Selasa, 23 Juni 2015

Perempuan Pemilik Kecemasan

Kemudian pertanyaan demi pertanyaan mulai berhamburan melukai panca indera, nadi, dan hati para perempuan di sekitar saya.
Surga di telapak kaki Ibu," katanya.
Lantas bagaimana nasib perempuan-perempuan calon pemilik surga itu berada?.
Baiklah, kecemasan ini berawal dari peristiwa terdekat yang nyatanya mampu menampar saya sebagai seorang perempuan dengan begitu kerasnya. Menyobek hati saya, menusuk luka yang pernah ada hingga kini menjadi semakin menganga.
Peristiwa itu dimulai ketika seorang perempuan berusaha bercerita kepada saya. Dia menceritakan ini-itu, segala hal yang begitu dalam tentang kehidupannya kepada saya. Saat pertama kali saya mendengarnya, saya terus memandang bola matanya ( entah yang kanan atau yang kiri, saya lupa) hingga saya merasa mampu merasuk ke dalam dirinya. Hingga saya seolah mampu merasakan apa-apa yang dirasakannya pula. Hingga tak sadar kita sama-sama menitikan air mata. Entah karena memang saya  terlanjur terhanyut dengan kisahnya, atau merasa pernah berada dititik dimana dia sekarang berada. Tak sadar, terkadang saya ikut mengangguk-angguk dan sesenggukan bersamanya. Lantas menanggapi dan memberikan dukungan serta saran semampu saya.Ya, tentu saja dengan maksud untuk sedikit menenangkannya. Walaupun saya tahu segala yang dialaminya saat itu hanya dirinya sendirilah yang memiliki jalan keluar. Begitu semalaman saya mencoba menjadi pendengar yang sebaik-baiknya, dan perasa yang setulus-tulusnya, hingga kata terakhir terucap di bibirnya. Akhirnya, saya pun berusaha membagi kisah saya padanya. Cerita kecil yang saya bagi untuk orang-orang tertentu di hidup saya. Cerita kecil yang didengar seorang perempuan kebingungan di hadapan saya. Yang nyatanya mampu memberikan motivasi serta menumbuhkan energy positif kepada dirinya. Sejak saat itu kami semakin dekat. Semakin banyak yang bisa kami bagi tanpa canggung lagi. Semakin berani pula beradu argument tentang ini-itu. Semakin intim kami ‘ blak-blakan’ tentang segala sesuatu, termasuk tentang pria di kehidupan kami masing-masing.
            Tidak berhenti disitu, karena kecemasan telah mengikuti dari awal kami dilahirkan. Kecemasan seolah ditakdirkan mengekor dibalik bayi berjenis kelamin perempuan. Siti Nurbaya atau cerita-cerita lainnya adalah bukti dari kecemasan yang tumbuh dan mengakar sejak seorang bayi ditakdirkan berjenis kelamin perempuan. Begitu pula dengan saya, perempuan itu, dan perempuan-perempuan lain yang ada dimuka bumi. Perempuan berkewajiban menjaga harga dirinya, harga diri keluarganya dengan cara mempertahankan keperawanannya hingga dia menikah. Jikapun ada suatu kesalahan, hingga dia hamil, maka dia akan dihujat habis-habisan serta mendapatkan sanksi sosial dan moral dikalangan masyarakatnya. Tidak peduli bagaimana dan kenapa dia bisa seperti itu. Tetaplah dia yang salah dimata masyarakat. Seperti kasus akhir-akhir ini di beberapa Negara yang memberikan hukuman kepada pada perempuan yang telah berzina, baik itu yang disengaja ataupun karena kasus perkosa. Bahkan walapun sebagai korban, mereka tetap saja meringkuk di penjara karena dianggap tidak mampu menjaga dirinya, hingga menimbulkan hawa napsu para lelaki. Atau memberikan celana anti perkosa kepada para perempuan, padahal yang memiliki hasrat untuk melakukan hal tersebut adalah bukan kaum perempuan itu sendiri. Bah, lalu bagaimana dengan lelaki?.
“ Kemaren aku bertemu dengannya lagi. Laki-laki yang hanya datang padaku disaat dia membutuhkanku, pun sebaliknya. Dia bilang jika aku memilih untuk menjadi kekasihnya dan mau meninggalkan pacarku yang sekarang, maka dia telah siap. Tapi dia mengatakan bahwa ada satu hal dari dirinya yang tak bisa dihindari, yakni ketika kami memutuskan untuk bersama maka aku harus mau dan rela melayani napsu birahinya. Begitu katanya. Lantas, disisi lain, pacarku sudah mulai berani melontarkan pernyataan-pernyataan yang membuatku tak kalah terkejut.”
“ Apa katanya?.”
“ Dia rela melepas keperjakaannya jika itu denganku,” jawab perempuan itu dari BBM yang ia kirim kepadaku.
“ Lalu kau bagaimana?.”
“Entahlah, aku bingung harus memilih yang mana. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dia ( pria 1), aku tidak bisa serta merta melupakannya, sedangkan pacarku, dia sesunggguhnya pria baik-baik yang hanya ingin mencoba-coba hal baru di hidupnya. Aku tak tega dengannya. Tapi dibalik itu semua, satu hal yang membuat aku teramat sakit dari keduanya. Apakah aku ditakdirkan untuk mencintai dan dicintai oleh orang-orang yang seperti itu?. Orang-orang yang menawarku untuk melayani napsunya?. Apa aku tak pantas untuk dihargai oleh mereka?. Atau aku yang tak bisa menghargai diriku sendiri?.”
“ Gila!.” Saya tersentak membacanya. Entah bagaimana keadaannya saat itu di balik handphone-nya. Yang jelas saya pun ikut merasakan kecemasan yang sama sebagai seorang perempuan dan sebagai seorang teman tentunya. Lantas yang ada dipikiran saya saat itu ialah seolah-olah pertanyaan perempuan itu membentuk suatu pertanyaan baru yang siap dilontarkan kepada para lelaki.
“ Jika semua boleh dihitung dengan uang, maka berapa harga yang pantas kau berikan kepadaku?.”
Ya, semacam itu.
Mengapa tidak ada pertanyaan semacam,
“ Apa kau mau memacariku tanpa ku sentuh kau barang sekuku?.”
Atau kenapa tidak dibalik saja?. Kenapa bukan kita, para perempuan yang menaruh harga kepada lelaki?. Atau dengan cara apalagi kita menghargai diri sendiri sebagai seorang  perempuan dihadapan laki-laki?. Saya rasa konsepsi tentang derajat laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, membentuk suatu kesewenang-wenangan untuk ( secara tidak langsung) menjatuhkan harga diri perempuan demi memperlihatkan kejelasan perbedaan kelas antara laki-laki dan perempuan. Lantas, bolehkah saya bertanya,
 “ Berapa harga yang kau tawarkan hingga kau rela tak menyentuhku barang sekuku?.”


Terima kasih untuk teman dekat saya yang telah mengijinkan saya untuk menulis sekalumit kisahnya melalui blog saya. Terima kasih atas kesadaran dan pembelajaran yang luar biasa dibalik cerita hidup yang kau bagikan. Semoga kecemasan demi kecemasan segera terobati dan merdekalah kita, para perempuan pemilik kecemasan.
6/24/2015

Minggu, 07 Juni 2015

Manusia Teater Harus Kreatif dan Kondisional!



Jarum jam menunjukkan 00.24, sedini ini dan saya belum bisa tidur. Sebenarnya kekuatan mata bisa diibaratkan tinggal 5watt dan badan sudah mulai merajuk sedari sore untuk diistirahatkan sejenak. Namun ada sesuatu yang harus diungkapkan, semacam perasaan hutang yang perlu dituntaskan sekarang juga. Dan saya memutuskan untuk menulisnya daripada tidak bisa tidur.
" Berteater tidak hanya semata-mata menjadi aktor dalam panggung," kalimat itulah yang membuat saya semakin penasaran dengan dunia teater. " Tidak hanya berperan menjadi aktor? Lantas mau apa." Pertanyaan itu sering muncul ketika saya tidak sengaja mengingat kalimat yang diucapkan oleh seorang yang lebih dulu berkecimpung di dunia teater tempat dimana saya belajar sekarang. Awalnya mendengar kalimat itu saya agak kecewa dan suudzon, saya pikir orang itu telah memupuskan bayangan saya yang mengira dengan berteater saya bisa menjadi aktor handal atau sutradara Hollywood kelak, atau mereka ingin menjerumuskan saya ke dunia yang entah saya tidak bisa pikirkan saat itu. Tapi saya mengabaikannya. Saya pikir saya harus tetap mengejar impian saya untuk menjadi aktor yang baik dengan belajar di teater.
Seiring berjalannya waktu, tanpa saya sadari saya mulai menemukan jawaban-jawaban yang mungkin adalah jawaban dari pernyataan yang sempat membuat saya ragu dengan dunia teater ini. Yakni " anak teater diwajibkan kreatif dan mampu menjadi orang yang kondisional." Ya, hal ini saya simpulkan dari secuil pengalaman saya di teater yang saya naungi sekarang. Mulai dari kondisi diri sendiri, kondisi dan garapan yang menyangkut teater tersebut, orang-orang, keadaan dan suasana luaran tubuh, sampai masalah -masalah yang timbul dari berbagai penjuru. Menuntut kita (saya pribadi khususnya) untuk selalu berpikir kreatif sehingga mampu mendapatkan solusi dengan persiapan plan A-Z dan siap dalam keadaan apapun. Contoh yang paling dekat adalah pemberlakuan jam malam dan sulitnya meminjam tempat untuk pentas di kampus sendiri waktu itu. Bukan tanpa alasan, memang benar masih ada tempat lain yang bisa dijadikan tempat pentas di Semarang, dan mungkin banyak orang berpikir, “ Ya kenapa susah-susah ngurus tempat. Wong ning njaba kampus ya ana panggon sing isa dinggo pentas.” Namun sebagai mahasiswa teater yang ingin tetap membawa dan mengenalkan nama baik fakultasnya, kami terus berupaya untuk bisa pentas di fakultas kami sendiri. Oleh karena itu saya dan teman-teman masih terus berupaya untuk menembus izin pentas di ruang yang berlebel “ ruang teater” itu hingga saat ini yang tak jarang membuat kami harus beradu argumen dengan pihak birokrasi.
“ Kalian harus siap dengan berbagai kondisi, pentas bisa digelar dimana saja, jika dalam ruangan tidak bisa, ya harus siap pentas di luar ruangan. Biasakan menjadi aktor yang kondisional!.”
Kalimat itu yang saya dapatkan beberapa waktu lalu ketika berbincang atau curhat lebih tepatnya dengan salah satu anggota pasif kami yang kebetulan adalah dosen saya sendiri. Ya, manusia yang siap menghadapi apapun dan kondisional. Mungkin itu salah satu pemisalan dari jawaban yang saya cari selama ini.
Hal ini pun terlihat dari pementasan " Geng Toilet" Sabtu malam (6 Juni 2015) oleh Teater Cabank. Naskah Leak yang berhasil dipentaskan di sebuah pasar di daerah Purwodadi sebelumnya ini adalah salah satu pentas produksi Teater Cabank yang cukup memberikan kesan baik dan kata ' salut' dari penontonnya. Disini saya mengabaikan masalah teknis atau isu yang disampaikan, bukan berarti hal tersebut tidak penting atau saya yang terlalu malas karena mata tinggal 5watt. Akan tetapi ada yang lebih menarik dari pertunjukkan semalam selain membicarakan masalah teknis yang di manapun tempatnya bisa dipelajari untuk dikejar, atau isu dan obrolan pasar yang cukup dekat dengan telinga kita. Hal yang lebih dan cukup menarik simpati adalah kemasan pementasan. Tempat di mana pentas tersebut digelar. Ya, tidak seperti pentas teater konvensional lainnya yang biasanya digelar di sebuah gedung teater atau setidaknya ruangan yang memadai untuk pertunjukkan teater. Teater Cabank berani mengambil resiko dengan pentas di lorong kelas yang panjangnya tidak lebih dari 5m.
Sebelum masuk ruangan saya sempat bertanya kepada salah satu alumni Teater Cabank perihal tempat pentas, saya iseng bertanya, " kenapa pentas di kampus? Kok ngga milih di tempat lain," hal ini saya lakukan karena saya ingat bahwa kampus mereka sama dengan kampus saya perihal pemberlakuan jam malam. " Soalnya dari kampus sendiri memang mewajibkan kita untuk setidaknya ada proker yang digelar dikampus." Begitu kurang lebih jawabannya. Wah enak, pikir saya. Hal ini membuktikan bahwa teater masih dibutuhkan juga oleh kampus, sampai-sampai ada kewajiban untuk mengadakan acara/pentas di rumahnya sendiri. Jujur saja, mendengarnya membuat saya sedikit iri sebenarnya, karena saya berpikir jika sudah ada tuntutan seperti itu seharusnya pihak yang menuntut memberikan fasilitas yang memadai dan kelonggaran jam malam tentunya. Namun setelah penonton diizinkan masuk ke ruang pertunjukkan, yang terletak di lorong kelas lantai 7, saya agak terkejut, " loh, tak kira ning njero ruangan ik." Hal ini didasari dari pikiran awal saya barusan. Ajaibnya pertunjukkan tetap berjalan cukup khidmat hingga diskusi berlanjut ditempat yang sama. Ya, bagaimana tidak ajaib? lorong yang disulap dengan apik menjadi ruang pertunjukan dengan segala kekurangannya seperti tidak sebandingnya luas ruangan dengan jumlah penonton dan sirkulasi udara yang cukup terbatas ditambah kebulan asap yang mengepul mampu menahan para penonton untuk tetap duduk melingkar hingga diskusi usai. Melihat susasana diskusi tersebut saya seperti terdorong pada beberapa minggu yang lalu, ya kami pernah mengalaminya beberapa waktu silam. Ketika itu kita ( teater kami) menggelar pementasan untuk anggota baru di sebuah ruangan yang ada di kampus kami. Ruangannya tidak besar, bahkan tidak cukup layak jika digunakan untuk pentas teater dengan jumlah penonton yang banyak. Namun jika diukur dengan ruangan pentas Teater Cabank malam itu, saya rasa masih agak lebar tempat kami. Dan sayangnya saya dan teman sejawat saya yang malam itu kebetulan nonton serta ikut diskusi di pentas teman-teman Cabank  masih ingat betul ada salah seorang teman yang bertanya alasannya memilih tempat tersebut padahal ada tempat lain yang lebih layak untuk pentas, bahkan banyak dari teman-teman penonton lainnya yang menyerah dan akhirnya meninggalkan diskusi dengan alasan kurang angin dan asap rokok. Saat itu, alasan yang mendasar sudah saya lontarkan sesuai dengan tujuan utama kami diparagraf sebelumnya. Namun tentu seperti halnya teman-teman Cabank malam itu, pasti ada alasan tersendiri, alasan rumah tangga yang sudah diperhitungkan sebelumnya untuk akhirnya memutuskan kenapa memilih tempat tersebut. Dan saya yakin alasan yang tidak bisa disebutkan atau tidak sepenuhnya disebutkan oleh kami dan atau teman-teman Cabank malam itu sudah dipikirkan matang-matang dengan segala konsekuensinya. Beruntungnya pertanyaan itu tidak muncul lagi semalam, dan kabar gembiranya pada pertunjukkan " Geng Toilet" ini para penonton masih sangat antusias untuk mengikuti diskusi dengan keadaan dan suasana yang sedemikian rupa. Saya pikir keadaan semacam ini adalah sebuah kemajuan. Hal ini dapat dilihat dari tidak adanya pertanyaan semacam “ kenapa tidak diruangan atau tempat lain? Atau meninggalkan diskusi karena tempat panas dan asap rokok. Apalagi teman-teman teater sudah berpikir bahwa dimanapun dan sebesar apapun tempatnya dapat dimanfaatkan sebagai ruangan pentas. Hal semacam ini harus dipertahakan.
 Lalu yang menarik simpati lagi adalah kisah atau perjalanan yang ditempuh teman-teman Teater Cabank dibalik pementasan malam itu. Dengan anggota yang terbilang tidak banyak, teman-teman teater Cabank berhasil menggelar pentas produksi. Hal ini hebat, dan harus diteladani tentunya. Ya, aktor yang merangkap menjadi timpro sekaligus bukan hal yang mudah. Tapi mereka mampu membuktikannya. Memang benar kata seorang anggota pasif kami, " Teater itu tidak harus banyak orang, satu orang saja bisa, namanya monolog, dsb...." Hal ini yang membuat saya percaya bahwa teater menuntut manusianya untuk menjadi orang-orang yang kreatif dan siap dalam menghadapi keadaan apapun. Semangat itu yang saya bawa pulang dari teman-teman teater Cabank yang tentunya membuat saya semakin yakin bahwa berteater ( seharusnya) menjadikan manusianya menjadi lebih baik, kondisional dan cerdas. Selamat Teater Cabank! Salam Budaya! Viva Teater!