Langit lebih bersahabat tampaknya. Udara desa yang masih segar berusaha kompak dengan cerahnya mentari pagi ini. Oh ya, bercerita tentang desa, tak pernah lepas dengan tradisi dan kepercayaan masyarakat di dalamnya. Misalnya saja Bersih Desa atau Sedekah Bumi. Ialah suatu tradisi wujud dari rasa syukur para masyarakat kepada bumi yang telah memberikan kesuburannya. Upacaranya sendiri biasanya dilaksanakan ba'da panen desa.
Hari ini adalah hari kedua aku berada di tanah kelahiranku 19 tahun silam itu. Sebenarnya, tak cukup alasan jika kepulanganku kali ini hanya untuk menikmati suasana kemeriahan Sedekah Bumi yang terlaksana selama beberapa hari itu. A lasan klasik sebagai seorang mahasiswa perantauan, apalagi kalau bukan uang mingguan yang habis. Ya, sudah beberapa kali jadwal pulang sesuai jatah dari ibuku selalu molor. Tentu saja itu meninggalkan hutang yang semakin menggunung. Lagi-lagi bukan masalah membayar atau apa, yang paling utama adalah rasa sungkan dan bingung jika harus " nabrak sana, nabrak sini " mencari tambalan lubang untuk sekedar makan. Sementara disisi lain, ada berbagai kesibukan yang seharusnya tidak bisa ditinggal. Namun, menurutku ini sudah benar-benar mendesak dan mengharuskanku untuk pulang. Seperti biasa, bonusnya ialah dapat bercengkerama dengan keluarga. Salah satu obat rindu yang paling mujarab jika dibandingkan dengan telepon ataupun ber-sms yang nyatanya keduanya pun telah jarang saat ini.
Pagi ini aku bangun senormalnya. Mandi dan sarapan. Sebuah kebiasaan di desaku, setiap " Sedekah Bumi" warganya yang mampu akan masak besar dan diberikan krpada sanak saudaranya sebagai wujud syukur. Dan kami, para anak bertugas mengantarkannya sebagai wujud kamuflase " luru sangu ". Benar, setelah mengantarkan " wewehan sedekah bumi ", aku, adik dan keponakanku yang notabene belum bekerja mendapat bagian " sangu" 46ribu-an. Lumayan, bisa buat beli pulsa dan charger hp, fikirku. Setelah acara tumpengan di punden desa, siang itu adikku " nggegeri" minta untuk diantar ke Pati mengisi permainan PS nya. Ya, malas sekali sebenarnya. Namun akhirnya, kita berangkat juga. Aku, adikku, dan ibuku. Setelah hampir satu jam perjalanan sampailah kita di tempat servis PS. Di sana adikku dengan cekatan memilih berbagai permainan kesukaannya tanpa gagap sekalipun. Ya, beda dengan mbaknya yang buta PS. Bahkan sekedar teknik memakai sticknya pun tidak mampu, payah!.
PS harus ditinggal saat itu, karena proses pengisian yang berjam-jam dan waktu yang menunjukkan pukul 3.35pm mengharuskan kami untuk memutuskan pulang dan mengambilnya besok. Disepanjang perjalanan pulang tidak ada kendala apapun. Dengan speedometer yang mati, aku tak mampu mengukur seberapa cepat kupacu motorku. Aku hanya mengira-ngira seberapa cepat lajuku jika dibanding dengan kendaraan lain yang melintas ramai dijalanan sore itu. Sampai akhirnya sebuah tambalan jalan yang sedikit mengganjal dan ku trabas tanpa ampun. ' Jedakkk!', keras sekali. Namun tak apa, aku bahkan tak oleng sedikit pun. Kami melanjutkan perjalanan pulang dengan kecepatan yang sama. Belum sampai 200meteran tiba-tiba motor mulai oleng. Ku lepas perlahan gagang gas dan seraya melipir untuk memeriksanya. Ya, tentu saja! ban dalam keadaan tanpa angin, sial!.Kami bertiga bingung sekali dibuatnya. Ban bocor diarea yang kurang menguntungkan. Jalanan kawasan persawahan yang membentang luas hampir dua kilometer di kanan-kiri jalan. Bagus!, fikirku. Awalnya kami bertiga berjalan sembari ku tuntun motorku pelan. Namun tak bertahan lama, kami memutuskan untuk ku kendarai saja dan segera mencari bengkel terdekat. Sementara itu, ibu dan adikku mengalah untuk berjalan kaki. Perlahan aku mulai meninggalkan mereka berdua dan fokus untuk mencari bengkel. Tak lama ku jumpai sebuah bengkel di kanan jalan, syukurlah!. Tanpa berfikir panjang segera ku menyeberang dan menghampiri bengkel itu. Setelah dibongkar, bukan hanya paku, ban nampak lebih parah dengan keadaannya yang pecah. Tak masalah, aku sedikit lega karena si montir menyanggupi mengganti ban dalam yang pecah itu. Kurang dari 10 menit motorku siap dikendarai lagi, tapi.... ah, aku baru sadar kalau dompetku ada di tas adikku. Sial!, umpatku tak berkesudahan. Akhirnya ku putuskan menunggu ibu dan adikku di sana. Ku berdiri mematung di pinggir jalan untuk melihat sampai mana mereka berjalan. Hingga pelanggan berikutnya berdatangan dan pergi, namun mereka tak kunjung kelihatan. Aku mulai cemas. Ku duduk lagi, dan tak lama berdiri lagi. Sudah hampir 40 menit, dan tak ada tanda-tanda kehadiran mereka. Fikiran yang sedari tadi ku jaga supaya tidak lancang berfikir buruk, kini tak mampu terbendungkan lagi. Aku cemas, aku khawatir. Kemana mereka berdua?. Apalagi aku tahu, tadi sebelum berangkat ibuku sengaja tidak membawa hp karena baterainya habis. Aku semakin gusar. Lalu, dengan persetujuan dan pengertian montir bengkel, aku diijinkan pergi untuk menjemput ibu dan adikku dulu. Ku telusuri lagi jalan yang telah ku lalui tadi. Mulai dari lokasi jalan dengan tambalan aspal yang lebih tinggi itu, sampai titik terakhir kami memutuskan untuk berpisah. Namun tetap tidak ada. Oh Tuhan... . Semakin pelan ku telusuri jalanan, tak sadar pipiku mulai basah berasal dari pojok mataku. Sampai akhirnya aku kembali di bengkel dengan wajah yang lesu. Seolah tampak mengerti dengan kebingunganku, si montir hanya berkata, " mungkin ibu mu sudah naik bis Mbak". Ya, aku hanya tersenyum dan mengamininya dalam hati. Semoga saja. Ku hubungi mbakku di rumah. Ku ceritakan kronologisnya tanpa memperlihatkan ke khawatiranku dengan tujuan meminta bantuan untuk membayar bengkel saja lewat telepon. Ya, aku tak mau mengumbar rasa khawatir ini sebelum tahu di mana keberadaan ibu dan adikku sebenarnya. Mendengar itu, seorang pelanggan yang iba akhirnya membayar bon bengkel untukku. Aku sungkan, tapi mungkin ini pertolongan Tuhan. Aku berterima kasih kepadanya, lantas segera pergi mencari di mana perginya kedua orang yang ku sayang itu. Aku mencarinya di pasar Juwana, alun-alun Juwana. Siapa tahu, jika memang mereka naik kendaran umum seharusnya mereka turun dulu di dua lokasi itu lalu naik angkot lagi untuk pulang ke rumah. Dan lagi-lagi nihil. Aku mulai putus asa, ku putuskan untuk pulang. Aku marah, aku cemas, aku merasakan sakit karena kehilangan. Di sepanjang perjalanan hanya satu harapan terakhirku, rumah!. Aku berjanji pada Tuhan dan diriku sendiri, aku tidak akan marah jika mereka memang benar-benar sudah ada di rumah. Kembali tetesan air mata itu mengantarkanku hingga ke rumah. Kurang dari 10menit, ku usap air mata itu dan mematikan mesin motor. Aku turun dan masuk ke dalam. Ya, terima kasih Tuhan, ternyata ibu dan adikku sudah ada di rumah saat itu. Aku tak mampu berkata apa-apa. Aku tak bisa membayangkan jika aku harus kehilangan mereka. Lagi, hampir saja ku teteskan air mata itu, namun kali ini mampu ku tahan. Mereka hanya meminta maaf telah pulang tanpa mengabariku. Aku tak ingin marah, aku hanya takut, takut kehilangan mereka. Dan aku hanya menanggapi dengan sebuah senyuman canggung. Terima kasih Tuhan, ucapku lirih. :')
- Ketitang Wetan, 5 Juni 2013 -
Hari ini adalah hari kedua aku berada di tanah kelahiranku 19 tahun silam itu. Sebenarnya, tak cukup alasan jika kepulanganku kali ini hanya untuk menikmati suasana kemeriahan Sedekah Bumi yang terlaksana selama beberapa hari itu. A lasan klasik sebagai seorang mahasiswa perantauan, apalagi kalau bukan uang mingguan yang habis. Ya, sudah beberapa kali jadwal pulang sesuai jatah dari ibuku selalu molor. Tentu saja itu meninggalkan hutang yang semakin menggunung. Lagi-lagi bukan masalah membayar atau apa, yang paling utama adalah rasa sungkan dan bingung jika harus " nabrak sana, nabrak sini " mencari tambalan lubang untuk sekedar makan. Sementara disisi lain, ada berbagai kesibukan yang seharusnya tidak bisa ditinggal. Namun, menurutku ini sudah benar-benar mendesak dan mengharuskanku untuk pulang. Seperti biasa, bonusnya ialah dapat bercengkerama dengan keluarga. Salah satu obat rindu yang paling mujarab jika dibandingkan dengan telepon ataupun ber-sms yang nyatanya keduanya pun telah jarang saat ini.
Pagi ini aku bangun senormalnya. Mandi dan sarapan. Sebuah kebiasaan di desaku, setiap " Sedekah Bumi" warganya yang mampu akan masak besar dan diberikan krpada sanak saudaranya sebagai wujud syukur. Dan kami, para anak bertugas mengantarkannya sebagai wujud kamuflase " luru sangu ". Benar, setelah mengantarkan " wewehan sedekah bumi ", aku, adik dan keponakanku yang notabene belum bekerja mendapat bagian " sangu" 46ribu-an. Lumayan, bisa buat beli pulsa dan charger hp, fikirku. Setelah acara tumpengan di punden desa, siang itu adikku " nggegeri" minta untuk diantar ke Pati mengisi permainan PS nya. Ya, malas sekali sebenarnya. Namun akhirnya, kita berangkat juga. Aku, adikku, dan ibuku. Setelah hampir satu jam perjalanan sampailah kita di tempat servis PS. Di sana adikku dengan cekatan memilih berbagai permainan kesukaannya tanpa gagap sekalipun. Ya, beda dengan mbaknya yang buta PS. Bahkan sekedar teknik memakai sticknya pun tidak mampu, payah!.
PS harus ditinggal saat itu, karena proses pengisian yang berjam-jam dan waktu yang menunjukkan pukul 3.35pm mengharuskan kami untuk memutuskan pulang dan mengambilnya besok. Disepanjang perjalanan pulang tidak ada kendala apapun. Dengan speedometer yang mati, aku tak mampu mengukur seberapa cepat kupacu motorku. Aku hanya mengira-ngira seberapa cepat lajuku jika dibanding dengan kendaraan lain yang melintas ramai dijalanan sore itu. Sampai akhirnya sebuah tambalan jalan yang sedikit mengganjal dan ku trabas tanpa ampun. ' Jedakkk!', keras sekali. Namun tak apa, aku bahkan tak oleng sedikit pun. Kami melanjutkan perjalanan pulang dengan kecepatan yang sama. Belum sampai 200meteran tiba-tiba motor mulai oleng. Ku lepas perlahan gagang gas dan seraya melipir untuk memeriksanya. Ya, tentu saja! ban dalam keadaan tanpa angin, sial!.Kami bertiga bingung sekali dibuatnya. Ban bocor diarea yang kurang menguntungkan. Jalanan kawasan persawahan yang membentang luas hampir dua kilometer di kanan-kiri jalan. Bagus!, fikirku. Awalnya kami bertiga berjalan sembari ku tuntun motorku pelan. Namun tak bertahan lama, kami memutuskan untuk ku kendarai saja dan segera mencari bengkel terdekat. Sementara itu, ibu dan adikku mengalah untuk berjalan kaki. Perlahan aku mulai meninggalkan mereka berdua dan fokus untuk mencari bengkel. Tak lama ku jumpai sebuah bengkel di kanan jalan, syukurlah!. Tanpa berfikir panjang segera ku menyeberang dan menghampiri bengkel itu. Setelah dibongkar, bukan hanya paku, ban nampak lebih parah dengan keadaannya yang pecah. Tak masalah, aku sedikit lega karena si montir menyanggupi mengganti ban dalam yang pecah itu. Kurang dari 10 menit motorku siap dikendarai lagi, tapi.... ah, aku baru sadar kalau dompetku ada di tas adikku. Sial!, umpatku tak berkesudahan. Akhirnya ku putuskan menunggu ibu dan adikku di sana. Ku berdiri mematung di pinggir jalan untuk melihat sampai mana mereka berjalan. Hingga pelanggan berikutnya berdatangan dan pergi, namun mereka tak kunjung kelihatan. Aku mulai cemas. Ku duduk lagi, dan tak lama berdiri lagi. Sudah hampir 40 menit, dan tak ada tanda-tanda kehadiran mereka. Fikiran yang sedari tadi ku jaga supaya tidak lancang berfikir buruk, kini tak mampu terbendungkan lagi. Aku cemas, aku khawatir. Kemana mereka berdua?. Apalagi aku tahu, tadi sebelum berangkat ibuku sengaja tidak membawa hp karena baterainya habis. Aku semakin gusar. Lalu, dengan persetujuan dan pengertian montir bengkel, aku diijinkan pergi untuk menjemput ibu dan adikku dulu. Ku telusuri lagi jalan yang telah ku lalui tadi. Mulai dari lokasi jalan dengan tambalan aspal yang lebih tinggi itu, sampai titik terakhir kami memutuskan untuk berpisah. Namun tetap tidak ada. Oh Tuhan... . Semakin pelan ku telusuri jalanan, tak sadar pipiku mulai basah berasal dari pojok mataku. Sampai akhirnya aku kembali di bengkel dengan wajah yang lesu. Seolah tampak mengerti dengan kebingunganku, si montir hanya berkata, " mungkin ibu mu sudah naik bis Mbak". Ya, aku hanya tersenyum dan mengamininya dalam hati. Semoga saja. Ku hubungi mbakku di rumah. Ku ceritakan kronologisnya tanpa memperlihatkan ke khawatiranku dengan tujuan meminta bantuan untuk membayar bengkel saja lewat telepon. Ya, aku tak mau mengumbar rasa khawatir ini sebelum tahu di mana keberadaan ibu dan adikku sebenarnya. Mendengar itu, seorang pelanggan yang iba akhirnya membayar bon bengkel untukku. Aku sungkan, tapi mungkin ini pertolongan Tuhan. Aku berterima kasih kepadanya, lantas segera pergi mencari di mana perginya kedua orang yang ku sayang itu. Aku mencarinya di pasar Juwana, alun-alun Juwana. Siapa tahu, jika memang mereka naik kendaran umum seharusnya mereka turun dulu di dua lokasi itu lalu naik angkot lagi untuk pulang ke rumah. Dan lagi-lagi nihil. Aku mulai putus asa, ku putuskan untuk pulang. Aku marah, aku cemas, aku merasakan sakit karena kehilangan. Di sepanjang perjalanan hanya satu harapan terakhirku, rumah!. Aku berjanji pada Tuhan dan diriku sendiri, aku tidak akan marah jika mereka memang benar-benar sudah ada di rumah. Kembali tetesan air mata itu mengantarkanku hingga ke rumah. Kurang dari 10menit, ku usap air mata itu dan mematikan mesin motor. Aku turun dan masuk ke dalam. Ya, terima kasih Tuhan, ternyata ibu dan adikku sudah ada di rumah saat itu. Aku tak mampu berkata apa-apa. Aku tak bisa membayangkan jika aku harus kehilangan mereka. Lagi, hampir saja ku teteskan air mata itu, namun kali ini mampu ku tahan. Mereka hanya meminta maaf telah pulang tanpa mengabariku. Aku tak ingin marah, aku hanya takut, takut kehilangan mereka. Dan aku hanya menanggapi dengan sebuah senyuman canggung. Terima kasih Tuhan, ucapku lirih. :')
- Ketitang Wetan, 5 Juni 2013 -

