Rabu, 02 Januari 2013

Pagimu dan Tawaku :)


Pagi bercerita tentang tawa, riangnya, bahagyanya.
Pagi masih menunggu di bawah pohon kersen pojok kelas. Menengok ke arah kanan, lalu kiri, pintu bangunan, jendela-jendela kelas, lobi kelas, jalanan basah seberang jalan. Mencarimu, gusar!
Pagi ingin bercerita tentang kita, di bawah pohon kersen pojok kelas. Melahap tawa, mengulum senyum.
Pagi menyimpan langkah kaki, memotret tingkahmu.
Pagi ada saat langkahmu tegar melewati pintu bangunan, lobi-lobi kelas, jalanan basah seberang jalan.. . Pagi mengintip malu dari jendela-jendela kelas, saat itu.
Pagi ada saat langkahmu mulai gontai melewati pintu bangunan, lobi-lobi kelas, jalanan basah seberang jalan.. . Pagi mengintip malu dari jendela-jendela kelas, saat itu.
Pagi ( masih) ada saat langkahmu mulai melemah melewati pintu bangunan, lobi-lobi kelas, jalanan basah seberang jalan.. . Pagi mengintip malu dari jendela-jendela kelas, saat itu. Tak sengaja melepasmu, atau kau sendiri yang tak ingin lagi bersamanya.
Tapi, masih seperti yang dulu.
Ya!. Pagi masih punyamu.
Pagi masih setia kepadamu!. Apakah masih kurang terpuji laku itu?.
Pagi masih menantimu, di bawah pohon kersen pojok kelas.

“ Jika aku tak mampu meraihmu dengan tanganku, sekarang, maka akan aku simpan untuk kau genggam, nanti
Jika kau masih saja terdiam melihat punggungnya mulai menghilang, maka aku pun akan tetap diam melihat punggungmu yang ( ternyata) mulai menghilang
Jika kau masih setia dalam penantianmu, maka aku pun akan setia dalam penantianku
Jika kau masih saja tak mampu melihatku, maka aku tak akan pernah melewatkan bayangmu
Jika kau masih tetap menunggunya di balik pintu itu, maka aku yang menunggumu di balik pohon kersen pojok kelas, tempatku dapatkan senyumku oleh tawamu.” J

-Semarang, 3-01-2013-

Selasa, 01 Januari 2013

Pagi yang berirama
Desah merintih kedatangannya
Mendikte waktu detik demikian
Menyela denyung demi nada

Seakan embun membias bayangmu
Menengok elok sore senja
Kabut kusut dirajut Belut
Mendengar kerai berderai santai
Lantunan kelu
Abu-abu
Kenangan manis
Malu-malu gerimis tragis
Membasahi ruang senyap lelap
Dan mulai sekarang
Terbanglah Cinta.....!!
Meraih luka robekan kehidupan lara

to be continued....................

" Pagiku yang Malu" # Part2

Kau tersenyum dan aku tersipu. Lantas kau menyapa aku pun bahagya. Ku bertanya, kau mulai merangkai kata. Jawabmu begitu jelas. Jelas untuk bahagyaku pagi ini. Begitu indah memang, pagiku yang malu-malu.
:)

-Bantir, 1 Desember 2012-

Jumat, 21 Desember 2012

Apakah Ini Sebuah Dosa?


Sejak awal aku tak pernah sanggup mendeskripsikan apa yang sedang keadaan suguhkan saat ini. Saat di mana aku dituntut untuk merasakan sesuatu yang dulu pun pernah membayangi hari-hariku. Aku bingung. Apa aku musti bahagia karena hal ini?, atau malah harus bersedih karenanya?. Apa ini menguntungkanku?, atau justru malah merugikanku?.
Aku tak pernah menyalahkan diriku, hatiku, kamu, atau pun keadaan. Aku menyukaimu tanpa syarat apa pun. Aku menyukaimu melewati proses yang panjang. Sampai akhirnya aku ( harus) mengerti. Bahwa menyukaimu bukanlah hal yang gampang. Bukan sekedar bermain rasa, mata, atau perilaku. Bahkan secuil huruf pun terlalu sulit untuk menjabarkannya lebih lagi.
Aku sempat berfikir. Apakah rasa ku ini sebuah dosa?. Karena, aku takut. Takut, jika akan lebih banyak lagi orang yang tau tentang rasaku. Takut, jika kamu tau tentang rasaku ini. Lantas menjauhiku pergi. Semakin hari rasa takutku ini seolah menjerat nyaliku lebih erat. Membuatku semakin ciut dibuatnya.
Entah, apakah aku yang memang memiliki kepekaan terlalu kuat, atau memang ini hanya sebatas kecemasanku. Cemas saat aku mulai menyadari bahwa tak hanya hatiku yang tau bahwa " aku benar-benar menyukaimu", atau saat aku mulai tau bahwa dirimu pun tau apa yang sedang terjadi ini.
Aku malu . Malu saat harus dipertemukan oleh waktu dengan tatapanmu. Dengan dialog kita, yang memaksaku menata setiap frasa yang keluar dari celotehku, berharap : inilah jawaban benar ! yang pantas untuk mensejajarkan kelas pembicaraan kita setiap waktu. Mendikte setiap lakuku. Membatasi kubus gerakku. Semakin ciut,  dan mulai menekanku perlahan.
Kamu, membuatku tau  arti " suka" dan " cinta" yang sering orang-orang koarkan dengan bangga itu. Aku bahkan mengerti kamu, melebihi dirimu sendiri. Dan dia, yang mengajariku arti kesungguhan. Aku tidak pernah menyesal dengan keadaan ini. Bahkan aku tidak pernah berangan untuk melangkah maju, atau pun mundur saat ini. Karna aku tau, di titik inilah justru aku mendapat kebahagyaanku. Bahagya melihat kamu dengan kesungguhanmu itu. Bahagya  karna dia adalah orang yang benar-benar pantas untukmu. Bahagya karna kisah kalyan. Kisahku dan kamu. Kisah ini yang belum berpihak padaku. 
Sekarang aku semakin mengerti,  menyukaimu adalah sebuah anugrah yang juga aku anggap sebuah dosa. Indah, menyenangkan, basah, dan cemas...

Kamu, aku dan dosa ini tidak akan pernah berakhir sampai kapan pun...

:')

Pagiku yang Malu #Part 1

kau
tersenyum
tertawa
menyapa
canda tawa
malu
indah
lugu
tanya
rasa