Senin, 16 Oktober 2017

Bapak....!

“Sudahlah! Jangan merengek seperti itu! Biarkan aku pergi! Aku sudah tidak tahan lagi.”
Bentak lelaki itu. Menghempaskan remasan tangan sang istri yang memegang erat kaki kirinya. Ia pergi. Menyisakan jejak sepatu tak penuh, berlumur tanah merah dari pekarangan rumah. Sementara sang istri masih sesenggukan. Dadanya sesak. Tubuhnya bergetar kencang. Keringatnya mengucur bagai keran. Sampai-sampai daster tidur berbahan katun selutut yang ia kenakan, tak sanggup berkibar meski angin menyerangnya bertubi-tubi.
Ia meringkuk di lantai dengan lesu.  Tak sanggup membuka mata. Baginya, membuka mata sama saja mengantarkan kepergian suami dengan rela. Padahal, sampai malam ini, detik ini, ia masih tak kuasa memikul malam dengan kesendirian. Apalagi untuk malam-malam yang akan datang. Sama sekali belum terbayangkan. Begitu pula denganku.
Saat itu aku hanya berdiam diri di kamar. Persis seperti malam-malam sebelumnya, ketika bapak dan ibu mulai suka beradu mulut. Sesekali terdengar suara teriakan. Saling tuduh. Saling menyalahkan. Sesekali terdengar seperti suara tamparan. Dan ujung-ujungnya suara tangis ibu pecah. Sedikit ditahan. Lalu bapak keluar kamar membanting pintu. Pergi.
Dulu, jauh sebelum kami memutuskan pindah ke kota ini, bapak dan ibu adalah pasangan paling romantis yang pernah aku temui. Maklum, pernikahan mereka bukan pernikahan ala Siti Nurbaya. Meskipun kami dari desa dan simbah adalah mak comblang yang dipercaya oleh keluarga-keluarga ningrat perihal bab perjodohan. Ia tak pernah melarang anaknya untuk dekat dengan siapapun. Mencoba menjodohkannya dengan pegawai negeri, atau anak saudagar beras di desanya. Sama sekali tidak. Ia memberikan kebebasan bagi putri semata wayangnya itu untuk membukakan hati kepada siapapun yang ia cintai. Ia akan menerima. Bahkan ketika bapak datang ke rumah bersama kedua orang tuanya.
“Sebelumnya saya meminta maaf kepada Bapak. Dengan lancang tiba-tiba saya datang kemari bersama kedua orang tua. Meskipun saya tahu, Dik Rahayu adalah kembang desa yang telah banyak diincar oleh para pria terhormat dan mapan, tidak seperti saya ini. Yang hanya bermodalkan ijasah kuliah, dan harapan segera mendapatkan pekerjaan. Namun, kali ini saya memberanikan diri untuk meminta izin kepada Bapak, melamar Dik Rahayu demi mewujudkan kebahagiaan kami semasa kuliah dulu. Ini adalah salah satu angan-angan yang sudah bertahun-tahun lamanya kami bangun. Ya sebelum akhirnya kembali ke kota masing-masing selepas lulus.” Ucapnya tanpa bergetar sedikitpun.
Kala itu di mata simbah, sikap ‘ lelaki’ Bapak yang berani, tegas dan bernada sungguh-sungguh ternyata berhasil mencuri simpatinya. Mengizinkan putrinya dipersunting oleh lelaki dari keluarga pas-pas an. Yang dengan konyol datang ke rumah, melamar purtinya. Berbekal niat dan selembar ijasah kuliah. Begitulah kenang simbah berulang kali sambil tertawa. Cerita yang selalu ku dengar, ketika tubuhku masih cukup meringkuk dipangkuannya. Aku senang sekali mendengarkan cerita itu. Apalagi ketika si mbah dengan suara paraunya mencoba mempraktekkan gaya Bapak sekaligus gayanya sendiri yang terus menatap tajam mata bapak, guna menguji keberaniannya. Lantas membuatku berimajinasi. Membayangkan betapa Bapak adalah lelaki yang gagah berani. Benar-benar ‘ seorang lelaki.’
Setahun setelah kepergiaan simbah - waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 2 SMP- kami memutuskan untuk pindah ke kota. Kabarnya, bapak diterima menjadi wartawan di salah satu surat kabar ternama di sana. Demi mempermudah perkerjaan dan menjaga keutuhan rumah tangga, bapak memboyong kami berdua. Awalnya kami menyewa sepetak rumah kontrak dengan dua kamar kecil, ruang tamu sekaligus ruang tv dan dapur mungil di sebelah kamar mandi.
Bulan-bulan awal terlewat dengan baik. Dengan cepat kami mampu menyesuaikan diri. Maklum, komplek perumahan ini didominasi oleh warga rantau seperti kami. Dari Solo, Jogja, Purwodadi, Demak, Kudus dan sisanya ada yang dari Malang bahkan Jakarta. Sesekali ketika bapak tak pergi meliput, ia bercengkrama bersama para tetangga yang berkumpul di pos ronda. Bermain remi, karambol atau catur. Dan setiap pagi hari, ku dapati ibu berkumpul dengan ibu-ibu lainnya yang mengerumini tukang sayur di dekat rumah. Sambil bergosip. Setiap minggu pagi kami berbaris di depan rumah dan memulai senam sehat. Dilanjutkan dengan kerja bhakti dan ngobrol santai. Serta yang paling aku suka, setiap malam, sebelum tidur, kami bertiga berkumpul di ruang tv, melihat beberapa tayangan dan membahas apa saja sampai lelah. Begitu berjalan selama hampir dua tahun lamanya.
“Besok kita akan pindah,” celetuk Bapak waktu itu.
“Ke mana?,” tanyaku. Menoleh ke arah bapak yang masih sibuk memencet layar hp di atas sofa.
“Ke rumah baru,” sahut ibu keluar dari dapur. Menurunkan piring berisi pisang goreng dan duduk di samping bapak.
“Rumah baru?,”
“Iya, rumah baru. Yang lebih besar dari ini dan lebih dekat dengan pusat kota,” tambah ibu tersenyum bahagia.
“Bapak beli rumah?,” tanyaku meyakinkan. Menyita perhatian bapak sesaat, lalu ia menurunkan kaca mata dan mengangguk.
Benar, karir bapak sedang menanjak. Berkat kegigihannya, dua bulan yang lalu ia mendapatkan promosi. Jabatannya naik. Kini ia sah menjadi pimpinan redaksi. Dengan gaji yang yang lebih tinggi, bapak memutuskan untuk membeli rumah di pusat kota. Ya, meskipun masih dalam tahap cicilan. Tapi bulan selanjutnya kami mampu membeli mobil baru, mesin cuci yang lebih canggih dan beberapa perabot rumah tangga yang lebih modern. Bahkan aku sendiri dihadiahi sebuah iphone keluaran terbaru.
Ibu sering kali keluar rumah untuk hangout bersama teman-teman sosialitanya. Ia memang tidak bekerja sampai sekarang, namun nama bapak saja sudah cukup. Cukup untuk membawanya bergabung dengan ibu-ibu necis istri dari para pejabat kota.
Hari senin, ibu ada arisan dengan grup A. Hari selasa sore pergi bersama teman-teman Zumba-nya. Hari rabu adalah jadwal yoga. Kamis, jumat, sabtu... dan kalaupun bertemu, kami hanya bertegur sapa seadanya.
“Oh iya, jangan lupa kalau nanti Adik keluar, pintunya dikunci. Hari ini ibu tidak masak. Bapak juga akan pulang telat. Katanya ada rapat. Nanti Adik makan diluar saja.”
“Dan satu lagi, tadi siang bapak sudah transferkan? Nanti ibu kabari lagi kalau acara ibu sudah selesai.”
Lantas, ia bergegas pergi terburu-buru.
Memang, awalnya aku senang dengan ibu yang tampak semakin bahagia. Dengan bapak yang memiliki karir cemerlang. Beberapa kali bahkan ia dijadikan narasumber acara-acara kepenulisan di kampus-kampus, juga kampusku. Namanya melambung. Apalagi semenjak ia berhasil menerbitkan beberapa buku fiksi-pop yang laris manis di pasaran. Semenjak itu, tak perlu ditanyakan. Pundi-pundi keluarga kami terkumpul dengan fantastis. Kunjungan-kunjungan sosial yang dilakukan oleh ibu dan bapak juga sering menjadi sorotan media. Seperti mengunjungi pasien kanker, ke rumah yatim piatu, korban bencana alam, menjadi pembicara diskusi budaya dan yang lainnya. Semua kebutuhan tercukupi. Bahkan lebih. Apapun yang ku inginkan juga dengan cepat dikabulkan. Namun, semenjak itu pula tak hanya ibu yang jarang pulang. Bapak pun juga. Ia lebih sering mengirim kabar mendadak seperti,
Dik, hari ini bapak tidak bisa pulang. Ada pertemuan mendadak. Nanti tolong kabarin ibu ya. Daritadi bapak telpon nomornya nggak aktif. Kamu jaga rumah, kalau keluar pintu dikunci.”
Atau
Dik, tadi bapak sudah transfer jatah bulananmu. Sekalian buat bayar les musiknya. Dan satu lagi, bapak minta maaf, minggu ini sepertinya rencana buat jalan-jalan di pending dulu. Bapak ada urusan mendadak. Tadi ibu juga sudah bapak kasih tahu.”
Dan yang lain-lainnya.
Berbulan-bulan, bertahun-tahun, sampai akhirnya kami menjumpai malam itu...
Aku masih menunggu jemputan ketika ibu baru saja keluar.
Selang beberapa menit Vigo datang. Aku masuk ke dalam mobilnya. Seperti biasa di bangku belakang sudah ada Rey dan Dion. Aku mengenal mereka beberapa bulan yang lalu melalui situs pertemanan onlen. Nongkrong, makan, sampai akhirnya sering keluar bersama.
“Mau makan dulu nggak?,” tanya Vigo.
“Nggak usah. Nanti aja di sana.” Jawabku.
“Tau tuh si Vigo. Biasanya juga sudah sepaket sama room-nya,” tambah Dion.
“Sehat kan Han?,” tanya Rey kepadaku.
“Ya tentu saja.”
 “Syukurlah. Kalau malam minggu seperti ini, biasanya bakalan rame. Jangan kecapekan dulu sebelum berperang,” canda Rey. Kami tertawa bersama.
Malam ini langit tak bersahabat. Gerimis datang dan sesekali hujan mengguyur permukaan jalan. Atap-atap rumah, kursi taman, pohon-pohon dan tanah. Bahkan sejak sore tadi. Kilat datang menyambar, guntur bersahut-sahutan, lalu cakrawala berubah menjadi muram.
Kami berempat berlarian kecil sekeluarnya dari mobil. Masuk ke room karaoke menuju ke ruang ganti. Ku buka isi tas yang ku bawa dari rumah. Sebuah dress mungil berwarna merah marun, sepaket alat make-up dan sepatu hak tinggi penuh permata yang berkilat-kilat. Setelah berganti pakaian, ku pandangi wajahku di cermin. Lantas membersihkannya sebentar. Mengoleskan pelembab, foundation, concealer, bedak tabur beraroma melati, bedak padat. Lalu membentuk alis, memakai eyeshadow, menambahkan sedikit blush on, memakai eyeliner, maskara, menempelkan bulu mata palsu, dan tak lupa lipstik merah menyala.
Room 21 ya!,” ucap operator yang mendatangiku. Aku pun berjalan keluar. Sedikit mendongak, sembari merapikan dandanan. Sesekali ku semprotkan minyak wangi supaya aroma cherry yang lembut dapat menyatu dengan tubuhku.
“ Silakan...” ucap seorang operator lain membukakan pintu seraya tersenyum.
Seperti biasanya, seperti malam-malam sebelumnya beberapa bulan terakhir. Room karaoke selalu sesak oleh musik-musik dengan volume tinggi, suara-suara sumbang yang dipaksakan, asap-asap rokok, bau alkohol, serta keringat-keringat tubuh-tubuh penuh napsu. Aku duduk merapat di antara tubuh-tubuh gempal Om-Om berkemeja itu. Sesekali mereka memandangku dan mencoba mengajakku menari bersama irama malam. Memeluk, menyodorkan minuman, dan menggosok-gosokkan pipinya ke pipiku. Satu per satu dari mereka mulai mencicipiku. Tak terkecuali seorang terakhir yang tampaknya telah tenggelam di dada seorang PL lain di sudut tempat duduk. Matanya sudah layu. Badannya sentoyongan mencoba berdiri meraihku yang masih melantunkan lagu. Dipangkunya tubuhku. Dihembuskannya napas di sela-sela telinga dan rambutku. Wajahnya semakin mendekat.  Kini kulit-kulit pipinya menekan bibirku. Memaksaku untuk sedikit menoleh. Menghampiri bibirnya. Tapi tunggu, aku menahan gerakanku. Memperhatikannya lebih cermat. Semakin cermat.....
“ Bapak!.”
Aku tersentak, mundur dan terjatuh ke lantai. Begitu pula dengannya. Bergegas menyalakan lampu dan mendekatiku. Dengan mata semerah darah dan dahi yang berkerut, ia menatapku tajam. Seolah-olah memastikan apakah ia benar-benar mengenali diriku.
“ Gila! Apa-apaan kau ini! “
Plak!’ Bapak menamparku.
“ Mau jadi apa kau ini! He?,” Bapak menyeretku keluar setelah berkali-kali menampar pipiku dan mengumpat dengan kasar. Merobek bajuku, menjambak dan akhirnya membawaku pulang
Semenjak saat itu, Ibu dan bapak sering cekcok. Saling menyalahkan. Apalagi berita tentang keluarga kami begitu cepat menyebar, membuat kami menjadi sorotan banyak orang. Dimanapun, kapanpun, siapapun di seluruh sudut kota ini tak ada satu pun yang absen membicarakannya. Secara blak-blak an, bisik-bisik atau sekasar umpatan di media sosial. Di kafe-kafe, rumah makan, kantor, pasar, sekolahan, bahkan juga mereka yang dengan sengaja lewat di depan rumah kami sambil bergunjing,
Gila ya, orang tua yang kelihatannya hebat saja nggak bisa mendidik anak. Menjadi PL saja udah nggak bener. Apalagi ditambah berdandan layaknya wanita. Mau jadi apa dia?. Edan edan... bener-bener edan! Amit-amit jabang bayi!.”






Tembalang, 16 September 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar