Minggu-minggu ini begitu penat.
Banyak sekali rencana-rencana yang hilir mudik
saling mengantre di kepala.
Sementara, deadline-deadline
panjang jelas terpampang dengan tulisan tebal berstabilo merah menyala.
Selasa, 4 September 2018.
23.34 WIB.
Sebuah pesan menyusup lewat aplikasi bernama Whatsapp.
“Ibu
di opname!”
Serentak, semua yang awalnya hilir-mudik dengan
rapih menjadi kalang kabut berlarian, di kepala.
Kopiku masih setengah gelas kala itu. Sudah tidak
terlalu hangat, memang. Ternyata dinginnya malam itu, semakin menambah
kekacauan yang membabi buta tanpa jaket.
Semua kedinginan, malah-malah hampir beku.
Berlarian-lalu membeku. Tidak ada gerakan yang tadinya gencar. Kaku. Mati
beberapa detik. Tidak tenang juga. Dingin...
Sampai pada akhirnya, ku pesan kembali segelas kopi
panas kepada penjual.
Sebagai tuan rumah rencana-rencana di kepala,
akhirnya ku putuskan menyeruput pelan kopi panas supaya semua mencair perlahan.
Mencair, pelan-pelan membanjiri sela-sela tulang tengkorak, daging, darah,
kulit...
Eits! Yang mau menyusup
lewat bola mata, jangan diam-diam! Karena kau masih pula ketahuan!
Nakal juga yang mau
menerobos lewat bola mata, pikirku. Mereka pikir akan ku loloskan begitu saja?
Enak betul!
STOP!
Lewat yang lain saja!
Rute yang ini sudah ditutup dari beberapa waktu yang lalu!
Karena “rawan longsor!”
Jangan coba-coba
menyuap saya! Percuma! Saya sudah kebal suap!
Digertak sedikit saja,
mereka sudah luluh. Dasar pemberontak kecil! Mau menentang tuan rumah? Ya jelas
tidak bisa!
Wong
saya yang punya rumah!
Rabu, 5 September 2018
01.24 WIB
Aku memutuskan untuk kembali kos an barang sebentar.
Packing.
Seorang teman yang masih asik melirik gawainya masih
tidak sadar terhadap kekacauan yang terjadi di dalam lalu lintas tubuhku. Aku
hanya berpesan,
“
titip barang-barang sebentar. Aku mau ke
kos an. Nanti ke sini lagi.”
Barangkali hanya butuh
10 menit, aku kembali duduk dan melanjutkan menunggu teman lain yang sudah
sedari sore janjian untuk ketemu. Tentunya demi aliran lalu lintas di kepala
yang lebih lancar. Ya, supaya tidak semakin macet dan lebih parah mengklakson
pengantre yang lain. Bising! Aku tidak suka kebisingan.
01.49 WIB
Datanglah teman lain yang pulang dari rutinitas
hariannya. Karena lapar, atau karena butuh hiburan, ia duduk di meja kami
lantas menyapa basa-basi.
“Mau ke mana?”
“Pulang”
“Ibu
sakit?”
“Opname”
Tet-tret-tet-tet-teeeeeeeet...................
Tiba-tiba seperti ada musik penyela pengganti
suasana yang biasanya hadir di beberapa part
film. Sedetik kemudian kami bertiga seperti sama-sama saling menata hidangan di
meja makan. Terdiam, sambil menggeser-geser
piring-mangkuk-gelas-sendok-garpu-serbet-tissue-saos-kecap,
dan sesekali mencicipi hidangan. Memastikan menu hari ini tidak beracun dan
laik dimakan.
Pelan-pelan ku deskripsikan ulang barang sedikit
kekacauan di kepala. Apalagi setelah teman yang ku nanti kehadirannya datang
juga beberapa waktu setelahnya.
Tentu saja, tidak ada kepala yang siap menerima
kabar buruk tentang apapun itu. Dan sialnya, karena kepala selalu diselimuti
udara, maka ia akan dengan mudah menerima pesan sesuka angin berhembus.
Sedangkan pesan-pesan lain saja masih bertumpuk
belum tersampaikan. Untung saja, jika mau menata pelan-pelan dan hati-hati,
mungkin akan lebih enak jika sudah diatur kepada siapa harus di kirim, hari apa
harus mengirim, apa alamat si tuan rumah berikutnya, dan jangan lupa sertakan
amplop yang rapat. Malam ini dingin sekali!
Aku pulang.
07.14 WIB
WIJAYAKUSUMA
1, NO 2.
Aku sampai di rumah sakit.
Ibu sudah bangun. Mungkin tadi pagi ia tidak terlalu
nyenyak. Beberapa kali di perjalanan, beliau mengirim pesan. Masih saja
khawatir kepada ku. Heran juga. Tidak cukupkah biar aku saja yang khawatir?
Jangan yang lain. Apalagi ibu...
Tidak tidur sehari bukanlah sesuatu yang terjadi
satu-dua kali. Jadi aku rasa, tidak akan menjadi kondisi yang menyusahkan. Tapi
ternyata, mungkin kali ini pengecualian. Saat ini tidak hanya kepalaku yang
kacau, tapi badanku pula. Ah, brengsek!
Namun, kekacauan kondisi ibu, menjadi pisau yang
lebih tajam dibandingkan dengan carut-marut yang ku rasakan saat itu.
Aku pikir, aku tidak
boleh tumbang. Tidak ada rasa kasihan yang pantas dicurahkan oleh siapapun,
jika aku tumbang kali ini. Justru akan lebih kacau lagi. Bising. Aku tidak suka
kebisingan!
Berhari-hari aku di rumah sakit. Tidur jika
mengantuk. Bangun karena khawatir, barangkali ibu ingin kencing-buang air
besar-mandi-lapar-mengganti cairan infus-atau mengobrol dengan dokter setelah
dikontrol tiap paginya.
Memang tidak senyeyak yang ku bayangkan. Tidak
setenang yang ku harapkan. Tapi, aku cukup senang menunggu ibu di rumah sakit. Aku
menemui banyak hal karenanya. Masa kecil, aroma kencing ibu, dan letupan kecil
di toilet.*
*Di pos sebelumnya
Sabtu, 8 September 2018
13.05 WIB
Bapak datang.
Beliau datang dari perjalanan rute
Madura-Surabaya-Pati.
Sebenarnya, kapal ikan yang dinahkodai beliau belum
waktunya pulang. Seorang diri ia ijin kepada awak kapal untuk pulang sebentar.
Mungkin, kepalanya menyerap kabar yang disampaikan oleh angin.
Sial! Lagi-lagi karena kepala selalu diselimuti
udara. Maka angin dengan sesukanya mengabarkan segala yang ia ketahui.
Ku belikan nasi bungkus
di dekat area rumah sakit untuk sarapan Bapak, yang dari dua hari dua malam perjalanan
perutnya sama sekali belum terisi benda apapun. Matanya masih terjaga melihat
setiap carut-marut kota menuju carut marut pedesaan yang sama kacaunya. Merekam
setiap lalu lalang manusia, mengopi lamat-lamat wajah-wajah baru secara tak
sengaja. Sedang aku yakin, lalu lintas di kepalanya justru lebih bebal dan
nakal! Berisi pemberontak-pemberontak licik-pembawa laras panjang bersusulan.
Mengkoyak-koyak garang!
21.34 WIB
Sudah dua kali Bapak muntah dan berak darah di kamar
mandi. Beberapa kali tergoler lemas di atas tikar, setelah kembali. Mencoba
sesekali terlelap, tapi selalu digagalkan oleh mual dan sakit perut.
Akhirnya ku bawa ia ke IGD, setelah bertanya kepada
perawat tentang dokter jaga yang bisa memeriksa beliau.
Setelah ditanya-tanya, dan aku wara-wiri ke
administrasi untuk menyerahkan ktp, dokter menyarankan untuk diopname!
Brengsek! Tambah lagi kekacauan melintas sampai
ubun-ubun. Tidak cukupkah yang sudah-sudah? Pikirku. Ah, ya sudah. Aku duduk
sebentar. Mencari rute lain, sebentar. Tidak ada. Bapak sudah memakai selang
infus di tangannya, tapi tubuhnya masih lemas. Ku gali pelan-pelan tanah lain,
membuat rute alternatif baru.
Akhirnya, ku putuskan meminta ruangan yang tidak
jauh dengan kamar ibu.
WIJAYAKUSUMA
1, NO 10.
22. 44 WIB
Bapak sudah di ruangannya. Aku tahu, beliau kecewa
karena harus dipaksa opname oleh kondisi badannya. Sebenarnya aku juga tak
kalah jengkel, tapi tidak ada rute lain yang bisa dilalui selain itu. Semua
macet! Kebanjiran! Longsor!
Aku kembali ke kamar ibu. Beliau belum tidur.
Semakin penasaran, bagaimana kondisi bapak. Dalam beberapa menit, aku masih
belum bisa cerita. Ibu sakit Jantung.
Aku bingung sekali. Bukan masalah bagaimana nantinya
aku menjaga mereka berdua, tapi bagaimana caranya memberitahu kepada ibu.
Beberapa kali aku
keluar ruangan. Gusar. Lalu kuputuskan untuk menghubungi saudara di rumah.
Meminta bantuan kepada mereka. Maka, kuputuskan untuk berterus terang kepada
ibu setelahnya. Karena setelah ku pikir-pikir, tidak ada gunanya menutup-nutupi
kenyataan. Hanya akan menyimpan luka yang lebih dalam. Dalam kasus ini, tentu
tidak bisa membohongi kondisi Bapak yang juga butuh pertolongan segera dan
tidak secepat yang dibayangkan. Tentu, supaya ibu juga segera bisa tidur.
23.12 WIB
Aku menghubungi beberapa teman. Bukan, bukan untuk
meminta pertolongan perihal yang terjadi padaku saat itu. Aku menghubungi
mereka untuk meminta pertolongan perihal pesan lain.
Rencananya, kami—guyub rukun TBRS—memang sudah
merancang agenda untuk menyambut tahun baru Sura—dalam kalender Jawa, di TBRS
pada tanggal 9-10 September ini. Sebagai salah satu orang yang terlibat,
dicampur dengan kekacauan yang tak terduga, akhirnya ku putuskan untuk blokosuta pamit dan sedikit mengabarkan
kondisi yang tidak memungkinkan ini. Tentu saja, memohon bantuan atas kekacauan
lain yang harus ku tinggalkan, apalagi yang berhubungan dengan jobdesk.
Perlu beberapa saat untuk memikir kata-kata yang tepat.
Jujur, aku tidak pernah suka meninggalkan tanggung jawab yang belum usai kepada
orang lain. Itu bukan tipe ku. Sehancur apapun kondisinya. Sayang, lagi-lagi
ini adalah pengecualian. Karena telah jelas, aku adalah anak dari kedua orang
tua yang sejauh ini selalu bertanggung jawab terhadap kondisi apapun yang ku
alami. Maka tidak laiklah ketika ku lepaskan tanggung jawab yang satu ini.
Apapun kondisinya. Apapun resikonya.
Setelah pesan terkirim, aku yakin, dengan terpaksa
mereka mengerti dan merelakan ketidakbisaan dan kelancangan ku mundur dari
agenda ini. Tapi, aku juga tak kalah yakin, dengan penuh keikhlasan mereka
seraya menyematkan doa-doa baik bagi kesembuhan kedua orang tua ku setelahnya.
Terima kasih.
Begitu kekacauan pelan-pelan ku tertibkan. Sial, aku
lupa. Aku sangat membenci negara. Tapi ternyata setiap waktu aku menjadi negara
bagi diri ku sendiri.
Dan kekacauan tidak pernah datang sekali saja. Membuatku
menjadi negara terhadap diri ku. Beberapa hari setelah kembali ke Semarang, aku
mencari-cari banyak hal, lebih tepatnya mencari penghibur dan hiburan. Sayang,
ternyata kemanapun tempat diriku berlari, tidak pernah ada ruang untuk
pelarian. Mungkin sesaat ada. Tapi setelah benar-benar disadari, itu hanya
ilusi semata.
Bahkan sampai sekarang, meskipun hanya ilusi, aku
masih sibuk mencari ilusi apalagi yang akan ku gunakan. Ilusi seperti apa yang
pantas dijejaki tanpa mengandung unsur kasihan. Aku tidak suka dikasihani!
Padahal, kekacauan tidak pernah berdiam diri. Ia beranak pinak. Dan waktu adalah satuan vonis paling hakiki. Aku cukup tahu itu, aku cukup sadar. Tapi seperti ingin keluar sebentar. Sebentar saja.....
Padahal, kekacauan tidak pernah berdiam diri. Ia beranak pinak. Dan waktu adalah satuan vonis paling hakiki. Aku cukup tahu itu, aku cukup sadar. Tapi seperti ingin keluar sebentar. Sebentar saja.....
Biar sesekali aku tidak menjadi negara untuk diriku
sendiri.
Semarang, 20 September 2018