Malam masih bercengkerama dengan senyap. Aku hanya bisa tepar sembari menopang laptop diperutku. Mencoba memasuki celah yang telah Tuhan suguhkan malam ini. Sebenarnya aku tahu harus berbuat apa. Pekerjaan yang masih menggunung belum juga tersentuh tangan. Bukan belum, hanya saja hawa " pengen" lenyap begitu saja. Aku juga tidak mengerti mengapa?.
Suara cetat-cetit tombol keyboard urung sepakat membisukan suasana. Mata ini pun serasa masih 250watt saja. Mengetik kata per kata tanpa sebuah penghakiman yang lebih mendalam.
" Hanya ingin menulis saja", begitu kiranya yang tergambar.
Ada lagi, ini sungguh aneh. Aku ingin menulis tanpa mengetahui apa yang ingin ku sampaikan. Tapi tangan ini masih saja lancar memencet berulang kali tombol laptop. Sesekali, delete pun mempunyai andil besar sebagai sumbangsih menghapus kekeliruan. Ya, aku tahu. "Ada yang keliru". Lantas di sebelah mana kekeliruan itu?.
Aku ingin mengingat-ingat kembali dan mem-flashback-kan apa saja yang telah ku perbuat tadi. Siapa tahu aku menemui yang keliru itu. Mulai dari makan, sms, facebook, games, tumblr, picture, mandi?. Aaarrgh... . Tidak ada yang keliru satu pun.
Atau karena hari ini?. Hari ini. Ya.
Sebenarnya, aku sudah terbiasa ditemani kesunyian seperti hari ini. Tahun lalu, dan beberapa tahun lain yang mengekor setelahnya. Hanya saja entah karena apa yang keliru tadi, membuatku merasa rindu oleh rumah. Oleh Ibu, Bapak, Mbak, Adik, dan Mbahku di sana. Aku ingin merasakan dekapanmu, Ibu. Sungguh aku benar-benar rindu. Aku ingin memelukmu, dan berbisik lembut, " Ibu, terimakasih telah ada hingga di tahunku yang ke 19 ini. Aku berharap engkau selalu ada di tahunku berikutnya, dan tetap dekap aku Ibu, aku rindu".
Tetesan peluh yang pecah dari sudut mata memeriahkan kecamuk rinduku. Ingin diungkapkan seperti apa lagi?, ya beginilah memang, seperti sebelum-sebelumnya. Oh iya, lagi-lagi karena kecerobohanku. Aku lupa, lupa berucap syukur kepada Sang Maha Pencipta.
" Alhamdulillah, terimakasih Tuhan telah memberiku kesempatan menikmati anugrahMu hingga titik ini. Hamba berharap Kau senantiasa memberikan kesehatan, panjang usia, keselamatan dan kebahagiaan yang tak henti-hentinya. Dan terimakasih Tuhan, karena cobaanMu yang indah masa lampau telah membantuku menjadi sedikit lebih kokoh dari sebelumnya, dan terimakasih atas manusia-manusia ciptaanMu yang ada disekelilingku. Begitu indah Tuhanku, terimakasih sekali lagi".
Kantuk mulai menyapa pagi kamarku. Sementara itu, besok harus sudah ada tumpukan hardcopy hasil tanggungjawabku. Maka sabarlah sebentar mata, tubuh. Ini hanya beberapa ribu detik saja. Setelah itu kau boleh beristirahat sejenak.
Ya, ini masih hari yang normal sepertinya. Ibu, rumah, dan kerjaanku, pagi nanti aku pun harus tetap menuntut ilmu. Kan ku usaikan dahulu tanggungjawab ini, lalu menjemput kantukku dan meleburkan rinduku, Ibu.
Suara cetat-cetit tombol keyboard urung sepakat membisukan suasana. Mata ini pun serasa masih 250watt saja. Mengetik kata per kata tanpa sebuah penghakiman yang lebih mendalam.
" Hanya ingin menulis saja", begitu kiranya yang tergambar.
Ada lagi, ini sungguh aneh. Aku ingin menulis tanpa mengetahui apa yang ingin ku sampaikan. Tapi tangan ini masih saja lancar memencet berulang kali tombol laptop. Sesekali, delete pun mempunyai andil besar sebagai sumbangsih menghapus kekeliruan. Ya, aku tahu. "Ada yang keliru". Lantas di sebelah mana kekeliruan itu?.
Aku ingin mengingat-ingat kembali dan mem-flashback-kan apa saja yang telah ku perbuat tadi. Siapa tahu aku menemui yang keliru itu. Mulai dari makan, sms, facebook, games, tumblr, picture, mandi?. Aaarrgh... . Tidak ada yang keliru satu pun.
Atau karena hari ini?. Hari ini. Ya.
Sebenarnya, aku sudah terbiasa ditemani kesunyian seperti hari ini. Tahun lalu, dan beberapa tahun lain yang mengekor setelahnya. Hanya saja entah karena apa yang keliru tadi, membuatku merasa rindu oleh rumah. Oleh Ibu, Bapak, Mbak, Adik, dan Mbahku di sana. Aku ingin merasakan dekapanmu, Ibu. Sungguh aku benar-benar rindu. Aku ingin memelukmu, dan berbisik lembut, " Ibu, terimakasih telah ada hingga di tahunku yang ke 19 ini. Aku berharap engkau selalu ada di tahunku berikutnya, dan tetap dekap aku Ibu, aku rindu".
Tetesan peluh yang pecah dari sudut mata memeriahkan kecamuk rinduku. Ingin diungkapkan seperti apa lagi?, ya beginilah memang, seperti sebelum-sebelumnya. Oh iya, lagi-lagi karena kecerobohanku. Aku lupa, lupa berucap syukur kepada Sang Maha Pencipta.
" Alhamdulillah, terimakasih Tuhan telah memberiku kesempatan menikmati anugrahMu hingga titik ini. Hamba berharap Kau senantiasa memberikan kesehatan, panjang usia, keselamatan dan kebahagiaan yang tak henti-hentinya. Dan terimakasih Tuhan, karena cobaanMu yang indah masa lampau telah membantuku menjadi sedikit lebih kokoh dari sebelumnya, dan terimakasih atas manusia-manusia ciptaanMu yang ada disekelilingku. Begitu indah Tuhanku, terimakasih sekali lagi".
Kantuk mulai menyapa pagi kamarku. Sementara itu, besok harus sudah ada tumpukan hardcopy hasil tanggungjawabku. Maka sabarlah sebentar mata, tubuh. Ini hanya beberapa ribu detik saja. Setelah itu kau boleh beristirahat sejenak.
Ya, ini masih hari yang normal sepertinya. Ibu, rumah, dan kerjaanku, pagi nanti aku pun harus tetap menuntut ilmu. Kan ku usaikan dahulu tanggungjawab ini, lalu menjemput kantukku dan meleburkan rinduku, Ibu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar