Minggu, 15 Oktober 2017

Namanya Rico...

Aku masih duduk memandangi jendela bus saat sebuah pesan singkat nongol di layar hp.
“Sampai mana?,” sebuah teks yang ku tunggu-tunggu.
“Sebentar lagi sampai,” balasku.
Tepat pukul 01.00, bus jurusan Jogja-Solo yang ku naiki tak pula memelankan laju. Padahal jalanan tampak mengkilat karena hujan tak kunjung reda. Aku tidak tahu seberapa cepat si sopir menekan pedal gas, atau bahkan tak peduli. Yang ku tahu, aku akan segera menjumpai seseorang yang telah menunggu sedari hari belum berganti, di terminal malam ini. Meskipun beberapa kali tubuhku sempat terguncang dan bergeser sedikit karena polah sopir yang seperti kesetanan mengejar setoran.
Jujur saja, ini bukan pertama kalinya ku beranikan diri menginjakkan kaki di kota orang. Namun, ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di kota orang, malam-malam, didorong oleh rasa penasaran bercampur dengan bahagia. Untuk bertemu. Bertemu seseorang yang selama ini telah menjadikan hari-hariku bertabur bunga-bunga dengan wangi yang semerbak. Lebih wangi dibandingkan kembang setaman yang sering dibeli simbah untuk nyekar ketika malam jumat tiba.
Aku memang baru saja mengenalnya. Sekitar empat bulan yang lalu. Kami bertemu disalah satu situs pertemanan online yang sedang ramai-ramainya di dunia maya. Facebook. Maka jangan heran, meski diriku sejak kecil hingga kuliah berada di Jogja, dan sama sekali belum pernah mengunjungi kota tujuanku saat ini, aku merasa telah mengenalnya dengan baik. Bahkan pertemanan kami yang tak disengaja itu, membuatku benar-benar melakukan hal yang konyol seperti sekarang.
Hampir setiap hari ia mengomentari status yang ku bagikan. Membalas beberapa sajak yang ku tulis dengan soliloque-nya, menyukai positnganku sampai tak jarang membagikan kiriman yang ku tulis pula. Ya, hampir setiap hari. Mulanya aku tidak peduli. Ku pikir ia adalah satu dari ribuan orang kurang kerjaan yang menanggapi hasil pemikiran kurang kerjaanku pula. Tapi lama-lama kami sering berdiskusi. Saling mengirimkan inbox, berbagi informasi dan literasi, lalu membuat prosa bersambung. Lebih lanjut, akhirnya kami bertukar nomor WhatsApp. Di sana kami bisa berkomunikasi lebih lancar. Melanjutkan obrolan tentang Liberalisme, Feminis, Post Modern, hingga omong kosong lainnya. Lama-lama setiap pagi ia memberanikan diri untuk menyapa. Seperti, ‘ Selamat pagi Puan... Ayo bangun! Keburu mataharinya ngambek loh!’ atau ‘ Sudah makankah?’ ‘ Jangan lupa minum air putih!’ ‘ Jangan tidur terlalu malam. Jaga kesehatan.’ Dan yang lainnya. Berangsur-angsur menjadi sebuah rutinitas. Seperti ia adalah bagian dari aku, dan aku adalah bagian darinya. Semacam proses berbagi. Sampai pada proses bernegosiasi tiap kali masing-masing dari kami harus mengambil keputusan terhadap segala sesuatu. Dan sekarang, kami benar-benar akan bertemu......
“Terminal-terminal......,” teriak kenek bus. Sambil sedikit menoleh kebelakang dan berdiri, bersiap membukakan pintu dengan buru-buru.
Begitupun aku yang sesegera mungkin bangkit. Menata posisi tas ransel sebentar, lalu segera maju merapat ke pintu.
Gerimis masih meracau ketika diriku menepi di antara beberapa orang yang tengah duduk-duduk, tertidur, atau berlarian kecil berusaha menyelamatkan dirinya dari basah di sekitar ruang tunggu terminal. Aku duduk. Sesekali mengecek hp dan mencari-cari wajah yang potonya beberapa kali sengaja ku simpan untuk ku ingat-ingat.
“Aku sudah sampai. Kau dimana?,” ketikku singkat.
Sambil sesekali merapikan rambut yang lepek tak karuan, ku lepaskan ransel supaya duduk lebih nyaman. Ku tengok lagi ke kanan dan ke kiri. Mencari-cari tubuh seseorang yang mungkin sedang berjalan menuju ke arahku. Memakai jas hujankah? Payung? Atau tubuh basah kuyup seperti beberapa orang yang hilir mudik menjemput orang lain tadi?
Ku cek kembali hpku. Terkirim. Tapi belum dibaca. Apa kelamaan? Atau dia ketiduran?
Ku pandangi kembali sekeliling. Beberapa tubuh yang tergeletak lesu dengan suara ngorok yang tak kalah kencang dibanding hujan ialah orang-orang terminal seperti, penjual koran, pengemis, dan beberapa yang aku tak tahu memiliki pofesi apa. Yang jelas, ku pikir tidak ada diantara salah satu dari mereka.
“Nunggu orang Mbak?,” sapa seorang lelaki muda yang mungkin seumuranku itu.
“Iya,” jawabku pelan sambil memperhatikannya. Dari gayanya, ku pikir dia juga mahasiswa seperti diriku. Ya, gaya mahasiswa pada umumnya. Kemeja flanel yang dipadukan dengan kaos combed bergambar Jimmy Hendrick, celana jeans denim, serta sepatu sneakers tua berwarna coklat kusam. Pas sekali dengan rambut ikal yang dikuncir sebahu. Wajah berbulu dan berkumis tipis itu, serta alis yang tegas melindungi sorot matanya yang teduh. Membuat dirinya lebih ‘ terlihat’  dibanding penghuni terminal lain malam ini.
Oh astaga! Jangan-jangan dia orangnya!. Pikirku girang sambil menata rambut dan merapikan duduk. Gugup.
“Masnya juga?,” tanyaku, ia tersenyum kecil dan mengangguk. Lagi-lagi membiarkanku semakin penasaran dan salah tingkah.
“Masnya daritadi disini?.”
“Iya..” jawabnya lagi dengan sedikit diseret, seperti jawaban yang menerka-nerka.
Kenapa daritadi aku tidak sadar? Tapi kenapa dia diam saja?
Kembali ku atur posisi duduk. Sedikit menghela nafas, dan menenangkan kaki yang tak pernah bisa terdiam jika terlalu gugup seperti sekarang.
“Masnya.. nunggu siapa?.” Ia menoleh ke arahku, sedikit mengerutkan dahi. Kali ini sorot matanya tak seramah sebelumnya. Persis seperti induk macan yang sedang diganggu anak-anaknya. Benar-benar membuatku tak enak hati.
“Em.. maksud saya, masnya lagi nunggu temen ya?,” tambahku ragu-ragu.
“Iya.. “
“Perempuan?”
“Iya....”
“Rico ya? Hai, aku Andini!.” Kataku bersemangat.
Lelaki muda itu semakin diam dan menatapku curiga.
“Bukan...” katanya, lantas berdiri dan bergegas menjauh. Tanpa sedikit pun menoleh kembali ke arahku.
Ah, bukan... pikirku kecewa, seraya melihat punggungnya menghilang dari balik belokan ruko-ruko terminal yang telah tutup.
Sekarang aku kembali sendirian. Bersama beberapa pasang mata yang ternyata sedari tadi memperhatikanku tajam. Membuatku tersudut. Seperti rusa di tengah sabana. Dan mata-mata itu adalah milik macan tutul yang siap menerkamku sebagai makan malamnya. Benar-benar merasa terancam. Ku rapatkan tubuh memeluk ransel. Sementara orang-orang satu persatu pergi bersama jemputannya. Ku cek hp beberapa kali. Belum ada balasan.
Astaga, konyol sekali diriku! Seharusnya aku tak sesembrono ini. Ah, sial!
Hampir satu jam. Mataku mulai mengantuk. Tapi aku tak ingin tidur. Tubuhku telah lelah. Tapi aku tak lantas boleh menyerah. Bukan, bukan sekarang. Memang ini kota orang, tapi aku masih punya Tuhan. Sambil masih terus berdoa dengan cemas, aku menunduk menghindari tatapan-tatapan kasar sekitar. Yang membuatku semakin seperti onggokan daging siap santap. Serta merawat kekecewaan yang hampir membuahkan air di kedua sudut mata. Tapi tak bisa. Ini belum berakhir. Pikirku penuh harap.
“Dimana sekarang? Maaf, tadi hpku mati.” Sebuah pesan masuk menyelamatkanku dari situasi.
“Terminal. Kau dimana? Katamu kau sudah disini sebelum aku datang? Aku sendirian. Dari satu jam yang lalu.”
“Maaf. Benar tadi aku sudah disana, tapi tiba-tiba aku ada urusan. Oh ya, sekarang aku tidak bisa menjemputmu. Motorku sedang dipakai temanku. Bisakah kau ke tempatku saja? Ku share loc ya. Aku tunggu di sini.”
Tanpa berlama-lama, ia mengirim lokasi dimana ia berada.
Ah, kenapa tidak dari tadi? Pikirku jengkel. Lantas berjalan keluar memesan taksi.
Kurang dari 15 menit aku sampai di depan sebuah kedai kopi. Ku langkahkan kaki setelah membayar sejumlah uang kepada supir taksi, tanpa sedikitpun merapikan kemeja, atau memperdulikan rambut yang terkoyak angin bercampur air hujan. Aku sudah teramat lelah. Ku pilih tempat duduk di sudut depan kedai. Memesan secangkir kopi Arabica panas. Menyruputnya, membakar sebatang rokok, dan menggosok-gosokkan tangan sesekali. Supaya lebih hangat. Kali ini, tak ada lagi hasrat untuk mengawali mengabarinya.
Biar dia saja yang mencariku. Gantian dong! Pikirku masih jengkel.
“Sudah sampai?.”
“Sudah.” Balasku singkat.
Tak berapa lama...
“Hai!” sapa seorang wanita muda bertubuh putih tinggi semampai.Wajahnya halus tanpa jerawat. Berwarna putih kemerahan seperti pantat bayi. Cantik.
“Halo..” balasku. Kami bersalaman sebentar. Tangannya halus seperti tidak pernah bergesekkan dengan benda kasar sedikitpun. Ia tersenyum. Gigi-giginya berbehel rapi. Namun tetap terlihat putih-putih dan bersih. Ketika ia duduk persis di hadapanku, aroma parfumnya menyeruak. Wangi sekali. Tapi aku masih tidak tahu ia siapa.
“Cari Riko ya?,” tanyanya lagi sembari menyopot jaket. Akupun mengangguk.  
“Sudah lama?.”
“Lumayan...”
“ Maaf ya sudah membuatmu menunggu.” Katanya nyerocos masih sibuk menyopot anting dan mencoba memanggil waitress untuk memesan kopi.
Sementara aku masih menerka-nerka dan semakin bingung.
“Em.. maaf? Kalau boleh tahu Anda siapa ya? Adiknya? Kakaknya? Temannya? Atau... Pacarnya? ,” tanyaku benar-benar ingin tahu.
Ia tersenyum. Membakar rokok, menyopot wig. Sedikit menyondongkan badan ke depan, lalu menatapku tajam.
“Aku Rico!.”


Tembalang, 16 September 2017


Tidak ada komentar:

Posting Komentar