Selasa, 28 Juni 2016

‘ Membangun Rumah’ ( Part I)

Sudah 4 tahun Gemini meninggalkan rumah untuk menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi di Semarang. Bukan waktu yang lama, namun juga bukan waktu yang terlampau sebentar. Meski jarak rumah dan kota yang menampungnya sekarang dapat ditempuh dengan sepeda motor atau bus sekitar 2 sampai 3 jam, ia jarang sekali ‘ sempat’ pulang untuk berkunjung ke rumah. Melalui hp, anak kedua yang sekarang menjadi anak pertama ini ialah tempat curhat dan diskusi pertama yang dituju sang ibu untuk bertukar pikiran atau sekadar mengeluh. Bagaimana tidak? Sejak beberapa tahun lalu, ketika sang embak yang sudah dipeluk lebih dulu oleh Yang Kuasa, dan bapak seorang pelaut yang jarang sekali di rumah membuat ibu menjadi wanita tangguh yang harus menjawab sms Gemini ketika uang kiriman habis, menjadi wanita sabar yang harus mengurus ketiga bocah kecil usia SMP, SD dan balita 2 tahun. Memutar otak ketika keempatnya butuh jajan. Memanjangkan sabar ketika ada yang rewel atau berkelahi dengan teman sebayanya. Memperbanyak suara untuk menghibur yang sedang menangis. Dan menahan peluh supaya tidak sampai jatuh.
Empat tahun begitu singkat bagi Gemini. Namun perasaan singkat yang dirasanya berbenturan dengan kenyataan bahwa ia semakin asing dan terlempar jauh dari rumah. Tidak, tidak ada yang mengusirnya. Hanya saja ada sesuatu yang berjalan lebih cepat dari sepeda motor berkecepatan maksimal 110cc yang sering ia kendarai. Setiap kali pulang, satu-dua hari untuk melepas rindu, semakin pula ia menjadi angin lalu yang disalip peristiwa. Dia semakin dewasa, semakin tambah ilmunya, semakin kekinian, semakin bisa melihat, semakin banyak membaca, namun semakin lambat dan terus melambat. Di lumat keegoisan dan rasa ‘sok borjuis’ yang menjadi-jadi. Akibatnyaa, ketika sampai pada pintu pertama ia melangkah keluar dan meminta restu, mencium tangan ibu-bapak dan embahnya empat tahun lalu, disitu pula ia menjadi yang pertama kehilangan banyak hal. Kepintarannya, kecakapannya berbicara, keeksisannya, egonya, penglihatnnya, bursa bahasa yang ia kumpulkan selama ‘ membaca,’ dilucuti begitu saja. Dia masih menjadi anak-anak, belum se-dewasa dan se-hebat yang ia kira ketika berkacak pinggang di luar sana.
Dia masuk dengan perlahan. Langkahnya kian melambat ketika berjumpa dengan sang ibu dan embah yang memang lebih sering ada di rumah. Gemini mencium kedua tangan kasar nan keriput yang senantiasa hangat itu. Dia duduk di samping mereka sambil membuka satu per satu atribut kelengkapan pengguna sepeda motor.
“ Wis mangan rung? Ko kono jam pira? Kok jam semene lagi tekan omah. Iku ana iwak ndas ( kepala pari) ning nduwur kompor. Bar masak mangut aku mau,” ucap sang ibu sambil tersenyum. Wanita paruh baya yang usianya hampir meninjak 50th dengan keriput di beberapa bagian wajah itu selalu menyambut Gemini dengan senyum yang meneduhkan. Begitu pula embah yang masih memperhatikan cucunya melepas lelah bersama helm, jaket, kaos tangan, kaos kaki dan sebuah tas ransel. Kali ini Gemini pulang tidak untuk sekadar singgah. Karena biasanya dia hanya numpang tidur satu atau dua malam lalu pergi lagi ke kota orang. Dia pulang dengan tekad untuk berlari bersama jam yang diputar di rumah. Bukan untuk menariknya kembali, tapi waktu dua minggu dirasa waktu yang lumayan disayangkan jika tidak dimanfaatkan untuk membantu ibu ‘ membangun rumah.’
Beberapa waktu lalu, sebelum bulan Ramadhan dan sebelum akhirnya ia punya waktu lebih luang untuk pulang ke rumah, Gemini mendapat kabar dari Ibu. Adiknya yang duduk di bangku kelas 2 SMP berulah. Memang nun jauh sebelumnya pun adiknya sudah beberapa kali membuat ibu menangis karena tingkahnya yang diluar batas kewajaran. Seperti memecahkan lampu sekolahan, mematahkan tiang bendera, melempar petasan ke perut teman perempuannya di sekolah, tidak mengerjakan pr, bahkan membolos sekolah. Ibu sering dan semakin sering mendapat surat panggilan dari sekolah hingga beberapa kali sengaja tidak datang karena malu. Tentu tekanan tidak hanya datang dari sekolah, para tetangga dan bahkan pandangan keluarga besar yang masih saklek menambah beban pikiran ibu semakin berat. Ya, sebutan ‘ nakal’ untuk adik lelakiku yang sudah jarang di rumah adalah hukuman sosial yang berat pula untuk kedua orang tuaku. Olok-olokan ‘ tidak becus mendidik anak’ dsb adalah salah satu yang semakin sering di dengar dan menjadi biasa saja. Untungnya bapak adalah seorang yang terbuka meski sering dianggap bodoh oleh orang sekitarnya karena kesusahan membaca dan menulis. Ya, dulu bapak tidak sampai lulus sd meski sekarang mampu menjadi pimpinan awak kapal. Bapak adalah sosok lelaki yang baik, dermawan, demokratis meski sering kurang percaya diri dan loyal sekali jika masalah uang kepada anak-anaknya. Ketika dia tahu anak lelakinya suka membolos, dia hanya berkata, “ wis, nek ra gelem sekolah ya ra usah dipeksa. Ra sekolah ya rapopo,” semacam itulah yang dikatakan kepada ibu melalui hp. Entah apa benar setenang itukah pikiran Bapak menanggapi permasalahan yang dilempar ibu dengan tekanan sosial yang hebat di luar sana.
“ Wingi, adikmu diparani polisi ning omah. Jare karo kancane ngacak-ngacak sekolahan sd. Barang-barang ning kantor di obrak-abrik. Dokumen-dokumen penting diguntingi terus disebar ning kelas-kelas. Tembok-tembok e ditulisi pisuhan-pisuhan,” suara ibu bergetar dari balik telvon.
“ Loh kok isa? Kapan kuwi Buk?,” sahut Gemini.
“ Jare malem minggu kejadiane.”
“ Lha terus piye sidane?.”
“ Ya awal e dipanggil ning sekolahan, diintrogasi karo guru-guru , karo kancane kuwi wong wong 2 tok kok, karo polisi, terus karo ana aku barang. Aku pas diparani polisi dadaku sesek nduk, keget. Po meneh tangga sak mengetan-mengulon ngerti kabeh. Bar iku ya digawa ning kantor polisi barang. Diintrogasi meneh. Pas ditakoni awal e kancane iku nyalahke adikmu, tapi pas adikmu karo aku mara kancane ngakoni kabeh. Nek adikmu cuma ngewangi nyebar. Sing ngajak ya kancane. Pas ditakoni polisi kok gelem melu kancane ya adikmu jawab nek ‘ kanca, mosok dijak kancane ra gelem.’ Sidane ya nginep sewengi ning sel, bar kuwi ditokne merga adikmu ra salah, sing otak e karo sing nglakoni kancane. Jan e kancane ki dipenjara soale wis entuk kasus ping telu iki nanging ya merga ijeh dibawah umur dadi ra sida.”
“ Hla kuwi gara-gara apa eh buk?.”
“ Embuh, jare kancane iku balas dendam merga biyen pas sd sering di ukum gurune.”
“ Owalah..,” timpal Gemini menjadi sosok yang tak mampu berkata-kata lagi. Sejak saat itu, rasa penasaran, rindu, gelisah, dan bingung campur aduk membulat untuk bertekad segera pulang menengok rumah. Ya, seperti dirinya, tubuh-tubuh yang tumbuh satu atap dengannya dulu berproses dan berkembang begitu cepat. Membentuk pribadi-pribadi yang berbeda, sesuai dengan tempat tempaan. Sesuai dengan seberapa berat dan runcing alat tempa, hanya mereka lupa untuk melihat kekuatan objek. Membaca dengan cermat dan memberikan sesuatu yang tepat. Mereka hanya memberi tempat percetakan untuk membuat, mereka lupa untuk mengenalkannya pada tanah pekarangan terlebih dahulu, pada hujan dan pada matahari untuk tumbuh, berbunga serta berbuah. Mereka hanya butuh objek praktis yang dapat diolah secara instan dan seragam. Sayangnya adik kecil Gemini adalah objek yang tidak mampu masuk sistem. Akibatnya dia dicap sebagai ‘ anak nakal’ dan kemudian semakin mengamini cap itu melalui perbuatannya. Berbagai cara dipikirkan Gemini untuk mencari jalan keluar bagi salah satu masalah yang menjadi beban ibunya. Berbagai cara ia lakukan sampai akhirnya dengan saran beberapa teman, dia sadar bahwa ada yang salah pada proses penempaan adiknya.
“ Dia punya energi yang besar. Dewasa. Tapi tidak bisa ditampung oleh desa, sekolah atau rumahnya sendiri. Cap nakal yang dibuat orang sekitar secara tidak sadar membuat dia justru merasa ‘ oh yawis aku nakal og, wis kadung, ya kenapa nek nakal.? Ncen aku nakal.’ Ya yang seolah-olah diamini oleh dirinya. Semakin dimarahi atau dikekang maka dia akan semakin berulah. Karena dari kenyataannya dia jarang disekolah, jarang dirumah, dia bolos seperti katamu. Dan tidak bisa jujur dengan orang rumah. Berarti ada yang salah di tempat-tempat itu. Sehingga dia mendapatkan ‘ rumah’ ketika bersama teman-teman bolosnya, kumpulan dia. Ini kuncinya harusnya kamu sebagai kakaknya yang harus bisa jadi temannya. Benar-benar teman. Tumbuhkan rasa saling percaya, minimal harus ada rahasia yang saling dijaga. Dari sana setidaknya kamu tahu dan mungkin bisa mengarahkan supaya ulahnya tidak semakin menjadi. Jadi ya memang harus pulang.”
Itulah sedikit dari banyak isi obrolan yang Gemini garis bawahi malam itu. Diskusi dengan orang-orang yang ternyata salah satunya mempunyai permasalahan serupa dengan adik Gemini saat itu. Dari sanalah berkali-kali Gemini berusaha memanfaatkan waktu sesingkat apapun untuk mendekati si adik. Ajakan nongkrong sampai ngopi ketika di rumah selalu ditolak. Mungkin si adik masih merasa ada batasan dan merasa embaknya adalah sosok wanita kalem yang cupu dan jauh dari hal-hal tabu seperti rokok dan sebagainya.
Dan sekarang adalah waktu yang tepat dirasa. Selama di rumah Gemini sengaja tidur di kamar adiknya. Si adik selalu menghindar. Tiap pulang sekitar pukul  1 atau 2 dini hari dia hanya mengetuk pintu kamar dan mengambil beberapa bantal dan selimut untuk dipakainya tidur di luar kamar. Namun malam itu ketika dia pulang dan yang lain sudah terlelap, Gemini masih menonton film dilaptop menunggu sahur, si adik masuk kamar dan ikut nonton film. Ini kesempatan yang bagus, pikir Gemini. Maka ia menutup pintu kamar dan mulai mengeluarkan bungkus rokok yang tinggal beberapa batang dan sebatang korek. Gemini tahu adiknya sudah mulai merokok dan sempat ketahuan si ibu, lalu ia dimarahi. Dan sejak itu si adik justru sering merokok di luar rumah, yang penting tidak ketahuan ibu. Ya, Gemini tahu dari hasil kepo sosmed adiknya. Lantas muncullah ide untuk mulai membuka rasa saling percaya sebagai seorang teman.
“ Udud ki, doyan ra?,” tawar Gemini sembari membakar rokok yang memang dia sendiri adalah perokok aktif. Sebenarnya Gemini agak was-was dengan langkahnya kali ini. Karena sampai sekarang orang rumah pun tidak tahu jika dia merokok. Namun tekadnya untuk bisa dekat dengan adiknya sebagai seorang teman, ternyata lebih kuat.
“ Moh, ra doyan rokok sing iku aku,” tolaknya ringan, seolah tidak kaget sama sekali embaknya merokok.
“ Lha biasane ududmu apa?,” tanya Gemini berlanjut.
“ S*rya ah.”
“ Oh, eh meneng loh, aja ngomong-ngomong,” pinta Gemini.
“ Iya-iya santai, aku ya biasane udud ning kamarlah,” jawabnya.

Mulai saat itu pelan-pelan si adik sudah tidak sungkan-sungkan lagi nimbrung nonton film atau keluar dengan Gemini. Bahkan dia sudah mulai terbuka mengenai kegiatannya diluar. Jadwalnya nongkrong dimana dan kapan, melakukan apa saja, sampai band kesukaan, ya meski dia masih enggan tidur sekasur dengan Gemini. Tak apa, setidaknya dia mulai terbuka. Tidak ada lagi embak dan adik, mereka adalah teman. Saling terbuka, saling percaya. Tidak ada yang bocor sedikitpun kepada orang tua. Beginilah pelan-pelan Gemini bantu ibu dan bapak ‘ membangun rumah’ untuk adik. Bukan sekadar bangunan tembok, beratap genteng, lantai keramik dan berisi segala fasilitas modern saja, namun ‘ rumah’ sebagai tempat yang paling aman, nyaman dan tempat paling utama untuk saling terbuka. 

Senin, 02 Mei 2016

Bukan Kodrat Pendendam #PPK part II

Dunia makin entah. Hati yang rapuh kian digerus menjadi serupa debu. Ringan dan mudah diterbangkan oleh angin. Ketika musim hujan tiba, dia yang luruh dihujani beribu tangis dari langit, lantas hilang tergantikan oleh yang lain.
            Begitulah hari-hari kian mengikat erat perempuan itu. Meludahi setiap langkahnya yang selalu dianggap hina. Seperti yang kau tahu,  manusia kian meninggi tanpa peduli memanusiakan yang lainnya. Merendahkan diri manusia yang lainnya tidak lagi berupa cacian dari mulut mereka. Ya, tidak ada waktu untuk menempelkan tisu tiap detik demi membersihkan segala yang kotor dari mulutnya. Semua-mua yang hadir adalah cacian. Pikiran, pandangan, lirikan, laku, ahh.. seperti semua-mua itu adalah cara hidup yang paling modern dan bangsawan.
Perempuan itu masih sering menghubungiku. Kami semakin sering pula menghabiskan waktu bersama untuk hal apa saja. Makan siang, perpustakaan, nongkrong di kedai kopi, mengerjakan tugas, menonton pentas, menghadiri rapat, nonton film di laptop, atau sekadar menghabiskan batangan-batangan rokok. Cerita panjang yang sering terlontar tidak jauh dari penyesalan yang dikemas cemas dan perasaan kesepian seorang perempuan yang nyatannya telah terasingkan oleh kedamaian kodratnya sendiri.
“ Aku sadar, aku memang hanya seorang perempuan. Dan dia adalah lelaki,” ucapnya dengan pandangan mengarah pada bibir cangkir petang itu. Pandangannya jelas, tapi kosong. Matanya menekan kepedihan yang bertumpuk.
“ Ya aku tahu, kau seorang perempuan dan dia lelaki. Lalu?,” kataku lirih mencoba menanggapi seperti biasanya.
Dia tersenyum kecil. Namun mampu menggoyahkan setiap bulu kuduk yang berada disekitar kulit leherku. Senyuman yang getir.
“ Kau tahu maksudku. Kau masih percaya dengan kodrat? Apakah Tuhan lupa saat menjatuhkan kodrat kita? Lupa menaruh sedikit keadilan dibalik cangkir yang Ia siapkan untuk kau dan aku? Atau kau juga sebenarnya tidak begitu yakin dengan ingatan Tuhan yang bisa saja keliru mentitahkan hidup bagi hambaNya?.” Nadanya kali ini akan tinggi. Beberapa kata diarahkan kepadaku dengan penuh penekanan. Kali ini sorot matanya jelas, menghardikku tajam.
Aku terdiam seketika. Mulutku bergerak namun tak ada sepatah kata pun yang siap untuk dilontarkan. Seperti terdakwa yang gugup menjawab saat diinterogasi karena tak ingin ketahuan. Aku tak pernah seterkejut ini biasanya. Ya kebiasaanku mendengarkan curahan hatinya dan begitu sebaliknya menjadikan kami biasa menimpali pembicaraan satu sama lain dengan kilat dan apa adanya. Tapi kali ini, pertanyaan macam apa ini? Pikirku. Dia mempertanyakan tentang seyakin apa diriku dengan penciptaku?. Ah, seharusnya aku mampu menjawabnya dengan lancar tanpa jeda, tapi kenapa ada yang mencekat dikerongkonganku? Seperti menghentikan aliran udara yang sudah berancang-ancang keluar liar dari katup bibirku.
“ Heh, tenyata kau juga meragukanNya ya. Aku sudah menduga.”
“ Tidak, aku tidak pernah meragukanNya. Aku percaya dengan apapun yang sudah diberikanNya untukku. Dan aku menerimanya.”
“ Semua?”
“ Ya, semua.”
“ Lengkap dengan kepedihannya?.”
“ Ya, lengkap dengan segala kepedihannya.”
“ Kau bohong!,” katanya memalingkan muka.
“ Aku bisa melihat ketidak yakinanmu bahkan ketika sebelum kau menjawabnya. Matamu tidak pernah bohong, dan kau tidak perlu merancang otakmu untuk menyusun retorika demi meyakinkaku akan keyakinanmu,” katanya. Aku semakin terdiam.
“ Dua hari yang lalu kau bercerita tentang ketakutanmu menjadi seorang yang paling kau benci. Menjadi seseorang yang sudah lelah membicarakan masalah itu-itu saja, fase maaf-memaafkan, lalu melakukan kesalahan lagi, meminta maaf lagi, melakukan kesalahan lagi dan begitu saja seterusnya. Yang  membangun engkau menjadi seorang pemaaf namun pendendam. Dendam untuk membalas apa-apa yang tidak pernah ditepati. Membalas apa-apa yang harus dibayar. Ayolah, akui saja. Keyakinanmu terhadap kodrat tidak cukup menahanmu untuk dengki dengan nasibmu sendiri. Untuk lelah dengan segala yang kau hadapi. Dia, lelakimu itu masih saja melakukan perbuatan yang sama kan? Yang membuatmu sakit hati?.”
“ Mungkin dia hanya lupa.”
“ Lupa? Tidak. Lelaki tidak pernah lupa, mereka hanya tidak pernah belajar. Kata-kata tidak lagi mujarab ditelinga mereka. Air mata hanya pemanis dalam sebuah permintaan maaf demi memperlihatkan ketulusan dan penyesalan. Dan akhirnya, janji hanya sebagai penekan cemas untuk ditelan masa. Kau tahu itu, kau bahkan menyadarinya lebih dulu dari pada aku. Tapi ternyata kau terlalu kejam terhadap dirimu sendiri. Sekarang apa akan kau biarkan dia, lelaki itu memilikimu dan menyimpan semua yang ingin dicintainya dibelakangmu? Memunggungi ketulusanmu? Mengacuhkan kepercayaanmu? Berulang kali,?” ucapnya meninggi.
“ Aku mencintainya.”
“ Dan kau tidak mencintai dirimu sendiri? Mencintai diri orang lain yang enggan melihatmu menjadi pesakitan lagi seperti dulu?.”
“ Kau juga tidak mampu meninggalkan kekasihmu meski dia berbuat salah yang sama denganmu setiap kali kan? Aku rasa kau juga mengalaminya, dan kau juga mengerti posisiku.”
“ Setidaknya aku tidak pernah tinggal diam dan lelah untuk mencacinya, menonjoknya. Dan aku bukan pendendam. Setidaknya aku tidak berminat menjadi pendendam. Tidak berminat lagi tepatnya. Pendendam yang tanpa sadar akan menghancurkan hati yang lain, kau tahu kan maksudku?.”
Aku kembali terpaku. Diam membatu.
 “ Baiklah, aku harap kau menjadi seorang perempuan yang bijak. Aku yakin kau mampu menguat tanpa harus merekat pada tubuh seorang malaikat,” katanya mengakhiri pertemuan kami di kedai itu. Dia beranjak pergi menyisakan kebenaran yang enggan aku akui keberadaannya. Kebenaran yang menyimpan ketakutan begitu dalam. Ketakutan seorang yang lelah akan sakit hati. Lelah untuk berkoar tentang apa-apa yang tidak ditepati. Lelah untuk memohon pengertian. Dan kini siap membangun dinding-dinding dingin ber-ruh dendam. Sinar rembulan melambai pelan. Menerpa dedaunan, lalu jatuh pada tiang-tiang listrik pinggir jalan. Mengkilat dan sinarnya mampu menyilaukan mata para pengguna jalan malam itu. Tidak, ini bukan sebuah balada. Kesedihan bukan ide dalam penceritaan ini dan atau sebelumnya. Maka aku enggan menuliskan betapa menyedihkannya kehidupan dua orang wanita dalam kisah cinta diantara bingar kota. Maka yang kutulis sekarang adalah tentang sebuah pertanyaan.
“ Sanggupkah aku membalas dendam.?”
Atau…

“ Sanggupkah aku menjadi pendendam yang akan melukai dan merobek hati para pemilik kebaikan yang lainnya?.”