Senin, 27 April 2015

Berlayar



Perahu kembali kita kayuh. Dengan tangan-tangan mungil menuju samudera.
 “ Hari ini kita harus berlayar,” katamu.
Dan kita mulai perjalanan tanpa peduli hari akan gelap.
“ Sudah setengah hari, aku lapar, langit akan gelap sebentar lagi. Pulau yang kita tuju masih teramat jauh, bahkan belum nampak sekalipun. Kita harus menepi, setidaknya untuk malam ini. Jika kita bergegas kita bisa mencapai pulau kecil di sebelah kanan karang itu. Ya siapa tahu ada ketam atau bulu babi yang bisa kita santap untuk mengisi perut,” ajakku.
Kau hanya berdiam tanpa mengatakan apapun, aku tahu kau sedang berfikir, tapi sorot mata itu menunjukkan bahwa kau sebenarnya tidak setuju dengan usulku.
“ Baiklah, kita akan mencari makanan. Tapi setelah itu kita harus tetap melanjutkan perjalanan” jawabmu setelah mendongak sebentar ke arah langit.
Dan benar, tidak sampai satu jam kita telah sampai di pulau kecil tak berpenghuni di sebelah kanan batu karang. Tidak ada pencahayaan lain kecuali lampu teplok yang kita bawa dari pulau sebelumnya.
“ Carilah ranting untuk perapian, akan ku cari beberapa bulu babi dan ketam untuk kita makan,” katamu.
Aku pun bergegas mengumpulkan ranting di antara pohon bakau yang tak seberapa di tepian.
Lalu menatanya agar siap menjadi perapian. Dingin mulai menyusuri sepanjang bibir pantai.
“ Cuaca tidak terlalu bagus,” kataku dan kau masih terdiam sembari menyantap ketam.
“ Sepertinya akan hujan. Apa kau yakin ingin melanjutkan?,” tambahku.
“ Kita tidak punya pilihan, bahkan pulau itu belum nampak sama sekali. Bukankah kau pun tahu, itu berarti kita membutuhkan lebih dari semalam untuk mencapainya. Kita tidak menaiki sebuah kapal besar dengan mesin yang kencang. Kita hanya berbekal perahu tua dengan layarnya yang hampir robek. Orang-orang telah menanti obat ini untuk rajanya yang sekarat. Kita harus sampai di pulau itu besok pagi.” Katamu menutup makan malam ini dan kembali menaiki perahu layar.
Aku sempat berfikir, benar juga, tapi bukankah itu terlalu berbahaya?
“ Hei, Tuan, kau bilang kita tidak sedang menaiki sebuah kapal besar dengan mesin yang kencang, melainkan sebuah perahu tua dengan layar yang hampir sobek bukan? Lalu bagaimana jika malam ini tenyata badai? Bahkan ombak saja sudah mulai besar. Kau tidak pernah berpikir kita akan tenggelam?,” kataku mendekati perahu.
“ Kau bisa berenang?.”
“ Ya, tentu saja.”
“ Berarti kau tak akan tenggelam.”
“ Apa? Kau bercanda? Maksudmu, jika benar perahu kita tenggelam, aku harus berenang? Di samudera yang seluas itu? Heh..heh..heh.. yang benar saja.”
“ Ada sebuah pelampung, kau bisa menggunakannya jika kau takut,” katamu lagi sambil menata layar.
Apa? Aku tidak habis pikir dengan lelaki yang ada di hadapanku ini. Sebuah pelampung katanya? Yang benar saja. Jika aku menggunakannya, lalu dia?. Dasar lelaki bodoh.
“ Hanya sebuah? Lalu dirimu?.”
“ Kau tenang saja, aku seorang laki-laki dan aku bisa berenang. Sudahlah, ayo cepat naik. Kau tidak ingin aku tinggalkan di sini sendirian kan?,” katamu sembari sedikit tersenyum.
Benar-benar bodoh. Dengan tenangnya dia menarikku ke atas perahu dan memakaikan pelampung yang hanya satu-satunya itu. Lelaki dingin yang aku temui dua tahun silam di pesta rakyat kami. Lelaki yang selalu berpikir untuk orang lain daripada untuk dirinya sendiri. Lelaki yang aku cintai, dan mencintaiku.
“ Apa sudah hujan?,” katamu bercanda sambil mengusap air mata yang tak sengaja menetes di pipi kiriku. Aku hanya terdiam dan duduk. Lantas kau tersenyum dan mulai menjadi lelaki yang paling menyebalkan.
“ Tak apa, kau percaya kepadaku?. Aku diutus untuk mencari obat ini demi rakyat yang sedang berkabung karena raja nya yang sekarat. Bukankah kepercayaan ini harus dijaga dengan penuh tanggungjawab? Bukankah ini sangat mulia?.”
“ Aku tau kau khawatir karena kau terlalu mencintaiku. Aku juga mengkhawatirkanmu. Tapi waktu kita tidak banyak. Jika kita bisa sampai pulau besok pagi, atau sore nanti, kita bisa menyelamatkan seluruh kerajaan dari ancaman musuh. Raja akan selamat, dan rakyat akan terbebas dari perbudakan,” tambahmu lagi.
“ Kau menyebalkan,” kataku.
Lalu kau berdiri dan perjalanan pun kita mulai kembali.
Dan benar, belum lagi empat jam kita berlayar. Kilat mulai menyambar diatas sana. Gemuruh geledek mulai menderu bercampur dengan angin yang tidak lagi berkawan. Dingin, dan langit begitu pekat. Kau memegangi tanganku dengan begitu eratnya.
“ Obat ini lebih baik kau simpan,” katamu sambil menalikan sebuah botol kecil bertali ketangan kananku.
“ Kau takut?,” tanyaku. Aku bisa melihat matanya kali ini. Kita tidak berpapasan, namun aku merasakan sorot matanya yang begitu tegas, penuh dengan keyakinan.
“ Tidak,” jawabmu.
Tak berapa lama gelombang mulai besar. Angin semakin kencang . Langit tak mau kompromi, seribu pasukan telah disiapkan untuk menghujani kami dari atas sana. Tak lama hujan benar-benar turun tanpa ampun. Perahu hampir saja kehilangan keseimbangan. Suasana menjadi begitu menakutkan. Kita berada ditengah-tengah pusaran gelombang tanpa arah. Layar perahu robek tak beraturan.
“ Tuan..”
“ Tenanglah, Tuhan pasti akan menjaga kita. Kita ditakdirkan untuk bersama, maka apapun yang terjadi, aku akan tetap berada disisimu.” katamu sambil memelukku.
Aku sudah tak mampu berkata-kata, laut sudah tak seindah yang orang-orang katakan. Tak seramah yang orang-orang perbincangkan. Keadaan semakin sulit. Badai benar benar datang.
“ Aku mencintaimu...,” katamu.
“ Tuaaan.....” Dan perahu benar-benar karam.
Lantas aku terbangun di sebuah kamar kecil di atas dipan.
“ Kau sudah siuman, syukurlah,” kata seorang wanita paruh baya di depan cermin dan mengahampiriku dengan segelas air putih.
“ Sudah berapa lama aku disini?.”
“ Dua hari,” jawabnya sambil tersenyum.
“ Kau gadis pemberani, berkat dirimu, raja telah sembuh, dan kita semua terbebas dari ancaman perbudakan. Esok raja ingin menemuimu dan memberi hadiah. Kau akan diangkat menjadi putrinya. Jadi, beristirahatlah Nak. Kau harus sehat dan menghadiri upacara pengangkatanmu besok.”
“ Apa? Raja? Tuan? Di mana dia?,”
“ Nak, kalian adalah pemuda dan pemudi pemberani. Kau berhasil mengantarkan obat itu, tapi karena badai malam itu, dia, anak semata wayang raja, yang tak lain adalah kekasihmu tidak berhasil sampai ke tepi karena badai itu. Itulah mengapa Raja ingin mengangkatmu sebagai puterinya. Menggantikan putra semata wayangnya.”
“Apa???,” teriakku tak percaya dalam kepedihan yang teramat sangat.
“ Tenanglah Nak, sudah. Pengorbanan pangeran sungguh besar. Dia orang orang yang baik. Sedari kecil dia selalu menjadi anak yang enggan untuk dibedakan dengan teman-teman sebayanya. Dia tidak ingin diistimewakan. Bahkan sebenarnya dia tidak ingin mewarisi tahta kerajaan. Oleh karena itu, dia rela mencari obat dari pulau ke pulau untuk sang Raja demi keberlangsungan kerajaan, karena dia belum sanggup untuk menjadi seorang raja. Tapi badai malam itu..”
“ Sudah, cukup! Jangan diteruskan, jangan diteruskan. Aku mohon...” pintaku terisak.
“ Jangan diteruskan... aku tidak sanggup.”
“ Nak,”
“ Biarkan aku sendiri, aku ingin sendiri...”
“ Baiklah.” Katanya dan meninggalkanku dalam kesendirian. Lalu mau apa sekarang? Maut benar-benar telah memisahkan kita dari genggaman Tuhan. Kau benar Tuan, kita berhasil, Raja telah sembuh, tapi kau gagal dalam mencintaiku. Kau gagal menjaga dirimu untukku setelah kau berhasil meyakinkanku. Kau gagal, Tuan. Kita gagal.
Sekarang, aku pincang dalam harap Tuan. Mengeja dirimu dalam kefanaan. Atau kau memang sesungguhnya masih ada? Seperti katamu. Ya kau pasti tetap ada, Tuan. Aku percaya bahwa Tuhan telah menyelamatkanmu dan membiarkanmu hidup di suatu tempat yang entah dimana dan mencintaiku secara diam-diam.