Jumat, 21 September 2018

SURAT UNTUKNYA....


Minggu-minggu ini begitu penat.
Banyak sekali rencana-rencana yang hilir mudik saling mengantre di kepala.
Sementara, deadline-deadline panjang jelas terpampang dengan tulisan tebal berstabilo merah menyala.
Selasa, 4 September 2018.
23.34 WIB.
Sebuah pesan menyusup lewat aplikasi bernama Whatsapp.
“Ibu di opname!”
Serentak, semua yang awalnya hilir-mudik dengan rapih menjadi kalang kabut berlarian, di kepala.
Kopiku masih setengah gelas kala itu. Sudah tidak terlalu hangat, memang. Ternyata dinginnya malam itu, semakin menambah kekacauan yang membabi buta tanpa jaket.
Semua kedinginan, malah-malah hampir beku. Berlarian-lalu membeku. Tidak ada gerakan yang tadinya gencar. Kaku. Mati beberapa detik. Tidak tenang juga. Dingin...
Sampai pada akhirnya, ku pesan kembali segelas kopi panas kepada penjual.
Sebagai tuan rumah rencana-rencana di kepala, akhirnya ku putuskan menyeruput pelan kopi panas supaya semua mencair perlahan. Mencair, pelan-pelan membanjiri sela-sela tulang tengkorak, daging, darah, kulit...
Eits! Yang mau menyusup lewat bola mata, jangan diam-diam! Karena kau masih pula ketahuan!
Nakal juga yang mau menerobos lewat bola mata, pikirku. Mereka pikir akan ku loloskan begitu saja? Enak betul!
STOP!
Lewat yang lain saja! Rute yang ini sudah ditutup dari beberapa waktu yang lalu!
Karena “rawan longsor!”
Jangan coba-coba menyuap saya! Percuma! Saya sudah kebal suap!
Digertak sedikit saja, mereka sudah luluh. Dasar pemberontak kecil! Mau menentang tuan rumah? Ya jelas tidak bisa!
Wong saya yang punya rumah!
Rabu, 5 September 2018
01.24 WIB
Aku memutuskan untuk kembali kos an barang sebentar. Packing.
Seorang teman yang masih asik melirik gawainya masih tidak sadar terhadap kekacauan yang terjadi di dalam lalu lintas tubuhku. Aku hanya berpesan,
titip barang-barang sebentar. Aku mau ke kos an. Nanti ke sini lagi.”
Barangkali hanya butuh 10 menit, aku kembali duduk dan melanjutkan menunggu teman lain yang sudah sedari sore janjian untuk ketemu. Tentunya demi aliran lalu lintas di kepala yang lebih lancar. Ya, supaya tidak semakin macet dan lebih parah mengklakson pengantre yang lain. Bising! Aku tidak suka kebisingan.
01.49 WIB
Datanglah teman lain yang pulang dari rutinitas hariannya. Karena lapar, atau karena butuh hiburan, ia duduk di meja kami lantas menyapa basa-basi.
Mau ke mana?”
“Pulang”
“Ibu sakit?”
“Opname”
Tet-tret-tet-tet-teeeeeeeet...................
Tiba-tiba seperti ada musik penyela pengganti suasana yang biasanya hadir di beberapa part film. Sedetik kemudian kami bertiga seperti sama-sama saling menata hidangan di meja makan. Terdiam, sambil menggeser-geser piring-mangkuk-gelas-sendok-garpu-serbet-tissue-saos-kecap, dan sesekali mencicipi hidangan. Memastikan menu hari ini tidak beracun dan laik dimakan.
Pelan-pelan ku deskripsikan ulang barang sedikit kekacauan di kepala. Apalagi setelah teman yang ku nanti kehadirannya datang juga beberapa waktu setelahnya.
Tentu saja, tidak ada kepala yang siap menerima kabar buruk tentang apapun itu. Dan sialnya, karena kepala selalu diselimuti udara, maka ia akan dengan mudah menerima pesan sesuka angin berhembus.
Sedangkan pesan-pesan lain saja masih bertumpuk belum tersampaikan. Untung saja, jika mau menata pelan-pelan dan hati-hati, mungkin akan lebih enak jika sudah diatur kepada siapa harus di kirim, hari apa harus mengirim, apa alamat si tuan rumah berikutnya, dan jangan lupa sertakan amplop yang rapat. Malam ini dingin sekali!
Aku pulang.
07.14 WIB
WIJAYAKUSUMA 1, NO 2.
Aku sampai di rumah sakit.
Ibu sudah bangun. Mungkin tadi pagi ia tidak terlalu nyenyak. Beberapa kali di perjalanan, beliau mengirim pesan. Masih saja khawatir kepada ku. Heran juga. Tidak cukupkah biar aku saja yang khawatir? Jangan yang lain. Apalagi ibu...
Tidak tidur sehari bukanlah sesuatu yang terjadi satu-dua kali. Jadi aku rasa, tidak akan menjadi kondisi yang menyusahkan. Tapi ternyata, mungkin kali ini pengecualian. Saat ini tidak hanya kepalaku yang kacau, tapi badanku pula. Ah, brengsek!
Namun, kekacauan kondisi ibu, menjadi pisau yang lebih tajam dibandingkan dengan carut-marut yang ku rasakan saat itu.
Aku pikir, aku tidak boleh tumbang. Tidak ada rasa kasihan yang pantas dicurahkan oleh siapapun, jika aku tumbang kali ini. Justru akan lebih kacau lagi. Bising. Aku tidak suka kebisingan!
Berhari-hari aku di rumah sakit. Tidur jika mengantuk. Bangun karena khawatir, barangkali ibu ingin kencing-buang air besar-mandi-lapar-mengganti cairan infus-atau mengobrol dengan dokter setelah dikontrol tiap paginya.
Memang tidak senyeyak yang ku bayangkan. Tidak setenang yang ku harapkan. Tapi, aku cukup senang menunggu ibu di rumah sakit. Aku menemui banyak hal karenanya. Masa kecil, aroma kencing ibu, dan letupan kecil di toilet.*
*Di pos sebelumnya

Sabtu, 8 September 2018
13.05 WIB
Bapak datang.
Beliau datang dari perjalanan rute Madura-Surabaya-Pati.
Sebenarnya, kapal ikan yang dinahkodai beliau belum waktunya pulang. Seorang diri ia ijin kepada awak kapal untuk pulang sebentar. Mungkin, kepalanya menyerap kabar yang disampaikan oleh angin.
Sial! Lagi-lagi karena kepala selalu diselimuti udara. Maka angin dengan sesukanya mengabarkan segala yang ia ketahui.
Ku belikan nasi bungkus di dekat area rumah sakit untuk sarapan Bapak, yang dari dua hari dua malam perjalanan perutnya sama sekali belum terisi benda apapun. Matanya masih terjaga melihat setiap carut-marut kota menuju carut marut pedesaan yang sama kacaunya. Merekam setiap lalu lalang manusia, mengopi lamat-lamat wajah-wajah baru secara tak sengaja. Sedang aku yakin, lalu lintas di kepalanya justru lebih bebal dan nakal! Berisi pemberontak-pemberontak licik-pembawa laras panjang bersusulan. Mengkoyak-koyak garang!
21.34 WIB
Sudah dua kali Bapak muntah dan berak darah di kamar mandi. Beberapa kali tergoler lemas di atas tikar, setelah kembali. Mencoba sesekali terlelap, tapi selalu digagalkan oleh mual dan sakit perut.
Akhirnya ku bawa ia ke IGD, setelah bertanya kepada perawat tentang dokter jaga yang bisa memeriksa beliau.
Setelah ditanya-tanya, dan aku wara-wiri ke administrasi untuk menyerahkan ktp, dokter menyarankan untuk diopname!
Brengsek! Tambah lagi kekacauan melintas sampai ubun-ubun. Tidak cukupkah yang sudah-sudah? Pikirku. Ah, ya sudah. Aku duduk sebentar. Mencari rute lain, sebentar. Tidak ada. Bapak sudah memakai selang infus di tangannya, tapi tubuhnya masih lemas. Ku gali pelan-pelan tanah lain, membuat rute alternatif baru.
Akhirnya, ku putuskan meminta ruangan yang tidak jauh dengan kamar ibu.
WIJAYAKUSUMA 1, NO 10.
22. 44 WIB
Bapak sudah di ruangannya. Aku tahu, beliau kecewa karena harus dipaksa opname oleh kondisi badannya. Sebenarnya aku juga tak kalah jengkel, tapi tidak ada rute lain yang bisa dilalui selain itu. Semua macet! Kebanjiran! Longsor!
Aku kembali ke kamar ibu. Beliau belum tidur. Semakin penasaran, bagaimana kondisi bapak. Dalam beberapa menit, aku masih belum bisa cerita. Ibu sakit Jantung.
Aku bingung sekali. Bukan masalah bagaimana nantinya aku menjaga mereka berdua, tapi bagaimana caranya memberitahu kepada ibu.
Beberapa kali aku keluar ruangan. Gusar. Lalu kuputuskan untuk menghubungi saudara di rumah. Meminta bantuan kepada mereka. Maka, kuputuskan untuk berterus terang kepada ibu setelahnya. Karena setelah ku pikir-pikir, tidak ada gunanya menutup-nutupi kenyataan. Hanya akan menyimpan luka yang lebih dalam. Dalam kasus ini, tentu tidak bisa membohongi kondisi Bapak yang juga butuh pertolongan segera dan tidak secepat yang dibayangkan. Tentu, supaya ibu juga segera bisa tidur.
23.12 WIB
Aku menghubungi beberapa teman. Bukan, bukan untuk meminta pertolongan perihal yang terjadi padaku saat itu. Aku menghubungi mereka untuk meminta pertolongan perihal pesan lain.
Rencananya, kami—guyub rukun TBRS—memang sudah merancang agenda untuk menyambut tahun baru Sura—dalam kalender Jawa, di TBRS pada tanggal 9-10 September ini. Sebagai salah satu orang yang terlibat, dicampur dengan kekacauan yang tak terduga, akhirnya ku putuskan untuk blokosuta pamit dan sedikit mengabarkan kondisi yang tidak memungkinkan ini. Tentu saja, memohon bantuan atas kekacauan lain yang harus ku tinggalkan, apalagi yang berhubungan dengan jobdesk.
Perlu beberapa saat untuk memikir kata-kata yang tepat. Jujur, aku tidak pernah suka meninggalkan tanggung jawab yang belum usai kepada orang lain. Itu bukan tipe ku. Sehancur apapun kondisinya. Sayang, lagi-lagi ini adalah pengecualian. Karena telah jelas, aku adalah anak dari kedua orang tua yang sejauh ini selalu bertanggung jawab terhadap kondisi apapun yang ku alami. Maka tidak laiklah ketika ku lepaskan tanggung jawab yang satu ini. Apapun kondisinya. Apapun resikonya.
Setelah pesan terkirim, aku yakin, dengan terpaksa mereka mengerti dan merelakan ketidakbisaan dan kelancangan ku mundur dari agenda ini. Tapi, aku juga tak kalah yakin, dengan penuh keikhlasan mereka seraya menyematkan doa-doa baik bagi kesembuhan kedua orang tua ku setelahnya.
Terima kasih.
Begitu kekacauan pelan-pelan ku tertibkan. Sial, aku lupa. Aku sangat membenci negara. Tapi ternyata setiap waktu aku menjadi negara bagi diri ku sendiri.
Dan kekacauan tidak pernah datang sekali saja. Membuatku menjadi negara terhadap diri ku. Beberapa hari setelah kembali ke Semarang, aku mencari-cari banyak hal, lebih tepatnya mencari penghibur dan hiburan. Sayang, ternyata kemanapun tempat diriku berlari, tidak pernah ada ruang untuk pelarian. Mungkin sesaat ada. Tapi setelah benar-benar disadari, itu hanya ilusi semata.
Bahkan sampai sekarang, meskipun hanya ilusi, aku masih sibuk mencari ilusi apalagi yang akan ku gunakan. Ilusi seperti apa yang pantas dijejaki tanpa mengandung unsur kasihan. Aku tidak suka dikasihani!
Padahal, kekacauan tidak pernah berdiam diri. Ia beranak pinak. Dan waktu adalah satuan vonis paling hakiki. Aku cukup tahu itu, aku cukup sadar. Tapi seperti ingin keluar sebentar. Sebentar saja.....
Biar sesekali aku tidak menjadi negara untuk diriku sendiri.

Semarang, 20 September 2018



“Berjumpa Masa Kecil, Aroma Kencing Ibu dan Letupan Tak Tertahan di Toilet.”



.......
Aku menggendong Ibu, seperti inikah dulu ia menggendongku?
Aku memapah Ibu ke kamar mandi, seperti inikah dulu ia memandikanku-menemaniku kencing-bahkan berak?
Aku harus sigap ketika Ibu tiba-tiba terbangun-kedinginan-lemas-terbatuk-atau kesakitan. Seperti inikah dulu rewelnya aku dalam segala kondisi?
Tidak.
Aku yakin tidak.
Tidak seenteng ini.
Tidak hanya sebatas ini.
Lebih. Ku yakin lebih berat. Tak terhitung. Tak mampu ditandingi. Tak bisa dibayar dengan perilaku yang hampir sama sekalipun.
Setidaknya, telah ku temui masa kecilku dengan Ibu
........

Obat Ibu banyak sekali. Cairan infusnya berwarna putih-lalu setengah hari kemudian diganti kuning. Sehari sekali, di lubang injeksinya, disuntikkan lagi beberapa zat lain supaya langsung mengalir ke pembuluh darahnya.
Setiap kali selesai menenggak beberapa pil dan mendapat suntikan itu, tak perlu menunggu lama, beberapa saat kemudian, reaksinya sudah terlihat.
Perut Ibu seperti dicuci-remas, katanya. Efeknya, ia seringkali ingin kencing dan berak.
Sementara, untuk tiduran saja ia membutuhkan selang oksigen.
Apalagi harus naik-turun dari ranjang setinggi itu. Harus jalan perlahan ke kamar mandi, dan mengulangi rutinitas itu berkali-kali.
Hampir tidak terhitung, dan sesekali Ibu terhuyung karena kelelahan.
Dan karena itu pula, aroma kamar mandi menjadi aroma khas kencing Ibu yang tak hanya pesing. Tetapi juga aroma semangat ibu lewat segala obat-obatan yang dicernanya dan meluruhkan segala penyakit demi kesembuhannya.
.......

Ini belum Tahun Baru, Hari Raya pun telah usai.
Tidak ada letupan yg patut untuk dinyalakan dan ditunggu-tunggu kehadirannya.
Begitupun dengan letupan yg satu ini. Yang entah sejak kapan berada disitu. Yang entah sejak kapan mulai membesar dan terus membesar.
Yang entah sejak kapan, mencoba untuk selalu ditekan dan terus ditekan.
Supaya tidak meletup sembarangan.
Yang entah sejak kapan, tempatnya tidak pernah pindah. Selalu ada di dada-kepala-dan bola mata.
Ia meletup. Meletup-letup keranjingan. Seperti dada-kepala-dan bola mata yang sudah sejak lama menanti gerakan kompak semacam kudeta.
Ia meletup. Dalam-dalam. Semakin dalam. Di kamar mandi. Di toilet. Bercampur dengan aroma kencing Ibu. Ikut serta mengunjungi masa kecilku.
.......

Pati, 6’9’18
Cepatlah sehat, Bu

Rabu, 21 Maret 2018

#1



 
“Kau pernah berpikir untuk bunuh diri?”

“Sering”

“Mengapa?”

“Entahlah, terlalu rumit. Sampai-sampai aku tak tahu harus bagaimana menjelaskannya”

“Lalu?”

“Tak terjadi apa-apa”

“Tak terjadi apa-apa? Tidak jadi bunuh diri?”

“Tidak”

“Mengapa?”

“Sama halnya dengan alasan ‘kenapa aku seringkali ingin bunuh diri.’ Pun ketika berusaha untuk mencobanya, entah mengapa menjadi lebih rumit. Sungguh hal itu pun terlampau susah untuk ku jelaskan”

“Takut?”

“Mungkin”

“Terhadap kematian?”

“Tidak sama sekali. Untuk apa manakuti sesuatu yang memang harus terjadi pula nantinya?”

“Lalu?”

“Mungkin, singkatnya...... karena aku adalah manusia”

Ia mengernyit, seolah tidak puas dengan jawabanku. Lalu dengan ragu ku lanjutkan. Karena tatapan matanya yang kian lekat, seperti memaksa kata-kata lanjutan lain sambil mengulang kembali jawabanku dengan panambahan tanda tanya di dalam kepalanya.

“Ya, kau tahu bukan jika manusia pada umumnya hadir bukan karena sekonyong-konyong ingin hadir. Namun dihadirkan. Lalu di tempatkan di sebuah ruangan sangat hangat yang disebut dengan rahim dan lahirlah kita semua. Ikatan-ikatan seperti itu yang susah dijelaskan. Dan ketika semakin bertumbuh, maka seseorang akan memiliki lebih banyak ikatan dengan manusia lainnya yang benar-benar rumit dan kompleks. Semakin banyak maka akan semakin kusut dan susah diurai. Bagiku, ikatan-ikatan itulah yang kadang kala bisa jadi memperkuat seseorang berada di dunia, atau justru sebaliknya. Menekan, mendesak, memeluk terlalu kuat sampai-sampai benar-benar dilenyapkan oleh kekuatannya. Semacam itu”

“Oh... Seberapa sering kau merasakannya?”

“Setiap hari. Aku rasa, mungkin semenjak jantungku pertama kali berdetak di dunia”

“Tapi buktinya, sekarang kau masih baik-baik saja. Duduk di sini. Menikmati segelas Green Tea Ice Blend dan dua potong Egg Bowl?”

“Ya, begitulah. Seperti yang telah ku katakan kepadamu, ikatan-ikatan itu terlampau rumit untuk diurai dan ditata. Maka segala hal tak mampu ditebak begitu saja. Tinggal bagaimana ketika hal itu terjadi, tiba-tiba saja Tuhan datang melalui ikatan-ikatan yang telah ku sebutkan tadi. Sebagai penyelamat. Mereka menyebutnya ‘Deus Ex Machina’ dalam beberapa contoh kasus karya sastra”

“Wow, lalu jika hal itu terjadi, apakah kau benar-benar menjadi lebih baik?”

Tanyanya lebih bersemangat. Mukanya berseri-seri dan matanya yang jernih membulat. Menampakkan betapa antusiasnya ia kali ini. Sambil merapatkan tubuh ke meja, gadis yang mungkin sebayaku itu, mengubah posisi tangan yang awalnya menopang dagu dengan kuat dan kini diletakknya kedua tangan itu bersedakap di atas meja. Punggungnya yang tadinya membungkuk, kini lebih tegak dan agak dicondongkan ke depan. Persis seperti gadis kecil yang menunggu lanjutan kisah dongeng dari guru Tknya.

“Tidak juga. Tidak sama sekali”

“Masih ingin bunuh diri?”

“Tentu”

“Mengapa?”

“Karena ternyata, para penyelamat itu bukan benar-benar penyelamat. Sesungguhnya, bagiku segala sesuatu yang datang tiba-tiba akan pergi dengan tiba-tiba pula. Begitupun mereka. Seperti seseorang yang mengajak kita kencan. Datang ke rumah, mengajak berjalan-jalan sebentar mengitari kota, menonton bioskop, ngobrol, makan es krim dan ketika malam mulai larut ia harus mengantarkan kita untuk kembali ke rumah. Ke tempat semula. Akan sangat berbeda jika hal itu dituliskan dalam kisah-kisah karya sastra misalnya. Disana mereka benar-benar bertindak sebagai penyelamat. Memberikan solusi seenaknya untuk menyelamatkan segala kekisruhan yang hadir dan habislah cerita”

“Mengapa begitu?”

“Ya... Karena pada kenyataannya mereka datang dari ikatan-ikatan itu. Ikatan yang akan terus berotasi mengitari kita. Persis seperti perputaran bulan mengelilingi bumi yang telah memiliki jalurnya sendiri. Akan seperti itu terus menerus. Sampai pada akhirnya nanti ia benar-benar tak punya kuasa untuk berputar atau ketika tak ada yang diputarinya lagi, barulah mereka berhenti”

“Hii..! Sungguh mengerikan. Aku yang hanya mendengarnya saja sudah ketakutan”

“Ya, memang”

“Ah, tapi tak apa. Setidaknya, ketika para penyelamat itu datang kau menjadi baikkan barang sebentarkan?”

“Mungkin kelihatannya seperti itu. Namun justru hal itu semakin memperburuk”

“Kenapa bisa?”

“Tentu saja! Jika kau lapar sementara kau hanya memiliki rokok dan tak ada uang sepeserpun di kantong celana saat itu, maka kau akan berhasil mengusirnya untuk beberapa saat saja. Setelahnya kau akan tetap merasakan lapar lagi, lagi dan lagi. Bahkan bagian terburuknya justru asam lambungmu naik lebih tinggi tanpa ampun”

“Rumit ya?”

“Seperti kataku diawal tadi”

“Berarti, kau tidak butuh penyelamat. Kau butuh seorang dokter. Em, maksudku seseorang yang benar-benar dokter”

Kali ini ku balas tatapan matanya sedikit lebih dalam. Dari bola mata itu, aku menangkap bahwa kalimat yang baru saja ia lontarkan bukanlah serangkaian tanggapan basa-basi. Seperti sebuah kepedulian atau bisa saja dianggap sebagai ungkapan kasihan. Tapi terlihat benar-benar tulus dan jujur.

Namun, hanya bertahan sekitar lima detik segera ku palingkan wajah ke arah jalan raya. Begitu banyak kendaraan lalu lalang. Motor, mobil, angkot yang seolah-olah ingin berkejaran dengan laju hujan. Teriakan tukang tambal ban yang menanyai penjaga toko kelontong sebelah lapaknya, suara knalpot motor rx-king yang terus menerus diderukan karena tiba-tiba mesinnya macet di jalan, serta semua bebunyian lain termasuk lagu ‘Havana’nya Camilia Cabello disusul beberapa lagu Banda Neira seperti ‘Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti’ serta suara-suara para pengunjung bercampur aduk menjadi sebuah dunia luar yang betul-betul dingin. Membuatku lebih memilih merasakan angin yang bertiup dari Utara menembus pori-pori kaos tipisku dan menyentuh kulitku bersamaan. Sementara, bau tanah basah tidak lagi tercium karena ini adalah hujan yang jatuh kesekian kali dan melunturkan bebauan khas itu tanpa sisa sedikitpun.

Ku tenggelamkan pandanganku lebih dalam. Bukan untuk mengamati hal-hal yang lain lagi. Tidak ada yang menarik satupun. Bahkan sebenarnya sedari tadi aku hanya melihat, tidak benar-benar berminat untuk mengamati apapun yang telah tertangkap oleh segala inderaku. Atau justru tak mampu menangkap lebih cermat. Seolah dihalangi oleh entah apa yang bergelombang dan menggema terus menerus sedari tadi. Menyamarkan segala yang ada disekitar. Dan sangat sedikit yang terserap lalu masuk ke otakku untuk dideskripsikan. Sisanya, hanyalah pandangan kosong yang dipenuhi oleh gelombang tanpa ujung pangkal, menari-nari riang namun dengan ekspresi yang menakutkan. Sekuat apapun ku coba menenggelamkan pandangan, justru semakin kuat pula aku tenggelam oleh gelombang yang entah sejak kapan berada di situ.

“Mohon maaf Kak, apa mau memesan lagi?”

Seorang waitress tiba-tiba mendatangi mejaku. Aku yang tersadar namun tidak sepenuhnya terkejut akan kehadirannya, spontan menjawab, Tidak. Lalu ia tersenyum kecil dan nampak sedikit enggan menjauh namun pada akhirnya pergi juga dengan langkah agak malas.

Setelah melepaskan padangan dari waitress yang kini punggungnya benar-benar ditelan oleh lekukan dinding pemisah ruangan cafe, aku baru tersadar. Bahwa seorang gadis yang tadinya dihadapanku, yang ku kira mungkin ia sebaya denganku itu juga menghilang. Cukup mengejutkan. Tapi tak lantas membuatku gusar untuk mencari. Karena hal seperti itu sudah sering terjadi. Saking seringnya, sampai-sampai menjadi biasa saja. Hanya meski biasa terjadi, disuatu waktu aku merasa tidak enak hati. Kalau-kalau mereka yang selama ini datang-pergi-kembali lagi-dan atau benar-benar pergi adalah dikarenakan oleh sikapku? Sikapku yang seketika tidak membuat nyaman mereka ketika berada di dekatku. Seperti seolah-olah merasa diabaikan. Persis seperti sekarang ini. Ah, sungguh, aku benar-benar tidak enak hati jika memang benar seperti itu adanya. Aku sama sekali tidak menyukainya. Ya, aku tidak suka membuat seseorang kecewa karena sikapku. Oleh karenanya, sampai sekarang aku masih terus berusaha untuk menjaga hati orang lain. Tidak ingin membuat siapapun kecewa. Namun, jangan salah paham. Meskipun begitu, bukan berarti aku adalah seorang gadis yang paling baik hati sedunia. Bukan. Karena sesungguhnya pekerjaan untuk menjaga hati orang lain adalah pekerjaan yang berat dan memuakkan. Bayangkan saja, menjelma menjadi seseorang yang memiliki hati bak malaikat dan selalu mengusahakan pertolongan kepada orang lain tanpa membuatnya kecewa. Bagaimana bisa? Bukankah orang bukanlah Tuhan? Jika dipikir-pikir aku sendiri sering merasa jijik dan kesal setiap kali mengingat untuk menawarkan atau sengaja dimintai tolong terhadap segala sesuatu padahal sebenarnya diri sendiri butuh bantuan. Dan entah mengapa terlalu sering aku meng’iya’kan. Atau ketika harus bersikap seperti gadis manis dengan air muka yang bersemangat ketika terlibat di sebuah perbincangan yang sebenarnya tidak ingin diikuti sama sekali. Entah apapun alasannya. Tidak bisa mengikuti-tidak cocok dengan pembahasan-tidak sepakat dengan opini dari pembahas lainnya atau alasan lain. Tapi toh ujung-ujungnya bertahan dengan tatapan mata konstan ke arah lawan bicara supaya tidak dianggap menyepelekan dengan sedikit bumbu senyuman kecil sepanjang perbincangan. Ah, benar-benar memuakkan!. Namun anehnya tak pernah bisa untuk tidak melakukan hal itu. Entahlah, begitu banyak kerumitan yang saling tumpang tindih dan saling terhubung.

Dan efeknya membuatku sering kali ingin sendirian. Benar-benar sendiri. Tanpa diganggu oleh siapapun, tanpa ditemani oleh siapapun. Berpikir tentang diri sendiri, mengerjakan apapun yang ku suka, menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan diri sendiri pula. Tidak ada tentang tubuh lain, tidak ada tentang senyuman atau tangisan untuk tubuh lain, tidak ada kepedulian yang pantas dicurahkan kepada tubuh lain. Kalaupun ada, maka yang ku ijinkan adalah perhatian semata tentang diriku. Hanya aku. Seperti halnya gadis bermata indah tadi. Yang kedatangannya entah dari kapan, akupun tidak sadar betul. Dan kepergiannya yang juga tanpa ku sadari. Bahkan aku juga lupa perbincangan kami dibuka dengan pembahasan macam apa, sampai pada akhirnya membicarakan tentang keinginanku untuk bunuh diri. Yang ku ingat, aku telah duduk berjam-jam dari sebelum matahari benar-benar tenggelam di meja cafe nomor 12 sampai hujan menelan separuh malam. Seorang diri.