Senin, 16 Oktober 2017

Bapak....!

“Sudahlah! Jangan merengek seperti itu! Biarkan aku pergi! Aku sudah tidak tahan lagi.”
Bentak lelaki itu. Menghempaskan remasan tangan sang istri yang memegang erat kaki kirinya. Ia pergi. Menyisakan jejak sepatu tak penuh, berlumur tanah merah dari pekarangan rumah. Sementara sang istri masih sesenggukan. Dadanya sesak. Tubuhnya bergetar kencang. Keringatnya mengucur bagai keran. Sampai-sampai daster tidur berbahan katun selutut yang ia kenakan, tak sanggup berkibar meski angin menyerangnya bertubi-tubi.
Ia meringkuk di lantai dengan lesu.  Tak sanggup membuka mata. Baginya, membuka mata sama saja mengantarkan kepergian suami dengan rela. Padahal, sampai malam ini, detik ini, ia masih tak kuasa memikul malam dengan kesendirian. Apalagi untuk malam-malam yang akan datang. Sama sekali belum terbayangkan. Begitu pula denganku.
Saat itu aku hanya berdiam diri di kamar. Persis seperti malam-malam sebelumnya, ketika bapak dan ibu mulai suka beradu mulut. Sesekali terdengar suara teriakan. Saling tuduh. Saling menyalahkan. Sesekali terdengar seperti suara tamparan. Dan ujung-ujungnya suara tangis ibu pecah. Sedikit ditahan. Lalu bapak keluar kamar membanting pintu. Pergi.
Dulu, jauh sebelum kami memutuskan pindah ke kota ini, bapak dan ibu adalah pasangan paling romantis yang pernah aku temui. Maklum, pernikahan mereka bukan pernikahan ala Siti Nurbaya. Meskipun kami dari desa dan simbah adalah mak comblang yang dipercaya oleh keluarga-keluarga ningrat perihal bab perjodohan. Ia tak pernah melarang anaknya untuk dekat dengan siapapun. Mencoba menjodohkannya dengan pegawai negeri, atau anak saudagar beras di desanya. Sama sekali tidak. Ia memberikan kebebasan bagi putri semata wayangnya itu untuk membukakan hati kepada siapapun yang ia cintai. Ia akan menerima. Bahkan ketika bapak datang ke rumah bersama kedua orang tuanya.
“Sebelumnya saya meminta maaf kepada Bapak. Dengan lancang tiba-tiba saya datang kemari bersama kedua orang tua. Meskipun saya tahu, Dik Rahayu adalah kembang desa yang telah banyak diincar oleh para pria terhormat dan mapan, tidak seperti saya ini. Yang hanya bermodalkan ijasah kuliah, dan harapan segera mendapatkan pekerjaan. Namun, kali ini saya memberanikan diri untuk meminta izin kepada Bapak, melamar Dik Rahayu demi mewujudkan kebahagiaan kami semasa kuliah dulu. Ini adalah salah satu angan-angan yang sudah bertahun-tahun lamanya kami bangun. Ya sebelum akhirnya kembali ke kota masing-masing selepas lulus.” Ucapnya tanpa bergetar sedikitpun.
Kala itu di mata simbah, sikap ‘ lelaki’ Bapak yang berani, tegas dan bernada sungguh-sungguh ternyata berhasil mencuri simpatinya. Mengizinkan putrinya dipersunting oleh lelaki dari keluarga pas-pas an. Yang dengan konyol datang ke rumah, melamar purtinya. Berbekal niat dan selembar ijasah kuliah. Begitulah kenang simbah berulang kali sambil tertawa. Cerita yang selalu ku dengar, ketika tubuhku masih cukup meringkuk dipangkuannya. Aku senang sekali mendengarkan cerita itu. Apalagi ketika si mbah dengan suara paraunya mencoba mempraktekkan gaya Bapak sekaligus gayanya sendiri yang terus menatap tajam mata bapak, guna menguji keberaniannya. Lantas membuatku berimajinasi. Membayangkan betapa Bapak adalah lelaki yang gagah berani. Benar-benar ‘ seorang lelaki.’
Setahun setelah kepergiaan simbah - waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 2 SMP- kami memutuskan untuk pindah ke kota. Kabarnya, bapak diterima menjadi wartawan di salah satu surat kabar ternama di sana. Demi mempermudah perkerjaan dan menjaga keutuhan rumah tangga, bapak memboyong kami berdua. Awalnya kami menyewa sepetak rumah kontrak dengan dua kamar kecil, ruang tamu sekaligus ruang tv dan dapur mungil di sebelah kamar mandi.
Bulan-bulan awal terlewat dengan baik. Dengan cepat kami mampu menyesuaikan diri. Maklum, komplek perumahan ini didominasi oleh warga rantau seperti kami. Dari Solo, Jogja, Purwodadi, Demak, Kudus dan sisanya ada yang dari Malang bahkan Jakarta. Sesekali ketika bapak tak pergi meliput, ia bercengkrama bersama para tetangga yang berkumpul di pos ronda. Bermain remi, karambol atau catur. Dan setiap pagi hari, ku dapati ibu berkumpul dengan ibu-ibu lainnya yang mengerumini tukang sayur di dekat rumah. Sambil bergosip. Setiap minggu pagi kami berbaris di depan rumah dan memulai senam sehat. Dilanjutkan dengan kerja bhakti dan ngobrol santai. Serta yang paling aku suka, setiap malam, sebelum tidur, kami bertiga berkumpul di ruang tv, melihat beberapa tayangan dan membahas apa saja sampai lelah. Begitu berjalan selama hampir dua tahun lamanya.
“Besok kita akan pindah,” celetuk Bapak waktu itu.
“Ke mana?,” tanyaku. Menoleh ke arah bapak yang masih sibuk memencet layar hp di atas sofa.
“Ke rumah baru,” sahut ibu keluar dari dapur. Menurunkan piring berisi pisang goreng dan duduk di samping bapak.
“Rumah baru?,”
“Iya, rumah baru. Yang lebih besar dari ini dan lebih dekat dengan pusat kota,” tambah ibu tersenyum bahagia.
“Bapak beli rumah?,” tanyaku meyakinkan. Menyita perhatian bapak sesaat, lalu ia menurunkan kaca mata dan mengangguk.
Benar, karir bapak sedang menanjak. Berkat kegigihannya, dua bulan yang lalu ia mendapatkan promosi. Jabatannya naik. Kini ia sah menjadi pimpinan redaksi. Dengan gaji yang yang lebih tinggi, bapak memutuskan untuk membeli rumah di pusat kota. Ya, meskipun masih dalam tahap cicilan. Tapi bulan selanjutnya kami mampu membeli mobil baru, mesin cuci yang lebih canggih dan beberapa perabot rumah tangga yang lebih modern. Bahkan aku sendiri dihadiahi sebuah iphone keluaran terbaru.
Ibu sering kali keluar rumah untuk hangout bersama teman-teman sosialitanya. Ia memang tidak bekerja sampai sekarang, namun nama bapak saja sudah cukup. Cukup untuk membawanya bergabung dengan ibu-ibu necis istri dari para pejabat kota.
Hari senin, ibu ada arisan dengan grup A. Hari selasa sore pergi bersama teman-teman Zumba-nya. Hari rabu adalah jadwal yoga. Kamis, jumat, sabtu... dan kalaupun bertemu, kami hanya bertegur sapa seadanya.
“Oh iya, jangan lupa kalau nanti Adik keluar, pintunya dikunci. Hari ini ibu tidak masak. Bapak juga akan pulang telat. Katanya ada rapat. Nanti Adik makan diluar saja.”
“Dan satu lagi, tadi siang bapak sudah transferkan? Nanti ibu kabari lagi kalau acara ibu sudah selesai.”
Lantas, ia bergegas pergi terburu-buru.
Memang, awalnya aku senang dengan ibu yang tampak semakin bahagia. Dengan bapak yang memiliki karir cemerlang. Beberapa kali bahkan ia dijadikan narasumber acara-acara kepenulisan di kampus-kampus, juga kampusku. Namanya melambung. Apalagi semenjak ia berhasil menerbitkan beberapa buku fiksi-pop yang laris manis di pasaran. Semenjak itu, tak perlu ditanyakan. Pundi-pundi keluarga kami terkumpul dengan fantastis. Kunjungan-kunjungan sosial yang dilakukan oleh ibu dan bapak juga sering menjadi sorotan media. Seperti mengunjungi pasien kanker, ke rumah yatim piatu, korban bencana alam, menjadi pembicara diskusi budaya dan yang lainnya. Semua kebutuhan tercukupi. Bahkan lebih. Apapun yang ku inginkan juga dengan cepat dikabulkan. Namun, semenjak itu pula tak hanya ibu yang jarang pulang. Bapak pun juga. Ia lebih sering mengirim kabar mendadak seperti,
Dik, hari ini bapak tidak bisa pulang. Ada pertemuan mendadak. Nanti tolong kabarin ibu ya. Daritadi bapak telpon nomornya nggak aktif. Kamu jaga rumah, kalau keluar pintu dikunci.”
Atau
Dik, tadi bapak sudah transfer jatah bulananmu. Sekalian buat bayar les musiknya. Dan satu lagi, bapak minta maaf, minggu ini sepertinya rencana buat jalan-jalan di pending dulu. Bapak ada urusan mendadak. Tadi ibu juga sudah bapak kasih tahu.”
Dan yang lain-lainnya.
Berbulan-bulan, bertahun-tahun, sampai akhirnya kami menjumpai malam itu...
Aku masih menunggu jemputan ketika ibu baru saja keluar.
Selang beberapa menit Vigo datang. Aku masuk ke dalam mobilnya. Seperti biasa di bangku belakang sudah ada Rey dan Dion. Aku mengenal mereka beberapa bulan yang lalu melalui situs pertemanan onlen. Nongkrong, makan, sampai akhirnya sering keluar bersama.
“Mau makan dulu nggak?,” tanya Vigo.
“Nggak usah. Nanti aja di sana.” Jawabku.
“Tau tuh si Vigo. Biasanya juga sudah sepaket sama room-nya,” tambah Dion.
“Sehat kan Han?,” tanya Rey kepadaku.
“Ya tentu saja.”
 “Syukurlah. Kalau malam minggu seperti ini, biasanya bakalan rame. Jangan kecapekan dulu sebelum berperang,” canda Rey. Kami tertawa bersama.
Malam ini langit tak bersahabat. Gerimis datang dan sesekali hujan mengguyur permukaan jalan. Atap-atap rumah, kursi taman, pohon-pohon dan tanah. Bahkan sejak sore tadi. Kilat datang menyambar, guntur bersahut-sahutan, lalu cakrawala berubah menjadi muram.
Kami berempat berlarian kecil sekeluarnya dari mobil. Masuk ke room karaoke menuju ke ruang ganti. Ku buka isi tas yang ku bawa dari rumah. Sebuah dress mungil berwarna merah marun, sepaket alat make-up dan sepatu hak tinggi penuh permata yang berkilat-kilat. Setelah berganti pakaian, ku pandangi wajahku di cermin. Lantas membersihkannya sebentar. Mengoleskan pelembab, foundation, concealer, bedak tabur beraroma melati, bedak padat. Lalu membentuk alis, memakai eyeshadow, menambahkan sedikit blush on, memakai eyeliner, maskara, menempelkan bulu mata palsu, dan tak lupa lipstik merah menyala.
Room 21 ya!,” ucap operator yang mendatangiku. Aku pun berjalan keluar. Sedikit mendongak, sembari merapikan dandanan. Sesekali ku semprotkan minyak wangi supaya aroma cherry yang lembut dapat menyatu dengan tubuhku.
“ Silakan...” ucap seorang operator lain membukakan pintu seraya tersenyum.
Seperti biasanya, seperti malam-malam sebelumnya beberapa bulan terakhir. Room karaoke selalu sesak oleh musik-musik dengan volume tinggi, suara-suara sumbang yang dipaksakan, asap-asap rokok, bau alkohol, serta keringat-keringat tubuh-tubuh penuh napsu. Aku duduk merapat di antara tubuh-tubuh gempal Om-Om berkemeja itu. Sesekali mereka memandangku dan mencoba mengajakku menari bersama irama malam. Memeluk, menyodorkan minuman, dan menggosok-gosokkan pipinya ke pipiku. Satu per satu dari mereka mulai mencicipiku. Tak terkecuali seorang terakhir yang tampaknya telah tenggelam di dada seorang PL lain di sudut tempat duduk. Matanya sudah layu. Badannya sentoyongan mencoba berdiri meraihku yang masih melantunkan lagu. Dipangkunya tubuhku. Dihembuskannya napas di sela-sela telinga dan rambutku. Wajahnya semakin mendekat.  Kini kulit-kulit pipinya menekan bibirku. Memaksaku untuk sedikit menoleh. Menghampiri bibirnya. Tapi tunggu, aku menahan gerakanku. Memperhatikannya lebih cermat. Semakin cermat.....
“ Bapak!.”
Aku tersentak, mundur dan terjatuh ke lantai. Begitu pula dengannya. Bergegas menyalakan lampu dan mendekatiku. Dengan mata semerah darah dan dahi yang berkerut, ia menatapku tajam. Seolah-olah memastikan apakah ia benar-benar mengenali diriku.
“ Gila! Apa-apaan kau ini! “
Plak!’ Bapak menamparku.
“ Mau jadi apa kau ini! He?,” Bapak menyeretku keluar setelah berkali-kali menampar pipiku dan mengumpat dengan kasar. Merobek bajuku, menjambak dan akhirnya membawaku pulang
Semenjak saat itu, Ibu dan bapak sering cekcok. Saling menyalahkan. Apalagi berita tentang keluarga kami begitu cepat menyebar, membuat kami menjadi sorotan banyak orang. Dimanapun, kapanpun, siapapun di seluruh sudut kota ini tak ada satu pun yang absen membicarakannya. Secara blak-blak an, bisik-bisik atau sekasar umpatan di media sosial. Di kafe-kafe, rumah makan, kantor, pasar, sekolahan, bahkan juga mereka yang dengan sengaja lewat di depan rumah kami sambil bergunjing,
Gila ya, orang tua yang kelihatannya hebat saja nggak bisa mendidik anak. Menjadi PL saja udah nggak bener. Apalagi ditambah berdandan layaknya wanita. Mau jadi apa dia?. Edan edan... bener-bener edan! Amit-amit jabang bayi!.”






Tembalang, 16 September 2017

Minggu, 15 Oktober 2017

Namanya Rico...

Aku masih duduk memandangi jendela bus saat sebuah pesan singkat nongol di layar hp.
“Sampai mana?,” sebuah teks yang ku tunggu-tunggu.
“Sebentar lagi sampai,” balasku.
Tepat pukul 01.00, bus jurusan Jogja-Solo yang ku naiki tak pula memelankan laju. Padahal jalanan tampak mengkilat karena hujan tak kunjung reda. Aku tidak tahu seberapa cepat si sopir menekan pedal gas, atau bahkan tak peduli. Yang ku tahu, aku akan segera menjumpai seseorang yang telah menunggu sedari hari belum berganti, di terminal malam ini. Meskipun beberapa kali tubuhku sempat terguncang dan bergeser sedikit karena polah sopir yang seperti kesetanan mengejar setoran.
Jujur saja, ini bukan pertama kalinya ku beranikan diri menginjakkan kaki di kota orang. Namun, ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di kota orang, malam-malam, didorong oleh rasa penasaran bercampur dengan bahagia. Untuk bertemu. Bertemu seseorang yang selama ini telah menjadikan hari-hariku bertabur bunga-bunga dengan wangi yang semerbak. Lebih wangi dibandingkan kembang setaman yang sering dibeli simbah untuk nyekar ketika malam jumat tiba.
Aku memang baru saja mengenalnya. Sekitar empat bulan yang lalu. Kami bertemu disalah satu situs pertemanan online yang sedang ramai-ramainya di dunia maya. Facebook. Maka jangan heran, meski diriku sejak kecil hingga kuliah berada di Jogja, dan sama sekali belum pernah mengunjungi kota tujuanku saat ini, aku merasa telah mengenalnya dengan baik. Bahkan pertemanan kami yang tak disengaja itu, membuatku benar-benar melakukan hal yang konyol seperti sekarang.
Hampir setiap hari ia mengomentari status yang ku bagikan. Membalas beberapa sajak yang ku tulis dengan soliloque-nya, menyukai positnganku sampai tak jarang membagikan kiriman yang ku tulis pula. Ya, hampir setiap hari. Mulanya aku tidak peduli. Ku pikir ia adalah satu dari ribuan orang kurang kerjaan yang menanggapi hasil pemikiran kurang kerjaanku pula. Tapi lama-lama kami sering berdiskusi. Saling mengirimkan inbox, berbagi informasi dan literasi, lalu membuat prosa bersambung. Lebih lanjut, akhirnya kami bertukar nomor WhatsApp. Di sana kami bisa berkomunikasi lebih lancar. Melanjutkan obrolan tentang Liberalisme, Feminis, Post Modern, hingga omong kosong lainnya. Lama-lama setiap pagi ia memberanikan diri untuk menyapa. Seperti, ‘ Selamat pagi Puan... Ayo bangun! Keburu mataharinya ngambek loh!’ atau ‘ Sudah makankah?’ ‘ Jangan lupa minum air putih!’ ‘ Jangan tidur terlalu malam. Jaga kesehatan.’ Dan yang lainnya. Berangsur-angsur menjadi sebuah rutinitas. Seperti ia adalah bagian dari aku, dan aku adalah bagian darinya. Semacam proses berbagi. Sampai pada proses bernegosiasi tiap kali masing-masing dari kami harus mengambil keputusan terhadap segala sesuatu. Dan sekarang, kami benar-benar akan bertemu......
“Terminal-terminal......,” teriak kenek bus. Sambil sedikit menoleh kebelakang dan berdiri, bersiap membukakan pintu dengan buru-buru.
Begitupun aku yang sesegera mungkin bangkit. Menata posisi tas ransel sebentar, lalu segera maju merapat ke pintu.
Gerimis masih meracau ketika diriku menepi di antara beberapa orang yang tengah duduk-duduk, tertidur, atau berlarian kecil berusaha menyelamatkan dirinya dari basah di sekitar ruang tunggu terminal. Aku duduk. Sesekali mengecek hp dan mencari-cari wajah yang potonya beberapa kali sengaja ku simpan untuk ku ingat-ingat.
“Aku sudah sampai. Kau dimana?,” ketikku singkat.
Sambil sesekali merapikan rambut yang lepek tak karuan, ku lepaskan ransel supaya duduk lebih nyaman. Ku tengok lagi ke kanan dan ke kiri. Mencari-cari tubuh seseorang yang mungkin sedang berjalan menuju ke arahku. Memakai jas hujankah? Payung? Atau tubuh basah kuyup seperti beberapa orang yang hilir mudik menjemput orang lain tadi?
Ku cek kembali hpku. Terkirim. Tapi belum dibaca. Apa kelamaan? Atau dia ketiduran?
Ku pandangi kembali sekeliling. Beberapa tubuh yang tergeletak lesu dengan suara ngorok yang tak kalah kencang dibanding hujan ialah orang-orang terminal seperti, penjual koran, pengemis, dan beberapa yang aku tak tahu memiliki pofesi apa. Yang jelas, ku pikir tidak ada diantara salah satu dari mereka.
“Nunggu orang Mbak?,” sapa seorang lelaki muda yang mungkin seumuranku itu.
“Iya,” jawabku pelan sambil memperhatikannya. Dari gayanya, ku pikir dia juga mahasiswa seperti diriku. Ya, gaya mahasiswa pada umumnya. Kemeja flanel yang dipadukan dengan kaos combed bergambar Jimmy Hendrick, celana jeans denim, serta sepatu sneakers tua berwarna coklat kusam. Pas sekali dengan rambut ikal yang dikuncir sebahu. Wajah berbulu dan berkumis tipis itu, serta alis yang tegas melindungi sorot matanya yang teduh. Membuat dirinya lebih ‘ terlihat’  dibanding penghuni terminal lain malam ini.
Oh astaga! Jangan-jangan dia orangnya!. Pikirku girang sambil menata rambut dan merapikan duduk. Gugup.
“Masnya juga?,” tanyaku, ia tersenyum kecil dan mengangguk. Lagi-lagi membiarkanku semakin penasaran dan salah tingkah.
“Masnya daritadi disini?.”
“Iya..” jawabnya lagi dengan sedikit diseret, seperti jawaban yang menerka-nerka.
Kenapa daritadi aku tidak sadar? Tapi kenapa dia diam saja?
Kembali ku atur posisi duduk. Sedikit menghela nafas, dan menenangkan kaki yang tak pernah bisa terdiam jika terlalu gugup seperti sekarang.
“Masnya.. nunggu siapa?.” Ia menoleh ke arahku, sedikit mengerutkan dahi. Kali ini sorot matanya tak seramah sebelumnya. Persis seperti induk macan yang sedang diganggu anak-anaknya. Benar-benar membuatku tak enak hati.
“Em.. maksud saya, masnya lagi nunggu temen ya?,” tambahku ragu-ragu.
“Iya.. “
“Perempuan?”
“Iya....”
“Rico ya? Hai, aku Andini!.” Kataku bersemangat.
Lelaki muda itu semakin diam dan menatapku curiga.
“Bukan...” katanya, lantas berdiri dan bergegas menjauh. Tanpa sedikit pun menoleh kembali ke arahku.
Ah, bukan... pikirku kecewa, seraya melihat punggungnya menghilang dari balik belokan ruko-ruko terminal yang telah tutup.
Sekarang aku kembali sendirian. Bersama beberapa pasang mata yang ternyata sedari tadi memperhatikanku tajam. Membuatku tersudut. Seperti rusa di tengah sabana. Dan mata-mata itu adalah milik macan tutul yang siap menerkamku sebagai makan malamnya. Benar-benar merasa terancam. Ku rapatkan tubuh memeluk ransel. Sementara orang-orang satu persatu pergi bersama jemputannya. Ku cek hp beberapa kali. Belum ada balasan.
Astaga, konyol sekali diriku! Seharusnya aku tak sesembrono ini. Ah, sial!
Hampir satu jam. Mataku mulai mengantuk. Tapi aku tak ingin tidur. Tubuhku telah lelah. Tapi aku tak lantas boleh menyerah. Bukan, bukan sekarang. Memang ini kota orang, tapi aku masih punya Tuhan. Sambil masih terus berdoa dengan cemas, aku menunduk menghindari tatapan-tatapan kasar sekitar. Yang membuatku semakin seperti onggokan daging siap santap. Serta merawat kekecewaan yang hampir membuahkan air di kedua sudut mata. Tapi tak bisa. Ini belum berakhir. Pikirku penuh harap.
“Dimana sekarang? Maaf, tadi hpku mati.” Sebuah pesan masuk menyelamatkanku dari situasi.
“Terminal. Kau dimana? Katamu kau sudah disini sebelum aku datang? Aku sendirian. Dari satu jam yang lalu.”
“Maaf. Benar tadi aku sudah disana, tapi tiba-tiba aku ada urusan. Oh ya, sekarang aku tidak bisa menjemputmu. Motorku sedang dipakai temanku. Bisakah kau ke tempatku saja? Ku share loc ya. Aku tunggu di sini.”
Tanpa berlama-lama, ia mengirim lokasi dimana ia berada.
Ah, kenapa tidak dari tadi? Pikirku jengkel. Lantas berjalan keluar memesan taksi.
Kurang dari 15 menit aku sampai di depan sebuah kedai kopi. Ku langkahkan kaki setelah membayar sejumlah uang kepada supir taksi, tanpa sedikitpun merapikan kemeja, atau memperdulikan rambut yang terkoyak angin bercampur air hujan. Aku sudah teramat lelah. Ku pilih tempat duduk di sudut depan kedai. Memesan secangkir kopi Arabica panas. Menyruputnya, membakar sebatang rokok, dan menggosok-gosokkan tangan sesekali. Supaya lebih hangat. Kali ini, tak ada lagi hasrat untuk mengawali mengabarinya.
Biar dia saja yang mencariku. Gantian dong! Pikirku masih jengkel.
“Sudah sampai?.”
“Sudah.” Balasku singkat.
Tak berapa lama...
“Hai!” sapa seorang wanita muda bertubuh putih tinggi semampai.Wajahnya halus tanpa jerawat. Berwarna putih kemerahan seperti pantat bayi. Cantik.
“Halo..” balasku. Kami bersalaman sebentar. Tangannya halus seperti tidak pernah bergesekkan dengan benda kasar sedikitpun. Ia tersenyum. Gigi-giginya berbehel rapi. Namun tetap terlihat putih-putih dan bersih. Ketika ia duduk persis di hadapanku, aroma parfumnya menyeruak. Wangi sekali. Tapi aku masih tidak tahu ia siapa.
“Cari Riko ya?,” tanyanya lagi sembari menyopot jaket. Akupun mengangguk.  
“Sudah lama?.”
“Lumayan...”
“ Maaf ya sudah membuatmu menunggu.” Katanya nyerocos masih sibuk menyopot anting dan mencoba memanggil waitress untuk memesan kopi.
Sementara aku masih menerka-nerka dan semakin bingung.
“Em.. maaf? Kalau boleh tahu Anda siapa ya? Adiknya? Kakaknya? Temannya? Atau... Pacarnya? ,” tanyaku benar-benar ingin tahu.
Ia tersenyum. Membakar rokok, menyopot wig. Sedikit menyondongkan badan ke depan, lalu menatapku tajam.
“Aku Rico!.”


Tembalang, 16 September 2017


Sabtu, 22 April 2017

" ASTAGA! TERNYATA PERUTKU PUNYA MULUT!!!"

Hari ini aku menjumpai sebuah iklan voucer belanja di salah satu supermarket di kota yang telah menampungku beberapa tahun terakhir. Sebuah supermarket yang hampir bangkrut karena memasang tarif harga tidak lebih murah dibanding dengan supermarket-supermarket lain di kota ini, kini ia mulai bangkit melalui sebuah iklan dengan iming-iming gratis berbelanja 1juta rupiah. Enak ya? Bagaimana tidak? Seorang pengangguran, dengan tangan yang masih sering merogoh saku bapak-ibunya tiba-tiba dapat iklan dengan jumlah nominal yang lumayan. Bagaikan ketiban durian runtuh. Namun, jangan berpikiran iming-iming gratis didapat hanya melalui kedipan mata. Jangan pula buru-buru beranggapan bahwa aku besok bangun pagi, mandi dan siap-siap menuju supermarket itu untuk memborong semua barang-barang produk import senilai 1jt. Ah, tentu saja! Jangan sok pelupa. Mau durian runtuh atau ribuan mangga jatuh, sejak kapan di dunia ini ada sesuatu yang benar-benar gratis tanpa embel-embel timbal balik? Ya, semacam simbiosis mutualisme, atau mutu-mutu yang lain.
Benar, iklan tersebut memberi ketentuan bahwa siapa saja yang mengikuti akun sosmednya, mengambil gambar setelah mengikuti dan mengunggahnya ke media sosial pribadi sebagai bukti, baru akan dipilih 50rb orang pertama sebagai seorang berutung dengan hak 1jtnya. Wah, tentu aku tidak mau kalah saing. Ku lakukan saja mau mereka. Ku ikuti sosmednya, ku ambil gambar dan ku bagikan fotonya melalui akun pribadiku. Bagaimana? Apakah aku sudah cukup eksis dalam mengikuti tren jaman sekarang? Mengikuti tren dimana segala bentuk usaha susah-payah yang bapak-ibu-dan orang orang lain lakukan untuk mendapat sejumlah koin rupiah, bisa dengan mudah ku dapatkan hanya dengan permainan jemari tangan. Atau, aku benar-benar sudah gila? Gila akan durian-durian runtuh yang matang dan lezat, tanpa harus bersusah payah menanam pohon, merawatnya dan menungguinya setiap malam ketika musim panen?
Entahlah. Faktanya, prinsip dan ideologi yang hampir berton-ton (jika di timbang) ku muntahkan dimanapun, bisa kalah berat juga dengan kata-kata ajaib seperti sulap itu.
Dan nyatanya pula, hampir 4hari ini aku tak henti-henti mengirimkan prosedur yang disyaratkan untuk mengikuti sebuah undian di aplikasi sosmed yang lain. Menekan ego bahwa tubuh ini sudah dikubur karbit semacam tape. Menjadi lembek dan agak kecut. Mengisi hari-hari dengan jutaan harapan mendapat rezeki nomplok melalui setiap angka yang terkirim. Persis seperti seorang lapar yang menunggu antrian panjang beras raskin disiang bolong. Berdesakan, kepanasan, eh ternyata tinggal dua plastik rupanya.
Sebentar, sesaat ku raba perutku. Ada yang aneh! Ia tak lagi mulus, datar atau membuncit seperti kebanyakan perut orang-orang. Ia terbuka, dan ada semacam daging basah dengan pagar-pagar runcing tak beraturan disekitarnya. Astaga, benar! Ternyata perutku sudah punya mulut, lidah dan gigi. Ia lebih ganas saat mencari makan. Bahkan setahuku, akhir-akhir ini kabarnya ia mengincar hati-pikiran-dan prinsip yang telah lama membuatnya kelaparan. Untuk apa lagi kalau bukan tak ia makan juga.

Beberapa waktu yang lalu aku juga mendapati diriku semakin gila oleh "yang instan". Aku mencoba mengikuti beberapa MLM. Katanya MLM adalah cara mudah untuk mendapatkan uang. Aku diajak oleh seorang kawan. Katanya, dengan mencari orang sebanyak mungkin untuk mendaftar di sebuah perusahaan MLM, poin kita akan bertambah. Ah, ini benar-benar kegilaan.

Lalu, suatu kala aku menunggui apa-apa lagi yang ku sebut sebagai ' keberuntungan' datang berkunjung. Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke layar hpku. Menyadarkan betapa susahnya menyentuh kenyataan saat kita masih berenang bebas dalam puluhan angan. Angan makan ayam krispi original dengan saus sambal ekstra pedas, ditambah minuman bersoda, dan beberapa potong kentang goreng instan! Angan ketika bangun pagi, mandi dan jalan-jalan di supermarket-supermarket besar, memborong semua barang import keluaran terbaru, dan menonton bioskop sambil makan popcorn.
" Sedang apa? Sudah makan? Sehatkan? Kuliah gimana? Katanya sudah skripsi? Kapan kelar? Tadi bapak nanya."
Kini, aku siap menjatuhkan diri dari ketinggian ribuan kilo bersama angin muson menuju daratan. Aaaaah! Daratan krikil yang berdebu. Membuat lebam, berdarah, dan sesak nafas.
Namun mulut diperutku, masih saja menggerutu, ngomel, dan cerewet sekali.
" Cepat cari makan! Aku sudah lapar. Atau boleh ku makan segala yang ada dipikiranmu?," ancamnya.

-T.Y-
23042017