.......
Aku menggendong Ibu,
seperti inikah dulu ia menggendongku?
Aku memapah Ibu ke
kamar mandi, seperti inikah dulu ia memandikanku-menemaniku kencing-bahkan
berak?
Aku harus sigap ketika Ibu tiba-tiba terbangun-kedinginan-lemas-terbatuk-atau kesakitan. Seperti
inikah dulu rewelnya aku dalam segala kondisi?
Tidak.
Aku yakin tidak.
Tidak seenteng ini.
Tidak hanya sebatas
ini.
Lebih. Ku yakin lebih
berat. Tak terhitung. Tak mampu ditandingi. Tak bisa dibayar dengan perilaku yang
hampir sama sekalipun.
Setidaknya, telah ku
temui masa kecilku dengan Ibu
........
Obat Ibu banyak sekali.
Cairan infusnya berwarna putih-lalu setengah hari kemudian diganti kuning.
Sehari sekali, di lubang injeksinya, disuntikkan lagi beberapa zat lain supaya
langsung mengalir ke pembuluh darahnya.
Setiap kali selesai
menenggak beberapa pil dan mendapat suntikan itu, tak perlu menunggu lama,
beberapa saat kemudian, reaksinya sudah terlihat.
Perut Ibu seperti dicuci-remas, katanya. Efeknya, ia seringkali ingin kencing dan berak.
Sementara, untuk
tiduran saja ia membutuhkan selang oksigen.
Apalagi harus
naik-turun dari ranjang setinggi itu. Harus jalan perlahan ke kamar mandi, dan
mengulangi rutinitas itu berkali-kali.
Hampir tidak terhitung,
dan sesekali Ibu terhuyung karena kelelahan.
Dan karena itu pula,
aroma kamar mandi menjadi aroma khas kencing Ibu yang tak hanya pesing. Tetapi
juga aroma semangat ibu lewat segala obat-obatan yang dicernanya dan meluruhkan
segala penyakit demi kesembuhannya.
.......
Ini belum Tahun Baru,
Hari Raya pun telah usai.
Tidak ada letupan yg
patut untuk dinyalakan dan ditunggu-tunggu kehadirannya.
Begitupun dengan
letupan yg satu ini. Yang entah sejak kapan berada disitu. Yang entah sejak
kapan mulai membesar dan terus membesar.
Yang entah sejak kapan,
mencoba untuk selalu ditekan dan terus ditekan.
Supaya tidak meletup
sembarangan.
Yang entah sejak kapan,
tempatnya tidak pernah pindah. Selalu ada di dada-kepala-dan bola mata.
Ia meletup.
Meletup-letup keranjingan. Seperti dada-kepala-dan bola mata yang sudah sejak
lama menanti gerakan kompak semacam kudeta.
Ia meletup.
Dalam-dalam. Semakin dalam. Di kamar mandi. Di toilet. Bercampur dengan aroma
kencing Ibu. Ikut serta mengunjungi masa kecilku.
.......
Pati, 6’9’18
Cepatlah sehat, Bu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar