Hari ini aku menjumpai sebuah iklan voucer belanja di salah satu supermarket di kota yang telah menampungku beberapa tahun terakhir. Sebuah supermarket yang hampir bangkrut karena memasang tarif harga tidak lebih murah dibanding dengan supermarket-supermarket lain di kota ini, kini ia mulai bangkit melalui sebuah iklan dengan iming-iming gratis berbelanja 1juta rupiah. Enak ya? Bagaimana tidak? Seorang pengangguran, dengan tangan yang masih sering merogoh saku bapak-ibunya tiba-tiba dapat iklan dengan jumlah nominal yang lumayan. Bagaikan ketiban durian runtuh. Namun, jangan berpikiran iming-iming gratis didapat hanya melalui kedipan mata. Jangan pula buru-buru beranggapan bahwa aku besok bangun pagi, mandi dan siap-siap menuju supermarket itu untuk memborong semua barang-barang produk import senilai 1jt. Ah, tentu saja! Jangan sok pelupa. Mau durian runtuh atau ribuan mangga jatuh, sejak kapan di dunia ini ada sesuatu yang benar-benar gratis tanpa embel-embel timbal balik? Ya, semacam simbiosis mutualisme, atau mutu-mutu yang lain.
Benar, iklan tersebut memberi ketentuan bahwa siapa saja yang mengikuti akun sosmednya, mengambil gambar setelah mengikuti dan mengunggahnya ke media sosial pribadi sebagai bukti, baru akan dipilih 50rb orang pertama sebagai seorang berutung dengan hak 1jtnya. Wah, tentu aku tidak mau kalah saing. Ku lakukan saja mau mereka. Ku ikuti sosmednya, ku ambil gambar dan ku bagikan fotonya melalui akun pribadiku. Bagaimana? Apakah aku sudah cukup eksis dalam mengikuti tren jaman sekarang? Mengikuti tren dimana segala bentuk usaha susah-payah yang bapak-ibu-dan orang orang lain lakukan untuk mendapat sejumlah koin rupiah, bisa dengan mudah ku dapatkan hanya dengan permainan jemari tangan. Atau, aku benar-benar sudah gila? Gila akan durian-durian runtuh yang matang dan lezat, tanpa harus bersusah payah menanam pohon, merawatnya dan menungguinya setiap malam ketika musim panen?
Entahlah. Faktanya, prinsip dan ideologi yang hampir berton-ton (jika di timbang) ku muntahkan dimanapun, bisa kalah berat juga dengan kata-kata ajaib seperti sulap itu.
Dan nyatanya pula, hampir 4hari ini aku tak henti-henti mengirimkan prosedur yang disyaratkan untuk mengikuti sebuah undian di aplikasi sosmed yang lain. Menekan ego bahwa tubuh ini sudah dikubur karbit semacam tape. Menjadi lembek dan agak kecut. Mengisi hari-hari dengan jutaan harapan mendapat rezeki nomplok melalui setiap angka yang terkirim. Persis seperti seorang lapar yang menunggu antrian panjang beras raskin disiang bolong. Berdesakan, kepanasan, eh ternyata tinggal dua plastik rupanya.
Sebentar, sesaat ku raba perutku. Ada yang aneh! Ia tak lagi mulus, datar atau membuncit seperti kebanyakan perut orang-orang. Ia terbuka, dan ada semacam daging basah dengan pagar-pagar runcing tak beraturan disekitarnya. Astaga, benar! Ternyata perutku sudah punya mulut, lidah dan gigi. Ia lebih ganas saat mencari makan. Bahkan setahuku, akhir-akhir ini kabarnya ia mengincar hati-pikiran-dan prinsip yang telah lama membuatnya kelaparan. Untuk apa lagi kalau bukan tak ia makan juga.
Beberapa waktu yang lalu aku juga mendapati diriku semakin gila oleh "yang instan". Aku mencoba mengikuti beberapa MLM. Katanya MLM adalah cara mudah untuk mendapatkan uang. Aku diajak oleh seorang kawan. Katanya, dengan mencari orang sebanyak mungkin untuk mendaftar di sebuah perusahaan MLM, poin kita akan bertambah. Ah, ini benar-benar kegilaan.
Lalu, suatu kala aku menunggui apa-apa lagi yang ku sebut sebagai ' keberuntungan' datang berkunjung. Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke layar hpku. Menyadarkan betapa susahnya menyentuh kenyataan saat kita masih berenang bebas dalam puluhan angan. Angan makan ayam krispi original dengan saus sambal ekstra pedas, ditambah minuman bersoda, dan beberapa potong kentang goreng instan! Angan ketika bangun pagi, mandi dan jalan-jalan di supermarket-supermarket besar, memborong semua barang import keluaran terbaru, dan menonton bioskop sambil makan popcorn.
" Sedang apa? Sudah makan? Sehatkan? Kuliah gimana? Katanya sudah skripsi? Kapan kelar? Tadi bapak nanya."
Kini, aku siap menjatuhkan diri dari ketinggian ribuan kilo bersama angin muson menuju daratan. Aaaaah! Daratan krikil yang berdebu. Membuat lebam, berdarah, dan sesak nafas.
Namun mulut diperutku, masih saja menggerutu, ngomel, dan cerewet sekali.
" Cepat cari makan! Aku sudah lapar. Atau boleh ku makan segala yang ada dipikiranmu?," ancamnya.
-T.Y-
23042017
Benar, iklan tersebut memberi ketentuan bahwa siapa saja yang mengikuti akun sosmednya, mengambil gambar setelah mengikuti dan mengunggahnya ke media sosial pribadi sebagai bukti, baru akan dipilih 50rb orang pertama sebagai seorang berutung dengan hak 1jtnya. Wah, tentu aku tidak mau kalah saing. Ku lakukan saja mau mereka. Ku ikuti sosmednya, ku ambil gambar dan ku bagikan fotonya melalui akun pribadiku. Bagaimana? Apakah aku sudah cukup eksis dalam mengikuti tren jaman sekarang? Mengikuti tren dimana segala bentuk usaha susah-payah yang bapak-ibu-dan orang orang lain lakukan untuk mendapat sejumlah koin rupiah, bisa dengan mudah ku dapatkan hanya dengan permainan jemari tangan. Atau, aku benar-benar sudah gila? Gila akan durian-durian runtuh yang matang dan lezat, tanpa harus bersusah payah menanam pohon, merawatnya dan menungguinya setiap malam ketika musim panen?
Entahlah. Faktanya, prinsip dan ideologi yang hampir berton-ton (jika di timbang) ku muntahkan dimanapun, bisa kalah berat juga dengan kata-kata ajaib seperti sulap itu.
Dan nyatanya pula, hampir 4hari ini aku tak henti-henti mengirimkan prosedur yang disyaratkan untuk mengikuti sebuah undian di aplikasi sosmed yang lain. Menekan ego bahwa tubuh ini sudah dikubur karbit semacam tape. Menjadi lembek dan agak kecut. Mengisi hari-hari dengan jutaan harapan mendapat rezeki nomplok melalui setiap angka yang terkirim. Persis seperti seorang lapar yang menunggu antrian panjang beras raskin disiang bolong. Berdesakan, kepanasan, eh ternyata tinggal dua plastik rupanya.
Sebentar, sesaat ku raba perutku. Ada yang aneh! Ia tak lagi mulus, datar atau membuncit seperti kebanyakan perut orang-orang. Ia terbuka, dan ada semacam daging basah dengan pagar-pagar runcing tak beraturan disekitarnya. Astaga, benar! Ternyata perutku sudah punya mulut, lidah dan gigi. Ia lebih ganas saat mencari makan. Bahkan setahuku, akhir-akhir ini kabarnya ia mengincar hati-pikiran-dan prinsip yang telah lama membuatnya kelaparan. Untuk apa lagi kalau bukan tak ia makan juga.
Beberapa waktu yang lalu aku juga mendapati diriku semakin gila oleh "yang instan". Aku mencoba mengikuti beberapa MLM. Katanya MLM adalah cara mudah untuk mendapatkan uang. Aku diajak oleh seorang kawan. Katanya, dengan mencari orang sebanyak mungkin untuk mendaftar di sebuah perusahaan MLM, poin kita akan bertambah. Ah, ini benar-benar kegilaan.
Lalu, suatu kala aku menunggui apa-apa lagi yang ku sebut sebagai ' keberuntungan' datang berkunjung. Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke layar hpku. Menyadarkan betapa susahnya menyentuh kenyataan saat kita masih berenang bebas dalam puluhan angan. Angan makan ayam krispi original dengan saus sambal ekstra pedas, ditambah minuman bersoda, dan beberapa potong kentang goreng instan! Angan ketika bangun pagi, mandi dan jalan-jalan di supermarket-supermarket besar, memborong semua barang import keluaran terbaru, dan menonton bioskop sambil makan popcorn.
" Sedang apa? Sudah makan? Sehatkan? Kuliah gimana? Katanya sudah skripsi? Kapan kelar? Tadi bapak nanya."
Kini, aku siap menjatuhkan diri dari ketinggian ribuan kilo bersama angin muson menuju daratan. Aaaaah! Daratan krikil yang berdebu. Membuat lebam, berdarah, dan sesak nafas.
Namun mulut diperutku, masih saja menggerutu, ngomel, dan cerewet sekali.
" Cepat cari makan! Aku sudah lapar. Atau boleh ku makan segala yang ada dipikiranmu?," ancamnya.
-T.Y-
23042017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar