“Sudahlah! Jangan merengek seperti itu! Biarkan aku
pergi! Aku sudah tidak tahan lagi.”
Bentak lelaki itu. Menghempaskan remasan tangan sang
istri yang memegang erat kaki kirinya. Ia pergi. Menyisakan jejak sepatu tak
penuh, berlumur tanah merah dari pekarangan rumah. Sementara sang istri masih
sesenggukan. Dadanya sesak. Tubuhnya bergetar kencang. Keringatnya mengucur
bagai keran. Sampai-sampai daster tidur berbahan katun selutut yang ia kenakan,
tak sanggup berkibar meski angin menyerangnya bertubi-tubi.
Ia meringkuk di lantai
dengan lesu. Tak sanggup membuka mata.
Baginya, membuka mata sama saja mengantarkan kepergian suami dengan rela.
Padahal, sampai malam ini, detik ini, ia masih tak kuasa memikul malam dengan
kesendirian. Apalagi untuk malam-malam yang akan datang. Sama sekali belum
terbayangkan. Begitu pula denganku.
Saat itu aku hanya berdiam diri di
kamar. Persis seperti malam-malam sebelumnya, ketika bapak dan ibu mulai suka beradu
mulut. Sesekali terdengar suara teriakan. Saling tuduh. Saling menyalahkan.
Sesekali terdengar seperti suara tamparan. Dan ujung-ujungnya suara tangis ibu pecah.
Sedikit ditahan. Lalu bapak keluar kamar membanting pintu. Pergi.
Dulu, jauh sebelum kami memutuskan pindah ke kota
ini, bapak dan ibu adalah pasangan paling romantis yang pernah aku temui. Maklum,
pernikahan mereka bukan pernikahan ala Siti Nurbaya. Meskipun kami dari desa
dan simbah adalah mak comblang yang
dipercaya oleh keluarga-keluarga ningrat perihal bab perjodohan. Ia tak pernah
melarang anaknya untuk dekat dengan siapapun. Mencoba menjodohkannya dengan
pegawai negeri, atau anak saudagar beras di desanya. Sama sekali tidak. Ia
memberikan kebebasan bagi putri semata wayangnya itu untuk membukakan hati
kepada siapapun yang ia cintai. Ia akan menerima. Bahkan ketika bapak datang ke
rumah bersama kedua orang tuanya.
“Sebelumnya saya meminta maaf kepada Bapak. Dengan lancang
tiba-tiba saya datang kemari bersama kedua orang tua. Meskipun saya tahu, Dik Rahayu adalah kembang desa yang
telah banyak diincar oleh para pria terhormat dan mapan, tidak seperti saya ini.
Yang hanya bermodalkan ijasah kuliah, dan harapan segera mendapatkan pekerjaan.
Namun, kali ini saya memberanikan diri untuk meminta izin kepada Bapak, melamar
Dik Rahayu demi mewujudkan
kebahagiaan kami semasa kuliah dulu. Ini adalah salah satu angan-angan yang
sudah bertahun-tahun lamanya kami bangun. Ya sebelum akhirnya kembali ke kota
masing-masing selepas lulus.” Ucapnya tanpa bergetar sedikitpun.
Kala itu di mata simbah, sikap ‘ lelaki’ Bapak yang
berani, tegas dan bernada sungguh-sungguh ternyata berhasil mencuri simpatinya.
Mengizinkan putrinya dipersunting oleh lelaki dari keluarga pas-pas an. Yang
dengan konyol datang ke rumah, melamar purtinya. Berbekal niat dan selembar
ijasah kuliah. Begitulah kenang simbah berulang kali sambil tertawa. Cerita
yang selalu ku dengar, ketika tubuhku masih cukup meringkuk dipangkuannya. Aku
senang sekali mendengarkan cerita itu. Apalagi ketika si mbah dengan suara
paraunya mencoba mempraktekkan gaya Bapak sekaligus gayanya sendiri yang terus
menatap tajam mata bapak, guna menguji keberaniannya. Lantas membuatku
berimajinasi. Membayangkan betapa Bapak adalah lelaki yang gagah berani.
Benar-benar ‘ seorang lelaki.’
Setahun setelah kepergiaan simbah - waktu
itu aku masih duduk di bangku kelas 2 SMP- kami memutuskan untuk pindah ke
kota. Kabarnya, bapak diterima menjadi wartawan di salah satu surat kabar ternama
di sana. Demi mempermudah perkerjaan dan menjaga keutuhan rumah tangga, bapak
memboyong kami berdua. Awalnya kami menyewa sepetak rumah kontrak dengan dua
kamar kecil, ruang tamu sekaligus ruang tv dan dapur mungil di sebelah kamar
mandi.
Bulan-bulan awal terlewat dengan baik. Dengan cepat kami
mampu menyesuaikan diri. Maklum, komplek perumahan ini didominasi oleh warga
rantau seperti kami. Dari Solo, Jogja, Purwodadi, Demak, Kudus dan sisanya ada
yang dari Malang bahkan Jakarta. Sesekali ketika bapak tak pergi meliput, ia bercengkrama
bersama para tetangga yang berkumpul di pos ronda. Bermain remi, karambol atau
catur. Dan setiap pagi hari, ku dapati ibu berkumpul dengan ibu-ibu lainnya
yang mengerumini tukang sayur di dekat rumah. Sambil bergosip. Setiap minggu
pagi kami berbaris di depan rumah dan memulai senam sehat. Dilanjutkan dengan
kerja bhakti dan ngobrol santai. Serta yang paling aku suka, setiap malam,
sebelum tidur, kami bertiga berkumpul di ruang tv, melihat beberapa tayangan
dan membahas apa saja sampai lelah. Begitu berjalan selama hampir dua tahun
lamanya.
“Besok kita akan pindah,” celetuk Bapak waktu itu.
“Ke mana?,” tanyaku. Menoleh ke arah bapak yang
masih sibuk memencet layar hp di atas sofa.
“Ke rumah baru,” sahut ibu keluar dari dapur. Menurunkan
piring berisi pisang goreng dan duduk di samping bapak.
“Rumah baru?,”
“Iya, rumah baru. Yang lebih besar dari ini dan
lebih dekat dengan pusat kota,” tambah ibu tersenyum bahagia.
“Bapak beli rumah?,” tanyaku meyakinkan. Menyita
perhatian bapak sesaat, lalu ia menurunkan kaca mata dan mengangguk.
Benar, karir bapak sedang menanjak. Berkat
kegigihannya, dua bulan yang lalu ia mendapatkan promosi. Jabatannya naik. Kini
ia sah menjadi pimpinan redaksi. Dengan gaji yang yang lebih tinggi, bapak memutuskan
untuk membeli rumah di pusat kota. Ya, meskipun masih dalam tahap cicilan. Tapi
bulan selanjutnya kami mampu membeli mobil baru, mesin cuci yang lebih canggih
dan beberapa perabot rumah tangga yang lebih modern. Bahkan aku sendiri
dihadiahi sebuah iphone keluaran
terbaru.
Ibu sering kali keluar rumah untuk hangout bersama teman-teman
sosialitanya. Ia memang tidak bekerja sampai sekarang, namun nama bapak saja
sudah cukup. Cukup untuk membawanya bergabung dengan ibu-ibu necis istri dari para pejabat kota.
Hari senin, ibu ada arisan dengan grup A. Hari selasa
sore pergi bersama teman-teman Zumba-nya. Hari rabu adalah jadwal yoga. Kamis,
jumat, sabtu... dan kalaupun bertemu, kami hanya bertegur sapa seadanya.
“Oh iya, jangan lupa kalau nanti Adik keluar, pintunya
dikunci. Hari ini ibu tidak masak. Bapak juga akan pulang telat. Katanya ada
rapat. Nanti Adik makan diluar saja.”
“Dan satu lagi, tadi siang bapak sudah transferkan?
Nanti ibu kabari lagi kalau acara ibu sudah selesai.”
Lantas, ia bergegas pergi terburu-buru.
Memang, awalnya aku senang dengan ibu
yang tampak semakin bahagia. Dengan bapak yang memiliki karir cemerlang.
Beberapa kali bahkan ia dijadikan narasumber acara-acara kepenulisan di
kampus-kampus, juga kampusku. Namanya melambung. Apalagi semenjak ia berhasil
menerbitkan beberapa buku fiksi-pop yang laris manis di pasaran. Semenjak itu, tak
perlu ditanyakan. Pundi-pundi keluarga kami terkumpul dengan fantastis. Kunjungan-kunjungan
sosial yang dilakukan oleh ibu dan bapak juga sering menjadi sorotan media. Seperti
mengunjungi pasien kanker, ke rumah yatim piatu, korban bencana alam, menjadi pembicara
diskusi budaya dan yang lainnya. Semua kebutuhan tercukupi. Bahkan lebih.
Apapun yang ku inginkan juga dengan cepat dikabulkan. Namun, semenjak itu pula
tak hanya ibu yang jarang pulang. Bapak pun juga. Ia lebih sering mengirim
kabar mendadak seperti,
“Dik,
hari ini bapak tidak bisa pulang. Ada pertemuan mendadak. Nanti tolong kabarin
ibu ya. Daritadi bapak telpon nomornya nggak aktif. Kamu jaga rumah, kalau
keluar pintu dikunci.”
Atau
“Dik,
tadi bapak sudah transfer jatah bulananmu. Sekalian buat bayar les
musiknya. Dan satu lagi, bapak minta maaf, minggu ini sepertinya rencana buat
jalan-jalan di pending dulu. Bapak
ada urusan mendadak. Tadi ibu juga sudah bapak kasih tahu.”
Dan yang lain-lainnya.
Berbulan-bulan,
bertahun-tahun, sampai akhirnya kami menjumpai malam itu...
Aku masih menunggu jemputan ketika ibu baru
saja keluar.
Selang beberapa menit Vigo datang. Aku
masuk ke dalam mobilnya. Seperti biasa di bangku belakang sudah ada Rey dan
Dion. Aku mengenal mereka beberapa bulan yang lalu melalui situs pertemanan
onlen. Nongkrong, makan, sampai akhirnya sering keluar bersama.
“Mau makan dulu nggak?,” tanya Vigo.
“Nggak usah. Nanti aja di sana.” Jawabku.
“Tau tuh si Vigo. Biasanya juga sudah
sepaket sama room-nya,” tambah Dion.
“Sehat kan Han?,” tanya Rey kepadaku.
“Ya tentu saja.”
“Syukurlah.
Kalau malam minggu seperti ini, biasanya bakalan rame. Jangan kecapekan dulu
sebelum berperang,” canda Rey. Kami tertawa bersama.
Malam ini langit tak bersahabat. Gerimis
datang dan sesekali hujan mengguyur permukaan jalan. Atap-atap rumah, kursi
taman, pohon-pohon dan tanah. Bahkan sejak sore tadi. Kilat datang menyambar,
guntur bersahut-sahutan, lalu cakrawala berubah menjadi muram.
Kami berempat berlarian kecil sekeluarnya
dari mobil. Masuk ke room karaoke
menuju ke ruang ganti. Ku buka isi tas yang ku bawa dari rumah. Sebuah dress mungil berwarna merah marun,
sepaket alat make-up dan sepatu hak
tinggi penuh permata yang berkilat-kilat. Setelah berganti pakaian, ku pandangi
wajahku di cermin. Lantas membersihkannya sebentar. Mengoleskan pelembab, foundation, concealer, bedak tabur
beraroma melati, bedak padat. Lalu membentuk alis, memakai eyeshadow, menambahkan sedikit blush
on, memakai eyeliner, maskara,
menempelkan bulu mata palsu, dan tak lupa lipstik merah menyala.
“ Room
21 ya!,” ucap operator yang mendatangiku. Aku pun berjalan keluar. Sedikit
mendongak, sembari merapikan dandanan. Sesekali ku semprotkan minyak wangi
supaya aroma cherry yang lembut dapat menyatu dengan tubuhku.
“ Silakan...” ucap seorang operator lain
membukakan pintu seraya tersenyum.
Seperti biasanya, seperti malam-malam
sebelumnya beberapa bulan terakhir. Room karaoke
selalu sesak oleh musik-musik dengan volume tinggi, suara-suara sumbang yang
dipaksakan, asap-asap rokok, bau alkohol, serta keringat-keringat tubuh-tubuh
penuh napsu. Aku duduk merapat di antara tubuh-tubuh gempal Om-Om berkemeja
itu. Sesekali mereka memandangku dan mencoba mengajakku menari bersama irama
malam. Memeluk, menyodorkan minuman, dan menggosok-gosokkan pipinya ke pipiku. Satu
per satu dari mereka mulai mencicipiku. Tak terkecuali seorang terakhir yang
tampaknya telah tenggelam di dada seorang PL lain di sudut tempat duduk.
Matanya sudah layu. Badannya sentoyongan mencoba berdiri meraihku yang masih
melantunkan lagu. Dipangkunya tubuhku. Dihembuskannya napas di sela-sela
telinga dan rambutku. Wajahnya semakin mendekat. Kini kulit-kulit pipinya menekan bibirku.
Memaksaku untuk sedikit menoleh. Menghampiri bibirnya. Tapi tunggu, aku menahan
gerakanku. Memperhatikannya lebih cermat. Semakin cermat.....
“ Bapak!.”
Aku tersentak, mundur dan terjatuh ke
lantai. Begitu pula dengannya. Bergegas menyalakan lampu dan mendekatiku. Dengan
mata semerah darah dan dahi yang berkerut, ia menatapku tajam. Seolah-olah memastikan
apakah ia benar-benar mengenali diriku.
“ Gila! Apa-apaan kau ini! “
‘Plak!’
Bapak menamparku.
“ Mau jadi apa kau ini! He?,” Bapak
menyeretku keluar setelah berkali-kali menampar pipiku dan mengumpat dengan
kasar. Merobek bajuku, menjambak dan akhirnya membawaku pulang
Semenjak saat itu, Ibu dan bapak sering
cekcok. Saling menyalahkan. Apalagi berita tentang keluarga kami begitu cepat
menyebar, membuat kami menjadi sorotan banyak orang. Dimanapun, kapanpun,
siapapun di seluruh sudut kota ini tak ada satu pun yang absen membicarakannya.
Secara blak-blak an, bisik-bisik atau sekasar umpatan di media sosial. Di
kafe-kafe, rumah makan, kantor, pasar, sekolahan, bahkan juga mereka yang
dengan sengaja lewat di depan rumah kami sambil bergunjing,
“ Gila ya, orang tua yang kelihatannya hebat
saja nggak bisa mendidik anak. Menjadi PL saja udah nggak bener. Apalagi
ditambah berdandan layaknya wanita. Mau jadi apa dia?. Edan edan... bener-bener
edan! Amit-amit jabang bayi!.”
Tembalang, 16 September 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar