Kemudian pertanyaan demi pertanyaan mulai
berhamburan melukai panca indera, nadi, dan hati para perempuan di sekitar
saya.
" Surga di
telapak kaki Ibu," katanya.
Lantas bagaimana nasib perempuan-perempuan calon
pemilik surga itu berada?.
Baiklah, kecemasan ini berawal dari peristiwa
terdekat yang nyatanya mampu menampar saya sebagai seorang perempuan dengan
begitu kerasnya. Menyobek hati saya, menusuk luka yang pernah ada hingga kini
menjadi semakin menganga.
Peristiwa itu dimulai ketika seorang perempuan
berusaha bercerita kepada saya. Dia menceritakan ini-itu, segala hal yang
begitu dalam tentang kehidupannya kepada saya. Saat pertama kali saya
mendengarnya, saya terus memandang bola matanya ( entah yang kanan atau yang
kiri, saya lupa) hingga saya merasa mampu merasuk ke dalam dirinya. Hingga saya
seolah mampu merasakan apa-apa yang dirasakannya pula. Hingga tak sadar kita
sama-sama menitikan air mata. Entah karena memang saya terlanjur terhanyut dengan kisahnya, atau
merasa pernah berada dititik dimana dia sekarang berada. Tak sadar, terkadang
saya ikut mengangguk-angguk dan sesenggukan bersamanya. Lantas menanggapi dan memberikan
dukungan serta saran semampu saya.Ya, tentu saja dengan maksud untuk sedikit
menenangkannya. Walaupun saya tahu segala yang dialaminya saat itu hanya
dirinya sendirilah yang memiliki jalan keluar. Begitu semalaman saya mencoba
menjadi pendengar yang sebaik-baiknya, dan perasa yang setulus-tulusnya, hingga
kata terakhir terucap di bibirnya. Akhirnya, saya pun berusaha membagi kisah
saya padanya. Cerita kecil yang saya bagi untuk orang-orang tertentu di hidup
saya. Cerita kecil yang didengar seorang perempuan kebingungan di hadapan saya.
Yang nyatanya mampu memberikan motivasi serta menumbuhkan energy positif kepada
dirinya. Sejak saat itu kami semakin dekat. Semakin banyak yang bisa kami bagi
tanpa canggung lagi. Semakin berani pula beradu argument tentang ini-itu.
Semakin intim kami ‘ blak-blakan’ tentang segala sesuatu, termasuk tentang pria
di kehidupan kami masing-masing.
Tidak berhenti
disitu, karena kecemasan telah mengikuti dari awal kami dilahirkan. Kecemasan
seolah ditakdirkan mengekor dibalik bayi berjenis kelamin perempuan. Siti
Nurbaya atau cerita-cerita lainnya adalah bukti dari kecemasan yang tumbuh dan
mengakar sejak seorang bayi ditakdirkan berjenis kelamin perempuan. Begitu pula
dengan saya, perempuan itu, dan perempuan-perempuan lain yang ada dimuka bumi.
Perempuan berkewajiban menjaga harga dirinya, harga diri keluarganya dengan
cara mempertahankan keperawanannya hingga dia menikah. Jikapun ada suatu
kesalahan, hingga dia hamil, maka dia akan dihujat habis-habisan serta
mendapatkan sanksi sosial dan moral dikalangan masyarakatnya. Tidak peduli
bagaimana dan kenapa dia bisa seperti itu. Tetaplah dia yang salah dimata
masyarakat. Seperti kasus akhir-akhir ini di beberapa Negara yang memberikan
hukuman kepada pada perempuan yang telah berzina, baik itu yang disengaja
ataupun karena kasus perkosa. Bahkan walapun sebagai korban, mereka tetap saja
meringkuk di penjara karena dianggap tidak mampu menjaga dirinya, hingga menimbulkan
hawa napsu para lelaki. Atau memberikan celana anti perkosa kepada para
perempuan, padahal yang memiliki hasrat untuk melakukan hal tersebut adalah
bukan kaum perempuan itu sendiri. Bah, lalu bagaimana dengan lelaki?.
“ Kemaren aku bertemu dengannya lagi. Laki-laki yang hanya datang
padaku disaat dia membutuhkanku, pun sebaliknya. Dia bilang jika aku memilih
untuk menjadi kekasihnya dan mau meninggalkan pacarku yang sekarang, maka dia
telah siap. Tapi dia mengatakan bahwa ada satu hal dari dirinya yang tak bisa
dihindari, yakni ketika kami memutuskan untuk bersama maka aku harus mau dan
rela melayani napsu birahinya. Begitu katanya. Lantas, disisi lain, pacarku
sudah mulai berani melontarkan pernyataan-pernyataan yang membuatku tak kalah
terkejut.”
“ Apa katanya?.”
“ Dia rela melepas keperjakaannya jika itu denganku,” jawab
perempuan itu dari BBM yang ia kirim kepadaku.
“ Lalu kau bagaimana?.”
“Entahlah, aku bingung harus memilih yang mana. Keduanya memiliki
kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dia ( pria 1), aku tidak bisa serta
merta melupakannya, sedangkan pacarku, dia sesunggguhnya pria baik-baik yang
hanya ingin mencoba-coba hal baru di hidupnya. Aku tak tega dengannya. Tapi
dibalik itu semua, satu hal yang membuat aku teramat sakit dari keduanya.
Apakah aku ditakdirkan untuk mencintai dan dicintai oleh orang-orang yang
seperti itu?. Orang-orang yang menawarku untuk melayani napsunya?. Apa aku tak
pantas untuk dihargai oleh mereka?. Atau aku yang tak bisa menghargai diriku
sendiri?.”
“ Gila!.” Saya tersentak membacanya. Entah
bagaimana keadaannya saat itu di balik handphone-nya. Yang jelas saya pun ikut
merasakan kecemasan yang sama sebagai seorang perempuan dan sebagai seorang
teman tentunya. Lantas yang ada dipikiran saya saat itu ialah seolah-olah
pertanyaan perempuan itu membentuk suatu pertanyaan baru yang siap dilontarkan kepada
para lelaki.
“ Jika semua boleh
dihitung dengan uang, maka berapa harga yang pantas kau berikan kepadaku?.”
Ya, semacam itu.
Mengapa tidak ada pertanyaan semacam,
“ Apa kau mau memacariku
tanpa ku sentuh kau barang sekuku?.”
Atau kenapa tidak dibalik saja?. Kenapa bukan kita, para perempuan
yang menaruh harga kepada lelaki?. Atau dengan cara apalagi kita menghargai
diri sendiri sebagai seorang perempuan
dihadapan laki-laki?. Saya rasa konsepsi tentang derajat laki-laki lebih tinggi
daripada perempuan, membentuk suatu kesewenang-wenangan untuk ( secara tidak
langsung) menjatuhkan harga diri perempuan demi memperlihatkan kejelasan
perbedaan kelas antara laki-laki dan perempuan. Lantas, bolehkah saya bertanya,
“ Berapa harga yang kau tawarkan hingga kau
rela tak menyentuhku barang sekuku?.”
Terima kasih untuk teman
dekat saya yang telah mengijinkan saya untuk menulis sekalumit kisahnya melalui
blog saya. Terima kasih atas kesadaran dan pembelajaran yang luar biasa dibalik
cerita hidup yang kau bagikan. Semoga kecemasan demi kecemasan segera terobati
dan merdekalah kita, para perempuan pemilik kecemasan.
6/24/2015