Minggu, 09 Juni 2013

For Losing U

Langit lebih bersahabat tampaknya. Udara desa yang masih segar berusaha kompak dengan cerahnya mentari pagi ini. Oh ya, bercerita tentang desa, tak pernah lepas dengan tradisi dan kepercayaan masyarakat di dalamnya. Misalnya saja Bersih Desa atau Sedekah Bumi. Ialah suatu tradisi wujud dari rasa syukur para masyarakat kepada bumi yang telah memberikan kesuburannya. Upacaranya sendiri biasanya dilaksanakan ba'da panen desa.
Hari ini adalah hari kedua aku berada di tanah kelahiranku 19 tahun silam itu. Sebenarnya, tak cukup alasan jika kepulanganku kali ini hanya untuk menikmati suasana kemeriahan Sedekah Bumi yang terlaksana selama beberapa hari itu. A lasan klasik sebagai seorang mahasiswa perantauan, apalagi kalau bukan uang mingguan yang habis. Ya, sudah beberapa kali jadwal pulang sesuai jatah dari ibuku selalu molor. Tentu saja itu meninggalkan hutang yang semakin menggunung. Lagi-lagi bukan masalah membayar atau apa, yang paling utama adalah rasa sungkan dan bingung jika harus " nabrak sana, nabrak sini " mencari tambalan lubang untuk sekedar makan. Sementara disisi lain, ada berbagai kesibukan yang seharusnya tidak bisa ditinggal. Namun, menurutku  ini sudah benar-benar mendesak dan mengharuskanku untuk pulang. Seperti biasa, bonusnya ialah dapat bercengkerama dengan keluarga. Salah satu obat rindu yang paling mujarab jika dibandingkan dengan telepon ataupun ber-sms yang nyatanya keduanya pun telah jarang saat ini.
Pagi ini aku bangun senormalnya. Mandi dan sarapan. Sebuah kebiasaan di desaku, setiap " Sedekah Bumi" warganya yang mampu akan masak besar dan diberikan krpada sanak saudaranya sebagai wujud syukur. Dan kami, para anak bertugas mengantarkannya sebagai wujud kamuflase " luru sangu ". Benar, setelah mengantarkan " wewehan sedekah bumi ", aku, adik dan keponakanku yang notabene belum bekerja mendapat bagian " sangu" 46ribu-an. Lumayan, bisa buat beli pulsa dan charger hp, fikirku. Setelah acara tumpengan di punden desa, siang itu adikku " nggegeri" minta untuk diantar ke Pati mengisi permainan PS nya. Ya, malas sekali sebenarnya. Namun akhirnya, kita berangkat juga. Aku, adikku, dan ibuku. Setelah hampir satu jam perjalanan sampailah kita di tempat servis PS. Di sana adikku dengan cekatan memilih berbagai permainan kesukaannya tanpa gagap sekalipun. Ya, beda dengan mbaknya yang buta PS. Bahkan sekedar teknik memakai sticknya pun tidak mampu, payah!.
PS harus ditinggal saat itu, karena proses pengisian yang berjam-jam dan waktu yang menunjukkan pukul 3.35pm mengharuskan kami untuk memutuskan pulang dan mengambilnya besok. Disepanjang perjalanan pulang tidak ada kendala apapun. Dengan speedometer yang mati, aku tak mampu mengukur seberapa cepat kupacu motorku. Aku hanya mengira-ngira seberapa cepat lajuku jika dibanding dengan kendaraan lain yang melintas ramai dijalanan sore itu. Sampai akhirnya sebuah tambalan jalan yang sedikit mengganjal dan ku trabas tanpa ampun. ' Jedakkk!', keras sekali. Namun tak apa, aku bahkan tak oleng sedikit pun. Kami melanjutkan perjalanan pulang dengan kecepatan yang sama. Belum sampai 200meteran tiba-tiba motor mulai oleng. Ku lepas perlahan gagang gas dan seraya melipir untuk memeriksanya. Ya, tentu saja! ban dalam keadaan tanpa angin, sial!.Kami bertiga bingung sekali dibuatnya. Ban bocor diarea yang kurang menguntungkan. Jalanan kawasan persawahan yang membentang luas hampir dua kilometer di kanan-kiri jalan. Bagus!, fikirku. Awalnya kami bertiga berjalan sembari ku tuntun motorku pelan. Namun tak bertahan lama, kami memutuskan untuk ku kendarai saja dan segera mencari bengkel terdekat. Sementara itu, ibu dan adikku mengalah untuk berjalan kaki. Perlahan aku mulai meninggalkan mereka berdua dan fokus untuk mencari bengkel. Tak lama ku jumpai sebuah bengkel di kanan jalan, syukurlah!. Tanpa berfikir panjang segera ku menyeberang dan menghampiri bengkel itu. Setelah dibongkar, bukan hanya paku, ban nampak lebih parah dengan keadaannya yang pecah. Tak masalah, aku sedikit lega karena si montir  menyanggupi mengganti ban dalam yang pecah itu. Kurang dari 10 menit motorku siap dikendarai lagi, tapi.... ah, aku baru sadar kalau dompetku ada di tas adikku. Sial!, umpatku tak berkesudahan. Akhirnya ku putuskan menunggu ibu dan adikku di sana. Ku berdiri mematung di pinggir jalan untuk melihat sampai mana mereka berjalan. Hingga pelanggan berikutnya berdatangan dan pergi, namun mereka tak kunjung kelihatan. Aku mulai cemas. Ku duduk lagi, dan tak lama berdiri lagi. Sudah hampir 40 menit, dan tak ada tanda-tanda kehadiran mereka. Fikiran yang sedari tadi ku jaga supaya tidak lancang berfikir buruk, kini tak mampu terbendungkan lagi. Aku cemas, aku khawatir. Kemana mereka berdua?. Apalagi aku tahu, tadi sebelum berangkat ibuku sengaja tidak membawa hp karena baterainya habis. Aku semakin gusar. Lalu, dengan persetujuan dan pengertian montir bengkel, aku diijinkan pergi untuk menjemput ibu dan adikku dulu. Ku telusuri lagi jalan yang telah ku lalui tadi. Mulai dari lokasi jalan dengan tambalan aspal yang lebih tinggi itu, sampai titik terakhir kami memutuskan untuk berpisah. Namun tetap tidak ada. Oh Tuhan... . Semakin pelan ku telusuri jalanan, tak sadar pipiku mulai basah berasal dari pojok mataku. Sampai akhirnya aku kembali di bengkel dengan wajah yang lesu. Seolah tampak mengerti dengan kebingunganku, si montir hanya berkata, " mungkin  ibu mu sudah naik bis Mbak". Ya, aku hanya tersenyum dan mengamininya dalam hati. Semoga saja. Ku hubungi mbakku di rumah. Ku ceritakan kronologisnya tanpa memperlihatkan ke khawatiranku dengan tujuan meminta bantuan untuk membayar bengkel saja lewat telepon. Ya, aku tak mau mengumbar rasa khawatir ini sebelum tahu di mana keberadaan ibu dan adikku sebenarnya. Mendengar itu, seorang pelanggan yang iba akhirnya membayar bon bengkel untukku. Aku sungkan, tapi mungkin ini pertolongan Tuhan. Aku berterima kasih kepadanya, lantas segera pergi mencari di mana perginya kedua orang yang ku sayang itu. Aku mencarinya di pasar Juwana, alun-alun Juwana. Siapa tahu, jika memang mereka naik kendaran umum seharusnya mereka turun dulu di dua lokasi itu lalu naik angkot lagi untuk pulang ke rumah. Dan lagi-lagi nihil. Aku mulai putus asa, ku putuskan untuk pulang. Aku marah, aku cemas, aku merasakan sakit karena kehilangan. Di sepanjang perjalanan hanya satu harapan terakhirku, rumah!. Aku berjanji pada Tuhan dan diriku sendiri, aku tidak akan marah jika mereka memang benar-benar sudah ada di rumah. Kembali tetesan air mata itu mengantarkanku hingga ke rumah. Kurang dari 10menit, ku usap air mata itu dan mematikan mesin motor. Aku turun dan masuk ke dalam. Ya, terima kasih Tuhan, ternyata ibu dan adikku sudah ada di rumah saat itu. Aku tak mampu berkata apa-apa. Aku tak bisa membayangkan jika aku harus kehilangan mereka. Lagi, hampir saja ku teteskan air mata itu, namun  kali ini mampu ku tahan. Mereka hanya meminta maaf telah pulang tanpa mengabariku. Aku tak ingin  marah, aku hanya takut, takut kehilangan mereka. Dan aku hanya menanggapi dengan sebuah senyuman canggung. Terima kasih Tuhan, ucapku lirih. :')

- Ketitang Wetan, 5 Juni 2013 -

Selasa, 21 Mei 2013

NyonyoMonkey: Dini Hariku, Ibu, dan Rumahku

NyonyoMonkey: Dini Hariku, Ibu, dan Rumahku: Malam masih bercengkerama dengan senyap. Aku hanya bisa tepar sembari menopang laptop diperutku. Mencoba memasuki celah yang telah Tuhan su...

Dini Hariku, Ibu, dan Rumahku

Malam masih bercengkerama dengan senyap. Aku hanya bisa tepar sembari menopang laptop diperutku. Mencoba memasuki celah yang telah Tuhan suguhkan malam ini. Sebenarnya aku tahu harus berbuat apa. Pekerjaan yang masih menggunung belum juga tersentuh tangan. Bukan belum, hanya saja  hawa " pengen"  lenyap begitu saja. Aku juga tidak mengerti mengapa?.
Suara cetat-cetit tombol keyboard urung sepakat membisukan suasana. Mata ini pun serasa masih 250watt saja. Mengetik kata per kata tanpa sebuah penghakiman yang lebih mendalam.
" Hanya ingin menulis saja", begitu kiranya yang tergambar.
Ada lagi, ini sungguh aneh. Aku ingin menulis tanpa mengetahui apa yang ingin ku sampaikan. Tapi tangan ini masih saja lancar memencet berulang kali tombol laptop. Sesekali, delete pun mempunyai andil besar sebagai sumbangsih menghapus kekeliruan. Ya, aku tahu. "Ada yang keliru". Lantas di sebelah mana kekeliruan itu?.
Aku ingin mengingat-ingat kembali dan mem-flashback-kan apa saja yang telah ku perbuat tadi. Siapa tahu aku menemui yang keliru itu. Mulai dari makan, sms, facebook, games, tumblr, picture, mandi?. Aaarrgh... . Tidak ada yang keliru satu pun.
Atau karena hari ini?. Hari ini. Ya.
Sebenarnya, aku sudah terbiasa ditemani kesunyian seperti hari ini. Tahun lalu, dan beberapa tahun lain yang mengekor setelahnya. Hanya saja entah karena apa yang keliru tadi, membuatku merasa rindu oleh rumah. Oleh Ibu, Bapak, Mbak, Adik, dan Mbahku di sana. Aku ingin merasakan dekapanmu, Ibu. Sungguh aku benar-benar rindu. Aku ingin memelukmu, dan berbisik lembut, " Ibu, terimakasih telah ada hingga di tahunku yang ke 19 ini. Aku berharap engkau selalu ada di tahunku berikutnya, dan tetap dekap aku Ibu, aku rindu".
Tetesan peluh yang pecah dari sudut mata memeriahkan kecamuk rinduku. Ingin diungkapkan seperti apa lagi?, ya beginilah memang, seperti sebelum-sebelumnya. Oh iya, lagi-lagi karena kecerobohanku. Aku lupa, lupa berucap syukur kepada Sang Maha Pencipta.
" Alhamdulillah, terimakasih Tuhan telah memberiku kesempatan menikmati anugrahMu hingga titik ini. Hamba berharap Kau senantiasa memberikan kesehatan, panjang usia, keselamatan dan kebahagiaan yang tak henti-hentinya. Dan terimakasih Tuhan, karena cobaanMu yang indah masa lampau telah membantuku menjadi sedikit lebih kokoh dari sebelumnya, dan terimakasih atas manusia-manusia ciptaanMu yang ada disekelilingku. Begitu indah Tuhanku, terimakasih sekali lagi".
Kantuk mulai menyapa pagi kamarku. Sementara itu, besok harus sudah ada tumpukan hardcopy hasil tanggungjawabku. Maka sabarlah sebentar mata, tubuh. Ini hanya beberapa ribu detik saja. Setelah itu kau boleh beristirahat sejenak.
Ya, ini masih hari yang normal sepertinya. Ibu, rumah, dan kerjaanku, pagi nanti aku pun harus tetap menuntut ilmu. Kan ku usaikan dahulu tanggungjawab ini, lalu menjemput kantukku dan meleburkan rinduku, Ibu.

Rabu, 02 Januari 2013

Pagimu dan Tawaku :)


Pagi bercerita tentang tawa, riangnya, bahagyanya.
Pagi masih menunggu di bawah pohon kersen pojok kelas. Menengok ke arah kanan, lalu kiri, pintu bangunan, jendela-jendela kelas, lobi kelas, jalanan basah seberang jalan. Mencarimu, gusar!
Pagi ingin bercerita tentang kita, di bawah pohon kersen pojok kelas. Melahap tawa, mengulum senyum.
Pagi menyimpan langkah kaki, memotret tingkahmu.
Pagi ada saat langkahmu tegar melewati pintu bangunan, lobi-lobi kelas, jalanan basah seberang jalan.. . Pagi mengintip malu dari jendela-jendela kelas, saat itu.
Pagi ada saat langkahmu mulai gontai melewati pintu bangunan, lobi-lobi kelas, jalanan basah seberang jalan.. . Pagi mengintip malu dari jendela-jendela kelas, saat itu.
Pagi ( masih) ada saat langkahmu mulai melemah melewati pintu bangunan, lobi-lobi kelas, jalanan basah seberang jalan.. . Pagi mengintip malu dari jendela-jendela kelas, saat itu. Tak sengaja melepasmu, atau kau sendiri yang tak ingin lagi bersamanya.
Tapi, masih seperti yang dulu.
Ya!. Pagi masih punyamu.
Pagi masih setia kepadamu!. Apakah masih kurang terpuji laku itu?.
Pagi masih menantimu, di bawah pohon kersen pojok kelas.

“ Jika aku tak mampu meraihmu dengan tanganku, sekarang, maka akan aku simpan untuk kau genggam, nanti
Jika kau masih saja terdiam melihat punggungnya mulai menghilang, maka aku pun akan tetap diam melihat punggungmu yang ( ternyata) mulai menghilang
Jika kau masih setia dalam penantianmu, maka aku pun akan setia dalam penantianku
Jika kau masih saja tak mampu melihatku, maka aku tak akan pernah melewatkan bayangmu
Jika kau masih tetap menunggunya di balik pintu itu, maka aku yang menunggumu di balik pohon kersen pojok kelas, tempatku dapatkan senyumku oleh tawamu.” J

-Semarang, 3-01-2013-

Selasa, 01 Januari 2013

Pagi yang berirama
Desah merintih kedatangannya
Mendikte waktu detik demikian
Menyela denyung demi nada

Seakan embun membias bayangmu
Menengok elok sore senja
Kabut kusut dirajut Belut
Mendengar kerai berderai santai
Lantunan kelu
Abu-abu
Kenangan manis
Malu-malu gerimis tragis
Membasahi ruang senyap lelap
Dan mulai sekarang
Terbanglah Cinta.....!!
Meraih luka robekan kehidupan lara

to be continued....................

" Pagiku yang Malu" # Part2

Kau tersenyum dan aku tersipu. Lantas kau menyapa aku pun bahagya. Ku bertanya, kau mulai merangkai kata. Jawabmu begitu jelas. Jelas untuk bahagyaku pagi ini. Begitu indah memang, pagiku yang malu-malu.
:)

-Bantir, 1 Desember 2012-