“Kau pernah berpikir untuk bunuh diri?”
“Sering”
“Mengapa?”
“Entahlah, terlalu rumit. Sampai-sampai aku tak tahu harus bagaimana menjelaskannya”
“Lalu?”
“Tak terjadi apa-apa”
“Tak terjadi apa-apa? Tidak jadi bunuh diri?”
“Tidak”
“Mengapa?”
“Sama halnya dengan alasan ‘kenapa aku seringkali ingin bunuh diri.’ Pun ketika berusaha untuk mencobanya, entah mengapa menjadi lebih rumit. Sungguh hal itu pun terlampau susah untuk ku jelaskan”
“Takut?”
“Mungkin”
“Terhadap kematian?”
“Tidak sama sekali. Untuk apa manakuti sesuatu yang memang harus terjadi pula nantinya?”
“Lalu?”
“Mungkin, singkatnya...... karena aku adalah manusia”
Ia mengernyit, seolah tidak puas dengan jawabanku. Lalu dengan ragu ku lanjutkan. Karena tatapan matanya yang kian lekat, seperti memaksa kata-kata lanjutan lain sambil mengulang kembali jawabanku dengan panambahan tanda tanya di dalam kepalanya.
“Ya, kau tahu bukan jika manusia pada umumnya hadir bukan karena sekonyong-konyong ingin hadir. Namun dihadirkan. Lalu di tempatkan di sebuah ruangan sangat hangat yang disebut dengan rahim dan lahirlah kita semua. Ikatan-ikatan seperti itu yang susah dijelaskan. Dan ketika semakin bertumbuh, maka seseorang akan memiliki lebih banyak ikatan dengan manusia lainnya yang benar-benar rumit dan kompleks. Semakin banyak maka akan semakin kusut dan susah diurai. Bagiku, ikatan-ikatan itulah yang kadang kala bisa jadi memperkuat seseorang berada di dunia, atau justru sebaliknya. Menekan, mendesak, memeluk terlalu kuat sampai-sampai benar-benar dilenyapkan oleh kekuatannya. Semacam itu”
“Oh... Seberapa sering kau merasakannya?”
“Setiap hari. Aku rasa, mungkin semenjak jantungku pertama kali berdetak di dunia”
“Tapi buktinya, sekarang kau masih baik-baik saja. Duduk di sini. Menikmati segelas Green Tea Ice Blend dan dua potong Egg Bowl?”
“Ya, begitulah. Seperti yang telah ku katakan kepadamu, ikatan-ikatan itu terlampau rumit untuk diurai dan ditata. Maka segala hal tak mampu ditebak begitu saja. Tinggal bagaimana ketika hal itu terjadi, tiba-tiba saja Tuhan datang melalui ikatan-ikatan yang telah ku sebutkan tadi. Sebagai penyelamat. Mereka menyebutnya ‘Deus Ex Machina’ dalam beberapa contoh kasus karya sastra”
“Wow, lalu jika hal itu terjadi, apakah kau benar-benar menjadi lebih baik?”
Tanyanya lebih bersemangat. Mukanya berseri-seri dan matanya yang jernih membulat. Menampakkan betapa antusiasnya ia kali ini. Sambil merapatkan tubuh ke meja, gadis yang mungkin sebayaku itu, mengubah posisi tangan yang awalnya menopang dagu dengan kuat dan kini diletakknya kedua tangan itu bersedakap di atas meja. Punggungnya yang tadinya membungkuk, kini lebih tegak dan agak dicondongkan ke depan. Persis seperti gadis kecil yang menunggu lanjutan kisah dongeng dari guru Tknya.
“Tidak juga. Tidak sama sekali”
“Masih ingin bunuh diri?”
“Tentu”
“Mengapa?”
“Karena ternyata, para penyelamat itu bukan benar-benar penyelamat. Sesungguhnya, bagiku segala sesuatu yang datang tiba-tiba akan pergi dengan tiba-tiba pula. Begitupun mereka. Seperti seseorang yang mengajak kita kencan. Datang ke rumah, mengajak berjalan-jalan sebentar mengitari kota, menonton bioskop, ngobrol, makan es krim dan ketika malam mulai larut ia harus mengantarkan kita untuk kembali ke rumah. Ke tempat semula. Akan sangat berbeda jika hal itu dituliskan dalam kisah-kisah karya sastra misalnya. Disana mereka benar-benar bertindak sebagai penyelamat. Memberikan solusi seenaknya untuk menyelamatkan segala kekisruhan yang hadir dan habislah cerita”
“Mengapa begitu?”
“Ya... Karena pada kenyataannya mereka datang dari ikatan-ikatan itu. Ikatan yang akan terus berotasi mengitari kita. Persis seperti perputaran bulan mengelilingi bumi yang telah memiliki jalurnya sendiri. Akan seperti itu terus menerus. Sampai pada akhirnya nanti ia benar-benar tak punya kuasa untuk berputar atau ketika tak ada yang diputarinya lagi, barulah mereka berhenti”
“Hii..! Sungguh mengerikan. Aku yang hanya mendengarnya saja sudah ketakutan”
“Ya, memang”
“Ah, tapi tak apa. Setidaknya, ketika para penyelamat itu datang kau menjadi baikkan barang sebentarkan?”
“Mungkin kelihatannya seperti itu. Namun justru hal itu semakin memperburuk”
“Kenapa bisa?”
“Tentu saja! Jika kau lapar sementara kau hanya memiliki rokok dan tak ada uang sepeserpun di kantong celana saat itu, maka kau akan berhasil mengusirnya untuk beberapa saat saja. Setelahnya kau akan tetap merasakan lapar lagi, lagi dan lagi. Bahkan bagian terburuknya justru asam lambungmu naik lebih tinggi tanpa ampun”
“Rumit ya?”
“Seperti kataku diawal tadi”
“Berarti, kau tidak butuh penyelamat. Kau butuh seorang dokter. Em, maksudku seseorang yang benar-benar dokter”
Kali ini ku balas tatapan matanya sedikit lebih dalam. Dari bola mata itu, aku menangkap bahwa kalimat yang baru saja ia lontarkan bukanlah serangkaian tanggapan basa-basi. Seperti sebuah kepedulian atau bisa saja dianggap sebagai ungkapan kasihan. Tapi terlihat benar-benar tulus dan jujur.
Namun, hanya bertahan sekitar lima detik segera ku palingkan wajah ke arah jalan raya. Begitu banyak kendaraan lalu lalang. Motor, mobil, angkot yang seolah-olah ingin berkejaran dengan laju hujan. Teriakan tukang tambal ban yang menanyai penjaga toko kelontong sebelah lapaknya, suara knalpot motor rx-king yang terus menerus diderukan karena tiba-tiba mesinnya macet di jalan, serta semua bebunyian lain termasuk lagu ‘Havana’nya Camilia Cabello disusul beberapa lagu Banda Neira seperti ‘Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti’ serta suara-suara para pengunjung bercampur aduk menjadi sebuah dunia luar yang betul-betul dingin. Membuatku lebih memilih merasakan angin yang bertiup dari Utara menembus pori-pori kaos tipisku dan menyentuh kulitku bersamaan. Sementara, bau tanah basah tidak lagi tercium karena ini adalah hujan yang jatuh kesekian kali dan melunturkan bebauan khas itu tanpa sisa sedikitpun.
Ku tenggelamkan pandanganku lebih dalam. Bukan untuk mengamati hal-hal yang lain lagi. Tidak ada yang menarik satupun. Bahkan sebenarnya sedari tadi aku hanya melihat, tidak benar-benar berminat untuk mengamati apapun yang telah tertangkap oleh segala inderaku. Atau justru tak mampu menangkap lebih cermat. Seolah dihalangi oleh entah apa yang bergelombang dan menggema terus menerus sedari tadi. Menyamarkan segala yang ada disekitar. Dan sangat sedikit yang terserap lalu masuk ke otakku untuk dideskripsikan. Sisanya, hanyalah pandangan kosong yang dipenuhi oleh gelombang tanpa ujung pangkal, menari-nari riang namun dengan ekspresi yang menakutkan. Sekuat apapun ku coba menenggelamkan pandangan, justru semakin kuat pula aku tenggelam oleh gelombang yang entah sejak kapan berada di situ.
“Mohon maaf Kak, apa mau memesan lagi?”
Seorang waitress tiba-tiba mendatangi mejaku. Aku yang tersadar namun tidak sepenuhnya terkejut akan kehadirannya, spontan menjawab, Tidak. Lalu ia tersenyum kecil dan nampak sedikit enggan menjauh namun pada akhirnya pergi juga dengan langkah agak malas.
Setelah melepaskan padangan dari waitress yang kini punggungnya benar-benar ditelan oleh lekukan dinding pemisah ruangan cafe, aku baru tersadar. Bahwa seorang gadis yang tadinya dihadapanku, yang ku kira mungkin ia sebaya denganku itu juga menghilang. Cukup mengejutkan. Tapi tak lantas membuatku gusar untuk mencari. Karena hal seperti itu sudah sering terjadi. Saking seringnya, sampai-sampai menjadi biasa saja. Hanya meski biasa terjadi, disuatu waktu aku merasa tidak enak hati. Kalau-kalau mereka yang selama ini datang-pergi-kembali lagi-dan atau benar-benar pergi adalah dikarenakan oleh sikapku? Sikapku yang seketika tidak membuat nyaman mereka ketika berada di dekatku. Seperti seolah-olah merasa diabaikan. Persis seperti sekarang ini. Ah, sungguh, aku benar-benar tidak enak hati jika memang benar seperti itu adanya. Aku sama sekali tidak menyukainya. Ya, aku tidak suka membuat seseorang kecewa karena sikapku. Oleh karenanya, sampai sekarang aku masih terus berusaha untuk menjaga hati orang lain. Tidak ingin membuat siapapun kecewa. Namun, jangan salah paham. Meskipun begitu, bukan berarti aku adalah seorang gadis yang paling baik hati sedunia. Bukan. Karena sesungguhnya pekerjaan untuk menjaga hati orang lain adalah pekerjaan yang berat dan memuakkan. Bayangkan saja, menjelma menjadi seseorang yang memiliki hati bak malaikat dan selalu mengusahakan pertolongan kepada orang lain tanpa membuatnya kecewa. Bagaimana bisa? Bukankah orang bukanlah Tuhan? Jika dipikir-pikir aku sendiri sering merasa jijik dan kesal setiap kali mengingat untuk menawarkan atau sengaja dimintai tolong terhadap segala sesuatu padahal sebenarnya diri sendiri butuh bantuan. Dan entah mengapa terlalu sering aku meng’iya’kan. Atau ketika harus bersikap seperti gadis manis dengan air muka yang bersemangat ketika terlibat di sebuah perbincangan yang sebenarnya tidak ingin diikuti sama sekali. Entah apapun alasannya. Tidak bisa mengikuti-tidak cocok dengan pembahasan-tidak sepakat dengan opini dari pembahas lainnya atau alasan lain. Tapi toh ujung-ujungnya bertahan dengan tatapan mata konstan ke arah lawan bicara supaya tidak dianggap menyepelekan dengan sedikit bumbu senyuman kecil sepanjang perbincangan. Ah, benar-benar memuakkan!. Namun anehnya tak pernah bisa untuk tidak melakukan hal itu. Entahlah, begitu banyak kerumitan yang saling tumpang tindih dan saling terhubung.
Dan efeknya membuatku sering kali ingin sendirian. Benar-benar sendiri. Tanpa diganggu oleh siapapun, tanpa ditemani oleh siapapun. Berpikir tentang diri sendiri, mengerjakan apapun yang ku suka, menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan diri sendiri pula. Tidak ada tentang tubuh lain, tidak ada tentang senyuman atau tangisan untuk tubuh lain, tidak ada kepedulian yang pantas dicurahkan kepada tubuh lain. Kalaupun ada, maka yang ku ijinkan adalah perhatian semata tentang diriku. Hanya aku. Seperti halnya gadis bermata indah tadi. Yang kedatangannya entah dari kapan, akupun tidak sadar betul. Dan kepergiannya yang juga tanpa ku sadari. Bahkan aku juga lupa perbincangan kami dibuka dengan pembahasan macam apa, sampai pada akhirnya membicarakan tentang keinginanku untuk bunuh diri. Yang ku ingat, aku telah duduk berjam-jam dari sebelum matahari benar-benar tenggelam di meja cafe nomor 12 sampai hujan menelan separuh malam. Seorang diri.
“Sering”
“Mengapa?”
“Entahlah, terlalu rumit. Sampai-sampai aku tak tahu harus bagaimana menjelaskannya”
“Lalu?”
“Tak terjadi apa-apa”
“Tak terjadi apa-apa? Tidak jadi bunuh diri?”
“Tidak”
“Mengapa?”
“Sama halnya dengan alasan ‘kenapa aku seringkali ingin bunuh diri.’ Pun ketika berusaha untuk mencobanya, entah mengapa menjadi lebih rumit. Sungguh hal itu pun terlampau susah untuk ku jelaskan”
“Takut?”
“Mungkin”
“Terhadap kematian?”
“Tidak sama sekali. Untuk apa manakuti sesuatu yang memang harus terjadi pula nantinya?”
“Lalu?”
“Mungkin, singkatnya...... karena aku adalah manusia”
Ia mengernyit, seolah tidak puas dengan jawabanku. Lalu dengan ragu ku lanjutkan. Karena tatapan matanya yang kian lekat, seperti memaksa kata-kata lanjutan lain sambil mengulang kembali jawabanku dengan panambahan tanda tanya di dalam kepalanya.
“Ya, kau tahu bukan jika manusia pada umumnya hadir bukan karena sekonyong-konyong ingin hadir. Namun dihadirkan. Lalu di tempatkan di sebuah ruangan sangat hangat yang disebut dengan rahim dan lahirlah kita semua. Ikatan-ikatan seperti itu yang susah dijelaskan. Dan ketika semakin bertumbuh, maka seseorang akan memiliki lebih banyak ikatan dengan manusia lainnya yang benar-benar rumit dan kompleks. Semakin banyak maka akan semakin kusut dan susah diurai. Bagiku, ikatan-ikatan itulah yang kadang kala bisa jadi memperkuat seseorang berada di dunia, atau justru sebaliknya. Menekan, mendesak, memeluk terlalu kuat sampai-sampai benar-benar dilenyapkan oleh kekuatannya. Semacam itu”
“Oh... Seberapa sering kau merasakannya?”
“Setiap hari. Aku rasa, mungkin semenjak jantungku pertama kali berdetak di dunia”
“Tapi buktinya, sekarang kau masih baik-baik saja. Duduk di sini. Menikmati segelas Green Tea Ice Blend dan dua potong Egg Bowl?”
“Ya, begitulah. Seperti yang telah ku katakan kepadamu, ikatan-ikatan itu terlampau rumit untuk diurai dan ditata. Maka segala hal tak mampu ditebak begitu saja. Tinggal bagaimana ketika hal itu terjadi, tiba-tiba saja Tuhan datang melalui ikatan-ikatan yang telah ku sebutkan tadi. Sebagai penyelamat. Mereka menyebutnya ‘Deus Ex Machina’ dalam beberapa contoh kasus karya sastra”
“Wow, lalu jika hal itu terjadi, apakah kau benar-benar menjadi lebih baik?”
Tanyanya lebih bersemangat. Mukanya berseri-seri dan matanya yang jernih membulat. Menampakkan betapa antusiasnya ia kali ini. Sambil merapatkan tubuh ke meja, gadis yang mungkin sebayaku itu, mengubah posisi tangan yang awalnya menopang dagu dengan kuat dan kini diletakknya kedua tangan itu bersedakap di atas meja. Punggungnya yang tadinya membungkuk, kini lebih tegak dan agak dicondongkan ke depan. Persis seperti gadis kecil yang menunggu lanjutan kisah dongeng dari guru Tknya.
“Tidak juga. Tidak sama sekali”
“Masih ingin bunuh diri?”
“Tentu”
“Mengapa?”
“Karena ternyata, para penyelamat itu bukan benar-benar penyelamat. Sesungguhnya, bagiku segala sesuatu yang datang tiba-tiba akan pergi dengan tiba-tiba pula. Begitupun mereka. Seperti seseorang yang mengajak kita kencan. Datang ke rumah, mengajak berjalan-jalan sebentar mengitari kota, menonton bioskop, ngobrol, makan es krim dan ketika malam mulai larut ia harus mengantarkan kita untuk kembali ke rumah. Ke tempat semula. Akan sangat berbeda jika hal itu dituliskan dalam kisah-kisah karya sastra misalnya. Disana mereka benar-benar bertindak sebagai penyelamat. Memberikan solusi seenaknya untuk menyelamatkan segala kekisruhan yang hadir dan habislah cerita”
“Mengapa begitu?”
“Ya... Karena pada kenyataannya mereka datang dari ikatan-ikatan itu. Ikatan yang akan terus berotasi mengitari kita. Persis seperti perputaran bulan mengelilingi bumi yang telah memiliki jalurnya sendiri. Akan seperti itu terus menerus. Sampai pada akhirnya nanti ia benar-benar tak punya kuasa untuk berputar atau ketika tak ada yang diputarinya lagi, barulah mereka berhenti”
“Hii..! Sungguh mengerikan. Aku yang hanya mendengarnya saja sudah ketakutan”
“Ya, memang”
“Ah, tapi tak apa. Setidaknya, ketika para penyelamat itu datang kau menjadi baikkan barang sebentarkan?”
“Mungkin kelihatannya seperti itu. Namun justru hal itu semakin memperburuk”
“Kenapa bisa?”
“Tentu saja! Jika kau lapar sementara kau hanya memiliki rokok dan tak ada uang sepeserpun di kantong celana saat itu, maka kau akan berhasil mengusirnya untuk beberapa saat saja. Setelahnya kau akan tetap merasakan lapar lagi, lagi dan lagi. Bahkan bagian terburuknya justru asam lambungmu naik lebih tinggi tanpa ampun”
“Rumit ya?”
“Seperti kataku diawal tadi”
“Berarti, kau tidak butuh penyelamat. Kau butuh seorang dokter. Em, maksudku seseorang yang benar-benar dokter”
Kali ini ku balas tatapan matanya sedikit lebih dalam. Dari bola mata itu, aku menangkap bahwa kalimat yang baru saja ia lontarkan bukanlah serangkaian tanggapan basa-basi. Seperti sebuah kepedulian atau bisa saja dianggap sebagai ungkapan kasihan. Tapi terlihat benar-benar tulus dan jujur.
Namun, hanya bertahan sekitar lima detik segera ku palingkan wajah ke arah jalan raya. Begitu banyak kendaraan lalu lalang. Motor, mobil, angkot yang seolah-olah ingin berkejaran dengan laju hujan. Teriakan tukang tambal ban yang menanyai penjaga toko kelontong sebelah lapaknya, suara knalpot motor rx-king yang terus menerus diderukan karena tiba-tiba mesinnya macet di jalan, serta semua bebunyian lain termasuk lagu ‘Havana’nya Camilia Cabello disusul beberapa lagu Banda Neira seperti ‘Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti’ serta suara-suara para pengunjung bercampur aduk menjadi sebuah dunia luar yang betul-betul dingin. Membuatku lebih memilih merasakan angin yang bertiup dari Utara menembus pori-pori kaos tipisku dan menyentuh kulitku bersamaan. Sementara, bau tanah basah tidak lagi tercium karena ini adalah hujan yang jatuh kesekian kali dan melunturkan bebauan khas itu tanpa sisa sedikitpun.
Ku tenggelamkan pandanganku lebih dalam. Bukan untuk mengamati hal-hal yang lain lagi. Tidak ada yang menarik satupun. Bahkan sebenarnya sedari tadi aku hanya melihat, tidak benar-benar berminat untuk mengamati apapun yang telah tertangkap oleh segala inderaku. Atau justru tak mampu menangkap lebih cermat. Seolah dihalangi oleh entah apa yang bergelombang dan menggema terus menerus sedari tadi. Menyamarkan segala yang ada disekitar. Dan sangat sedikit yang terserap lalu masuk ke otakku untuk dideskripsikan. Sisanya, hanyalah pandangan kosong yang dipenuhi oleh gelombang tanpa ujung pangkal, menari-nari riang namun dengan ekspresi yang menakutkan. Sekuat apapun ku coba menenggelamkan pandangan, justru semakin kuat pula aku tenggelam oleh gelombang yang entah sejak kapan berada di situ.
“Mohon maaf Kak, apa mau memesan lagi?”
Seorang waitress tiba-tiba mendatangi mejaku. Aku yang tersadar namun tidak sepenuhnya terkejut akan kehadirannya, spontan menjawab, Tidak. Lalu ia tersenyum kecil dan nampak sedikit enggan menjauh namun pada akhirnya pergi juga dengan langkah agak malas.
Setelah melepaskan padangan dari waitress yang kini punggungnya benar-benar ditelan oleh lekukan dinding pemisah ruangan cafe, aku baru tersadar. Bahwa seorang gadis yang tadinya dihadapanku, yang ku kira mungkin ia sebaya denganku itu juga menghilang. Cukup mengejutkan. Tapi tak lantas membuatku gusar untuk mencari. Karena hal seperti itu sudah sering terjadi. Saking seringnya, sampai-sampai menjadi biasa saja. Hanya meski biasa terjadi, disuatu waktu aku merasa tidak enak hati. Kalau-kalau mereka yang selama ini datang-pergi-kembali lagi-dan atau benar-benar pergi adalah dikarenakan oleh sikapku? Sikapku yang seketika tidak membuat nyaman mereka ketika berada di dekatku. Seperti seolah-olah merasa diabaikan. Persis seperti sekarang ini. Ah, sungguh, aku benar-benar tidak enak hati jika memang benar seperti itu adanya. Aku sama sekali tidak menyukainya. Ya, aku tidak suka membuat seseorang kecewa karena sikapku. Oleh karenanya, sampai sekarang aku masih terus berusaha untuk menjaga hati orang lain. Tidak ingin membuat siapapun kecewa. Namun, jangan salah paham. Meskipun begitu, bukan berarti aku adalah seorang gadis yang paling baik hati sedunia. Bukan. Karena sesungguhnya pekerjaan untuk menjaga hati orang lain adalah pekerjaan yang berat dan memuakkan. Bayangkan saja, menjelma menjadi seseorang yang memiliki hati bak malaikat dan selalu mengusahakan pertolongan kepada orang lain tanpa membuatnya kecewa. Bagaimana bisa? Bukankah orang bukanlah Tuhan? Jika dipikir-pikir aku sendiri sering merasa jijik dan kesal setiap kali mengingat untuk menawarkan atau sengaja dimintai tolong terhadap segala sesuatu padahal sebenarnya diri sendiri butuh bantuan. Dan entah mengapa terlalu sering aku meng’iya’kan. Atau ketika harus bersikap seperti gadis manis dengan air muka yang bersemangat ketika terlibat di sebuah perbincangan yang sebenarnya tidak ingin diikuti sama sekali. Entah apapun alasannya. Tidak bisa mengikuti-tidak cocok dengan pembahasan-tidak sepakat dengan opini dari pembahas lainnya atau alasan lain. Tapi toh ujung-ujungnya bertahan dengan tatapan mata konstan ke arah lawan bicara supaya tidak dianggap menyepelekan dengan sedikit bumbu senyuman kecil sepanjang perbincangan. Ah, benar-benar memuakkan!. Namun anehnya tak pernah bisa untuk tidak melakukan hal itu. Entahlah, begitu banyak kerumitan yang saling tumpang tindih dan saling terhubung.
Dan efeknya membuatku sering kali ingin sendirian. Benar-benar sendiri. Tanpa diganggu oleh siapapun, tanpa ditemani oleh siapapun. Berpikir tentang diri sendiri, mengerjakan apapun yang ku suka, menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan diri sendiri pula. Tidak ada tentang tubuh lain, tidak ada tentang senyuman atau tangisan untuk tubuh lain, tidak ada kepedulian yang pantas dicurahkan kepada tubuh lain. Kalaupun ada, maka yang ku ijinkan adalah perhatian semata tentang diriku. Hanya aku. Seperti halnya gadis bermata indah tadi. Yang kedatangannya entah dari kapan, akupun tidak sadar betul. Dan kepergiannya yang juga tanpa ku sadari. Bahkan aku juga lupa perbincangan kami dibuka dengan pembahasan macam apa, sampai pada akhirnya membicarakan tentang keinginanku untuk bunuh diri. Yang ku ingat, aku telah duduk berjam-jam dari sebelum matahari benar-benar tenggelam di meja cafe nomor 12 sampai hujan menelan separuh malam. Seorang diri.