Jumat, 21 September 2018

“Berjumpa Masa Kecil, Aroma Kencing Ibu dan Letupan Tak Tertahan di Toilet.”



.......
Aku menggendong Ibu, seperti inikah dulu ia menggendongku?
Aku memapah Ibu ke kamar mandi, seperti inikah dulu ia memandikanku-menemaniku kencing-bahkan berak?
Aku harus sigap ketika Ibu tiba-tiba terbangun-kedinginan-lemas-terbatuk-atau kesakitan. Seperti inikah dulu rewelnya aku dalam segala kondisi?
Tidak.
Aku yakin tidak.
Tidak seenteng ini.
Tidak hanya sebatas ini.
Lebih. Ku yakin lebih berat. Tak terhitung. Tak mampu ditandingi. Tak bisa dibayar dengan perilaku yang hampir sama sekalipun.
Setidaknya, telah ku temui masa kecilku dengan Ibu
........

Obat Ibu banyak sekali. Cairan infusnya berwarna putih-lalu setengah hari kemudian diganti kuning. Sehari sekali, di lubang injeksinya, disuntikkan lagi beberapa zat lain supaya langsung mengalir ke pembuluh darahnya.
Setiap kali selesai menenggak beberapa pil dan mendapat suntikan itu, tak perlu menunggu lama, beberapa saat kemudian, reaksinya sudah terlihat.
Perut Ibu seperti dicuci-remas, katanya. Efeknya, ia seringkali ingin kencing dan berak.
Sementara, untuk tiduran saja ia membutuhkan selang oksigen.
Apalagi harus naik-turun dari ranjang setinggi itu. Harus jalan perlahan ke kamar mandi, dan mengulangi rutinitas itu berkali-kali.
Hampir tidak terhitung, dan sesekali Ibu terhuyung karena kelelahan.
Dan karena itu pula, aroma kamar mandi menjadi aroma khas kencing Ibu yang tak hanya pesing. Tetapi juga aroma semangat ibu lewat segala obat-obatan yang dicernanya dan meluruhkan segala penyakit demi kesembuhannya.
.......

Ini belum Tahun Baru, Hari Raya pun telah usai.
Tidak ada letupan yg patut untuk dinyalakan dan ditunggu-tunggu kehadirannya.
Begitupun dengan letupan yg satu ini. Yang entah sejak kapan berada disitu. Yang entah sejak kapan mulai membesar dan terus membesar.
Yang entah sejak kapan, mencoba untuk selalu ditekan dan terus ditekan.
Supaya tidak meletup sembarangan.
Yang entah sejak kapan, tempatnya tidak pernah pindah. Selalu ada di dada-kepala-dan bola mata.
Ia meletup. Meletup-letup keranjingan. Seperti dada-kepala-dan bola mata yang sudah sejak lama menanti gerakan kompak semacam kudeta.
Ia meletup. Dalam-dalam. Semakin dalam. Di kamar mandi. Di toilet. Bercampur dengan aroma kencing Ibu. Ikut serta mengunjungi masa kecilku.
.......

Pati, 6’9’18
Cepatlah sehat, Bu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar