Selasa, 23 Juni 2015

Perempuan Pemilik Kecemasan

Kemudian pertanyaan demi pertanyaan mulai berhamburan melukai panca indera, nadi, dan hati para perempuan di sekitar saya.
Surga di telapak kaki Ibu," katanya.
Lantas bagaimana nasib perempuan-perempuan calon pemilik surga itu berada?.
Baiklah, kecemasan ini berawal dari peristiwa terdekat yang nyatanya mampu menampar saya sebagai seorang perempuan dengan begitu kerasnya. Menyobek hati saya, menusuk luka yang pernah ada hingga kini menjadi semakin menganga.
Peristiwa itu dimulai ketika seorang perempuan berusaha bercerita kepada saya. Dia menceritakan ini-itu, segala hal yang begitu dalam tentang kehidupannya kepada saya. Saat pertama kali saya mendengarnya, saya terus memandang bola matanya ( entah yang kanan atau yang kiri, saya lupa) hingga saya merasa mampu merasuk ke dalam dirinya. Hingga saya seolah mampu merasakan apa-apa yang dirasakannya pula. Hingga tak sadar kita sama-sama menitikan air mata. Entah karena memang saya  terlanjur terhanyut dengan kisahnya, atau merasa pernah berada dititik dimana dia sekarang berada. Tak sadar, terkadang saya ikut mengangguk-angguk dan sesenggukan bersamanya. Lantas menanggapi dan memberikan dukungan serta saran semampu saya.Ya, tentu saja dengan maksud untuk sedikit menenangkannya. Walaupun saya tahu segala yang dialaminya saat itu hanya dirinya sendirilah yang memiliki jalan keluar. Begitu semalaman saya mencoba menjadi pendengar yang sebaik-baiknya, dan perasa yang setulus-tulusnya, hingga kata terakhir terucap di bibirnya. Akhirnya, saya pun berusaha membagi kisah saya padanya. Cerita kecil yang saya bagi untuk orang-orang tertentu di hidup saya. Cerita kecil yang didengar seorang perempuan kebingungan di hadapan saya. Yang nyatanya mampu memberikan motivasi serta menumbuhkan energy positif kepada dirinya. Sejak saat itu kami semakin dekat. Semakin banyak yang bisa kami bagi tanpa canggung lagi. Semakin berani pula beradu argument tentang ini-itu. Semakin intim kami ‘ blak-blakan’ tentang segala sesuatu, termasuk tentang pria di kehidupan kami masing-masing.
            Tidak berhenti disitu, karena kecemasan telah mengikuti dari awal kami dilahirkan. Kecemasan seolah ditakdirkan mengekor dibalik bayi berjenis kelamin perempuan. Siti Nurbaya atau cerita-cerita lainnya adalah bukti dari kecemasan yang tumbuh dan mengakar sejak seorang bayi ditakdirkan berjenis kelamin perempuan. Begitu pula dengan saya, perempuan itu, dan perempuan-perempuan lain yang ada dimuka bumi. Perempuan berkewajiban menjaga harga dirinya, harga diri keluarganya dengan cara mempertahankan keperawanannya hingga dia menikah. Jikapun ada suatu kesalahan, hingga dia hamil, maka dia akan dihujat habis-habisan serta mendapatkan sanksi sosial dan moral dikalangan masyarakatnya. Tidak peduli bagaimana dan kenapa dia bisa seperti itu. Tetaplah dia yang salah dimata masyarakat. Seperti kasus akhir-akhir ini di beberapa Negara yang memberikan hukuman kepada pada perempuan yang telah berzina, baik itu yang disengaja ataupun karena kasus perkosa. Bahkan walapun sebagai korban, mereka tetap saja meringkuk di penjara karena dianggap tidak mampu menjaga dirinya, hingga menimbulkan hawa napsu para lelaki. Atau memberikan celana anti perkosa kepada para perempuan, padahal yang memiliki hasrat untuk melakukan hal tersebut adalah bukan kaum perempuan itu sendiri. Bah, lalu bagaimana dengan lelaki?.
“ Kemaren aku bertemu dengannya lagi. Laki-laki yang hanya datang padaku disaat dia membutuhkanku, pun sebaliknya. Dia bilang jika aku memilih untuk menjadi kekasihnya dan mau meninggalkan pacarku yang sekarang, maka dia telah siap. Tapi dia mengatakan bahwa ada satu hal dari dirinya yang tak bisa dihindari, yakni ketika kami memutuskan untuk bersama maka aku harus mau dan rela melayani napsu birahinya. Begitu katanya. Lantas, disisi lain, pacarku sudah mulai berani melontarkan pernyataan-pernyataan yang membuatku tak kalah terkejut.”
“ Apa katanya?.”
“ Dia rela melepas keperjakaannya jika itu denganku,” jawab perempuan itu dari BBM yang ia kirim kepadaku.
“ Lalu kau bagaimana?.”
“Entahlah, aku bingung harus memilih yang mana. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dia ( pria 1), aku tidak bisa serta merta melupakannya, sedangkan pacarku, dia sesunggguhnya pria baik-baik yang hanya ingin mencoba-coba hal baru di hidupnya. Aku tak tega dengannya. Tapi dibalik itu semua, satu hal yang membuat aku teramat sakit dari keduanya. Apakah aku ditakdirkan untuk mencintai dan dicintai oleh orang-orang yang seperti itu?. Orang-orang yang menawarku untuk melayani napsunya?. Apa aku tak pantas untuk dihargai oleh mereka?. Atau aku yang tak bisa menghargai diriku sendiri?.”
“ Gila!.” Saya tersentak membacanya. Entah bagaimana keadaannya saat itu di balik handphone-nya. Yang jelas saya pun ikut merasakan kecemasan yang sama sebagai seorang perempuan dan sebagai seorang teman tentunya. Lantas yang ada dipikiran saya saat itu ialah seolah-olah pertanyaan perempuan itu membentuk suatu pertanyaan baru yang siap dilontarkan kepada para lelaki.
“ Jika semua boleh dihitung dengan uang, maka berapa harga yang pantas kau berikan kepadaku?.”
Ya, semacam itu.
Mengapa tidak ada pertanyaan semacam,
“ Apa kau mau memacariku tanpa ku sentuh kau barang sekuku?.”
Atau kenapa tidak dibalik saja?. Kenapa bukan kita, para perempuan yang menaruh harga kepada lelaki?. Atau dengan cara apalagi kita menghargai diri sendiri sebagai seorang  perempuan dihadapan laki-laki?. Saya rasa konsepsi tentang derajat laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, membentuk suatu kesewenang-wenangan untuk ( secara tidak langsung) menjatuhkan harga diri perempuan demi memperlihatkan kejelasan perbedaan kelas antara laki-laki dan perempuan. Lantas, bolehkah saya bertanya,
 “ Berapa harga yang kau tawarkan hingga kau rela tak menyentuhku barang sekuku?.”


Terima kasih untuk teman dekat saya yang telah mengijinkan saya untuk menulis sekalumit kisahnya melalui blog saya. Terima kasih atas kesadaran dan pembelajaran yang luar biasa dibalik cerita hidup yang kau bagikan. Semoga kecemasan demi kecemasan segera terobati dan merdekalah kita, para perempuan pemilik kecemasan.
6/24/2015

Minggu, 07 Juni 2015

Manusia Teater Harus Kreatif dan Kondisional!



Jarum jam menunjukkan 00.24, sedini ini dan saya belum bisa tidur. Sebenarnya kekuatan mata bisa diibaratkan tinggal 5watt dan badan sudah mulai merajuk sedari sore untuk diistirahatkan sejenak. Namun ada sesuatu yang harus diungkapkan, semacam perasaan hutang yang perlu dituntaskan sekarang juga. Dan saya memutuskan untuk menulisnya daripada tidak bisa tidur.
" Berteater tidak hanya semata-mata menjadi aktor dalam panggung," kalimat itulah yang membuat saya semakin penasaran dengan dunia teater. " Tidak hanya berperan menjadi aktor? Lantas mau apa." Pertanyaan itu sering muncul ketika saya tidak sengaja mengingat kalimat yang diucapkan oleh seorang yang lebih dulu berkecimpung di dunia teater tempat dimana saya belajar sekarang. Awalnya mendengar kalimat itu saya agak kecewa dan suudzon, saya pikir orang itu telah memupuskan bayangan saya yang mengira dengan berteater saya bisa menjadi aktor handal atau sutradara Hollywood kelak, atau mereka ingin menjerumuskan saya ke dunia yang entah saya tidak bisa pikirkan saat itu. Tapi saya mengabaikannya. Saya pikir saya harus tetap mengejar impian saya untuk menjadi aktor yang baik dengan belajar di teater.
Seiring berjalannya waktu, tanpa saya sadari saya mulai menemukan jawaban-jawaban yang mungkin adalah jawaban dari pernyataan yang sempat membuat saya ragu dengan dunia teater ini. Yakni " anak teater diwajibkan kreatif dan mampu menjadi orang yang kondisional." Ya, hal ini saya simpulkan dari secuil pengalaman saya di teater yang saya naungi sekarang. Mulai dari kondisi diri sendiri, kondisi dan garapan yang menyangkut teater tersebut, orang-orang, keadaan dan suasana luaran tubuh, sampai masalah -masalah yang timbul dari berbagai penjuru. Menuntut kita (saya pribadi khususnya) untuk selalu berpikir kreatif sehingga mampu mendapatkan solusi dengan persiapan plan A-Z dan siap dalam keadaan apapun. Contoh yang paling dekat adalah pemberlakuan jam malam dan sulitnya meminjam tempat untuk pentas di kampus sendiri waktu itu. Bukan tanpa alasan, memang benar masih ada tempat lain yang bisa dijadikan tempat pentas di Semarang, dan mungkin banyak orang berpikir, “ Ya kenapa susah-susah ngurus tempat. Wong ning njaba kampus ya ana panggon sing isa dinggo pentas.” Namun sebagai mahasiswa teater yang ingin tetap membawa dan mengenalkan nama baik fakultasnya, kami terus berupaya untuk bisa pentas di fakultas kami sendiri. Oleh karena itu saya dan teman-teman masih terus berupaya untuk menembus izin pentas di ruang yang berlebel “ ruang teater” itu hingga saat ini yang tak jarang membuat kami harus beradu argumen dengan pihak birokrasi.
“ Kalian harus siap dengan berbagai kondisi, pentas bisa digelar dimana saja, jika dalam ruangan tidak bisa, ya harus siap pentas di luar ruangan. Biasakan menjadi aktor yang kondisional!.”
Kalimat itu yang saya dapatkan beberapa waktu lalu ketika berbincang atau curhat lebih tepatnya dengan salah satu anggota pasif kami yang kebetulan adalah dosen saya sendiri. Ya, manusia yang siap menghadapi apapun dan kondisional. Mungkin itu salah satu pemisalan dari jawaban yang saya cari selama ini.
Hal ini pun terlihat dari pementasan " Geng Toilet" Sabtu malam (6 Juni 2015) oleh Teater Cabank. Naskah Leak yang berhasil dipentaskan di sebuah pasar di daerah Purwodadi sebelumnya ini adalah salah satu pentas produksi Teater Cabank yang cukup memberikan kesan baik dan kata ' salut' dari penontonnya. Disini saya mengabaikan masalah teknis atau isu yang disampaikan, bukan berarti hal tersebut tidak penting atau saya yang terlalu malas karena mata tinggal 5watt. Akan tetapi ada yang lebih menarik dari pertunjukkan semalam selain membicarakan masalah teknis yang di manapun tempatnya bisa dipelajari untuk dikejar, atau isu dan obrolan pasar yang cukup dekat dengan telinga kita. Hal yang lebih dan cukup menarik simpati adalah kemasan pementasan. Tempat di mana pentas tersebut digelar. Ya, tidak seperti pentas teater konvensional lainnya yang biasanya digelar di sebuah gedung teater atau setidaknya ruangan yang memadai untuk pertunjukkan teater. Teater Cabank berani mengambil resiko dengan pentas di lorong kelas yang panjangnya tidak lebih dari 5m.
Sebelum masuk ruangan saya sempat bertanya kepada salah satu alumni Teater Cabank perihal tempat pentas, saya iseng bertanya, " kenapa pentas di kampus? Kok ngga milih di tempat lain," hal ini saya lakukan karena saya ingat bahwa kampus mereka sama dengan kampus saya perihal pemberlakuan jam malam. " Soalnya dari kampus sendiri memang mewajibkan kita untuk setidaknya ada proker yang digelar dikampus." Begitu kurang lebih jawabannya. Wah enak, pikir saya. Hal ini membuktikan bahwa teater masih dibutuhkan juga oleh kampus, sampai-sampai ada kewajiban untuk mengadakan acara/pentas di rumahnya sendiri. Jujur saja, mendengarnya membuat saya sedikit iri sebenarnya, karena saya berpikir jika sudah ada tuntutan seperti itu seharusnya pihak yang menuntut memberikan fasilitas yang memadai dan kelonggaran jam malam tentunya. Namun setelah penonton diizinkan masuk ke ruang pertunjukkan, yang terletak di lorong kelas lantai 7, saya agak terkejut, " loh, tak kira ning njero ruangan ik." Hal ini didasari dari pikiran awal saya barusan. Ajaibnya pertunjukkan tetap berjalan cukup khidmat hingga diskusi berlanjut ditempat yang sama. Ya, bagaimana tidak ajaib? lorong yang disulap dengan apik menjadi ruang pertunjukan dengan segala kekurangannya seperti tidak sebandingnya luas ruangan dengan jumlah penonton dan sirkulasi udara yang cukup terbatas ditambah kebulan asap yang mengepul mampu menahan para penonton untuk tetap duduk melingkar hingga diskusi usai. Melihat susasana diskusi tersebut saya seperti terdorong pada beberapa minggu yang lalu, ya kami pernah mengalaminya beberapa waktu silam. Ketika itu kita ( teater kami) menggelar pementasan untuk anggota baru di sebuah ruangan yang ada di kampus kami. Ruangannya tidak besar, bahkan tidak cukup layak jika digunakan untuk pentas teater dengan jumlah penonton yang banyak. Namun jika diukur dengan ruangan pentas Teater Cabank malam itu, saya rasa masih agak lebar tempat kami. Dan sayangnya saya dan teman sejawat saya yang malam itu kebetulan nonton serta ikut diskusi di pentas teman-teman Cabank  masih ingat betul ada salah seorang teman yang bertanya alasannya memilih tempat tersebut padahal ada tempat lain yang lebih layak untuk pentas, bahkan banyak dari teman-teman penonton lainnya yang menyerah dan akhirnya meninggalkan diskusi dengan alasan kurang angin dan asap rokok. Saat itu, alasan yang mendasar sudah saya lontarkan sesuai dengan tujuan utama kami diparagraf sebelumnya. Namun tentu seperti halnya teman-teman Cabank malam itu, pasti ada alasan tersendiri, alasan rumah tangga yang sudah diperhitungkan sebelumnya untuk akhirnya memutuskan kenapa memilih tempat tersebut. Dan saya yakin alasan yang tidak bisa disebutkan atau tidak sepenuhnya disebutkan oleh kami dan atau teman-teman Cabank malam itu sudah dipikirkan matang-matang dengan segala konsekuensinya. Beruntungnya pertanyaan itu tidak muncul lagi semalam, dan kabar gembiranya pada pertunjukkan " Geng Toilet" ini para penonton masih sangat antusias untuk mengikuti diskusi dengan keadaan dan suasana yang sedemikian rupa. Saya pikir keadaan semacam ini adalah sebuah kemajuan. Hal ini dapat dilihat dari tidak adanya pertanyaan semacam “ kenapa tidak diruangan atau tempat lain? Atau meninggalkan diskusi karena tempat panas dan asap rokok. Apalagi teman-teman teater sudah berpikir bahwa dimanapun dan sebesar apapun tempatnya dapat dimanfaatkan sebagai ruangan pentas. Hal semacam ini harus dipertahakan.
 Lalu yang menarik simpati lagi adalah kisah atau perjalanan yang ditempuh teman-teman Teater Cabank dibalik pementasan malam itu. Dengan anggota yang terbilang tidak banyak, teman-teman teater Cabank berhasil menggelar pentas produksi. Hal ini hebat, dan harus diteladani tentunya. Ya, aktor yang merangkap menjadi timpro sekaligus bukan hal yang mudah. Tapi mereka mampu membuktikannya. Memang benar kata seorang anggota pasif kami, " Teater itu tidak harus banyak orang, satu orang saja bisa, namanya monolog, dsb...." Hal ini yang membuat saya percaya bahwa teater menuntut manusianya untuk menjadi orang-orang yang kreatif dan siap dalam menghadapi keadaan apapun. Semangat itu yang saya bawa pulang dari teman-teman teater Cabank yang tentunya membuat saya semakin yakin bahwa berteater ( seharusnya) menjadikan manusianya menjadi lebih baik, kondisional dan cerdas. Selamat Teater Cabank! Salam Budaya! Viva Teater!

Kamis, 28 Mei 2015

Menonton Teater dan Menonton Bola

Kata seorang teman di dalam tulisannya, menonton teater bak membeli kucing dalam karung. Pembeli boleh menerka-nerka seperti apa bentuknya, selembut apa bulunya, seindah apa matanya, dan selucu apa rupanya. Namun dia harus siap ketika karung tersebut dibuka dengan segala kemungkinannya.
Hal itu pula yg saya alami, dan mungkin dialami oleh sebagian besar penonton teater malam ini.
Pengalaman ini dimulai ketika sore tadi, yakni sewaktu saya memutuskan untuk menonton sebuah pertunjukan teater yang berbekal " katanya." Bohong jika ini adalah kali pertama saya menonton pentas teater. Namun tidak dipungkiri ini adalah kali pertama saya dihinggapi rasa penasaran yg teramat sangat untuk menonton pentas teater dengan ekspektasi yang sangat tinggi, ya lagi-lagi karena modal " katanya." Saya datang ke tempat pertunjukan bersama dengan beberapa teman yang notabene masih lebih dini mengenal teater. Kami datang hampir jam 8pm. Itu artinya kami agak telat dari waktu yg ditentukan. Sesampainya disana ( RRI) kami diperbolehkan masuk setelah membeli tiket yg sebelumnya menjadi perbincangan hangat ketika akan berangkat ke lokasi. Ya kami harus berpikir ulang untuk datang dengan syarat 15rb ( jika mahasiswa) dibandingkan dengan makan beberapa hari kedepan sembari menghabiskan tanggal tua. ( kiriman baru mengucur tanggal muda, balada mahasiswa rantau hihihi). Namun kami tetap berangkat dengan cara apapun waktu itu, ya rasa penasaran lebih egois daripada masalah perut ternyata.
Kami (pelajar dan mahasiswa) mendapat tempat duduk dilantai 2, mungkin ini dikarenakan tiket kami paling murah jika dibanding dengan ukuran kantong bukan pelajar dan mahasiswa. Sebenarnya jika dilihat dari skala pementas, tiket yang dipatok memang sangatlah wajar. Bahkan bisa dibilang murah untuk pentas penampil skala ibukota. Ya, lagi-lagi bukan masalah itu, dan kami mengabaikannya sesaat.
Pertunjukan dimulai tak lama ketika kami masuk ruangan. Gambar yang terpampang di proyektor membuka drama politik yang akan disuguhkan. Saya pribadi berpikir, " wah ini pasti agak-agak surealis gitu, pasti keren nih!." Begitu pikir saya. Dan benar, entah itu surealis, absurd atau apalah bentuknya pertunjukkan dilanjutkan cukup menarik rasa penasaran penonton (saya pribadi khususnya) untuk tetap memperhatikan apa selanjutnya yang akan terjadi di panggung. Ilustrasi musik mulai membanjiri telinga. Awalnya saya kira akan ada perubahan suasana yg disuguhkan dari ilustrasi musik. Mungkin iya, sedikit. Tapi lama-kelamaan telinga saya cukup terganggu dan seolah menyuruh saya untuk cepat keluar ruangan. Mungkin ini subjektivitas pribadi yg muncul karena saya menganggap ilustrasi musik yg dipakai hampir seperti sinetron-sinetron di TV. Seperti instrumen-instrumen yg tiada henti hampir sepanjang pertunjukan, dentuman djimbe yg tak beraturan, dan terkadang ada efek tambahan yg dipakai untuk penegasan adegan seperti saat memukul dsb yg mengingatkan saya pada serial-serial laga di TV. Tidak ada yg salah memang jika benar seperti itu, lagi-lagi ini berbicara masalah selera. Dan saya sebagai penonton bertiket pun bebas berkomentar dari sudut pandang saya.
Namun ternyata tidak sedini itu, saya tidak mau kalah dengan gangguan ilustrasi musiknya. Saya pikir, 15rb dan keluar sedini itu tidaklah sebanding. Saya lanjutkan menonton dengan harapan pertunjukan semakin menarik. Saya bertahan  hampir setengah jam, setelah beberapa kali berpindah fokus ke HP yang saya genggam, lantas memperhatikan wajah-wajah ' sepaneng' dari penonton lain yg berada di samping kanan-kiri dan belakang saya. Terkadang mengajak berbicara teman sebelah saya, mencoba memperhatikan lagi dengan memasang baik-baik telinga saya untuk menangkap vokal yang dituturkan antar pemain vs ilustrasi musik yang mengganggu itu. Sesekali membenahi sikap duduk saya, kipas-kipas sebentar, dan akhirnya saya menyerah. Tidurlah saya ditengah-tengah pertunjukan. Hingga terbangun di hampir 3/4 pertunjukan atau lebih dari itu. Sial, saya mengira saya adalah penonton yg kurang ajar, karena bukan datang untuk
nonton tapi malah tidur dengan pulas. Saya pikir saya kecapekan atau bagaimana dan saya merasa merugi karena jauh kehilangan adegan pada pentas itu. Tak lama pementasan usai, kami memutuskan untuk keluar dan segera pulang karena memang tidak ada diskusi seperti pementasan teater biasanya disini. Di luar kami bertemu dengan beberapa orang kawan, kami saling menyapa dan sedikit meminta pendapat tentang pentas barusan. Betapa baru tahunya saya bahwa dari pengakuan mereka banyak yg tertidur di kursinya masing-masing seperti saya, bahkan ada yg sengaja keluar ditengah pertunjukan. Oh! Baru saya sadari ternyata sikap iseng saya sebelum tertidur sedari tadi adalah salah satu bentuk kebosanan saya ditengah-tengah pentas. Bukan karena memang saya yg kecapekan atau apa. Bahkan ketika ditanya bagaimana pentasnya? Dalam hati saya bisa menjawab," wis mending ra sah nonton!." Namun saya hanya tersenyum dan menjawab seadanya ( biasanya jawab: Yo ngono kuwi hehe). Karena lagi-lagi ini masalah selera. Saya tidak bisa serta merta bilang pentas ini jelek dan mencari orang-orang lain untuk menyetujuinya. Tapi saya berhak kecewa atas ekspektasi saya yg cukup tinggi apalagi disitu saya membawa adik-adik baru saya untuk menonton teater dengan sutradara yg tidak diragukan lagi kualitasnya, pemain-pemain ibukota yg telah melalang buana dan nama besar yg cukup meyakinkan. Emm.. boleh dikata merasa sedikit tertipu. Ya karena isu yg dibawa pun sebenarnya mudah ditebak dan sudah biasa sekali, apalagi jika sudah membaca bookleat nya dan harapan satu-satunya adalah bentuk pertunjukannya. Belum lagi berbicara masalah ' sapu bersih yg tidak bersih' di beberapa adegan, penataan cahaya, pemotongan panggung, dsb. Saya menyimpulkan bahwa pementasan yang mengusung drama politik ini belumlah siap untuk menghadirkan penonton. Karena menurut saya proses menuju pentas dan panggung ( waktu pentas) adalah satu kesatuan yg tidak bisa dipilih-pilih mana yg terpenting untuk dikejar yg paling baik. Istilahnya adalah sepaket. Karena hasil dari proses adalah pentas itu sendiri. Ya, boleh dikatakan menonton pentas seperti menonton bola. Kita boleh berekspektasi tinggi, memprediksi dengan pertimbangan nama besar, popularitas, atau jika di bola adalah peringkat di atas kertas. Namun lapangan tetaplah lapangan. Segala hal sah terjadi. Dan sebagai penonton maka siap-siaplah jika suatu saat harus pulang dengan patah hati. Tulisan ini sebenarnya tidak bermaksud apa-apa. Hanya sebatas curahan hati seorang penonton menurut apa yg ia rasakan selama ini dan apa yg ia alami. Ya semoga dipertunjukkan-pertunjukkan selanjutnya para pegiat teater mampu memberikan yg benar-benar terbaik dan terjujur bagi penontonnya, sehingga mereka semua mampu jatuh cinta. Salam budaya! Viva teater!

28/05/15
Oleh-oleh dari pertunjukan " Homo Reptilicus"
Drama Politik
Karya : Radhar P.D.
Teater Kosong
@RRI Semarang

Senin, 27 April 2015

Berlayar



Perahu kembali kita kayuh. Dengan tangan-tangan mungil menuju samudera.
 “ Hari ini kita harus berlayar,” katamu.
Dan kita mulai perjalanan tanpa peduli hari akan gelap.
“ Sudah setengah hari, aku lapar, langit akan gelap sebentar lagi. Pulau yang kita tuju masih teramat jauh, bahkan belum nampak sekalipun. Kita harus menepi, setidaknya untuk malam ini. Jika kita bergegas kita bisa mencapai pulau kecil di sebelah kanan karang itu. Ya siapa tahu ada ketam atau bulu babi yang bisa kita santap untuk mengisi perut,” ajakku.
Kau hanya berdiam tanpa mengatakan apapun, aku tahu kau sedang berfikir, tapi sorot mata itu menunjukkan bahwa kau sebenarnya tidak setuju dengan usulku.
“ Baiklah, kita akan mencari makanan. Tapi setelah itu kita harus tetap melanjutkan perjalanan” jawabmu setelah mendongak sebentar ke arah langit.
Dan benar, tidak sampai satu jam kita telah sampai di pulau kecil tak berpenghuni di sebelah kanan batu karang. Tidak ada pencahayaan lain kecuali lampu teplok yang kita bawa dari pulau sebelumnya.
“ Carilah ranting untuk perapian, akan ku cari beberapa bulu babi dan ketam untuk kita makan,” katamu.
Aku pun bergegas mengumpulkan ranting di antara pohon bakau yang tak seberapa di tepian.
Lalu menatanya agar siap menjadi perapian. Dingin mulai menyusuri sepanjang bibir pantai.
“ Cuaca tidak terlalu bagus,” kataku dan kau masih terdiam sembari menyantap ketam.
“ Sepertinya akan hujan. Apa kau yakin ingin melanjutkan?,” tambahku.
“ Kita tidak punya pilihan, bahkan pulau itu belum nampak sama sekali. Bukankah kau pun tahu, itu berarti kita membutuhkan lebih dari semalam untuk mencapainya. Kita tidak menaiki sebuah kapal besar dengan mesin yang kencang. Kita hanya berbekal perahu tua dengan layarnya yang hampir robek. Orang-orang telah menanti obat ini untuk rajanya yang sekarat. Kita harus sampai di pulau itu besok pagi.” Katamu menutup makan malam ini dan kembali menaiki perahu layar.
Aku sempat berfikir, benar juga, tapi bukankah itu terlalu berbahaya?
“ Hei, Tuan, kau bilang kita tidak sedang menaiki sebuah kapal besar dengan mesin yang kencang, melainkan sebuah perahu tua dengan layar yang hampir sobek bukan? Lalu bagaimana jika malam ini tenyata badai? Bahkan ombak saja sudah mulai besar. Kau tidak pernah berpikir kita akan tenggelam?,” kataku mendekati perahu.
“ Kau bisa berenang?.”
“ Ya, tentu saja.”
“ Berarti kau tak akan tenggelam.”
“ Apa? Kau bercanda? Maksudmu, jika benar perahu kita tenggelam, aku harus berenang? Di samudera yang seluas itu? Heh..heh..heh.. yang benar saja.”
“ Ada sebuah pelampung, kau bisa menggunakannya jika kau takut,” katamu lagi sambil menata layar.
Apa? Aku tidak habis pikir dengan lelaki yang ada di hadapanku ini. Sebuah pelampung katanya? Yang benar saja. Jika aku menggunakannya, lalu dia?. Dasar lelaki bodoh.
“ Hanya sebuah? Lalu dirimu?.”
“ Kau tenang saja, aku seorang laki-laki dan aku bisa berenang. Sudahlah, ayo cepat naik. Kau tidak ingin aku tinggalkan di sini sendirian kan?,” katamu sembari sedikit tersenyum.
Benar-benar bodoh. Dengan tenangnya dia menarikku ke atas perahu dan memakaikan pelampung yang hanya satu-satunya itu. Lelaki dingin yang aku temui dua tahun silam di pesta rakyat kami. Lelaki yang selalu berpikir untuk orang lain daripada untuk dirinya sendiri. Lelaki yang aku cintai, dan mencintaiku.
“ Apa sudah hujan?,” katamu bercanda sambil mengusap air mata yang tak sengaja menetes di pipi kiriku. Aku hanya terdiam dan duduk. Lantas kau tersenyum dan mulai menjadi lelaki yang paling menyebalkan.
“ Tak apa, kau percaya kepadaku?. Aku diutus untuk mencari obat ini demi rakyat yang sedang berkabung karena raja nya yang sekarat. Bukankah kepercayaan ini harus dijaga dengan penuh tanggungjawab? Bukankah ini sangat mulia?.”
“ Aku tau kau khawatir karena kau terlalu mencintaiku. Aku juga mengkhawatirkanmu. Tapi waktu kita tidak banyak. Jika kita bisa sampai pulau besok pagi, atau sore nanti, kita bisa menyelamatkan seluruh kerajaan dari ancaman musuh. Raja akan selamat, dan rakyat akan terbebas dari perbudakan,” tambahmu lagi.
“ Kau menyebalkan,” kataku.
Lalu kau berdiri dan perjalanan pun kita mulai kembali.
Dan benar, belum lagi empat jam kita berlayar. Kilat mulai menyambar diatas sana. Gemuruh geledek mulai menderu bercampur dengan angin yang tidak lagi berkawan. Dingin, dan langit begitu pekat. Kau memegangi tanganku dengan begitu eratnya.
“ Obat ini lebih baik kau simpan,” katamu sambil menalikan sebuah botol kecil bertali ketangan kananku.
“ Kau takut?,” tanyaku. Aku bisa melihat matanya kali ini. Kita tidak berpapasan, namun aku merasakan sorot matanya yang begitu tegas, penuh dengan keyakinan.
“ Tidak,” jawabmu.
Tak berapa lama gelombang mulai besar. Angin semakin kencang . Langit tak mau kompromi, seribu pasukan telah disiapkan untuk menghujani kami dari atas sana. Tak lama hujan benar-benar turun tanpa ampun. Perahu hampir saja kehilangan keseimbangan. Suasana menjadi begitu menakutkan. Kita berada ditengah-tengah pusaran gelombang tanpa arah. Layar perahu robek tak beraturan.
“ Tuan..”
“ Tenanglah, Tuhan pasti akan menjaga kita. Kita ditakdirkan untuk bersama, maka apapun yang terjadi, aku akan tetap berada disisimu.” katamu sambil memelukku.
Aku sudah tak mampu berkata-kata, laut sudah tak seindah yang orang-orang katakan. Tak seramah yang orang-orang perbincangkan. Keadaan semakin sulit. Badai benar benar datang.
“ Aku mencintaimu...,” katamu.
“ Tuaaan.....” Dan perahu benar-benar karam.
Lantas aku terbangun di sebuah kamar kecil di atas dipan.
“ Kau sudah siuman, syukurlah,” kata seorang wanita paruh baya di depan cermin dan mengahampiriku dengan segelas air putih.
“ Sudah berapa lama aku disini?.”
“ Dua hari,” jawabnya sambil tersenyum.
“ Kau gadis pemberani, berkat dirimu, raja telah sembuh, dan kita semua terbebas dari ancaman perbudakan. Esok raja ingin menemuimu dan memberi hadiah. Kau akan diangkat menjadi putrinya. Jadi, beristirahatlah Nak. Kau harus sehat dan menghadiri upacara pengangkatanmu besok.”
“ Apa? Raja? Tuan? Di mana dia?,”
“ Nak, kalian adalah pemuda dan pemudi pemberani. Kau berhasil mengantarkan obat itu, tapi karena badai malam itu, dia, anak semata wayang raja, yang tak lain adalah kekasihmu tidak berhasil sampai ke tepi karena badai itu. Itulah mengapa Raja ingin mengangkatmu sebagai puterinya. Menggantikan putra semata wayangnya.”
“Apa???,” teriakku tak percaya dalam kepedihan yang teramat sangat.
“ Tenanglah Nak, sudah. Pengorbanan pangeran sungguh besar. Dia orang orang yang baik. Sedari kecil dia selalu menjadi anak yang enggan untuk dibedakan dengan teman-teman sebayanya. Dia tidak ingin diistimewakan. Bahkan sebenarnya dia tidak ingin mewarisi tahta kerajaan. Oleh karena itu, dia rela mencari obat dari pulau ke pulau untuk sang Raja demi keberlangsungan kerajaan, karena dia belum sanggup untuk menjadi seorang raja. Tapi badai malam itu..”
“ Sudah, cukup! Jangan diteruskan, jangan diteruskan. Aku mohon...” pintaku terisak.
“ Jangan diteruskan... aku tidak sanggup.”
“ Nak,”
“ Biarkan aku sendiri, aku ingin sendiri...”
“ Baiklah.” Katanya dan meninggalkanku dalam kesendirian. Lalu mau apa sekarang? Maut benar-benar telah memisahkan kita dari genggaman Tuhan. Kau benar Tuan, kita berhasil, Raja telah sembuh, tapi kau gagal dalam mencintaiku. Kau gagal menjaga dirimu untukku setelah kau berhasil meyakinkanku. Kau gagal, Tuan. Kita gagal.
Sekarang, aku pincang dalam harap Tuan. Mengeja dirimu dalam kefanaan. Atau kau memang sesungguhnya masih ada? Seperti katamu. Ya kau pasti tetap ada, Tuan. Aku percaya bahwa Tuhan telah menyelamatkanmu dan membiarkanmu hidup di suatu tempat yang entah dimana dan mencintaiku secara diam-diam.