Perahu
kembali kita kayuh. Dengan tangan-tangan mungil menuju samudera.
“ Hari ini kita harus berlayar,” katamu.
Dan
kita mulai perjalanan tanpa peduli hari akan gelap.
“
Sudah setengah hari, aku lapar, langit akan gelap sebentar lagi. Pulau yang
kita tuju masih teramat jauh, bahkan belum nampak sekalipun. Kita harus menepi,
setidaknya untuk malam ini. Jika kita bergegas kita bisa mencapai pulau kecil
di sebelah kanan karang itu. Ya siapa tahu ada ketam atau bulu babi yang bisa kita
santap untuk mengisi perut,” ajakku.
Kau
hanya berdiam tanpa mengatakan apapun, aku tahu kau sedang berfikir, tapi sorot
mata itu menunjukkan bahwa kau sebenarnya tidak setuju dengan usulku.
“
Baiklah, kita akan mencari makanan. Tapi setelah itu kita harus tetap
melanjutkan perjalanan” jawabmu setelah mendongak sebentar ke arah langit.
Dan
benar, tidak sampai satu jam kita telah sampai di pulau kecil tak berpenghuni
di sebelah kanan batu karang. Tidak ada pencahayaan lain kecuali lampu teplok
yang kita bawa dari pulau sebelumnya.
“
Carilah ranting untuk perapian, akan ku cari beberapa bulu babi dan ketam untuk
kita makan,” katamu.
Aku
pun bergegas mengumpulkan ranting di antara pohon bakau yang tak seberapa di
tepian.
Lalu
menatanya agar siap menjadi perapian. Dingin mulai menyusuri sepanjang bibir
pantai.
“
Cuaca tidak terlalu bagus,” kataku dan kau masih terdiam sembari menyantap
ketam.
“
Sepertinya akan hujan. Apa kau yakin ingin melanjutkan?,” tambahku.
“
Kita tidak punya pilihan, bahkan pulau itu belum nampak sama sekali. Bukankah
kau pun tahu, itu berarti kita membutuhkan lebih dari semalam untuk
mencapainya. Kita tidak menaiki sebuah kapal besar dengan mesin yang kencang.
Kita hanya berbekal perahu tua dengan layarnya yang hampir robek. Orang-orang
telah menanti obat ini untuk rajanya yang sekarat. Kita harus sampai di pulau
itu besok pagi.” Katamu menutup makan malam ini dan kembali menaiki perahu
layar.
Aku
sempat berfikir, benar juga, tapi bukankah itu terlalu berbahaya?
“
Hei, Tuan, kau bilang kita tidak sedang menaiki sebuah kapal besar dengan mesin
yang kencang, melainkan sebuah perahu tua dengan layar yang hampir sobek bukan?
Lalu bagaimana jika malam ini tenyata badai? Bahkan ombak saja sudah mulai
besar. Kau tidak pernah berpikir kita akan tenggelam?,” kataku mendekati
perahu.
“
Kau bisa berenang?.”
“
Ya, tentu saja.”
“
Berarti kau tak akan tenggelam.”
“
Apa? Kau bercanda? Maksudmu, jika benar perahu kita tenggelam, aku harus
berenang? Di samudera yang seluas itu? Heh..heh..heh.. yang benar saja.”
“
Ada sebuah pelampung, kau bisa menggunakannya jika kau takut,” katamu lagi
sambil menata layar.
Apa?
Aku tidak habis pikir dengan lelaki yang ada di hadapanku ini. Sebuah pelampung
katanya? Yang benar saja. Jika aku menggunakannya, lalu dia?. Dasar lelaki
bodoh.
“
Hanya sebuah? Lalu dirimu?.”
“
Kau tenang saja, aku seorang laki-laki dan aku bisa berenang. Sudahlah, ayo
cepat naik. Kau tidak ingin aku tinggalkan di sini sendirian kan?,” katamu sembari
sedikit tersenyum.
Benar-benar
bodoh. Dengan tenangnya dia menarikku ke atas perahu dan memakaikan pelampung
yang hanya satu-satunya itu. Lelaki dingin yang aku temui dua tahun silam di
pesta rakyat kami. Lelaki yang selalu berpikir untuk orang lain daripada untuk
dirinya sendiri. Lelaki yang aku cintai, dan mencintaiku.
“
Apa sudah hujan?,” katamu bercanda sambil mengusap air mata yang tak sengaja
menetes di pipi kiriku. Aku hanya terdiam dan duduk. Lantas kau tersenyum dan
mulai menjadi lelaki yang paling menyebalkan.
“
Tak apa, kau percaya kepadaku?. Aku diutus untuk mencari obat ini demi rakyat
yang sedang berkabung karena raja nya yang sekarat. Bukankah kepercayaan ini
harus dijaga dengan penuh tanggungjawab? Bukankah ini sangat mulia?.”
“
Aku tau kau khawatir karena kau terlalu mencintaiku. Aku juga
mengkhawatirkanmu. Tapi waktu kita tidak banyak. Jika kita bisa sampai pulau
besok pagi, atau sore nanti, kita bisa menyelamatkan seluruh kerajaan dari
ancaman musuh. Raja akan selamat, dan rakyat akan terbebas dari perbudakan,”
tambahmu lagi.
“
Kau menyebalkan,” kataku.
Lalu
kau berdiri dan perjalanan pun kita mulai kembali.
Dan
benar, belum lagi empat jam kita berlayar. Kilat mulai menyambar diatas sana.
Gemuruh geledek mulai menderu bercampur dengan angin yang tidak lagi berkawan.
Dingin, dan langit begitu pekat. Kau memegangi tanganku dengan begitu eratnya.
“
Obat ini lebih baik kau simpan,” katamu sambil menalikan sebuah botol kecil
bertali ketangan kananku.
“
Kau takut?,” tanyaku. Aku bisa melihat matanya kali ini. Kita tidak berpapasan,
namun aku merasakan sorot matanya yang begitu tegas, penuh dengan keyakinan.
“
Tidak,” jawabmu.
Tak
berapa lama gelombang mulai besar. Angin semakin kencang . Langit tak mau
kompromi, seribu pasukan telah disiapkan untuk menghujani kami dari atas sana.
Tak lama hujan benar-benar turun tanpa ampun. Perahu hampir saja kehilangan keseimbangan.
Suasana menjadi begitu menakutkan. Kita berada ditengah-tengah pusaran
gelombang tanpa arah. Layar perahu robek tak beraturan.
“
Tuan..”
“
Tenanglah, Tuhan pasti akan menjaga kita. Kita ditakdirkan untuk bersama, maka
apapun yang terjadi, aku akan tetap berada disisimu.” katamu sambil memelukku.
Aku
sudah tak mampu berkata-kata, laut sudah tak seindah yang orang-orang katakan.
Tak seramah yang orang-orang perbincangkan. Keadaan semakin sulit. Badai benar
benar datang.
“
Aku mencintaimu...,” katamu.
“
Tuaaan.....” Dan perahu benar-benar karam.
Lantas
aku terbangun di sebuah kamar kecil di atas dipan.
“
Kau sudah siuman, syukurlah,” kata seorang wanita paruh baya di depan cermin dan
mengahampiriku dengan segelas air putih.
“
Sudah berapa lama aku disini?.”
“
Dua hari,” jawabnya sambil tersenyum.
“
Kau gadis pemberani, berkat dirimu, raja telah sembuh, dan kita semua terbebas
dari ancaman perbudakan. Esok raja ingin menemuimu dan memberi hadiah. Kau akan
diangkat menjadi putrinya. Jadi, beristirahatlah Nak. Kau harus sehat dan
menghadiri upacara pengangkatanmu besok.”
“
Apa? Raja? Tuan? Di mana dia?,”
“
Nak, kalian adalah pemuda dan pemudi pemberani. Kau berhasil mengantarkan obat
itu, tapi karena badai malam itu, dia, anak semata wayang raja, yang tak lain
adalah kekasihmu tidak berhasil sampai ke tepi karena badai itu. Itulah mengapa
Raja ingin mengangkatmu sebagai puterinya. Menggantikan putra semata
wayangnya.”
“Apa???,”
teriakku tak percaya dalam kepedihan yang teramat sangat.
“
Tenanglah Nak, sudah. Pengorbanan pangeran sungguh besar. Dia orang orang yang
baik. Sedari kecil dia selalu menjadi anak yang enggan untuk dibedakan dengan
teman-teman sebayanya. Dia tidak ingin diistimewakan. Bahkan sebenarnya dia
tidak ingin mewarisi tahta kerajaan. Oleh karena itu, dia rela mencari obat
dari pulau ke pulau untuk sang Raja demi keberlangsungan kerajaan, karena dia
belum sanggup untuk menjadi seorang raja. Tapi badai malam itu..”
“
Sudah, cukup! Jangan diteruskan, jangan diteruskan. Aku mohon...” pintaku
terisak.
“
Jangan diteruskan... aku tidak sanggup.”
“
Nak,”
“
Biarkan aku sendiri, aku ingin sendiri...”
“
Baiklah.” Katanya dan meninggalkanku dalam kesendirian. Lalu mau apa sekarang? Maut
benar-benar telah memisahkan kita dari genggaman Tuhan. Kau benar Tuan, kita
berhasil, Raja telah sembuh, tapi kau gagal dalam mencintaiku. Kau gagal
menjaga dirimu untukku setelah kau berhasil meyakinkanku. Kau gagal, Tuan. Kita
gagal.
Sekarang,
aku pincang dalam harap Tuan. Mengeja dirimu dalam kefanaan. Atau kau memang
sesungguhnya masih ada? Seperti katamu. Ya kau pasti tetap ada, Tuan. Aku
percaya bahwa Tuhan telah menyelamatkanmu dan membiarkanmu hidup di suatu
tempat yang entah dimana dan mencintaiku secara diam-diam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar