Dunia makin entah. Hati yang rapuh kian digerus menjadi serupa
debu. Ringan dan mudah diterbangkan oleh angin. Ketika musim hujan tiba, dia
yang luruh dihujani beribu tangis dari langit, lantas hilang tergantikan oleh
yang lain.
Begitulah
hari-hari kian mengikat erat perempuan itu. Meludahi setiap langkahnya yang
selalu dianggap hina. Seperti yang kau tahu,
manusia kian meninggi tanpa peduli memanusiakan yang lainnya. Merendahkan
diri manusia yang lainnya tidak lagi berupa cacian dari mulut mereka. Ya, tidak
ada waktu untuk menempelkan tisu tiap detik demi membersihkan segala yang kotor
dari mulutnya. Semua-mua yang hadir adalah cacian. Pikiran, pandangan, lirikan,
laku, ahh.. seperti semua-mua itu adalah cara hidup yang paling modern dan
bangsawan.
Perempuan itu masih sering menghubungiku. Kami semakin sering
pula menghabiskan waktu bersama untuk hal apa saja. Makan siang, perpustakaan,
nongkrong di kedai kopi, mengerjakan tugas, menonton pentas, menghadiri rapat,
nonton film di laptop, atau sekadar menghabiskan batangan-batangan rokok.
Cerita panjang yang sering terlontar tidak jauh dari penyesalan yang dikemas
cemas dan perasaan kesepian seorang perempuan yang nyatannya telah terasingkan
oleh kedamaian kodratnya sendiri.
“ Aku sadar, aku memang
hanya seorang perempuan. Dan dia adalah lelaki,” ucapnya dengan pandangan mengarah pada bibir cangkir petang
itu. Pandangannya jelas, tapi kosong. Matanya menekan kepedihan yang bertumpuk.
“ Ya aku tahu, kau seorang
perempuan dan dia lelaki. Lalu?,” kataku lirih
mencoba menanggapi seperti biasanya.
Dia tersenyum kecil. Namun mampu menggoyahkan setiap bulu kuduk
yang berada disekitar kulit leherku. Senyuman yang getir.
“ Kau tahu maksudku. Kau
masih percaya dengan kodrat? Apakah Tuhan lupa saat menjatuhkan kodrat
kita? Lupa menaruh sedikit keadilan dibalik cangkir yang Ia siapkan untuk kau
dan aku? Atau kau juga sebenarnya tidak begitu yakin dengan ingatan Tuhan yang
bisa saja keliru mentitahkan hidup bagi hambaNya?.” Nadanya kali ini akan tinggi.
Beberapa kata diarahkan kepadaku dengan penuh penekanan. Kali ini sorot matanya
jelas, menghardikku tajam.
Aku terdiam seketika. Mulutku bergerak namun tak ada sepatah
kata pun yang siap untuk dilontarkan. Seperti terdakwa yang gugup menjawab saat
diinterogasi karena tak ingin ketahuan. Aku tak pernah seterkejut ini biasanya.
Ya kebiasaanku mendengarkan curahan hatinya dan begitu sebaliknya menjadikan
kami biasa menimpali pembicaraan satu sama lain dengan kilat dan apa adanya.
Tapi kali ini, pertanyaan macam apa ini? Pikirku. Dia mempertanyakan tentang
seyakin apa diriku dengan penciptaku?. Ah, seharusnya aku mampu menjawabnya
dengan lancar tanpa jeda, tapi kenapa ada yang mencekat dikerongkonganku?
Seperti menghentikan aliran udara yang sudah berancang-ancang keluar liar dari
katup bibirku.
“ Heh, tenyata kau juga
meragukanNya ya. Aku sudah menduga.”
“ Tidak, aku tidak pernah
meragukanNya. Aku percaya dengan apapun yang sudah diberikanNya untukku. Dan
aku menerimanya.”
“ Semua?”
“ Ya, semua.”
“ Lengkap dengan
kepedihannya?.”
“ Ya, lengkap dengan segala
kepedihannya.”
“ Kau bohong!,” katanya memalingkan muka.
“ Aku bisa melihat ketidak
yakinanmu bahkan ketika sebelum kau menjawabnya. Matamu tidak pernah bohong,
dan kau tidak perlu merancang otakmu untuk menyusun retorika demi meyakinkaku
akan keyakinanmu,” katanya. Aku semakin
terdiam.
“ Dua hari yang lalu kau
bercerita tentang ketakutanmu menjadi seorang yang paling kau benci. Menjadi
seseorang yang sudah lelah membicarakan masalah itu-itu saja, fase
maaf-memaafkan, lalu melakukan kesalahan lagi, meminta maaf lagi, melakukan
kesalahan lagi dan begitu saja seterusnya. Yang
membangun engkau menjadi seorang pemaaf namun pendendam. Dendam untuk
membalas apa-apa yang tidak pernah ditepati. Membalas apa-apa yang harus
dibayar. Ayolah, akui saja. Keyakinanmu terhadap kodrat tidak cukup menahanmu
untuk dengki dengan nasibmu sendiri. Untuk lelah dengan segala yang kau hadapi.
Dia, lelakimu itu masih saja melakukan perbuatan yang sama kan? Yang membuatmu
sakit hati?.”
“ Mungkin dia hanya lupa.”
“ Lupa? Tidak. Lelaki tidak
pernah lupa, mereka hanya tidak pernah belajar. Kata-kata tidak lagi mujarab
ditelinga mereka. Air mata hanya pemanis dalam sebuah permintaan maaf demi
memperlihatkan ketulusan dan penyesalan. Dan akhirnya, janji hanya sebagai
penekan cemas untuk ditelan masa. Kau tahu itu, kau bahkan menyadarinya lebih
dulu dari pada aku. Tapi ternyata kau terlalu kejam terhadap dirimu sendiri.
Sekarang apa akan kau biarkan dia, lelaki itu memilikimu dan menyimpan semua
yang ingin dicintainya dibelakangmu? Memunggungi ketulusanmu? Mengacuhkan
kepercayaanmu? Berulang kali,?” ucapnya
meninggi.
“ Aku mencintainya.”
“ Dan kau tidak mencintai
dirimu sendiri? Mencintai diri orang lain yang enggan melihatmu menjadi pesakitan
lagi seperti dulu?.”
“ Kau juga tidak mampu
meninggalkan kekasihmu meski dia berbuat salah yang sama denganmu setiap kali
kan? Aku rasa kau juga mengalaminya, dan kau juga mengerti posisiku.”
“ Setidaknya aku tidak
pernah tinggal diam dan lelah untuk mencacinya, menonjoknya. Dan aku bukan
pendendam. Setidaknya aku tidak berminat menjadi pendendam. Tidak berminat lagi
tepatnya. Pendendam yang tanpa sadar akan menghancurkan hati yang lain, kau
tahu kan maksudku?.”
Aku kembali terpaku. Diam membatu.
“ Baiklah, aku harap kau menjadi seorang
perempuan yang bijak. Aku yakin kau mampu menguat tanpa harus merekat pada tubuh
seorang malaikat,” katanya mengakhiri pertemuan
kami di kedai itu. Dia beranjak pergi menyisakan kebenaran yang enggan aku akui
keberadaannya. Kebenaran yang menyimpan ketakutan begitu dalam. Ketakutan
seorang yang lelah akan sakit hati. Lelah untuk berkoar tentang apa-apa yang
tidak ditepati. Lelah untuk memohon pengertian. Dan kini siap membangun
dinding-dinding dingin ber-ruh dendam. Sinar rembulan melambai pelan. Menerpa
dedaunan, lalu jatuh pada tiang-tiang listrik pinggir jalan. Mengkilat dan
sinarnya mampu menyilaukan mata para pengguna jalan malam itu. Tidak, ini bukan
sebuah balada. Kesedihan bukan ide dalam penceritaan ini dan atau sebelumnya.
Maka aku enggan menuliskan betapa menyedihkannya kehidupan dua orang wanita
dalam kisah cinta diantara bingar kota. Maka yang kutulis sekarang adalah
tentang sebuah pertanyaan.
“ Sanggupkah aku membalas dendam.?”
Atau…