Kamis, 21 Februari 2019

MARSOBA: Perempuan Yang Selalu Salah Memilih Warna Lipstik

MARSOBA: Perempuan Yang Selalu Salah Memilih Warna Lipstik: Oleh: Titis W. “Potret perempuan yang selalu salah memilih warna lipstik ketika masuk ke toko ‘make-up’, membuatnya hobi sekali ‘mera...

Rabu, 20 Februari 2019

Perempuan Yang Selalu Salah Memilih Warna Lipstik


Oleh: Titis W.
“Potret perempuan yang selalu salah memilih warna lipstik ketika masuk ke toko ‘make-up’, membuatnya hobi sekali ‘merampok’ pewarna bibir milik ibunya sewaktu pulang ke rumah. Tapi, sayangnya dia belum juga menyerah. Sampai sore tadi, lagi-lagi dia ‘sembrono’ beli lipsbalm dan ternyata hasilnya sama: sebuah kekecewaan. Yap, sudah bisa ditebak, kegagalan yang kesekian kali ini sejenak membuatnya sejenak kesal. Namun, dia masih berharap untuk bisa beli lipstik sendiri suatu saat nanti”

Jena adalah seorang mahasiswa biasa. Sehari-hari suka sekali makan di warung dengan menu yang biasa: telur atau ayam, paling mentok bisa makan sate kesukaannya—yang bagi sebagian orang juga sudah biasa. Suka memakai pakaian yang biasa: kaos oblong dipadu celana jeans dan sendal gunung. Ya, kadang terpaksa memakai sepatu kets dipadu kemeja jika serasa ada agenda yang mengharuskan sedikit berpenampilan resmi—itu pun sebenarnya dianggap banyak orang biasa. Kuliah dengan nilai ipk yang biasa—suka sekali memilih bangku agak belakang dan berdiam diri berharap tidak kena sasaran pertanyaan dosen. Berkumpul dengan orang-orang yang suka bergosip dengan biasa—mulai dari gosip artis, gosip teman-teman yang tidak gabung nongkrong, atau sok-sok an ngikutin gosip pemilu. Bangun dan tidur dengan waktu biasa—bagi mahasiswa lama (seperti Jena) pagi adalah pukul 10 am, siang adalah pukul 1 pm atau 2 pm, sore adalah pukul 7 pm dan malam di atas jam 12 pm. Pernah memiliki kisah percintaan yang biasa—pacaran cukup lama dan serius, tapi putus karena hal sepele. Benar-benar tidak ada yang telalu menonjol dari dirinya kecuali mood yang sering naik turun dan banyaknya kegagalan demi kegagalan yang ia lakukan, seperti kejengkelannya memilih warna lipstik!
“Aku baru beli lipgloss,” kata Jena pamer kepada salah seorang temannya yang belum kelar meloloskan aliran es goodday dari kerongkongannya.
“Tara...” tambah Jena lagi. Sebuah benda berbentuk tabung kecil dan panjang ia keluarkan dari dalam tote bag.
“Itu lipgloss apa lipbalm?,” tanya temannya tadi.
Kerutan wajah Jena yang melebar di kedua sudut bibir nampak berubah datar.
“Yah.. apa iya ya?.” Cepat-cepat Jena periksa benda yang belum sampai ia lepas bungkusnya itu.
“Yah.. iya, salah...” Lagi-lagi raut mukanya cepat berubah menjadi kesal.
“Coba lihat!,” sahut temannya sambil ketawa.
Tidak sampai disitu, kekesalan Jena bertambah ketika mulai mencoba lipbalm itu di bibirnya. Bukan tambah manis, justru persis seperti habis kena pukul. Merah lebam. Begitu cepat-cepat ia mengambil tissue di meja dan mengelapnya. Benar-benar kesal.
“Aku sih nggak suka pake lipgloss atau model lipbalm kayak gini. Kayak susah buat gerak bibirnya, apalagi ntar bisa bikin bibir cepet kering,” ucap temannya yang juga sempat mengoles benda itu di bibir dan lantas menghapusnya pula.
“Aku sebenernya juga nggak suka yang kinclong gini. Soalnya biasanya kalo beli lipstik, pasti salah warna. Ya udah, tadi aku mampir ke Indomaret, iseng beli ini. Ku pikir paling aman karena paling umum dipake cewek-cewek. Eh, tetep aja salah ternyata..,” timpal Jena.
Bukan cuma sekali. Kejadian salah memilih warna lipstik sudah Jena alami berkali-kali. Bahkan kalau diruntut, sekalipun dia belum pernah berhasil membeli benda pewarna bibir yang digemari semua cewek dan jadi pesona tambahan bagi mata lelaki itu dengan benar. Itu yang akhirnya membuat Jena kesal. Karenanya dia seringkali meminta beberapa lipstik koleksi ibunya ketika pulang ke rumah. Lipstik-lipstik itu yang sering dipakai Jena. Menurutnya, warna-warna yang dipilih ibunya selalu cocok untuk sedikit menaikkan pesona Jena yang biasa-biasa saja. Hanya saja, sudah lama sekali ia belum pulang ke rumah. Sedangkan di sini, ia cukup susah mencari merk lipstik yang sama dengan koleksi ibunya. Bahkah tidak jarang, ketika masuk ke toko ­make up, Jena menjadi benar-benar bingung. Di sini—di  tempat ia merantau, segala sesuatu tampak begitu serba ada dan mewah. Tidak terkecuali dengan toko make up. Pintunya yang terbuat dari kaca, sudah cukup memanjakan mata dari luar toko. Belum lagi ketika masuk ke dalam, wah... benar-benar menakjubkan! Dari sisi mana pun, Jena merasa terkesan dan nyaman berada di dalam benda magis itu. Ya, benda magis! Bagaimana tidak magis? Setahu Jena, toko make up adalah salah satu surganya para perempuan. Kebun aneka tumbuhan ajaib yang nantinya bisa dimasak di dapur. Lalu disajikan untuk dimakan sendiri atau bersama teman teman-teman lainnya. Aroma yang khas dengan parfum-parfum, lantai dan dinding yang serba bersih, kaca-kaca yang besar, lampu yang menyala terang, aneka pilihan merk dan harga, pelayan yang ramah, apalagi jika ada diskon besar-besaran! Benar-benar seperti benda magis yang menarik semua perempuan untuk mengerumuni tempat semacam ini.
“Eh, besok belanja make up yuk! Bedakku abis, handbody juga,” ajak salah seorang teman Jena suatu waktu.
“Yah, lagi nggak punya duit,” kata Jena.
“Yaelah, lihat-lihat aja dulu sambil nemanin aku. Siapa tahu ada diskonankan?,” pinta temannya.
“Em.. oke deh, boleh.”
Begitu seringkali obrolan yang berujung pada pembelian benda-benda yang pada akhirnya membuat Jena menyesal sesaat, termasuk lipstik. Sekali, dua kali, tiga, empat... dan belum pernah ada yang berakhir menyenangkan. Terkadang ia tergiur karena diskon yang besar, terkadang ia tergiur karena produknya branded, terkadang ia tergiur karena lampu toko yang terlampau terang dan membuat rupa yang bagus saat mencoba di tempat, terkadang ia benar-benar butuh tapi tidak sempat mencoba karena terburu-buru, terkadang ia iseng dan aji mumpung dalam memilih produk, dan lebih sering ia tergiur karena promosi dari temannya yang lebih dulu menggunakan produk itu...
“Eh itu lipstikmu merk apa deh?,” tanya Jena suatu ketika saat nongkrong bareng temannya.
“Kenapa? Baguskan?,” kata temannya sambil senyum-senyum.
“Iya. Itu nomor berapa?,”
“Kalau mau beli, kamu buka aja deh ig-nya. Itu barang-barang impor kok dan bermerk, tapi murah. Aku baru banget follow kemaren. Terus aku beli ini.”
Sesegera mungkin Jena membuka ig dan membeli produk yang persis dengan teman Jena beli. Beberapa hari setelahnya, datanglah lipstik itu. Jena begitu gembira. Cepat-cepat ia membuka kardus kecil dengan packing bercover kertas kado bunga-bunga pink cukup rapi. Tanpa menunggu aba-aba, ia oleskan lipstik itu sambil berkaca. Setelah serasa cukup memenuhi bibir, Jena sekali lagi berkaca memastikan tidak belepotan dan segera pergi ke warung biasa tempat ia makan sambil bergosip dengan teman-temannya.
“Eh, kok bibirmu jadi aneh gitu si!,” kata salah seorang teman tepat saat Jena duduk.
“Iya ih, nggak kayak biasanya. Aneh tau warna lipstiknya. Nggak cocok. Nggak kamu banget!,” tambah yang lain.
“Lah, ini kan sama kayak yang kamu beli kemaren. Nomornya juga sama kok,” sergah Jena.
“Masa? Tapi nggak cocok ya ternyata di kamu,” komen temannya.
Semenjak itu, Jena semakin sebal jika lipstik yang ia bawa dari rumah habis. Karena ia menjadi benar-benar pusing mencari warna yang cocok untuk bibirnya. Apalagi, jika teman-temannya sudah berkomentar yang aneh-aneh. Benar-benar membuat Jena tidak percaya diri. Tak jarang ia berkali-kali meraih kaca sebelum keluar kamar, lagi-lagi hanya untuk memastikan apakah ada penampilannya yang kurang pas? Atau berlebihankah warna lipstik yang ia pakai? Atau justru bagian mana yang kurang supaya tidak menjadi pusat perhatian karena aneh? Begitu ia yakinkan lagi dan lagi sampai merasa mantap dan tidak ada yang kurang.
Jena adalah seorang mahasiswa biasa. Bulan kedelapan tahun ini, ia tepat tujuh tahun kuliah. Itu berarti, sudah hampir tujuh tahun pula Jena tanpa sadar hanya menjadi mahasiswa biasa dengan keseharian yang biasa-biasa saja pula. Makan dengan menu biasa, berpakaian biasa, nongkrong dengan teman-teman sambil menggosip dengan biasa, bangun dan tidur dengan jam yang biasa, kuliah dengan biasa, dan mengerumuni toko make up dengan biasa. Hanya saja masih tidak bisa memilih warna lipstik yang tepat untuk bibirnya. Ujung-ujungnya lipstik-lipstik itu tergeletak di kotak make up sampai tanggal kadaluarsanya terlewat. Padahal, Jena hanya berusaha menjadi sama dengan yang lainnya biar tidak dianggap berbeda saja. Tapi  ternyata tidak semudah yang dipikirkan olehnya. Upayanya yang berkali-kali gagal, membuat Jena menjadi jengkel sendiri, lalu mencoba lagi dan lagi, lagi dan lagi. Begitu terus tanpa terputus, kecuali ia memakai lipstik dari ibunya.
Jena adalah seorang perempuan biasa. Di bulan kelima tahun ini ia berusia seperempat abad. Di usia yang kata orang cukup matang itu ada kabar baik tentang Jena. Kabarnya, karena moodnya yang cepat berubah, sekarang ini Jena sudah tidak sejengkel kemaren atau tadi sore. Jena hanya memikirkan dua hal: pertama, bulan kelima tahun ini ia harus sudah sah menjadi sarjana. Kedua, ia tetap berharap bisa memilih warna lipstik yang cocok untuk bibirnya suatu saat nanti.

Semarang, 21/02/2019
02.38 WIB