupa? Tidak. Lelaki tidak pernah lupa, mereka hanya tidak pernah belajar. Kata-kata tidak lagi mujarab ditelinga mereka. Air mata hanya pemanis dalam sebuah permintaan maaf demi memperlihatkan ketulusan dan penyesalan. Dan akhirnya, janji hanya sebagai penekan cemas untuk ditelan masa. Kau tahu itu, kau bahkan menyadarinya lebih dulu dari pada aku. Tapi ternyata kau terlalu kejam terhadap dirimu sendiri. Sekarang apa akan kau biarkan dia, lelaki itu memilikimu dan menyimpan semua yang ingin dicintainya dibelakangmu? Memunggungi ketulusanmu? Mengacuhkan kepercayaanmu? Berulang kali,?” ucapnya meninggi.
“ Aku mencintainya.”
“ Dan kau tidak mencintai dirimu sendiri? Mencintai diri orang lain yang enggan melihatmu menjadi pesakitan lagi seperti dulu?.”
“ Kau juga tidak mampu meninggalkan kekasihmu meski dia berbuat salah yang sama denganmu setiap kali kan? Aku rasa kau juga mengalaminya, dan kau juga mengerti posisiku.”
“ Setidaknya aku tidak pernah tinggal diam dan lelah untuk mencacinya, menonjoknya. Dan aku bukan pendendam. Setidaknya aku tidak berminat menjadi pendendam. Tidak berminat lagi tepatnya. Pendendam yang tanpa sadar akan menghancurkan hati yang lain, kau tahu kan maksudku?.”
Aku kembali terpaku. Diam membatu.
 “ Baiklah, aku harap kau menjadi seorang perempuan yang bijak. Aku yakin kau mampu menguat tanpa harus merekat pada tubuh seorang malaikat,” katanya mengakhiri pertemuan kami di kedai itu. Dia beranjak pergi menyisakan kebenaran yang enggan aku akui keberadaannya. Kebenaran yang menyimpan ketakutan begitu dalam. Ketakutan seorang yang lelah akan sakit hati. Lelah untuk berkoar tentang apa-apa yang tidak ditepati. Lelah untuk memohon pengertian. Dan kini siap membangun dinding-dinding dingin ber-ruh dendam. Sinar rembulan melambai pelan. Menerpa dedaunan, lalu jatuh pada tiang-tiang listrik pinggir jalan. Mengkilat dan sinarnya mampu menyilaukan mata para pengguna jalan malam itu. Tidak, ini bukan sebuah balada. Kesedihan bukan ide dalam penceritaan ini dan atau sebelumnya. Maka aku enggan menuliskan betapa menyedihkannya kehidupan dua orang wanita dalam kisah cinta diantara bingar kota. Maka yang kutulis sekarang adalah tentang sebuah pertanyaan.
“ Sanggupkah aku membalas dendam.?”
Atau…

“ Sanggupkah aku menjadi pendendam yang akan melukai dan merobek hati para pemilik kebaikan yang lainnya?.”