Jarum
jam menunjukkan 00.24, sedini ini dan saya belum bisa tidur. Sebenarnya
kekuatan mata bisa diibaratkan tinggal 5watt dan badan sudah mulai merajuk
sedari sore untuk diistirahatkan sejenak. Namun ada sesuatu yang harus diungkapkan,
semacam perasaan hutang yang perlu dituntaskan sekarang juga. Dan saya
memutuskan untuk menulisnya daripada tidak bisa tidur.
" Berteater tidak hanya semata-mata menjadi aktor
dalam panggung," kalimat itulah yang membuat saya semakin penasaran dengan
dunia teater. " Tidak hanya berperan
menjadi aktor? Lantas mau apa." Pertanyaan itu sering muncul ketika saya
tidak sengaja mengingat kalimat yang diucapkan oleh seorang yang lebih dulu
berkecimpung di dunia teater tempat dimana saya belajar sekarang. Awalnya
mendengar kalimat itu saya agak kecewa dan suudzon, saya pikir orang itu telah
memupuskan bayangan saya yang mengira dengan berteater saya bisa menjadi aktor
handal atau sutradara Hollywood kelak, atau mereka ingin menjerumuskan saya ke
dunia yang entah saya tidak bisa pikirkan saat itu. Tapi saya mengabaikannya.
Saya pikir saya harus tetap mengejar impian saya untuk menjadi aktor yang baik
dengan belajar di teater.
Seiring berjalannya waktu, tanpa saya sadari saya
mulai menemukan jawaban-jawaban yang mungkin adalah jawaban dari pernyataan yang
sempat membuat saya ragu dengan dunia teater ini. Yakni " anak teater diwajibkan kreatif dan mampu
menjadi orang yang kondisional." Ya, hal ini saya simpulkan dari
secuil pengalaman saya di teater yang saya naungi sekarang. Mulai dari kondisi
diri sendiri, kondisi dan garapan yang menyangkut teater tersebut, orang-orang,
keadaan dan suasana luaran tubuh, sampai masalah -masalah yang timbul dari
berbagai penjuru. Menuntut kita (saya pribadi khususnya) untuk selalu berpikir
kreatif sehingga mampu mendapatkan solusi dengan persiapan plan A-Z dan siap dalam
keadaan apapun. Contoh
yang paling dekat adalah pemberlakuan jam malam dan sulitnya meminjam tempat
untuk pentas di kampus sendiri waktu itu. Bukan tanpa alasan, memang benar
masih ada tempat lain yang bisa dijadikan tempat pentas di Semarang, dan mungkin
banyak orang berpikir, “ Ya kenapa
susah-susah ngurus tempat. Wong ning njaba kampus ya ana panggon sing isa
dinggo pentas.” Namun sebagai mahasiswa teater yang ingin tetap membawa dan
mengenalkan nama baik fakultasnya, kami terus berupaya untuk bisa pentas di
fakultas kami sendiri. Oleh karena itu saya dan teman-teman masih terus
berupaya untuk menembus izin pentas di ruang yang berlebel “ ruang teater” itu hingga saat ini yang
tak jarang membuat kami harus beradu argumen dengan pihak birokrasi.
“ Kalian harus siap dengan berbagai
kondisi, pentas bisa digelar dimana saja, jika dalam ruangan tidak bisa, ya
harus siap pentas di luar ruangan. Biasakan menjadi aktor yang kondisional!.”
Kalimat itu
yang saya dapatkan beberapa waktu lalu ketika berbincang atau curhat lebih tepatnya dengan salah
satu anggota pasif kami yang kebetulan adalah dosen saya sendiri. Ya, manusia
yang siap menghadapi apapun dan kondisional. Mungkin itu salah satu pemisalan
dari jawaban yang saya cari selama ini.
Hal ini pun
terlihat dari pementasan " Geng Toilet" Sabtu malam (6 Juni 2015)
oleh Teater Cabank. Naskah Leak yang berhasil dipentaskan di sebuah pasar di
daerah Purwodadi sebelumnya ini adalah salah satu pentas produksi Teater Cabank
yang cukup memberikan kesan baik dan kata ' salut' dari penontonnya. Disini
saya mengabaikan masalah teknis atau isu yang disampaikan, bukan berarti hal
tersebut tidak penting atau saya yang terlalu malas karena mata tinggal 5watt.
Akan tetapi ada yang lebih menarik dari pertunjukkan semalam selain
membicarakan masalah teknis yang di manapun tempatnya bisa dipelajari untuk
dikejar, atau isu dan obrolan pasar yang cukup dekat dengan telinga kita. Hal
yang lebih dan cukup menarik simpati adalah kemasan pementasan. Tempat di mana
pentas tersebut digelar. Ya, tidak seperti pentas teater konvensional lainnya
yang biasanya digelar di sebuah gedung teater atau setidaknya ruangan yang
memadai untuk pertunjukkan teater. Teater Cabank berani mengambil resiko dengan
pentas di lorong kelas yang panjangnya tidak lebih dari 5m.
Sebelum
masuk ruangan saya sempat bertanya kepada salah satu alumni Teater Cabank
perihal tempat pentas, saya iseng bertanya, " kenapa pentas di kampus? Kok
ngga milih di tempat lain," hal ini saya lakukan karena saya ingat bahwa
kampus mereka sama dengan kampus saya perihal pemberlakuan jam malam. "
Soalnya dari kampus sendiri memang mewajibkan kita untuk setidaknya ada proker
yang digelar dikampus." Begitu kurang lebih jawabannya. Wah enak, pikir
saya. Hal ini membuktikan bahwa teater masih dibutuhkan juga oleh kampus,
sampai-sampai ada kewajiban untuk mengadakan acara/pentas di rumahnya sendiri. Jujur saja, mendengarnya membuat saya sedikit iri sebenarnya, karena saya berpikir jika sudah
ada tuntutan seperti itu seharusnya pihak yang menuntut memberikan fasilitas
yang memadai dan kelonggaran jam malam tentunya. Namun setelah penonton
diizinkan masuk ke ruang pertunjukkan, yang terletak di lorong kelas lantai 7,
saya agak terkejut, " loh, tak kira
ning njero ruangan ik." Hal ini didasari dari pikiran awal saya
barusan. Ajaibnya pertunjukkan tetap berjalan cukup khidmat hingga diskusi
berlanjut ditempat yang sama. Ya, bagaimana tidak ajaib? lorong yang disulap
dengan apik menjadi ruang pertunjukan dengan segala kekurangannya seperti tidak
sebandingnya luas ruangan dengan jumlah penonton dan sirkulasi udara yang cukup
terbatas ditambah kebulan asap yang mengepul mampu menahan para penonton untuk tetap duduk melingkar hingga diskusi usai. Melihat susasana
diskusi tersebut saya seperti terdorong pada beberapa minggu yang lalu,
ya kami pernah mengalaminya beberapa waktu silam. Ketika itu kita ( teater
kami) menggelar pementasan untuk anggota baru di sebuah ruangan yang ada di kampus
kami. Ruangannya tidak besar, bahkan tidak cukup layak jika digunakan untuk pentas teater
dengan jumlah penonton yang banyak. Namun jika diukur dengan ruangan pentas Teater
Cabank malam itu, saya rasa masih agak lebar tempat kami. Dan sayangnya saya
dan teman sejawat saya yang malam itu kebetulan nonton serta ikut diskusi di
pentas teman-teman Cabank masih ingat
betul ada salah seorang teman yang bertanya alasannya memilih tempat tersebut
padahal ada tempat lain yang lebih layak untuk pentas, bahkan banyak dari
teman-teman penonton lainnya yang menyerah dan akhirnya meninggalkan diskusi
dengan alasan kurang angin dan asap rokok. Saat itu, alasan yang mendasar sudah
saya lontarkan sesuai dengan tujuan utama kami diparagraf sebelumnya. Namun
tentu seperti halnya teman-teman Cabank malam itu, pasti ada alasan tersendiri,
alasan rumah tangga yang sudah diperhitungkan sebelumnya untuk akhirnya
memutuskan kenapa memilih tempat tersebut. Dan saya yakin alasan yang tidak
bisa disebutkan atau tidak sepenuhnya disebutkan oleh kami dan atau teman-teman
Cabank malam itu sudah dipikirkan matang-matang dengan segala konsekuensinya.
Beruntungnya pertanyaan itu tidak muncul lagi semalam, dan kabar gembiranya
pada pertunjukkan " Geng Toilet" ini para penonton masih sangat
antusias untuk mengikuti diskusi dengan keadaan dan suasana yang sedemikian
rupa. Saya pikir keadaan semacam ini adalah sebuah kemajuan. Hal ini dapat
dilihat dari tidak adanya pertanyaan semacam “ kenapa tidak diruangan atau
tempat lain? Atau meninggalkan diskusi karena tempat panas dan asap rokok.
Apalagi teman-teman teater sudah berpikir bahwa dimanapun dan sebesar apapun
tempatnya dapat dimanfaatkan sebagai ruangan pentas. Hal semacam ini harus
dipertahakan.
Lalu yang menarik simpati lagi adalah kisah
atau perjalanan yang ditempuh teman-teman Teater Cabank dibalik pementasan
malam itu. Dengan anggota yang terbilang tidak banyak, teman-teman teater
Cabank berhasil menggelar pentas produksi. Hal ini hebat, dan harus diteladani
tentunya. Ya, aktor yang merangkap menjadi timpro sekaligus bukan hal yang
mudah. Tapi mereka mampu membuktikannya. Memang benar kata seorang anggota
pasif kami, " Teater itu tidak harus banyak orang, satu orang saja bisa,
namanya monolog, dsb...." Hal ini yang membuat saya percaya bahwa teater
menuntut manusianya untuk menjadi orang-orang yang kreatif dan siap dalam
menghadapi keadaan apapun. Semangat itu yang saya bawa pulang dari teman-teman
teater Cabank yang tentunya membuat saya semakin yakin bahwa berteater (
seharusnya) menjadikan manusianya menjadi lebih baik, kondisional dan cerdas.
Selamat Teater Cabank! Salam Budaya! Viva Teater!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar