Jumat, 21 September 2018

SURAT UNTUKNYA....


Minggu-minggu ini begitu penat.
Banyak sekali rencana-rencana yang hilir mudik saling mengantre di kepala.
Sementara, deadline-deadline panjang jelas terpampang dengan tulisan tebal berstabilo merah menyala.
Selasa, 4 September 2018.
23.34 WIB.
Sebuah pesan menyusup lewat aplikasi bernama Whatsapp.
“Ibu di opname!”
Serentak, semua yang awalnya hilir-mudik dengan rapih menjadi kalang kabut berlarian, di kepala.
Kopiku masih setengah gelas kala itu. Sudah tidak terlalu hangat, memang. Ternyata dinginnya malam itu, semakin menambah kekacauan yang membabi buta tanpa jaket.
Semua kedinginan, malah-malah hampir beku. Berlarian-lalu membeku. Tidak ada gerakan yang tadinya gencar. Kaku. Mati beberapa detik. Tidak tenang juga. Dingin...
Sampai pada akhirnya, ku pesan kembali segelas kopi panas kepada penjual.
Sebagai tuan rumah rencana-rencana di kepala, akhirnya ku putuskan menyeruput pelan kopi panas supaya semua mencair perlahan. Mencair, pelan-pelan membanjiri sela-sela tulang tengkorak, daging, darah, kulit...
Eits! Yang mau menyusup lewat bola mata, jangan diam-diam! Karena kau masih pula ketahuan!
Nakal juga yang mau menerobos lewat bola mata, pikirku. Mereka pikir akan ku loloskan begitu saja? Enak betul!
STOP!
Lewat yang lain saja! Rute yang ini sudah ditutup dari beberapa waktu yang lalu!
Karena “rawan longsor!”
Jangan coba-coba menyuap saya! Percuma! Saya sudah kebal suap!
Digertak sedikit saja, mereka sudah luluh. Dasar pemberontak kecil! Mau menentang tuan rumah? Ya jelas tidak bisa!
Wong saya yang punya rumah!
Rabu, 5 September 2018
01.24 WIB
Aku memutuskan untuk kembali kos an barang sebentar. Packing.
Seorang teman yang masih asik melirik gawainya masih tidak sadar terhadap kekacauan yang terjadi di dalam lalu lintas tubuhku. Aku hanya berpesan,
titip barang-barang sebentar. Aku mau ke kos an. Nanti ke sini lagi.”
Barangkali hanya butuh 10 menit, aku kembali duduk dan melanjutkan menunggu teman lain yang sudah sedari sore janjian untuk ketemu. Tentunya demi aliran lalu lintas di kepala yang lebih lancar. Ya, supaya tidak semakin macet dan lebih parah mengklakson pengantre yang lain. Bising! Aku tidak suka kebisingan.
01.49 WIB
Datanglah teman lain yang pulang dari rutinitas hariannya. Karena lapar, atau karena butuh hiburan, ia duduk di meja kami lantas menyapa basa-basi.
Mau ke mana?”
“Pulang”
“Ibu sakit?”
“Opname”
Tet-tret-tet-tet-teeeeeeeet...................
Tiba-tiba seperti ada musik penyela pengganti suasana yang biasanya hadir di beberapa part film. Sedetik kemudian kami bertiga seperti sama-sama saling menata hidangan di meja makan. Terdiam, sambil menggeser-geser piring-mangkuk-gelas-sendok-garpu-serbet-tissue-saos-kecap, dan sesekali mencicipi hidangan. Memastikan menu hari ini tidak beracun dan laik dimakan.
Pelan-pelan ku deskripsikan ulang barang sedikit kekacauan di kepala. Apalagi setelah teman yang ku nanti kehadirannya datang juga beberapa waktu setelahnya.
Tentu saja, tidak ada kepala yang siap menerima kabar buruk tentang apapun itu. Dan sialnya, karena kepala selalu diselimuti udara, maka ia akan dengan mudah menerima pesan sesuka angin berhembus.
Sedangkan pesan-pesan lain saja masih bertumpuk belum tersampaikan. Untung saja, jika mau menata pelan-pelan dan hati-hati, mungkin akan lebih enak jika sudah diatur kepada siapa harus di kirim, hari apa harus mengirim, apa alamat si tuan rumah berikutnya, dan jangan lupa sertakan amplop yang rapat. Malam ini dingin sekali!
Aku pulang.
07.14 WIB
WIJAYAKUSUMA 1, NO 2.
Aku sampai di rumah sakit.
Ibu sudah bangun. Mungkin tadi pagi ia tidak terlalu nyenyak. Beberapa kali di perjalanan, beliau mengirim pesan. Masih saja khawatir kepada ku. Heran juga. Tidak cukupkah biar aku saja yang khawatir? Jangan yang lain. Apalagi ibu...
Tidak tidur sehari bukanlah sesuatu yang terjadi satu-dua kali. Jadi aku rasa, tidak akan menjadi kondisi yang menyusahkan. Tapi ternyata, mungkin kali ini pengecualian. Saat ini tidak hanya kepalaku yang kacau, tapi badanku pula. Ah, brengsek!
Namun, kekacauan kondisi ibu, menjadi pisau yang lebih tajam dibandingkan dengan carut-marut yang ku rasakan saat itu.
Aku pikir, aku tidak boleh tumbang. Tidak ada rasa kasihan yang pantas dicurahkan oleh siapapun, jika aku tumbang kali ini. Justru akan lebih kacau lagi. Bising. Aku tidak suka kebisingan!
Berhari-hari aku di rumah sakit. Tidur jika mengantuk. Bangun karena khawatir, barangkali ibu ingin kencing-buang air besar-mandi-lapar-mengganti cairan infus-atau mengobrol dengan dokter setelah dikontrol tiap paginya.
Memang tidak senyeyak yang ku bayangkan. Tidak setenang yang ku harapkan. Tapi, aku cukup senang menunggu ibu di rumah sakit. Aku menemui banyak hal karenanya. Masa kecil, aroma kencing ibu, dan letupan kecil di toilet.*
*Di pos sebelumnya

Sabtu, 8 September 2018
13.05 WIB
Bapak datang.
Beliau datang dari perjalanan rute Madura-Surabaya-Pati.
Sebenarnya, kapal ikan yang dinahkodai beliau belum waktunya pulang. Seorang diri ia ijin kepada awak kapal untuk pulang sebentar. Mungkin, kepalanya menyerap kabar yang disampaikan oleh angin.
Sial! Lagi-lagi karena kepala selalu diselimuti udara. Maka angin dengan sesukanya mengabarkan segala yang ia ketahui.
Ku belikan nasi bungkus di dekat area rumah sakit untuk sarapan Bapak, yang dari dua hari dua malam perjalanan perutnya sama sekali belum terisi benda apapun. Matanya masih terjaga melihat setiap carut-marut kota menuju carut marut pedesaan yang sama kacaunya. Merekam setiap lalu lalang manusia, mengopi lamat-lamat wajah-wajah baru secara tak sengaja. Sedang aku yakin, lalu lintas di kepalanya justru lebih bebal dan nakal! Berisi pemberontak-pemberontak licik-pembawa laras panjang bersusulan. Mengkoyak-koyak garang!
21.34 WIB
Sudah dua kali Bapak muntah dan berak darah di kamar mandi. Beberapa kali tergoler lemas di atas tikar, setelah kembali. Mencoba sesekali terlelap, tapi selalu digagalkan oleh mual dan sakit perut.
Akhirnya ku bawa ia ke IGD, setelah bertanya kepada perawat tentang dokter jaga yang bisa memeriksa beliau.
Setelah ditanya-tanya, dan aku wara-wiri ke administrasi untuk menyerahkan ktp, dokter menyarankan untuk diopname!
Brengsek! Tambah lagi kekacauan melintas sampai ubun-ubun. Tidak cukupkah yang sudah-sudah? Pikirku. Ah, ya sudah. Aku duduk sebentar. Mencari rute lain, sebentar. Tidak ada. Bapak sudah memakai selang infus di tangannya, tapi tubuhnya masih lemas. Ku gali pelan-pelan tanah lain, membuat rute alternatif baru.
Akhirnya, ku putuskan meminta ruangan yang tidak jauh dengan kamar ibu.
WIJAYAKUSUMA 1, NO 10.
22. 44 WIB
Bapak sudah di ruangannya. Aku tahu, beliau kecewa karena harus dipaksa opname oleh kondisi badannya. Sebenarnya aku juga tak kalah jengkel, tapi tidak ada rute lain yang bisa dilalui selain itu. Semua macet! Kebanjiran! Longsor!
Aku kembali ke kamar ibu. Beliau belum tidur. Semakin penasaran, bagaimana kondisi bapak. Dalam beberapa menit, aku masih belum bisa cerita. Ibu sakit Jantung.
Aku bingung sekali. Bukan masalah bagaimana nantinya aku menjaga mereka berdua, tapi bagaimana caranya memberitahu kepada ibu.
Beberapa kali aku keluar ruangan. Gusar. Lalu kuputuskan untuk menghubungi saudara di rumah. Meminta bantuan kepada mereka. Maka, kuputuskan untuk berterus terang kepada ibu setelahnya. Karena setelah ku pikir-pikir, tidak ada gunanya menutup-nutupi kenyataan. Hanya akan menyimpan luka yang lebih dalam. Dalam kasus ini, tentu tidak bisa membohongi kondisi Bapak yang juga butuh pertolongan segera dan tidak secepat yang dibayangkan. Tentu, supaya ibu juga segera bisa tidur.
23.12 WIB
Aku menghubungi beberapa teman. Bukan, bukan untuk meminta pertolongan perihal yang terjadi padaku saat itu. Aku menghubungi mereka untuk meminta pertolongan perihal pesan lain.
Rencananya, kami—guyub rukun TBRS—memang sudah merancang agenda untuk menyambut tahun baru Sura—dalam kalender Jawa, di TBRS pada tanggal 9-10 September ini. Sebagai salah satu orang yang terlibat, dicampur dengan kekacauan yang tak terduga, akhirnya ku putuskan untuk blokosuta pamit dan sedikit mengabarkan kondisi yang tidak memungkinkan ini. Tentu saja, memohon bantuan atas kekacauan lain yang harus ku tinggalkan, apalagi yang berhubungan dengan jobdesk.
Perlu beberapa saat untuk memikir kata-kata yang tepat. Jujur, aku tidak pernah suka meninggalkan tanggung jawab yang belum usai kepada orang lain. Itu bukan tipe ku. Sehancur apapun kondisinya. Sayang, lagi-lagi ini adalah pengecualian. Karena telah jelas, aku adalah anak dari kedua orang tua yang sejauh ini selalu bertanggung jawab terhadap kondisi apapun yang ku alami. Maka tidak laiklah ketika ku lepaskan tanggung jawab yang satu ini. Apapun kondisinya. Apapun resikonya.
Setelah pesan terkirim, aku yakin, dengan terpaksa mereka mengerti dan merelakan ketidakbisaan dan kelancangan ku mundur dari agenda ini. Tapi, aku juga tak kalah yakin, dengan penuh keikhlasan mereka seraya menyematkan doa-doa baik bagi kesembuhan kedua orang tua ku setelahnya.
Terima kasih.
Begitu kekacauan pelan-pelan ku tertibkan. Sial, aku lupa. Aku sangat membenci negara. Tapi ternyata setiap waktu aku menjadi negara bagi diri ku sendiri.
Dan kekacauan tidak pernah datang sekali saja. Membuatku menjadi negara terhadap diri ku. Beberapa hari setelah kembali ke Semarang, aku mencari-cari banyak hal, lebih tepatnya mencari penghibur dan hiburan. Sayang, ternyata kemanapun tempat diriku berlari, tidak pernah ada ruang untuk pelarian. Mungkin sesaat ada. Tapi setelah benar-benar disadari, itu hanya ilusi semata.
Bahkan sampai sekarang, meskipun hanya ilusi, aku masih sibuk mencari ilusi apalagi yang akan ku gunakan. Ilusi seperti apa yang pantas dijejaki tanpa mengandung unsur kasihan. Aku tidak suka dikasihani!
Padahal, kekacauan tidak pernah berdiam diri. Ia beranak pinak. Dan waktu adalah satuan vonis paling hakiki. Aku cukup tahu itu, aku cukup sadar. Tapi seperti ingin keluar sebentar. Sebentar saja.....
Biar sesekali aku tidak menjadi negara untuk diriku sendiri.

Semarang, 20 September 2018



“Berjumpa Masa Kecil, Aroma Kencing Ibu dan Letupan Tak Tertahan di Toilet.”



.......
Aku menggendong Ibu, seperti inikah dulu ia menggendongku?
Aku memapah Ibu ke kamar mandi, seperti inikah dulu ia memandikanku-menemaniku kencing-bahkan berak?
Aku harus sigap ketika Ibu tiba-tiba terbangun-kedinginan-lemas-terbatuk-atau kesakitan. Seperti inikah dulu rewelnya aku dalam segala kondisi?
Tidak.
Aku yakin tidak.
Tidak seenteng ini.
Tidak hanya sebatas ini.
Lebih. Ku yakin lebih berat. Tak terhitung. Tak mampu ditandingi. Tak bisa dibayar dengan perilaku yang hampir sama sekalipun.
Setidaknya, telah ku temui masa kecilku dengan Ibu
........

Obat Ibu banyak sekali. Cairan infusnya berwarna putih-lalu setengah hari kemudian diganti kuning. Sehari sekali, di lubang injeksinya, disuntikkan lagi beberapa zat lain supaya langsung mengalir ke pembuluh darahnya.
Setiap kali selesai menenggak beberapa pil dan mendapat suntikan itu, tak perlu menunggu lama, beberapa saat kemudian, reaksinya sudah terlihat.
Perut Ibu seperti dicuci-remas, katanya. Efeknya, ia seringkali ingin kencing dan berak.
Sementara, untuk tiduran saja ia membutuhkan selang oksigen.
Apalagi harus naik-turun dari ranjang setinggi itu. Harus jalan perlahan ke kamar mandi, dan mengulangi rutinitas itu berkali-kali.
Hampir tidak terhitung, dan sesekali Ibu terhuyung karena kelelahan.
Dan karena itu pula, aroma kamar mandi menjadi aroma khas kencing Ibu yang tak hanya pesing. Tetapi juga aroma semangat ibu lewat segala obat-obatan yang dicernanya dan meluruhkan segala penyakit demi kesembuhannya.
.......

Ini belum Tahun Baru, Hari Raya pun telah usai.
Tidak ada letupan yg patut untuk dinyalakan dan ditunggu-tunggu kehadirannya.
Begitupun dengan letupan yg satu ini. Yang entah sejak kapan berada disitu. Yang entah sejak kapan mulai membesar dan terus membesar.
Yang entah sejak kapan, mencoba untuk selalu ditekan dan terus ditekan.
Supaya tidak meletup sembarangan.
Yang entah sejak kapan, tempatnya tidak pernah pindah. Selalu ada di dada-kepala-dan bola mata.
Ia meletup. Meletup-letup keranjingan. Seperti dada-kepala-dan bola mata yang sudah sejak lama menanti gerakan kompak semacam kudeta.
Ia meletup. Dalam-dalam. Semakin dalam. Di kamar mandi. Di toilet. Bercampur dengan aroma kencing Ibu. Ikut serta mengunjungi masa kecilku.
.......

Pati, 6’9’18
Cepatlah sehat, Bu