Jumat, 21 September 2018

“Berjumpa Masa Kecil, Aroma Kencing Ibu dan Letupan Tak Tertahan di Toilet.”



.......
Aku menggendong Ibu, seperti inikah dulu ia menggendongku?
Aku memapah Ibu ke kamar mandi, seperti inikah dulu ia memandikanku-menemaniku kencing-bahkan berak?
Aku harus sigap ketika Ibu tiba-tiba terbangun-kedinginan-lemas-terbatuk-atau kesakitan. Seperti inikah dulu rewelnya aku dalam segala kondisi?
Tidak.
Aku yakin tidak.
Tidak seenteng ini.
Tidak hanya sebatas ini.
Lebih. Ku yakin lebih berat. Tak terhitung. Tak mampu ditandingi. Tak bisa dibayar dengan perilaku yang hampir sama sekalipun.
Setidaknya, telah ku temui masa kecilku dengan Ibu
........

Obat Ibu banyak sekali. Cairan infusnya berwarna putih-lalu setengah hari kemudian diganti kuning. Sehari sekali, di lubang injeksinya, disuntikkan lagi beberapa zat lain supaya langsung mengalir ke pembuluh darahnya.
Setiap kali selesai menenggak beberapa pil dan mendapat suntikan itu, tak perlu menunggu lama, beberapa saat kemudian, reaksinya sudah terlihat.
Perut Ibu seperti dicuci-remas, katanya. Efeknya, ia seringkali ingin kencing dan berak.
Sementara, untuk tiduran saja ia membutuhkan selang oksigen.
Apalagi harus naik-turun dari ranjang setinggi itu. Harus jalan perlahan ke kamar mandi, dan mengulangi rutinitas itu berkali-kali.
Hampir tidak terhitung, dan sesekali Ibu terhuyung karena kelelahan.
Dan karena itu pula, aroma kamar mandi menjadi aroma khas kencing Ibu yang tak hanya pesing. Tetapi juga aroma semangat ibu lewat segala obat-obatan yang dicernanya dan meluruhkan segala penyakit demi kesembuhannya.
.......

Ini belum Tahun Baru, Hari Raya pun telah usai.
Tidak ada letupan yg patut untuk dinyalakan dan ditunggu-tunggu kehadirannya.
Begitupun dengan letupan yg satu ini. Yang entah sejak kapan berada disitu. Yang entah sejak kapan mulai membesar dan terus membesar.
Yang entah sejak kapan, mencoba untuk selalu ditekan dan terus ditekan.
Supaya tidak meletup sembarangan.
Yang entah sejak kapan, tempatnya tidak pernah pindah. Selalu ada di dada-kepala-dan bola mata.
Ia meletup. Meletup-letup keranjingan. Seperti dada-kepala-dan bola mata yang sudah sejak lama menanti gerakan kompak semacam kudeta.
Ia meletup. Dalam-dalam. Semakin dalam. Di kamar mandi. Di toilet. Bercampur dengan aroma kencing Ibu. Ikut serta mengunjungi masa kecilku.
.......

Pati, 6’9’18
Cepatlah sehat, Bu

Rabu, 21 Maret 2018

#1



 
“Kau pernah berpikir untuk bunuh diri?”

“Sering”

“Mengapa?”

“Entahlah, terlalu rumit. Sampai-sampai aku tak tahu harus bagaimana menjelaskannya”

“Lalu?”

“Tak terjadi apa-apa”

“Tak terjadi apa-apa? Tidak jadi bunuh diri?”

“Tidak”

“Mengapa?”

“Sama halnya dengan alasan ‘kenapa aku seringkali ingin bunuh diri.’ Pun ketika berusaha untuk mencobanya, entah mengapa menjadi lebih rumit. Sungguh hal itu pun terlampau susah untuk ku jelaskan”

“Takut?”

“Mungkin”

“Terhadap kematian?”

“Tidak sama sekali. Untuk apa manakuti sesuatu yang memang harus terjadi pula nantinya?”

“Lalu?”

“Mungkin, singkatnya...... karena aku adalah manusia”

Ia mengernyit, seolah tidak puas dengan jawabanku. Lalu dengan ragu ku lanjutkan. Karena tatapan matanya yang kian lekat, seperti memaksa kata-kata lanjutan lain sambil mengulang kembali jawabanku dengan panambahan tanda tanya di dalam kepalanya.

“Ya, kau tahu bukan jika manusia pada umumnya hadir bukan karena sekonyong-konyong ingin hadir. Namun dihadirkan. Lalu di tempatkan di sebuah ruangan sangat hangat yang disebut dengan rahim dan lahirlah kita semua. Ikatan-ikatan seperti itu yang susah dijelaskan. Dan ketika semakin bertumbuh, maka seseorang akan memiliki lebih banyak ikatan dengan manusia lainnya yang benar-benar rumit dan kompleks. Semakin banyak maka akan semakin kusut dan susah diurai. Bagiku, ikatan-ikatan itulah yang kadang kala bisa jadi memperkuat seseorang berada di dunia, atau justru sebaliknya. Menekan, mendesak, memeluk terlalu kuat sampai-sampai benar-benar dilenyapkan oleh kekuatannya. Semacam itu”

“Oh... Seberapa sering kau merasakannya?”

“Setiap hari. Aku rasa, mungkin semenjak jantungku pertama kali berdetak di dunia”

“Tapi buktinya, sekarang kau masih baik-baik saja. Duduk di sini. Menikmati segelas Green Tea Ice Blend dan dua potong Egg Bowl?”

“Ya, begitulah. Seperti yang telah ku katakan kepadamu, ikatan-ikatan itu terlampau rumit untuk diurai dan ditata. Maka segala hal tak mampu ditebak begitu saja. Tinggal bagaimana ketika hal itu terjadi, tiba-tiba saja Tuhan datang melalui ikatan-ikatan yang telah ku sebutkan tadi. Sebagai penyelamat. Mereka menyebutnya ‘Deus Ex Machina’ dalam beberapa contoh kasus karya sastra”

“Wow, lalu jika hal itu terjadi, apakah kau benar-benar menjadi lebih baik?”

Tanyanya lebih bersemangat. Mukanya berseri-seri dan matanya yang jernih membulat. Menampakkan betapa antusiasnya ia kali ini. Sambil merapatkan tubuh ke meja, gadis yang mungkin sebayaku itu, mengubah posisi tangan yang awalnya menopang dagu dengan kuat dan kini diletakknya kedua tangan itu bersedakap di atas meja. Punggungnya yang tadinya membungkuk, kini lebih tegak dan agak dicondongkan ke depan. Persis seperti gadis kecil yang menunggu lanjutan kisah dongeng dari guru Tknya.

“Tidak juga. Tidak sama sekali”

“Masih ingin bunuh diri?”

“Tentu”

“Mengapa?”

“Karena ternyata, para penyelamat itu bukan benar-benar penyelamat. Sesungguhnya, bagiku segala sesuatu yang datang tiba-tiba akan pergi dengan tiba-tiba pula. Begitupun mereka. Seperti seseorang yang mengajak kita kencan. Datang ke rumah, mengajak berjalan-jalan sebentar mengitari kota, menonton bioskop, ngobrol, makan es krim dan ketika malam mulai larut ia harus mengantarkan kita untuk kembali ke rumah. Ke tempat semula. Akan sangat berbeda jika hal itu dituliskan dalam kisah-kisah karya sastra misalnya. Disana mereka benar-benar bertindak sebagai penyelamat. Memberikan solusi seenaknya untuk menyelamatkan segala kekisruhan yang hadir dan habislah cerita”

“Mengapa begitu?”

“Ya... Karena pada kenyataannya mereka datang dari ikatan-ikatan itu. Ikatan yang akan terus berotasi mengitari kita. Persis seperti perputaran bulan mengelilingi bumi yang telah memiliki jalurnya sendiri. Akan seperti itu terus menerus. Sampai pada akhirnya nanti ia benar-benar tak punya kuasa untuk berputar atau ketika tak ada yang diputarinya lagi, barulah mereka berhenti”

“Hii..! Sungguh mengerikan. Aku yang hanya mendengarnya saja sudah ketakutan”

“Ya, memang”

“Ah, tapi tak apa. Setidaknya, ketika para penyelamat itu datang kau menjadi baikkan barang sebentarkan?”

“Mungkin kelihatannya seperti itu. Namun justru hal itu semakin memperburuk”

“Kenapa bisa?”

“Tentu saja! Jika kau lapar sementara kau hanya memiliki rokok dan tak ada uang sepeserpun di kantong celana saat itu, maka kau akan berhasil mengusirnya untuk beberapa saat saja. Setelahnya kau akan tetap merasakan lapar lagi, lagi dan lagi. Bahkan bagian terburuknya justru asam lambungmu naik lebih tinggi tanpa ampun”

“Rumit ya?”

“Seperti kataku diawal tadi”

“Berarti, kau tidak butuh penyelamat. Kau butuh seorang dokter. Em, maksudku seseorang yang benar-benar dokter”

Kali ini ku balas tatapan matanya sedikit lebih dalam. Dari bola mata itu, aku menangkap bahwa kalimat yang baru saja ia lontarkan bukanlah serangkaian tanggapan basa-basi. Seperti sebuah kepedulian atau bisa saja dianggap sebagai ungkapan kasihan. Tapi terlihat benar-benar tulus dan jujur.

Namun, hanya bertahan sekitar lima detik segera ku palingkan wajah ke arah jalan raya. Begitu banyak kendaraan lalu lalang. Motor, mobil, angkot yang seolah-olah ingin berkejaran dengan laju hujan. Teriakan tukang tambal ban yang menanyai penjaga toko kelontong sebelah lapaknya, suara knalpot motor rx-king yang terus menerus diderukan karena tiba-tiba mesinnya macet di jalan, serta semua bebunyian lain termasuk lagu ‘Havana’nya Camilia Cabello disusul beberapa lagu Banda Neira seperti ‘Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti’ serta suara-suara para pengunjung bercampur aduk menjadi sebuah dunia luar yang betul-betul dingin. Membuatku lebih memilih merasakan angin yang bertiup dari Utara menembus pori-pori kaos tipisku dan menyentuh kulitku bersamaan. Sementara, bau tanah basah tidak lagi tercium karena ini adalah hujan yang jatuh kesekian kali dan melunturkan bebauan khas itu tanpa sisa sedikitpun.

Ku tenggelamkan pandanganku lebih dalam. Bukan untuk mengamati hal-hal yang lain lagi. Tidak ada yang menarik satupun. Bahkan sebenarnya sedari tadi aku hanya melihat, tidak benar-benar berminat untuk mengamati apapun yang telah tertangkap oleh segala inderaku. Atau justru tak mampu menangkap lebih cermat. Seolah dihalangi oleh entah apa yang bergelombang dan menggema terus menerus sedari tadi. Menyamarkan segala yang ada disekitar. Dan sangat sedikit yang terserap lalu masuk ke otakku untuk dideskripsikan. Sisanya, hanyalah pandangan kosong yang dipenuhi oleh gelombang tanpa ujung pangkal, menari-nari riang namun dengan ekspresi yang menakutkan. Sekuat apapun ku coba menenggelamkan pandangan, justru semakin kuat pula aku tenggelam oleh gelombang yang entah sejak kapan berada di situ.

“Mohon maaf Kak, apa mau memesan lagi?”

Seorang waitress tiba-tiba mendatangi mejaku. Aku yang tersadar namun tidak sepenuhnya terkejut akan kehadirannya, spontan menjawab, Tidak. Lalu ia tersenyum kecil dan nampak sedikit enggan menjauh namun pada akhirnya pergi juga dengan langkah agak malas.

Setelah melepaskan padangan dari waitress yang kini punggungnya benar-benar ditelan oleh lekukan dinding pemisah ruangan cafe, aku baru tersadar. Bahwa seorang gadis yang tadinya dihadapanku, yang ku kira mungkin ia sebaya denganku itu juga menghilang. Cukup mengejutkan. Tapi tak lantas membuatku gusar untuk mencari. Karena hal seperti itu sudah sering terjadi. Saking seringnya, sampai-sampai menjadi biasa saja. Hanya meski biasa terjadi, disuatu waktu aku merasa tidak enak hati. Kalau-kalau mereka yang selama ini datang-pergi-kembali lagi-dan atau benar-benar pergi adalah dikarenakan oleh sikapku? Sikapku yang seketika tidak membuat nyaman mereka ketika berada di dekatku. Seperti seolah-olah merasa diabaikan. Persis seperti sekarang ini. Ah, sungguh, aku benar-benar tidak enak hati jika memang benar seperti itu adanya. Aku sama sekali tidak menyukainya. Ya, aku tidak suka membuat seseorang kecewa karena sikapku. Oleh karenanya, sampai sekarang aku masih terus berusaha untuk menjaga hati orang lain. Tidak ingin membuat siapapun kecewa. Namun, jangan salah paham. Meskipun begitu, bukan berarti aku adalah seorang gadis yang paling baik hati sedunia. Bukan. Karena sesungguhnya pekerjaan untuk menjaga hati orang lain adalah pekerjaan yang berat dan memuakkan. Bayangkan saja, menjelma menjadi seseorang yang memiliki hati bak malaikat dan selalu mengusahakan pertolongan kepada orang lain tanpa membuatnya kecewa. Bagaimana bisa? Bukankah orang bukanlah Tuhan? Jika dipikir-pikir aku sendiri sering merasa jijik dan kesal setiap kali mengingat untuk menawarkan atau sengaja dimintai tolong terhadap segala sesuatu padahal sebenarnya diri sendiri butuh bantuan. Dan entah mengapa terlalu sering aku meng’iya’kan. Atau ketika harus bersikap seperti gadis manis dengan air muka yang bersemangat ketika terlibat di sebuah perbincangan yang sebenarnya tidak ingin diikuti sama sekali. Entah apapun alasannya. Tidak bisa mengikuti-tidak cocok dengan pembahasan-tidak sepakat dengan opini dari pembahas lainnya atau alasan lain. Tapi toh ujung-ujungnya bertahan dengan tatapan mata konstan ke arah lawan bicara supaya tidak dianggap menyepelekan dengan sedikit bumbu senyuman kecil sepanjang perbincangan. Ah, benar-benar memuakkan!. Namun anehnya tak pernah bisa untuk tidak melakukan hal itu. Entahlah, begitu banyak kerumitan yang saling tumpang tindih dan saling terhubung.

Dan efeknya membuatku sering kali ingin sendirian. Benar-benar sendiri. Tanpa diganggu oleh siapapun, tanpa ditemani oleh siapapun. Berpikir tentang diri sendiri, mengerjakan apapun yang ku suka, menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan diri sendiri pula. Tidak ada tentang tubuh lain, tidak ada tentang senyuman atau tangisan untuk tubuh lain, tidak ada kepedulian yang pantas dicurahkan kepada tubuh lain. Kalaupun ada, maka yang ku ijinkan adalah perhatian semata tentang diriku. Hanya aku. Seperti halnya gadis bermata indah tadi. Yang kedatangannya entah dari kapan, akupun tidak sadar betul. Dan kepergiannya yang juga tanpa ku sadari. Bahkan aku juga lupa perbincangan kami dibuka dengan pembahasan macam apa, sampai pada akhirnya membicarakan tentang keinginanku untuk bunuh diri. Yang ku ingat, aku telah duduk berjam-jam dari sebelum matahari benar-benar tenggelam di meja cafe nomor 12 sampai hujan menelan separuh malam. Seorang diri.

Senin, 16 Oktober 2017

Bapak....!

“Sudahlah! Jangan merengek seperti itu! Biarkan aku pergi! Aku sudah tidak tahan lagi.”
Bentak lelaki itu. Menghempaskan remasan tangan sang istri yang memegang erat kaki kirinya. Ia pergi. Menyisakan jejak sepatu tak penuh, berlumur tanah merah dari pekarangan rumah. Sementara sang istri masih sesenggukan. Dadanya sesak. Tubuhnya bergetar kencang. Keringatnya mengucur bagai keran. Sampai-sampai daster tidur berbahan katun selutut yang ia kenakan, tak sanggup berkibar meski angin menyerangnya bertubi-tubi.
Ia meringkuk di lantai dengan lesu.  Tak sanggup membuka mata. Baginya, membuka mata sama saja mengantarkan kepergian suami dengan rela. Padahal, sampai malam ini, detik ini, ia masih tak kuasa memikul malam dengan kesendirian. Apalagi untuk malam-malam yang akan datang. Sama sekali belum terbayangkan. Begitu pula denganku.
Saat itu aku hanya berdiam diri di kamar. Persis seperti malam-malam sebelumnya, ketika bapak dan ibu mulai suka beradu mulut. Sesekali terdengar suara teriakan. Saling tuduh. Saling menyalahkan. Sesekali terdengar seperti suara tamparan. Dan ujung-ujungnya suara tangis ibu pecah. Sedikit ditahan. Lalu bapak keluar kamar membanting pintu. Pergi.
Dulu, jauh sebelum kami memutuskan pindah ke kota ini, bapak dan ibu adalah pasangan paling romantis yang pernah aku temui. Maklum, pernikahan mereka bukan pernikahan ala Siti Nurbaya. Meskipun kami dari desa dan simbah adalah mak comblang yang dipercaya oleh keluarga-keluarga ningrat perihal bab perjodohan. Ia tak pernah melarang anaknya untuk dekat dengan siapapun. Mencoba menjodohkannya dengan pegawai negeri, atau anak saudagar beras di desanya. Sama sekali tidak. Ia memberikan kebebasan bagi putri semata wayangnya itu untuk membukakan hati kepada siapapun yang ia cintai. Ia akan menerima. Bahkan ketika bapak datang ke rumah bersama kedua orang tuanya.
“Sebelumnya saya meminta maaf kepada Bapak. Dengan lancang tiba-tiba saya datang kemari bersama kedua orang tua. Meskipun saya tahu, Dik Rahayu adalah kembang desa yang telah banyak diincar oleh para pria terhormat dan mapan, tidak seperti saya ini. Yang hanya bermodalkan ijasah kuliah, dan harapan segera mendapatkan pekerjaan. Namun, kali ini saya memberanikan diri untuk meminta izin kepada Bapak, melamar Dik Rahayu demi mewujudkan kebahagiaan kami semasa kuliah dulu. Ini adalah salah satu angan-angan yang sudah bertahun-tahun lamanya kami bangun. Ya sebelum akhirnya kembali ke kota masing-masing selepas lulus.” Ucapnya tanpa bergetar sedikitpun.
Kala itu di mata simbah, sikap ‘ lelaki’ Bapak yang berani, tegas dan bernada sungguh-sungguh ternyata berhasil mencuri simpatinya. Mengizinkan putrinya dipersunting oleh lelaki dari keluarga pas-pas an. Yang dengan konyol datang ke rumah, melamar purtinya. Berbekal niat dan selembar ijasah kuliah. Begitulah kenang simbah berulang kali sambil tertawa. Cerita yang selalu ku dengar, ketika tubuhku masih cukup meringkuk dipangkuannya. Aku senang sekali mendengarkan cerita itu. Apalagi ketika si mbah dengan suara paraunya mencoba mempraktekkan gaya Bapak sekaligus gayanya sendiri yang terus menatap tajam mata bapak, guna menguji keberaniannya. Lantas membuatku berimajinasi. Membayangkan betapa Bapak adalah lelaki yang gagah berani. Benar-benar ‘ seorang lelaki.’
Setahun setelah kepergiaan simbah - waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 2 SMP- kami memutuskan untuk pindah ke kota. Kabarnya, bapak diterima menjadi wartawan di salah satu surat kabar ternama di sana. Demi mempermudah perkerjaan dan menjaga keutuhan rumah tangga, bapak memboyong kami berdua. Awalnya kami menyewa sepetak rumah kontrak dengan dua kamar kecil, ruang tamu sekaligus ruang tv dan dapur mungil di sebelah kamar mandi.
Bulan-bulan awal terlewat dengan baik. Dengan cepat kami mampu menyesuaikan diri. Maklum, komplek perumahan ini didominasi oleh warga rantau seperti kami. Dari Solo, Jogja, Purwodadi, Demak, Kudus dan sisanya ada yang dari Malang bahkan Jakarta. Sesekali ketika bapak tak pergi meliput, ia bercengkrama bersama para tetangga yang berkumpul di pos ronda. Bermain remi, karambol atau catur. Dan setiap pagi hari, ku dapati ibu berkumpul dengan ibu-ibu lainnya yang mengerumini tukang sayur di dekat rumah. Sambil bergosip. Setiap minggu pagi kami berbaris di depan rumah dan memulai senam sehat. Dilanjutkan dengan kerja bhakti dan ngobrol santai. Serta yang paling aku suka, setiap malam, sebelum tidur, kami bertiga berkumpul di ruang tv, melihat beberapa tayangan dan membahas apa saja sampai lelah. Begitu berjalan selama hampir dua tahun lamanya.
“Besok kita akan pindah,” celetuk Bapak waktu itu.
“Ke mana?,” tanyaku. Menoleh ke arah bapak yang masih sibuk memencet layar hp di atas sofa.
“Ke rumah baru,” sahut ibu keluar dari dapur. Menurunkan piring berisi pisang goreng dan duduk di samping bapak.
“Rumah baru?,”
“Iya, rumah baru. Yang lebih besar dari ini dan lebih dekat dengan pusat kota,” tambah ibu tersenyum bahagia.
“Bapak beli rumah?,” tanyaku meyakinkan. Menyita perhatian bapak sesaat, lalu ia menurunkan kaca mata dan mengangguk.
Benar, karir bapak sedang menanjak. Berkat kegigihannya, dua bulan yang lalu ia mendapatkan promosi. Jabatannya naik. Kini ia sah menjadi pimpinan redaksi. Dengan gaji yang yang lebih tinggi, bapak memutuskan untuk membeli rumah di pusat kota. Ya, meskipun masih dalam tahap cicilan. Tapi bulan selanjutnya kami mampu membeli mobil baru, mesin cuci yang lebih canggih dan beberapa perabot rumah tangga yang lebih modern. Bahkan aku sendiri dihadiahi sebuah iphone keluaran terbaru.
Ibu sering kali keluar rumah untuk hangout bersama teman-teman sosialitanya. Ia memang tidak bekerja sampai sekarang, namun nama bapak saja sudah cukup. Cukup untuk membawanya bergabung dengan ibu-ibu necis istri dari para pejabat kota.
Hari senin, ibu ada arisan dengan grup A. Hari selasa sore pergi bersama teman-teman Zumba-nya. Hari rabu adalah jadwal yoga. Kamis, jumat, sabtu... dan kalaupun bertemu, kami hanya bertegur sapa seadanya.
“Oh iya, jangan lupa kalau nanti Adik keluar, pintunya dikunci. Hari ini ibu tidak masak. Bapak juga akan pulang telat. Katanya ada rapat. Nanti Adik makan diluar saja.”
“Dan satu lagi, tadi siang bapak sudah transferkan? Nanti ibu kabari lagi kalau acara ibu sudah selesai.”
Lantas, ia bergegas pergi terburu-buru.
Memang, awalnya aku senang dengan ibu yang tampak semakin bahagia. Dengan bapak yang memiliki karir cemerlang. Beberapa kali bahkan ia dijadikan narasumber acara-acara kepenulisan di kampus-kampus, juga kampusku. Namanya melambung. Apalagi semenjak ia berhasil menerbitkan beberapa buku fiksi-pop yang laris manis di pasaran. Semenjak itu, tak perlu ditanyakan. Pundi-pundi keluarga kami terkumpul dengan fantastis. Kunjungan-kunjungan sosial yang dilakukan oleh ibu dan bapak juga sering menjadi sorotan media. Seperti mengunjungi pasien kanker, ke rumah yatim piatu, korban bencana alam, menjadi pembicara diskusi budaya dan yang lainnya. Semua kebutuhan tercukupi. Bahkan lebih. Apapun yang ku inginkan juga dengan cepat dikabulkan. Namun, semenjak itu pula tak hanya ibu yang jarang pulang. Bapak pun juga. Ia lebih sering mengirim kabar mendadak seperti,
Dik, hari ini bapak tidak bisa pulang. Ada pertemuan mendadak. Nanti tolong kabarin ibu ya. Daritadi bapak telpon nomornya nggak aktif. Kamu jaga rumah, kalau keluar pintu dikunci.”
Atau
Dik, tadi bapak sudah transfer jatah bulananmu. Sekalian buat bayar les musiknya. Dan satu lagi, bapak minta maaf, minggu ini sepertinya rencana buat jalan-jalan di pending dulu. Bapak ada urusan mendadak. Tadi ibu juga sudah bapak kasih tahu.”
Dan yang lain-lainnya.
Berbulan-bulan, bertahun-tahun, sampai akhirnya kami menjumpai malam itu...
Aku masih menunggu jemputan ketika ibu baru saja keluar.
Selang beberapa menit Vigo datang. Aku masuk ke dalam mobilnya. Seperti biasa di bangku belakang sudah ada Rey dan Dion. Aku mengenal mereka beberapa bulan yang lalu melalui situs pertemanan onlen. Nongkrong, makan, sampai akhirnya sering keluar bersama.
“Mau makan dulu nggak?,” tanya Vigo.
“Nggak usah. Nanti aja di sana.” Jawabku.
“Tau tuh si Vigo. Biasanya juga sudah sepaket sama room-nya,” tambah Dion.
“Sehat kan Han?,” tanya Rey kepadaku.
“Ya tentu saja.”
 “Syukurlah. Kalau malam minggu seperti ini, biasanya bakalan rame. Jangan kecapekan dulu sebelum berperang,” canda Rey. Kami tertawa bersama.
Malam ini langit tak bersahabat. Gerimis datang dan sesekali hujan mengguyur permukaan jalan. Atap-atap rumah, kursi taman, pohon-pohon dan tanah. Bahkan sejak sore tadi. Kilat datang menyambar, guntur bersahut-sahutan, lalu cakrawala berubah menjadi muram.
Kami berempat berlarian kecil sekeluarnya dari mobil. Masuk ke room karaoke menuju ke ruang ganti. Ku buka isi tas yang ku bawa dari rumah. Sebuah dress mungil berwarna merah marun, sepaket alat make-up dan sepatu hak tinggi penuh permata yang berkilat-kilat. Setelah berganti pakaian, ku pandangi wajahku di cermin. Lantas membersihkannya sebentar. Mengoleskan pelembab, foundation, concealer, bedak tabur beraroma melati, bedak padat. Lalu membentuk alis, memakai eyeshadow, menambahkan sedikit blush on, memakai eyeliner, maskara, menempelkan bulu mata palsu, dan tak lupa lipstik merah menyala.
Room 21 ya!,” ucap operator yang mendatangiku. Aku pun berjalan keluar. Sedikit mendongak, sembari merapikan dandanan. Sesekali ku semprotkan minyak wangi supaya aroma cherry yang lembut dapat menyatu dengan tubuhku.
“ Silakan...” ucap seorang operator lain membukakan pintu seraya tersenyum.
Seperti biasanya, seperti malam-malam sebelumnya beberapa bulan terakhir. Room karaoke selalu sesak oleh musik-musik dengan volume tinggi, suara-suara sumbang yang dipaksakan, asap-asap rokok, bau alkohol, serta keringat-keringat tubuh-tubuh penuh napsu. Aku duduk merapat di antara tubuh-tubuh gempal Om-Om berkemeja itu. Sesekali mereka memandangku dan mencoba mengajakku menari bersama irama malam. Memeluk, menyodorkan minuman, dan menggosok-gosokkan pipinya ke pipiku. Satu per satu dari mereka mulai mencicipiku. Tak terkecuali seorang terakhir yang tampaknya telah tenggelam di dada seorang PL lain di sudut tempat duduk. Matanya sudah layu. Badannya sentoyongan mencoba berdiri meraihku yang masih melantunkan lagu. Dipangkunya tubuhku. Dihembuskannya napas di sela-sela telinga dan rambutku. Wajahnya semakin mendekat.  Kini kulit-kulit pipinya menekan bibirku. Memaksaku untuk sedikit menoleh. Menghampiri bibirnya. Tapi tunggu, aku menahan gerakanku. Memperhatikannya lebih cermat. Semakin cermat.....
“ Bapak!.”
Aku tersentak, mundur dan terjatuh ke lantai. Begitu pula dengannya. Bergegas menyalakan lampu dan mendekatiku. Dengan mata semerah darah dan dahi yang berkerut, ia menatapku tajam. Seolah-olah memastikan apakah ia benar-benar mengenali diriku.
“ Gila! Apa-apaan kau ini! “
Plak!’ Bapak menamparku.
“ Mau jadi apa kau ini! He?,” Bapak menyeretku keluar setelah berkali-kali menampar pipiku dan mengumpat dengan kasar. Merobek bajuku, menjambak dan akhirnya membawaku pulang
Semenjak saat itu, Ibu dan bapak sering cekcok. Saling menyalahkan. Apalagi berita tentang keluarga kami begitu cepat menyebar, membuat kami menjadi sorotan banyak orang. Dimanapun, kapanpun, siapapun di seluruh sudut kota ini tak ada satu pun yang absen membicarakannya. Secara blak-blak an, bisik-bisik atau sekasar umpatan di media sosial. Di kafe-kafe, rumah makan, kantor, pasar, sekolahan, bahkan juga mereka yang dengan sengaja lewat di depan rumah kami sambil bergunjing,
Gila ya, orang tua yang kelihatannya hebat saja nggak bisa mendidik anak. Menjadi PL saja udah nggak bener. Apalagi ditambah berdandan layaknya wanita. Mau jadi apa dia?. Edan edan... bener-bener edan! Amit-amit jabang bayi!.”






Tembalang, 16 September 2017

Minggu, 15 Oktober 2017

Namanya Rico...

Aku masih duduk memandangi jendela bus saat sebuah pesan singkat nongol di layar hp.
“Sampai mana?,” sebuah teks yang ku tunggu-tunggu.
“Sebentar lagi sampai,” balasku.
Tepat pukul 01.00, bus jurusan Jogja-Solo yang ku naiki tak pula memelankan laju. Padahal jalanan tampak mengkilat karena hujan tak kunjung reda. Aku tidak tahu seberapa cepat si sopir menekan pedal gas, atau bahkan tak peduli. Yang ku tahu, aku akan segera menjumpai seseorang yang telah menunggu sedari hari belum berganti, di terminal malam ini. Meskipun beberapa kali tubuhku sempat terguncang dan bergeser sedikit karena polah sopir yang seperti kesetanan mengejar setoran.
Jujur saja, ini bukan pertama kalinya ku beranikan diri menginjakkan kaki di kota orang. Namun, ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di kota orang, malam-malam, didorong oleh rasa penasaran bercampur dengan bahagia. Untuk bertemu. Bertemu seseorang yang selama ini telah menjadikan hari-hariku bertabur bunga-bunga dengan wangi yang semerbak. Lebih wangi dibandingkan kembang setaman yang sering dibeli simbah untuk nyekar ketika malam jumat tiba.
Aku memang baru saja mengenalnya. Sekitar empat bulan yang lalu. Kami bertemu disalah satu situs pertemanan online yang sedang ramai-ramainya di dunia maya. Facebook. Maka jangan heran, meski diriku sejak kecil hingga kuliah berada di Jogja, dan sama sekali belum pernah mengunjungi kota tujuanku saat ini, aku merasa telah mengenalnya dengan baik. Bahkan pertemanan kami yang tak disengaja itu, membuatku benar-benar melakukan hal yang konyol seperti sekarang.
Hampir setiap hari ia mengomentari status yang ku bagikan. Membalas beberapa sajak yang ku tulis dengan soliloque-nya, menyukai positnganku sampai tak jarang membagikan kiriman yang ku tulis pula. Ya, hampir setiap hari. Mulanya aku tidak peduli. Ku pikir ia adalah satu dari ribuan orang kurang kerjaan yang menanggapi hasil pemikiran kurang kerjaanku pula. Tapi lama-lama kami sering berdiskusi. Saling mengirimkan inbox, berbagi informasi dan literasi, lalu membuat prosa bersambung. Lebih lanjut, akhirnya kami bertukar nomor WhatsApp. Di sana kami bisa berkomunikasi lebih lancar. Melanjutkan obrolan tentang Liberalisme, Feminis, Post Modern, hingga omong kosong lainnya. Lama-lama setiap pagi ia memberanikan diri untuk menyapa. Seperti, ‘ Selamat pagi Puan... Ayo bangun! Keburu mataharinya ngambek loh!’ atau ‘ Sudah makankah?’ ‘ Jangan lupa minum air putih!’ ‘ Jangan tidur terlalu malam. Jaga kesehatan.’ Dan yang lainnya. Berangsur-angsur menjadi sebuah rutinitas. Seperti ia adalah bagian dari aku, dan aku adalah bagian darinya. Semacam proses berbagi. Sampai pada proses bernegosiasi tiap kali masing-masing dari kami harus mengambil keputusan terhadap segala sesuatu. Dan sekarang, kami benar-benar akan bertemu......
“Terminal-terminal......,” teriak kenek bus. Sambil sedikit menoleh kebelakang dan berdiri, bersiap membukakan pintu dengan buru-buru.
Begitupun aku yang sesegera mungkin bangkit. Menata posisi tas ransel sebentar, lalu segera maju merapat ke pintu.
Gerimis masih meracau ketika diriku menepi di antara beberapa orang yang tengah duduk-duduk, tertidur, atau berlarian kecil berusaha menyelamatkan dirinya dari basah di sekitar ruang tunggu terminal. Aku duduk. Sesekali mengecek hp dan mencari-cari wajah yang potonya beberapa kali sengaja ku simpan untuk ku ingat-ingat.
“Aku sudah sampai. Kau dimana?,” ketikku singkat.
Sambil sesekali merapikan rambut yang lepek tak karuan, ku lepaskan ransel supaya duduk lebih nyaman. Ku tengok lagi ke kanan dan ke kiri. Mencari-cari tubuh seseorang yang mungkin sedang berjalan menuju ke arahku. Memakai jas hujankah? Payung? Atau tubuh basah kuyup seperti beberapa orang yang hilir mudik menjemput orang lain tadi?
Ku cek kembali hpku. Terkirim. Tapi belum dibaca. Apa kelamaan? Atau dia ketiduran?
Ku pandangi kembali sekeliling. Beberapa tubuh yang tergeletak lesu dengan suara ngorok yang tak kalah kencang dibanding hujan ialah orang-orang terminal seperti, penjual koran, pengemis, dan beberapa yang aku tak tahu memiliki pofesi apa. Yang jelas, ku pikir tidak ada diantara salah satu dari mereka.
“Nunggu orang Mbak?,” sapa seorang lelaki muda yang mungkin seumuranku itu.
“Iya,” jawabku pelan sambil memperhatikannya. Dari gayanya, ku pikir dia juga mahasiswa seperti diriku. Ya, gaya mahasiswa pada umumnya. Kemeja flanel yang dipadukan dengan kaos combed bergambar Jimmy Hendrick, celana jeans denim, serta sepatu sneakers tua berwarna coklat kusam. Pas sekali dengan rambut ikal yang dikuncir sebahu. Wajah berbulu dan berkumis tipis itu, serta alis yang tegas melindungi sorot matanya yang teduh. Membuat dirinya lebih ‘ terlihat’  dibanding penghuni terminal lain malam ini.
Oh astaga! Jangan-jangan dia orangnya!. Pikirku girang sambil menata rambut dan merapikan duduk. Gugup.
“Masnya juga?,” tanyaku, ia tersenyum kecil dan mengangguk. Lagi-lagi membiarkanku semakin penasaran dan salah tingkah.
“Masnya daritadi disini?.”
“Iya..” jawabnya lagi dengan sedikit diseret, seperti jawaban yang menerka-nerka.
Kenapa daritadi aku tidak sadar? Tapi kenapa dia diam saja?
Kembali ku atur posisi duduk. Sedikit menghela nafas, dan menenangkan kaki yang tak pernah bisa terdiam jika terlalu gugup seperti sekarang.
“Masnya.. nunggu siapa?.” Ia menoleh ke arahku, sedikit mengerutkan dahi. Kali ini sorot matanya tak seramah sebelumnya. Persis seperti induk macan yang sedang diganggu anak-anaknya. Benar-benar membuatku tak enak hati.
“Em.. maksud saya, masnya lagi nunggu temen ya?,” tambahku ragu-ragu.
“Iya.. “
“Perempuan?”
“Iya....”
“Rico ya? Hai, aku Andini!.” Kataku bersemangat.
Lelaki muda itu semakin diam dan menatapku curiga.
“Bukan...” katanya, lantas berdiri dan bergegas menjauh. Tanpa sedikit pun menoleh kembali ke arahku.
Ah, bukan... pikirku kecewa, seraya melihat punggungnya menghilang dari balik belokan ruko-ruko terminal yang telah tutup.
Sekarang aku kembali sendirian. Bersama beberapa pasang mata yang ternyata sedari tadi memperhatikanku tajam. Membuatku tersudut. Seperti rusa di tengah sabana. Dan mata-mata itu adalah milik macan tutul yang siap menerkamku sebagai makan malamnya. Benar-benar merasa terancam. Ku rapatkan tubuh memeluk ransel. Sementara orang-orang satu persatu pergi bersama jemputannya. Ku cek hp beberapa kali. Belum ada balasan.
Astaga, konyol sekali diriku! Seharusnya aku tak sesembrono ini. Ah, sial!
Hampir satu jam. Mataku mulai mengantuk. Tapi aku tak ingin tidur. Tubuhku telah lelah. Tapi aku tak lantas boleh menyerah. Bukan, bukan sekarang. Memang ini kota orang, tapi aku masih punya Tuhan. Sambil masih terus berdoa dengan cemas, aku menunduk menghindari tatapan-tatapan kasar sekitar. Yang membuatku semakin seperti onggokan daging siap santap. Serta merawat kekecewaan yang hampir membuahkan air di kedua sudut mata. Tapi tak bisa. Ini belum berakhir. Pikirku penuh harap.
“Dimana sekarang? Maaf, tadi hpku mati.” Sebuah pesan masuk menyelamatkanku dari situasi.
“Terminal. Kau dimana? Katamu kau sudah disini sebelum aku datang? Aku sendirian. Dari satu jam yang lalu.”
“Maaf. Benar tadi aku sudah disana, tapi tiba-tiba aku ada urusan. Oh ya, sekarang aku tidak bisa menjemputmu. Motorku sedang dipakai temanku. Bisakah kau ke tempatku saja? Ku share loc ya. Aku tunggu di sini.”
Tanpa berlama-lama, ia mengirim lokasi dimana ia berada.
Ah, kenapa tidak dari tadi? Pikirku jengkel. Lantas berjalan keluar memesan taksi.
Kurang dari 15 menit aku sampai di depan sebuah kedai kopi. Ku langkahkan kaki setelah membayar sejumlah uang kepada supir taksi, tanpa sedikitpun merapikan kemeja, atau memperdulikan rambut yang terkoyak angin bercampur air hujan. Aku sudah teramat lelah. Ku pilih tempat duduk di sudut depan kedai. Memesan secangkir kopi Arabica panas. Menyruputnya, membakar sebatang rokok, dan menggosok-gosokkan tangan sesekali. Supaya lebih hangat. Kali ini, tak ada lagi hasrat untuk mengawali mengabarinya.
Biar dia saja yang mencariku. Gantian dong! Pikirku masih jengkel.
“Sudah sampai?.”
“Sudah.” Balasku singkat.
Tak berapa lama...
“Hai!” sapa seorang wanita muda bertubuh putih tinggi semampai.Wajahnya halus tanpa jerawat. Berwarna putih kemerahan seperti pantat bayi. Cantik.
“Halo..” balasku. Kami bersalaman sebentar. Tangannya halus seperti tidak pernah bergesekkan dengan benda kasar sedikitpun. Ia tersenyum. Gigi-giginya berbehel rapi. Namun tetap terlihat putih-putih dan bersih. Ketika ia duduk persis di hadapanku, aroma parfumnya menyeruak. Wangi sekali. Tapi aku masih tidak tahu ia siapa.
“Cari Riko ya?,” tanyanya lagi sembari menyopot jaket. Akupun mengangguk.  
“Sudah lama?.”
“Lumayan...”
“ Maaf ya sudah membuatmu menunggu.” Katanya nyerocos masih sibuk menyopot anting dan mencoba memanggil waitress untuk memesan kopi.
Sementara aku masih menerka-nerka dan semakin bingung.
“Em.. maaf? Kalau boleh tahu Anda siapa ya? Adiknya? Kakaknya? Temannya? Atau... Pacarnya? ,” tanyaku benar-benar ingin tahu.
Ia tersenyum. Membakar rokok, menyopot wig. Sedikit menyondongkan badan ke depan, lalu menatapku tajam.
“Aku Rico!.”


Tembalang, 16 September 2017


Sabtu, 22 April 2017

" ASTAGA! TERNYATA PERUTKU PUNYA MULUT!!!"

Hari ini aku menjumpai sebuah iklan voucer belanja di salah satu supermarket di kota yang telah menampungku beberapa tahun terakhir. Sebuah supermarket yang hampir bangkrut karena memasang tarif harga tidak lebih murah dibanding dengan supermarket-supermarket lain di kota ini, kini ia mulai bangkit melalui sebuah iklan dengan iming-iming gratis berbelanja 1juta rupiah. Enak ya? Bagaimana tidak? Seorang pengangguran, dengan tangan yang masih sering merogoh saku bapak-ibunya tiba-tiba dapat iklan dengan jumlah nominal yang lumayan. Bagaikan ketiban durian runtuh. Namun, jangan berpikiran iming-iming gratis didapat hanya melalui kedipan mata. Jangan pula buru-buru beranggapan bahwa aku besok bangun pagi, mandi dan siap-siap menuju supermarket itu untuk memborong semua barang-barang produk import senilai 1jt. Ah, tentu saja! Jangan sok pelupa. Mau durian runtuh atau ribuan mangga jatuh, sejak kapan di dunia ini ada sesuatu yang benar-benar gratis tanpa embel-embel timbal balik? Ya, semacam simbiosis mutualisme, atau mutu-mutu yang lain.
Benar, iklan tersebut memberi ketentuan bahwa siapa saja yang mengikuti akun sosmednya, mengambil gambar setelah mengikuti dan mengunggahnya ke media sosial pribadi sebagai bukti, baru akan dipilih 50rb orang pertama sebagai seorang berutung dengan hak 1jtnya. Wah, tentu aku tidak mau kalah saing. Ku lakukan saja mau mereka. Ku ikuti sosmednya, ku ambil gambar dan ku bagikan fotonya melalui akun pribadiku. Bagaimana? Apakah aku sudah cukup eksis dalam mengikuti tren jaman sekarang? Mengikuti tren dimana segala bentuk usaha susah-payah yang bapak-ibu-dan orang orang lain lakukan untuk mendapat sejumlah koin rupiah, bisa dengan mudah ku dapatkan hanya dengan permainan jemari tangan. Atau, aku benar-benar sudah gila? Gila akan durian-durian runtuh yang matang dan lezat, tanpa harus bersusah payah menanam pohon, merawatnya dan menungguinya setiap malam ketika musim panen?
Entahlah. Faktanya, prinsip dan ideologi yang hampir berton-ton (jika di timbang) ku muntahkan dimanapun, bisa kalah berat juga dengan kata-kata ajaib seperti sulap itu.
Dan nyatanya pula, hampir 4hari ini aku tak henti-henti mengirimkan prosedur yang disyaratkan untuk mengikuti sebuah undian di aplikasi sosmed yang lain. Menekan ego bahwa tubuh ini sudah dikubur karbit semacam tape. Menjadi lembek dan agak kecut. Mengisi hari-hari dengan jutaan harapan mendapat rezeki nomplok melalui setiap angka yang terkirim. Persis seperti seorang lapar yang menunggu antrian panjang beras raskin disiang bolong. Berdesakan, kepanasan, eh ternyata tinggal dua plastik rupanya.
Sebentar, sesaat ku raba perutku. Ada yang aneh! Ia tak lagi mulus, datar atau membuncit seperti kebanyakan perut orang-orang. Ia terbuka, dan ada semacam daging basah dengan pagar-pagar runcing tak beraturan disekitarnya. Astaga, benar! Ternyata perutku sudah punya mulut, lidah dan gigi. Ia lebih ganas saat mencari makan. Bahkan setahuku, akhir-akhir ini kabarnya ia mengincar hati-pikiran-dan prinsip yang telah lama membuatnya kelaparan. Untuk apa lagi kalau bukan tak ia makan juga.

Beberapa waktu yang lalu aku juga mendapati diriku semakin gila oleh "yang instan". Aku mencoba mengikuti beberapa MLM. Katanya MLM adalah cara mudah untuk mendapatkan uang. Aku diajak oleh seorang kawan. Katanya, dengan mencari orang sebanyak mungkin untuk mendaftar di sebuah perusahaan MLM, poin kita akan bertambah. Ah, ini benar-benar kegilaan.

Lalu, suatu kala aku menunggui apa-apa lagi yang ku sebut sebagai ' keberuntungan' datang berkunjung. Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke layar hpku. Menyadarkan betapa susahnya menyentuh kenyataan saat kita masih berenang bebas dalam puluhan angan. Angan makan ayam krispi original dengan saus sambal ekstra pedas, ditambah minuman bersoda, dan beberapa potong kentang goreng instan! Angan ketika bangun pagi, mandi dan jalan-jalan di supermarket-supermarket besar, memborong semua barang import keluaran terbaru, dan menonton bioskop sambil makan popcorn.
" Sedang apa? Sudah makan? Sehatkan? Kuliah gimana? Katanya sudah skripsi? Kapan kelar? Tadi bapak nanya."
Kini, aku siap menjatuhkan diri dari ketinggian ribuan kilo bersama angin muson menuju daratan. Aaaaah! Daratan krikil yang berdebu. Membuat lebam, berdarah, dan sesak nafas.
Namun mulut diperutku, masih saja menggerutu, ngomel, dan cerewet sekali.
" Cepat cari makan! Aku sudah lapar. Atau boleh ku makan segala yang ada dipikiranmu?," ancamnya.

-T.Y-
23042017

Selasa, 28 Juni 2016

‘ Membangun Rumah’ ( Part I)

Sudah 4 tahun Gemini meninggalkan rumah untuk menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi di Semarang. Bukan waktu yang lama, namun juga bukan waktu yang terlampau sebentar. Meski jarak rumah dan kota yang menampungnya sekarang dapat ditempuh dengan sepeda motor atau bus sekitar 2 sampai 3 jam, ia jarang sekali ‘ sempat’ pulang untuk berkunjung ke rumah. Melalui hp, anak kedua yang sekarang menjadi anak pertama ini ialah tempat curhat dan diskusi pertama yang dituju sang ibu untuk bertukar pikiran atau sekadar mengeluh. Bagaimana tidak? Sejak beberapa tahun lalu, ketika sang embak yang sudah dipeluk lebih dulu oleh Yang Kuasa, dan bapak seorang pelaut yang jarang sekali di rumah membuat ibu menjadi wanita tangguh yang harus menjawab sms Gemini ketika uang kiriman habis, menjadi wanita sabar yang harus mengurus ketiga bocah kecil usia SMP, SD dan balita 2 tahun. Memutar otak ketika keempatnya butuh jajan. Memanjangkan sabar ketika ada yang rewel atau berkelahi dengan teman sebayanya. Memperbanyak suara untuk menghibur yang sedang menangis. Dan menahan peluh supaya tidak sampai jatuh.
Empat tahun begitu singkat bagi Gemini. Namun perasaan singkat yang dirasanya berbenturan dengan kenyataan bahwa ia semakin asing dan terlempar jauh dari rumah. Tidak, tidak ada yang mengusirnya. Hanya saja ada sesuatu yang berjalan lebih cepat dari sepeda motor berkecepatan maksimal 110cc yang sering ia kendarai. Setiap kali pulang, satu-dua hari untuk melepas rindu, semakin pula ia menjadi angin lalu yang disalip peristiwa. Dia semakin dewasa, semakin tambah ilmunya, semakin kekinian, semakin bisa melihat, semakin banyak membaca, namun semakin lambat dan terus melambat. Di lumat keegoisan dan rasa ‘sok borjuis’ yang menjadi-jadi. Akibatnyaa, ketika sampai pada pintu pertama ia melangkah keluar dan meminta restu, mencium tangan ibu-bapak dan embahnya empat tahun lalu, disitu pula ia menjadi yang pertama kehilangan banyak hal. Kepintarannya, kecakapannya berbicara, keeksisannya, egonya, penglihatnnya, bursa bahasa yang ia kumpulkan selama ‘ membaca,’ dilucuti begitu saja. Dia masih menjadi anak-anak, belum se-dewasa dan se-hebat yang ia kira ketika berkacak pinggang di luar sana.
Dia masuk dengan perlahan. Langkahnya kian melambat ketika berjumpa dengan sang ibu dan embah yang memang lebih sering ada di rumah. Gemini mencium kedua tangan kasar nan keriput yang senantiasa hangat itu. Dia duduk di samping mereka sambil membuka satu per satu atribut kelengkapan pengguna sepeda motor.
“ Wis mangan rung? Ko kono jam pira? Kok jam semene lagi tekan omah. Iku ana iwak ndas ( kepala pari) ning nduwur kompor. Bar masak mangut aku mau,” ucap sang ibu sambil tersenyum. Wanita paruh baya yang usianya hampir meninjak 50th dengan keriput di beberapa bagian wajah itu selalu menyambut Gemini dengan senyum yang meneduhkan. Begitu pula embah yang masih memperhatikan cucunya melepas lelah bersama helm, jaket, kaos tangan, kaos kaki dan sebuah tas ransel. Kali ini Gemini pulang tidak untuk sekadar singgah. Karena biasanya dia hanya numpang tidur satu atau dua malam lalu pergi lagi ke kota orang. Dia pulang dengan tekad untuk berlari bersama jam yang diputar di rumah. Bukan untuk menariknya kembali, tapi waktu dua minggu dirasa waktu yang lumayan disayangkan jika tidak dimanfaatkan untuk membantu ibu ‘ membangun rumah.’
Beberapa waktu lalu, sebelum bulan Ramadhan dan sebelum akhirnya ia punya waktu lebih luang untuk pulang ke rumah, Gemini mendapat kabar dari Ibu. Adiknya yang duduk di bangku kelas 2 SMP berulah. Memang nun jauh sebelumnya pun adiknya sudah beberapa kali membuat ibu menangis karena tingkahnya yang diluar batas kewajaran. Seperti memecahkan lampu sekolahan, mematahkan tiang bendera, melempar petasan ke perut teman perempuannya di sekolah, tidak mengerjakan pr, bahkan membolos sekolah. Ibu sering dan semakin sering mendapat surat panggilan dari sekolah hingga beberapa kali sengaja tidak datang karena malu. Tentu tekanan tidak hanya datang dari sekolah, para tetangga dan bahkan pandangan keluarga besar yang masih saklek menambah beban pikiran ibu semakin berat. Ya, sebutan ‘ nakal’ untuk adik lelakiku yang sudah jarang di rumah adalah hukuman sosial yang berat pula untuk kedua orang tuaku. Olok-olokan ‘ tidak becus mendidik anak’ dsb adalah salah satu yang semakin sering di dengar dan menjadi biasa saja. Untungnya bapak adalah seorang yang terbuka meski sering dianggap bodoh oleh orang sekitarnya karena kesusahan membaca dan menulis. Ya, dulu bapak tidak sampai lulus sd meski sekarang mampu menjadi pimpinan awak kapal. Bapak adalah sosok lelaki yang baik, dermawan, demokratis meski sering kurang percaya diri dan loyal sekali jika masalah uang kepada anak-anaknya. Ketika dia tahu anak lelakinya suka membolos, dia hanya berkata, “ wis, nek ra gelem sekolah ya ra usah dipeksa. Ra sekolah ya rapopo,” semacam itulah yang dikatakan kepada ibu melalui hp. Entah apa benar setenang itukah pikiran Bapak menanggapi permasalahan yang dilempar ibu dengan tekanan sosial yang hebat di luar sana.
“ Wingi, adikmu diparani polisi ning omah. Jare karo kancane ngacak-ngacak sekolahan sd. Barang-barang ning kantor di obrak-abrik. Dokumen-dokumen penting diguntingi terus disebar ning kelas-kelas. Tembok-tembok e ditulisi pisuhan-pisuhan,” suara ibu bergetar dari balik telvon.
“ Loh kok isa? Kapan kuwi Buk?,” sahut Gemini.
“ Jare malem minggu kejadiane.”
“ Lha terus piye sidane?.”
“ Ya awal e dipanggil ning sekolahan, diintrogasi karo guru-guru , karo kancane kuwi wong wong 2 tok kok, karo polisi, terus karo ana aku barang. Aku pas diparani polisi dadaku sesek nduk, keget. Po meneh tangga sak mengetan-mengulon ngerti kabeh. Bar iku ya digawa ning kantor polisi barang. Diintrogasi meneh. Pas ditakoni awal e kancane iku nyalahke adikmu, tapi pas adikmu karo aku mara kancane ngakoni kabeh. Nek adikmu cuma ngewangi nyebar. Sing ngajak ya kancane. Pas ditakoni polisi kok gelem melu kancane ya adikmu jawab nek ‘ kanca, mosok dijak kancane ra gelem.’ Sidane ya nginep sewengi ning sel, bar kuwi ditokne merga adikmu ra salah, sing otak e karo sing nglakoni kancane. Jan e kancane ki dipenjara soale wis entuk kasus ping telu iki nanging ya merga ijeh dibawah umur dadi ra sida.”
“ Hla kuwi gara-gara apa eh buk?.”
“ Embuh, jare kancane iku balas dendam merga biyen pas sd sering di ukum gurune.”
“ Owalah..,” timpal Gemini menjadi sosok yang tak mampu berkata-kata lagi. Sejak saat itu, rasa penasaran, rindu, gelisah, dan bingung campur aduk membulat untuk bertekad segera pulang menengok rumah. Ya, seperti dirinya, tubuh-tubuh yang tumbuh satu atap dengannya dulu berproses dan berkembang begitu cepat. Membentuk pribadi-pribadi yang berbeda, sesuai dengan tempat tempaan. Sesuai dengan seberapa berat dan runcing alat tempa, hanya mereka lupa untuk melihat kekuatan objek. Membaca dengan cermat dan memberikan sesuatu yang tepat. Mereka hanya memberi tempat percetakan untuk membuat, mereka lupa untuk mengenalkannya pada tanah pekarangan terlebih dahulu, pada hujan dan pada matahari untuk tumbuh, berbunga serta berbuah. Mereka hanya butuh objek praktis yang dapat diolah secara instan dan seragam. Sayangnya adik kecil Gemini adalah objek yang tidak mampu masuk sistem. Akibatnya dia dicap sebagai ‘ anak nakal’ dan kemudian semakin mengamini cap itu melalui perbuatannya. Berbagai cara dipikirkan Gemini untuk mencari jalan keluar bagi salah satu masalah yang menjadi beban ibunya. Berbagai cara ia lakukan sampai akhirnya dengan saran beberapa teman, dia sadar bahwa ada yang salah pada proses penempaan adiknya.
“ Dia punya energi yang besar. Dewasa. Tapi tidak bisa ditampung oleh desa, sekolah atau rumahnya sendiri. Cap nakal yang dibuat orang sekitar secara tidak sadar membuat dia justru merasa ‘ oh yawis aku nakal og, wis kadung, ya kenapa nek nakal.? Ncen aku nakal.’ Ya yang seolah-olah diamini oleh dirinya. Semakin dimarahi atau dikekang maka dia akan semakin berulah. Karena dari kenyataannya dia jarang disekolah, jarang dirumah, dia bolos seperti katamu. Dan tidak bisa jujur dengan orang rumah. Berarti ada yang salah di tempat-tempat itu. Sehingga dia mendapatkan ‘ rumah’ ketika bersama teman-teman bolosnya, kumpulan dia. Ini kuncinya harusnya kamu sebagai kakaknya yang harus bisa jadi temannya. Benar-benar teman. Tumbuhkan rasa saling percaya, minimal harus ada rahasia yang saling dijaga. Dari sana setidaknya kamu tahu dan mungkin bisa mengarahkan supaya ulahnya tidak semakin menjadi. Jadi ya memang harus pulang.”
Itulah sedikit dari banyak isi obrolan yang Gemini garis bawahi malam itu. Diskusi dengan orang-orang yang ternyata salah satunya mempunyai permasalahan serupa dengan adik Gemini saat itu. Dari sanalah berkali-kali Gemini berusaha memanfaatkan waktu sesingkat apapun untuk mendekati si adik. Ajakan nongkrong sampai ngopi ketika di rumah selalu ditolak. Mungkin si adik masih merasa ada batasan dan merasa embaknya adalah sosok wanita kalem yang cupu dan jauh dari hal-hal tabu seperti rokok dan sebagainya.
Dan sekarang adalah waktu yang tepat dirasa. Selama di rumah Gemini sengaja tidur di kamar adiknya. Si adik selalu menghindar. Tiap pulang sekitar pukul  1 atau 2 dini hari dia hanya mengetuk pintu kamar dan mengambil beberapa bantal dan selimut untuk dipakainya tidur di luar kamar. Namun malam itu ketika dia pulang dan yang lain sudah terlelap, Gemini masih menonton film dilaptop menunggu sahur, si adik masuk kamar dan ikut nonton film. Ini kesempatan yang bagus, pikir Gemini. Maka ia menutup pintu kamar dan mulai mengeluarkan bungkus rokok yang tinggal beberapa batang dan sebatang korek. Gemini tahu adiknya sudah mulai merokok dan sempat ketahuan si ibu, lalu ia dimarahi. Dan sejak itu si adik justru sering merokok di luar rumah, yang penting tidak ketahuan ibu. Ya, Gemini tahu dari hasil kepo sosmed adiknya. Lantas muncullah ide untuk mulai membuka rasa saling percaya sebagai seorang teman.
“ Udud ki, doyan ra?,” tawar Gemini sembari membakar rokok yang memang dia sendiri adalah perokok aktif. Sebenarnya Gemini agak was-was dengan langkahnya kali ini. Karena sampai sekarang orang rumah pun tidak tahu jika dia merokok. Namun tekadnya untuk bisa dekat dengan adiknya sebagai seorang teman, ternyata lebih kuat.
“ Moh, ra doyan rokok sing iku aku,” tolaknya ringan, seolah tidak kaget sama sekali embaknya merokok.
“ Lha biasane ududmu apa?,” tanya Gemini berlanjut.
“ S*rya ah.”
“ Oh, eh meneng loh, aja ngomong-ngomong,” pinta Gemini.
“ Iya-iya santai, aku ya biasane udud ning kamarlah,” jawabnya.

Mulai saat itu pelan-pelan si adik sudah tidak sungkan-sungkan lagi nimbrung nonton film atau keluar dengan Gemini. Bahkan dia sudah mulai terbuka mengenai kegiatannya diluar. Jadwalnya nongkrong dimana dan kapan, melakukan apa saja, sampai band kesukaan, ya meski dia masih enggan tidur sekasur dengan Gemini. Tak apa, setidaknya dia mulai terbuka. Tidak ada lagi embak dan adik, mereka adalah teman. Saling terbuka, saling percaya. Tidak ada yang bocor sedikitpun kepada orang tua. Beginilah pelan-pelan Gemini bantu ibu dan bapak ‘ membangun rumah’ untuk adik. Bukan sekadar bangunan tembok, beratap genteng, lantai keramik dan berisi segala fasilitas modern saja, namun ‘ rumah’ sebagai tempat yang paling aman, nyaman dan tempat paling utama untuk saling terbuka. 

Senin, 02 Mei 2016

Bukan Kodrat Pendendam #PPK part II

Dunia makin entah. Hati yang rapuh kian digerus menjadi serupa debu. Ringan dan mudah diterbangkan oleh angin. Ketika musim hujan tiba, dia yang luruh dihujani beribu tangis dari langit, lantas hilang tergantikan oleh yang lain.
            Begitulah hari-hari kian mengikat erat perempuan itu. Meludahi setiap langkahnya yang selalu dianggap hina. Seperti yang kau tahu,  manusia kian meninggi tanpa peduli memanusiakan yang lainnya. Merendahkan diri manusia yang lainnya tidak lagi berupa cacian dari mulut mereka. Ya, tidak ada waktu untuk menempelkan tisu tiap detik demi membersihkan segala yang kotor dari mulutnya. Semua-mua yang hadir adalah cacian. Pikiran, pandangan, lirikan, laku, ahh.. seperti semua-mua itu adalah cara hidup yang paling modern dan bangsawan.
Perempuan itu masih sering menghubungiku. Kami semakin sering pula menghabiskan waktu bersama untuk hal apa saja. Makan siang, perpustakaan, nongkrong di kedai kopi, mengerjakan tugas, menonton pentas, menghadiri rapat, nonton film di laptop, atau sekadar menghabiskan batangan-batangan rokok. Cerita panjang yang sering terlontar tidak jauh dari penyesalan yang dikemas cemas dan perasaan kesepian seorang perempuan yang nyatannya telah terasingkan oleh kedamaian kodratnya sendiri.
“ Aku sadar, aku memang hanya seorang perempuan. Dan dia adalah lelaki,” ucapnya dengan pandangan mengarah pada bibir cangkir petang itu. Pandangannya jelas, tapi kosong. Matanya menekan kepedihan yang bertumpuk.
“ Ya aku tahu, kau seorang perempuan dan dia lelaki. Lalu?,” kataku lirih mencoba menanggapi seperti biasanya.
Dia tersenyum kecil. Namun mampu menggoyahkan setiap bulu kuduk yang berada disekitar kulit leherku. Senyuman yang getir.
“ Kau tahu maksudku. Kau masih percaya dengan kodrat? Apakah Tuhan lupa saat menjatuhkan kodrat kita? Lupa menaruh sedikit keadilan dibalik cangkir yang Ia siapkan untuk kau dan aku? Atau kau juga sebenarnya tidak begitu yakin dengan ingatan Tuhan yang bisa saja keliru mentitahkan hidup bagi hambaNya?.” Nadanya kali ini akan tinggi. Beberapa kata diarahkan kepadaku dengan penuh penekanan. Kali ini sorot matanya jelas, menghardikku tajam.
Aku terdiam seketika. Mulutku bergerak namun tak ada sepatah kata pun yang siap untuk dilontarkan. Seperti terdakwa yang gugup menjawab saat diinterogasi karena tak ingin ketahuan. Aku tak pernah seterkejut ini biasanya. Ya kebiasaanku mendengarkan curahan hatinya dan begitu sebaliknya menjadikan kami biasa menimpali pembicaraan satu sama lain dengan kilat dan apa adanya. Tapi kali ini, pertanyaan macam apa ini? Pikirku. Dia mempertanyakan tentang seyakin apa diriku dengan penciptaku?. Ah, seharusnya aku mampu menjawabnya dengan lancar tanpa jeda, tapi kenapa ada yang mencekat dikerongkonganku? Seperti menghentikan aliran udara yang sudah berancang-ancang keluar liar dari katup bibirku.
“ Heh, tenyata kau juga meragukanNya ya. Aku sudah menduga.”
“ Tidak, aku tidak pernah meragukanNya. Aku percaya dengan apapun yang sudah diberikanNya untukku. Dan aku menerimanya.”
“ Semua?”
“ Ya, semua.”
“ Lengkap dengan kepedihannya?.”
“ Ya, lengkap dengan segala kepedihannya.”
“ Kau bohong!,” katanya memalingkan muka.
“ Aku bisa melihat ketidak yakinanmu bahkan ketika sebelum kau menjawabnya. Matamu tidak pernah bohong, dan kau tidak perlu merancang otakmu untuk menyusun retorika demi meyakinkaku akan keyakinanmu,” katanya. Aku semakin terdiam.
“ Dua hari yang lalu kau bercerita tentang ketakutanmu menjadi seorang yang paling kau benci. Menjadi seseorang yang sudah lelah membicarakan masalah itu-itu saja, fase maaf-memaafkan, lalu melakukan kesalahan lagi, meminta maaf lagi, melakukan kesalahan lagi dan begitu saja seterusnya. Yang  membangun engkau menjadi seorang pemaaf namun pendendam. Dendam untuk membalas apa-apa yang tidak pernah ditepati. Membalas apa-apa yang harus dibayar. Ayolah, akui saja. Keyakinanmu terhadap kodrat tidak cukup menahanmu untuk dengki dengan nasibmu sendiri. Untuk lelah dengan segala yang kau hadapi. Dia, lelakimu itu masih saja melakukan perbuatan yang sama kan? Yang membuatmu sakit hati?.”
“ Mungkin dia hanya lupa.”
“ Lupa? Tidak. Lelaki tidak pernah lupa, mereka hanya tidak pernah belajar. Kata-kata tidak lagi mujarab ditelinga mereka. Air mata hanya pemanis dalam sebuah permintaan maaf demi memperlihatkan ketulusan dan penyesalan. Dan akhirnya, janji hanya sebagai penekan cemas untuk ditelan masa. Kau tahu itu, kau bahkan menyadarinya lebih dulu dari pada aku. Tapi ternyata kau terlalu kejam terhadap dirimu sendiri. Sekarang apa akan kau biarkan dia, lelaki itu memilikimu dan menyimpan semua yang ingin dicintainya dibelakangmu? Memunggungi ketulusanmu? Mengacuhkan kepercayaanmu? Berulang kali,?” ucapnya meninggi.
“ Aku mencintainya.”
“ Dan kau tidak mencintai dirimu sendiri? Mencintai diri orang lain yang enggan melihatmu menjadi pesakitan lagi seperti dulu?.”
“ Kau juga tidak mampu meninggalkan kekasihmu meski dia berbuat salah yang sama denganmu setiap kali kan? Aku rasa kau juga mengalaminya, dan kau juga mengerti posisiku.”
“ Setidaknya aku tidak pernah tinggal diam dan lelah untuk mencacinya, menonjoknya. Dan aku bukan pendendam. Setidaknya aku tidak berminat menjadi pendendam. Tidak berminat lagi tepatnya. Pendendam yang tanpa sadar akan menghancurkan hati yang lain, kau tahu kan maksudku?.”
Aku kembali terpaku. Diam membatu.
 “ Baiklah, aku harap kau menjadi seorang perempuan yang bijak. Aku yakin kau mampu menguat tanpa harus merekat pada tubuh seorang malaikat,” katanya mengakhiri pertemuan kami di kedai itu. Dia beranjak pergi menyisakan kebenaran yang enggan aku akui keberadaannya. Kebenaran yang menyimpan ketakutan begitu dalam. Ketakutan seorang yang lelah akan sakit hati. Lelah untuk berkoar tentang apa-apa yang tidak ditepati. Lelah untuk memohon pengertian. Dan kini siap membangun dinding-dinding dingin ber-ruh dendam. Sinar rembulan melambai pelan. Menerpa dedaunan, lalu jatuh pada tiang-tiang listrik pinggir jalan. Mengkilat dan sinarnya mampu menyilaukan mata para pengguna jalan malam itu. Tidak, ini bukan sebuah balada. Kesedihan bukan ide dalam penceritaan ini dan atau sebelumnya. Maka aku enggan menuliskan betapa menyedihkannya kehidupan dua orang wanita dalam kisah cinta diantara bingar kota. Maka yang kutulis sekarang adalah tentang sebuah pertanyaan.
“ Sanggupkah aku membalas dendam.?”
Atau…

“ Sanggupkah aku menjadi pendendam yang akan melukai dan merobek hati para pemilik kebaikan yang lainnya?.”